Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Juli 2014

Namanya Masih Menjadi Mimpi Buruk Gue

Namanya masih jadi mimpi buruk buat gue. 

Itu yang gue rasakan seketika sesaat setelah teman tongkrongan gue menyebut satu nama yang gak asing pastinya. Badmood? Pasti! Buktinya? Gue langsung memutuskan untuk pulang. Padahal Ibu atau Ayah gue sama sekali belum menyuruh gue pulang seperti biasanya. 

Mata gue? Jelas menggambarkan kecemburuan yang teramat sangat. Wajah? Sudah pasti menunjukkan mimik emosi yang memuncak. Walaupun gue tutupin itu semua dengan gurauan penutup sebelum gue pergi ke parkiran. Langkah kaki gue juga sudah seperti orang yang sedang muak dengan keadaan yang baru saja dilewati. Entahlah, yang jelas mood gue sudah buruk banget sekarang. 

Di parkiran, gue melampiaskan semuanya. Gue kucek-kucek baju gue, gue pukulin speedometer motor gue. Gue acak-acak kerudung gue sendiri. Tapi itu doang yang bisa gue lakukan. Masih ada yang mengganjal di tenggorokan. Yaitu suara emosi yang mau banget gue keluarin sekencang-kencangnya. 

Cukup puas dengan melampiaskan emosi, gue bersegera menyalakan mesin motor dan mengeluarkannya dari deretan moto yang terparkir. Sesaat sebelum gue menarik pedal gas, seseorang menepak pundah gue dari belakang. Otomatis gue gak jadi menarik pedalnya. Gue menoleh ke belakang. 
"Elo? Ada apa?" Ucap gue dengan nada mencoba tenang. Gue gak mau dia mendapatkan apa yang sedang gue rasakan. 
"Mau langsung pulang? Gue temani yah sampai rumah. Gak baik perempuan pulang sendirian, malam pula. Jalanan ke rumah lo kan gelap dan sepi." 
"Gak. Gak perlu. Gue biasa pulang sendiri kok. Sekarang juga baru jam sepuluh. Biasanya jam sebelas juga gue nyantai aja." 
"Biasanya kan lo pulang malem juga gak ada gue. Sekarang ada gue dan gue gak mau lihat perempuan pulang malem-malem sendirian." 
"Udahlah, gak perlu. Gue bisa sendiri. Gue kan princess yang kuat." Nada bicara gue mulai tinggi karena gue ikut terbawa emosi mendengar kalimat keras kepala orang ini. 
"Tapi, gak ada princess yang pulang sendiri. Ada pangeran atau jongosnya deh yang mengantar princess itu sampai ke depan istana." 
Gue menarik nafas panjang, "okelah kalau lo memaksa." 
"Gue akan mengikuti lo dari belakang ya. Jangan mengebut! Biar gue gak ketinggalan jejak lo." 
"Ya sudah. Cepat ambil motor lo!" 

Setelah ia selesai menyalakan motornya, kita jalan bersamaan. Sekitar lima belas menit kita berkendara menuju rumah gue. Sampai di depan gerbang, gue menawarkan dia untuk mampir hanya sekedar minum teh atau makan biskuit. Dengan ramah, dia menerima tawaran gue. 

"Ini tehnya dan ini biskuitnya. Dicelupin lebih enak." Terjalanilah tawaran pertama gue. Kemudian, gue duduk di kursi samping dia. 

Dia langsung menyeruput teh yang gue buat barusan. Gue menarik nafas panjang kembali dan membuka smartphone yang ada di saku celana jeans gue. Gue balas satu obrolan dari satu teman dekat gue. Setelah itu, gue kembali fokus terhadap orang di samping gue. 

"Udah lama ya gue gak kesini? Setahun ada?" 
"Enggalah, terakhir kan abis lebaran lo kesini." 
"Oh iya." Dia menjedakan pembicaraannya untuk mengambil biskuit kelapa, "ada apa?" 
"Ada apa? Maksudnya?" Gue mulai merasa bingung dengan pertanyaan orang ini. 
"Iya, tadi ada apa? Tiba-tiba mau pulang? Gue tau, lo biasa pulang jam sebelasan. Lo akan pulang kalau orang tua lo sudah menyuruh balik kan? Terus, kenapa tadi lo pulang buru-buru?" 
"Gak, gak ada apa-apa. Karena udah malam saja. Maka dari itu gue pulang." 
"Yakin?" 
"I... Iya... Yakinlah..." Gue mulai curiga dengan pertanyaannya. Pikiran gue menunjukkan kalau dia tau apa yang gue rasakan. 
"Bukan karena itu sih. Mata sama wajah lo tuh gak bisa bohongin gue kali. Ceritalah sama gue. Lo udah gak pernah cerita sama gue." 
"Cerita apa? Apa yang perlu gue ceritain?" 
"Lo hutang banyak loh sama gue. Hutang banyak cerita. Lo gak inget? Waktu gue pergi, lo bilang sama gue kalau gue sudah pulang, lo akan cerita semua yang terjadi sama lo ke gue." 
"Masa sih? Gue gak inget pernah ngomong kayak gitu." 
"Iya, lo pernah ngomong kayak gitu." 
Gue memainkan ujung jilbab, "gue... Gue gak kenapa-kenapa. Serius." 
"Ah lo masih kaku saja sama gue!" Dia menunduk dan kemudian tatapannya penuh ke gue. Dia pegang telapak tangan gue, "gara-gara sebuah nama? Nama perempuan itu?" 

Gue membalas tatapannya, gue mulai merasa ingin meneteskan air mata. Gue lepas tangannya dari tangan gue. Gue gak mau banyak hal terjadi disini. 

"Tuh! Mata lo gak bisa bohong! Cerita sama gue!" 
"Gue ... Nama itu masih jadi mimpi buruk buat gue. Gue gak tau kenapa, gue gak suka nama itu terdengar di telinga gue." 
"Kenapa gitu? Bukannya lo sama sahabat gue itu juga sudah berjalan jauh dan semakin dalam? Lo sayang kan sama dia?" 
"Gue sayang sama dia. Sayang banget." Gue meneteskan air mata, "tapi, gue gak paham kenapa rasa ketidakpercayaan itu memangkas rasa sayangnya. Ini lebih seperti, daun-daun yang berguguran di musim gugur, kemudian rasa dingin menyelimuti ketika musim saltu menggantikan, lalu daun-daun kembali tumbuh di musim semi, kemudian cinta ini menghangat seperti mentari yang ada di musim panas, lalu gugur lagi, lalu dingin lagi, lalu tumbuh, lalu panas, lalu gugur, lalu..." 
"Stop!" Dia memberhentikan omongan gue. 
Ekspresi wajah gue mulai sedih, kening gue mulai mengkerut. Air mata gue semakin banyak yang menetes. Gue juga gak berhenti menggerakkan kaki dan memainkan jari gue. Gue menggigit bibir bawah gue, gue mulai gusar dengan keadaan ini. 

"Terlalu banyak yang gak kita bicarakan yah? Harusnya dari kemarin-kemarin gue ajak lo sharing ya." 
"Gak tau, gak tau, gak tau. Gue benci keadaan ini." 
"Maafin gue ya yang membiarkan lo berpikir sendiri." Ucapannya membuat gue menatap wajahnya yang menunjukkan mimik kecewa. "Maafin gue ya, gue ninggalin lo." 
"Hey! Jangan kayak gitu! Lo gak pernah ninggalin gue. Gue yang menemukan sosok lain." 
"Maksud lo?" 
"Maafin gue ya, gue diam-diam menyimpan semua itu. Gue berharap, ketika lo pulang kemarin, gue sama lo bisa..." 
"Maksud lo apa?" 
"Sebelum dia masuk ke dunia gue, setelah gue selesai dengan masa lalu gue. Ada elo yang hadir. Dan entah kenapa, justru gue merasa gue ini salah satu korban lo. Korban atas kelabilan lo, korban atas pelampiasan lo sama masa lalu lo juga. Kemudian gue juga akhirnya beralih dengan cepat ke dia." 
"Jadi, lo?" Dia mencoba membuat gue pengakuan. 
"Iya, di saat gue bermasalah dengan masa lalu gue. Ada elo yang hadir bawa senyuman dan menghapus luka itu. Lo yang buat gue sembuh dari luka itu tapi gue gak berani menunjukkan lebih ke elo. Gue menutupi semuanya dengan kata persahabatan. Sampai akhirnya lo juga nyaman dengan sahabatan dan gue juga bertemu dia sebagai tokoh pengganti karena lo yang samar." 
"Gue juga merasakan kalau lo emang memasuki gue dalam ruang untuk menggantikan masa lalu lo. Tapi, lo mengerti sendiri kan kalau kita ini hanya sahabat. Gue bahagia ketika lo sama dia, akhirnya lo bisa lepas dan gak berharap sama gue." 
"Ya akhirnya. Tapi, kesedihan itu ada. Dia tokoh baru ini melibatkan gue dalam banyak pikiran dan konflik. Dan nama itu, nama yang menjadi mimpi buruk gue, adalah satu masalah yang sampai saat ini mengikis rasa sayangnya." Gue berhenti sejenak. "Gue mau ini selesai. Gue mau balik ke mimpi gue yang dulu. Kembali ke doa gue. Bukan elo, bukan dia, bukan masa lalu gue. Gue mau mempersiapkan diri buat doa gue. Mau itu." Tangisan gue semakin menjadi. 

Dia menggenggam tangan gue. Dia menatap mata gue yang sudah penuh dengan air mata. "Lo perempuan yang kuat. Tapi perempuan kuat gak selalu harus bertahan pada rasa sakit. Perempuan kuat bisa mengambil keputusan yang terbaik untuk dirinya sendiri. Kalau itu hanya akan terus menyakiti, perempuan kuat berhak pergi dan mencari yang lain yang lebih pantas. Lo belum pernah berdoa atas masalah ini kan? Berdoa dong! Pintalah kepada Tuhan untuk melepaskan ikatan ini. Tuhan akan memberikan cara terbaiknya untuk bisa melepaskan lo dan dia. Dan untuk lo sama doa lo, gue akan mendoakan juga." 

Suasana hening dan kita saling menatap. Disini benar-benar gue merasakan dimana persahabatan dengan lawan jenis gak perlu dibumbui dengan rasa lain. 

"Okelah, sudah malam. Gue mau pulang. Perjalanan jauh, coy." Dia tertawa dan menghapus air mata gue. "Gue akan selalu mendengar cerita lo. Gue akan bantu menguatkan lo. Tapi inget ya! Kita ini sahabatan. Oke." 
"Iya terima kasih, ya. Terima kasih banyak menunjukan arti sahabat yang baru ke gue." 

Kemudian ia menghampiri motornya dan menyalakan mesin. "Gue pulang ya. Jangan tangisin dia! Perempuan kuat meneteskan air mata bahagia dengan orang yang tepat. Princess harus ceria dong. Jangan menangis! Assalamu'alaikum." 
"Wa'alaikumsalam."

Selasa, 15 April 2014

DALAM BAYANG SENJA



Bayang oranye memantul terhadap awan putih pada bentangan alam di atas kepalanya, menunjukkan kesukaan mereka dulu. Mungkin Tuhan tau bagaimana cara merayakan semua ini, seperti membawa setiap lembar masa lalu ke dalam genggaman Farah. Farah duduk di pinggir tumpukan tanah yang sudah ditumbuhi rumput hijau. Sambil tersenyum, ia menyabuti satu per satu rumput liar. Ketika semua terlihat bersih, ia taburkan kelopak bunga warna-warni di atasnya, merah, putih, dan kuning. Hembusan angin pun membuat senyum itu semakin sendu dilihat. Menemani hanturan doa yang dipanjatkan kepada Yang Maha Pencipta.
Teringat tentang kisah dua insan yang bersahabat dari bangku Sekolah Dasar. Mereka bersahabat ketika Alka tinggal di rumah tantenya yang berdekatan. Alka pindah ke rumah itu waktu ia kelas lima SD, sejak saat itu ia tidak memiliki orang tua lagi. Kedua orang tuanya meninggal dalam satu kecalakan ketika sedang menjalankan tugas dinas di luar kota.
Sejak kecil, Alka anak yang aktif di bidang olahraga. Sedangkan, Farah anak yang cukup aktif akan tetapi ia memiliki fisik yang jauh lebih lemah dan juga mudah lelah. Ketika duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, mereka mengikrarkan janji yang berisi dua butir perjanjian. Yang pertama, mereka harus berhasil kuliah di Jerman dengan program beasiswa yang sudah mereka incar. Yang kedua adalah perjanjian bahwa mereka boleh memiliki pacar, akan tetapi di waktu yang bersamaan. Sehingga di antara mereka tidak ada kecemburuan ketika ada sosok lain yang mereka sayang.
Setelah lulus SMA, mereka melanjutkan kuliah di Universitas Swasta. Farah senang sekali dengan dunia penyiaran, sehingga ketika kuliah Farah mengambil program studi Broadcasting. Sedangkan Alka, walaupun keahliannya di bidang olahraga, ia kuliah di bidang arsitektur.
Di masa kuliah inilah mereka menemukan sosok lain yang membuat mereka jatuh cinta. Alka jatuh hati dengan teman sekelasnya. Di sisi lain, ternyata Farah pun sedang merasakan degup jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya ketika ia berpapasan di ruang siaran, tempat kerja Farah. Memang sejak semester dua, Farah mulai bekerja separuh waktu di salah satu radio di kota. Dua sosok baru inilah yang memulai kisah baru diantara mereka. Mereka adalah Dian dan Dimas.
Matahari tak lagi menyinari dengan sempurna. Cahayanya sudah mulai tergilir oleh hadirnya sang bulan. Pantulan warna kuning kemerahan terlihat di setiap sisi dan ruang. Diiringi dengan hembusan-hembusan angin sore yang membuat suasana di saung depan rumah Farah menjadi segar kembali.
“Far, udah satu bulan lebih nih kita pendekatan sama gebetan kita masing-masing. Kapan yah kita bisa mendeklarasikan hari jadi kita? Gue sih udah siap buat menyatakan perasaan gue ke Dian. Toh, kayaknya Dian juga suka deh sama gue. Menurut lu gimana?” ucap Alka yang saat itu sedang tiduran.
“Gue bingung. Gue sebagai perempuan cuma bisa menunggu. Gue nggak bisa bergerak apapun selain melayangkan aura-aura positif kalau gue juga suka sama dia. Gue masih harus menerka-nerka kapan Bang Dimas akan mengajak gue untuk dinner dan mulai berbicara tentang perasaan kita masing-masing.” Jawab Farah yang duduk di samping Alka.
“Kalau gitu…” pembicaraan Alka terpotong, ia merasakan sesak di dadanya hingga pada akhirnya dia batuk-batuk.
“Lo nggak kenapa-kenapa kan, Ka?” Farah mulai panik karena batuk tersebut tak kunjung berhenti. Tangan kanannya sudah mulai mengusap punggung Alka, “gue ambil air putih. Lo tunggu sini dan jangan kemana-mana!”
Farah berlari menuju ke dalam rumah untuk mengambil segelas air putih hangat. Sementara Alka masih batuk sampai pada akhirnya ia mengeluarkan darah dari mulutnya. Kepanikan juga menghampiri Alka begitu melihat darah di tangannya. Alka bersegera mencuci tangannya dengan air dari keran yang berada di samping saung tersebut. 
“Ini air putihnya. Minum sekarang! Habiskan!”
Alka dengan cepat menghabiskan satu gelas air hangat. “Terima kasih, Far. Oyah, gue lupa. Tadi tante mau minta tolong apa gitu sama gue. Gue pulang ya, besok kita mengobrol lagi. Atau nggak nanti malam deh gue kesini lagi.”
“Iya, Ka. Jangan lupa istirahat. Kalau tante menyuruh kamu yang berat-berat tolak aja.”
“Iya bawel. Tenang aja. Lo tuh yang gampang pingsan. Jangan terlalu capek! Istirahat juga sana! Jangan mikirin Bang Dimas terus!” kemudian Alka berlari pulang tanpa mengucapkan salam.
Ketika Alka sampai di rumahnya, ia langsung mengambil vitamin yang biasa ia minum. Setelah ia mengkonsumsi dua kapsul vitamin andalannya tersebut, ia segera membaringkan tubuhnya di atas kasur.
“Tenang, Ka. Lo gak kenapa-kenapa kok. Lo cuma kecapean aja. Tadi kan lo abis latihan basket dan sparing futsal sama anak hukum. Jadi wajarlah kalau lo kecapean. Istirahat tidur satu atau dua jam cukup kok.” Ia menenangkan dirinya sendiri.
Dua hari kemudian di kampus. Dari gedung perkuliahan jurusan arsitektur, Alka berlari menghampiri Farah yang baru saja keluar dari gedung perkuliahannya. Tepat di depan Farah, Alka terjatuh karena tersandung. Insiden kecil ini membuat Alka mendapatkan luka di lututnya. Luka tersebut memang tidak terlihat parah, namun luka itu cukup mengeluarkan banyak darah.
“Alka? Kenapa lo kehilangan kendali gitu?” Farah membantu Alka bangun dari jatuhnya, “sini! Duduk di bangku sini!” Farah membopongnya menuju bangku taman terdekat.
“Gue…” Alka menahan rasa sakitnya, “gue cuma mau kasih tau kalau nanti malam gue mau jalan sama Dian. Tadi gue ngajak dia nonton dan tanpa banyak berpikir, dia menjawab iya.” Tangannya tak henti membersihkan luka di lututnya dengan sapu tangan miliknya.
“Aduh… kalau gue kasih saran sih ya. Mending lo tunda dulu deh rencana kencan lo sama Dian. Gue takut luka ini buat lo nggak bisa jalan.”
“Lo apa-apaan sih? Gue udah susah-susah cari waktu buat jalan sama Dian. Kenapa lo malah menyarankan gue untuk membatalkan?” Alka terlihat emosi mendengar saran dari Farah. Bahkan nada bicaranya mulai terdengar tinggi dan membentak, “lo nggak perlu mikirin gue. Luka ini cuma luka kecil biasa. Gue kasih obat merah juga sembuh. Jangan berlebihan!”
“Alka? Baru kali ini gue liat lo emosi dan membentak gue kayak gitu.” Farah pun terpancing emosi Alka. Keningnya mengkerut dan kendalinya dalam membantu Alka membersihkan lukanya mulai tidak baik. Sehingga Farah tidak sengaja menekankan sapu tangan tepat di atas lukanya.
“Lah? Lo kenapa? Bilang aja lo cemburu? Karena gue satu langkah di depan lo. Lo yang masih nggak jelas di depan Bang Dimas. Gue rasa, lo yang terlalu naif untuk menunjukkan perasaan lo.”
Mata Farah mulai berkaca-kaca. Dia tidak pernah menyangka kalau Alka akan berbicara seperti itu. Farah menahan segala emosinya agar tidak mudah meluap. Di benaknya, ia tidak akan pernah bisa menang dari argumen Alka karena suasana disana dalam keadaan negatif.
“Maaf. Gue cuma kasih saran. Kalau nggak terima juga nggak masalah. Gue cukup kecewa dengan sikap lo yang tiba-tiba berubah kayak gini. Baiklah, gue pulang duluan. Gue ada jadwal siaran setengah jam lagi. Sukses buat kencan lo. Gue tunggu kabar lo nanti malam.”
Sudah seminggu Alka tidak keluar dari rumahnya dan tak ada kabar. Farah yang merasa kecewa dengan sikap Alka waktu itu membuatnya tidak berani menghubungi. Farah hanya berharap Alka memberi kabar terlebih dahulu. 
“Bang, mau temenin gue nggak ke rumah Alka? Alka udah satu minggu gak ada kabar, kuliah juga engga. Bahkan ketika gue ketemu tantenya di depan rumah, dia cuma bilang kalau Alka sakit dan nggak mau ketemu siapapun” cerita Farah ke Bang Dimas.
“Memangnya sebelum itu ada apa?” tanya Bang Dimas di tengah kesibukannya merapihkan skrip.
“Masalah kecil sih, Bang. Waktu itu dia jatuh di depan fakultas gue ketika mau cerita kalau dia ada kencan sama gebetannya malam harinya. Terus kakinya luka gitu. Gue kasih saran untuk gak keluar rumah dulu, gue khawatir dengan luka dia. Eh dia malah marah dan membentak.”
“Mungkin dia hanya emosi aja. Karena kan saat itu dia lagi kasmaran. Jelas aja kalau dia mudah emosi kalau ada yang terlihat nggak senang dengan suasana hatinya.”
“Tapi kan gue kasih saran doang. Diterima atau engga juga nggak masalah. Toh kan demi kebaikan dia juga.”
“Hm… Jangan sedih! Abang temani ke rumah dia. Jadi kalau dia membentak kamu lagi, Abang tenangin. Mau jalan sekarang? Abang udah selesai.”
Mereka pergi menuju rumah Alka. Selama perjalanan mereka banyak berbincang mengenai perasaan masing-masing. Ternyata Dimas pun memiliki perasaan yang sama dengan Farah. Namun, ia masih kurang yakin karena kedekatan Farah dengan Alka yang menurutnya akan membuat hubungan mereka tidak akan berjalan mulus. Menurut Dimas, Farah masih terlalu labil untuk membagi perhatian antara sahabat dengan orang yang ia cinta.
“Maafin Abang ya, Far. Abang masih belum yakin sama kamu.”
“Nggak apa-apa kok, Bang. Beberapa orang yang suka sama gue ataupun Alka juga pasti berpikiran sama. Memang kedekatan kita bisa jauh lebih dekat dari hubungan dengan pacar. Tapi satu hal yang perlu Abang atau orang-orang itu tau, gue dengan Alka begini adanya. Kalian mau menerima kita berarti kalian juga harus mengerti hubungan kita.”
Sesampainya di rumah Alka, Farah menarik nafas panjang. Baru kali ini ia merasa kurang percaya diri bertemu dengan Alka. Mungkin karena kata-kata yang diucapkan Alka mambuat Farah segan dan kesal. Namun, apa arti persahabatan kalau tidak saling mengerti dan saling memaafkan.
“Tante, Alka mana? Farah kangen sama Alka. Farah mau ketemu sama Alka.”
“Alka lagi di kamarnya. Tapi… Alka nggak mau ketemu siapa-siapa.”
“Tan, please. Masa Farah yang sahabatnya sendiri masih nggak mau ketemu sih?”
“Tante Dewi, maaf nih. Saya dan Farah berniat baik untuk menjenguk Alka. Bisa ketemu dia? Sebentar saja.” Ucap Bang Dimas dengan sopan.
Tante Dewi menarik nafas, “Alka nggak bisa keluar kamar. Kalian yang ke kamarnya aja.”
Semua terasa mengejutkan disini. Luka di lutut kanan Alka sejak seminggu yang lalu tak kunjung sembuh. Menurut Alka itu hanya luka biasa yang belum waktunya sembuh. Tante Dewi sudah mencoba membujuk Alka untuk memeriksa luka itu ke dokter, tapi ia tidak mau. Hingga akhirnya Farah, Bang Dimas, dan Tante Dewi membujuk Alka kembali.  Namun, Alka masih saja tidak mau. Mengingat tugas yang sedang deadline, Farah memutuskan untuk pulang ke rumah. Begitu pun dengan Bang Dimas. Usaha mereka membujuk Alka dilanjutkan besok.
Keesokan hari, sebelum Farah pulang dari kampus dan berniat untuk kembali menjenguk Alka dengan Dian, gebetan Alka. Farah bertemu dengan salah satu rekannya yang kuliah di jurusan kedokteran. Farah mulai curiga dengan gejala-gejala yang terjadi dengan Alka dua bulan belakangan ini. Ternyata, diam-diam Farah pun mengetahui kebiasaan Alka meminum vitamin ketika dia mulai lemah. Beberapa kali sepulang kuliah, wajah Alka terlihat pucat dan begitu lelah. Bahkan, Farah pun tau kalau Alka sering sekali batuk yang tidak berhenti-berhenti. Saat di saung itu pun, Farah tau kalau Alka batuk darah. Sejak saat itu juga, Farah mulai menerka-nerka apa yang sedang dialami sahabatnya.
Sulit bagi Farah menerima kenyataan yang tidak pernah disadari dengan kenyataan yang nampak secara kasat mata.
Sabtu pada minggu kedua di bulan Maret, ketika langit sedang terlihat benar-benar oranye, ketika bulan dan matahari sedang berada di satu langit dengan sisi yang berlawanan, Farah harus menerima kabar buruk. Benar saja praduganya, air mata untuk pertama kalinya keluar karena Alka. Setelah sepuluh tahun bersama dengan kebahagiaan yang belum tentu dimiliki siapapun di dunia ini. Kesempurnaan cerita yang mungkin tidak pernah dirasakan oleh orang lain, hari itu harus berubah menjadi air mata dan ketidakpercayaan akan takdir Tuhan. Selembar kertas berkepalakan nama institusi resmi pemerintah dengan dampingannya logo institusi yang terdapat nama Alfaro Alka Nova menjadi bukti atas semua praduga.
Dengan kepeduliannya terhadap Alka, mulai hari itu Farah berjanji untuk menjaga Alka dalam kondisi apapun sampai ia benar-benar ditakdirkan oleh Tuhan untuk tidak berkesempatan menjaga Alka kembali.
Farah mulai mengganti vitamin yang biasa diteguk Alka untuk mengembalikan staminanya ketika ia merasakan sakit di tubuhnya dengan obat penahan rasa sakit yang sudah diberikan dokter ketika ia berhasil merayu Alka ke dokter. Dian yang merupakan orang baru dalam hidup Alka pun mulai terlihat teramat peduli. Ia membantu Farah menjaga kondisi Alka.
Semua yang buruk ini tidak berjalan lama. Luka di lutut kanan Alka membaik. Ia kembali beraktivitas. Alka masih saja beranggapan kalau dia baik-baik saja. Padahal perlahan penyakit itu hari demi hari menyerang seluruh bagian dalam tubuhnya.
Farah masih tidak berhenti menukarkan vitamin itu. Perhatian Farah ke Alka pun terus bertambah. Lebih terlihat seperti Ibu sedang mengurusi anak satu-satunya. Begitu telaten dan penuh dengan kasih sayang. Hingga akhirnya, Farah sendiri pun tidak sadar kalau dia juga mengabaikan kesehatannya.
Malam Sabtu sepulang kerja. Bang Dimas sudah pulang terlebih dulu, jadi Farah mengandalkan Alka untuk menjemputnya. Malam itu pun, Alka baru saja pulang makan malam bersama Dian. Mereka bertiga di dalam mobil milik Farah yang dipinjam Alka tadi siang. 
Saat itu wajah Farah terlihat pucat dan lesu. Dian sudah berpikir kalau Farah pun akan sakit karena kelelahan. Akan tetapi, Farah masih menyembunyikannya di balik perhatian atas penyakit Alka.
Ketika Alka sudah mengantar Dian pulang dan kemudian Farah yang mengendarai mobil menuju rumah Alka. Setelah menuruni Alka di depan rumahnya, dengan sisa-sisa tenaga Farah berusaha mengendarai mobil matic berwarna merah. Matanya sayup dan bibirnya pun terlihat sangat putih. Alka menawarkan Farah untuk singgah sebentar di rumahnya untuk beristirahat dan melihat pengumuman beasiswa kuliah di Jerman, impian mereka. Tetapi, Farah menolaknya.
Sesampainya Alka di rumah, ia langsung menyalakan laptopnya. Menurut jadwal, hari itu adalah hari pengumuman beasiswa kuliah di Jerman. Alka dan Farah memang sudah mengajukan lamaran untuk beasiswa ini sejak semester tiga. Dengan berbagai tes, mulai dari ujian lisan, tulisan, bahkan wawancara. Hal ini pula yang membuat Alka dan Farah harus kehilangan berat badan sebanyak masing-masing delapan dan lima kilogram. 
Belum sempat Alka membuka web penyelenggara beasiswa tersebut, ia mulai merasakan sakit. Ia mulai kembali batuk tanpa henti. Seketika tubuhnya melemah. Jeritnya pelan tak membuat orang di rumahnya merasa dibutuhkan. Dari berdiri, kemudian membungkuk, jatuh dan benar-benar tidak berdaya di atas lantai kamarnya. Di tangan kanan sudah banyak darah yang keluar dari mulutnya. Tante Dewi dan suaminya tidak mengetahui hingga mereka menawarkan Alka untuk makan malam bersama.
“Mas… telepon dokter, Mas. Iki loh Alka, Mas. Buruan!” teriak Tante Dewi dari kamarnya.
Suami Tante Dewi segera menelepon dokter dan menyiapkan mobil tuanya untuk membawa Alka menuju rumah sakit. Keadaan Alka sudah benar-benar yang paling buruk. Kekerasan kepala Alka membuat dirinya bahkan orang-orang di rumahnya tidak mengetahui seberapa parah penyakit ini ada dalam tubuh Alka. 
Di sisi lain, ketika Tante Dewi dan seluruh orang di rumahnya panik dengan keadaan Alka, Farah pun jatuh pingsan ketika ia baru saja ingin memasuki kamarnya. Ternyata kondisinya yang benar-benar jatuh membuatnya juga harus dibawa ke rumah sakit.
Disinilah, Farah berhenti menjadi sahabat Alka. Namun, tali persahabatan mereka berlanjut hingga kapanpun. Bahkan sampai mereka berdua bertemu di alam selanjutnya.
Setelah beberapa lama Farah habiskan waktu di pemakaman untuk mengenang kisah hidupnya yang singkat bersama sosok laki-laki yang sepantaran dengan dia. Dimas datang dengan membawa satu ikat bunga mawar putih yang kemudian ia berikan kepada Farah sebagai hadiah hari jadi mereka untuk satu tahun.
“Lo nggak boleh cemburu ya, Ka. Buat gue, lo adalah cerita yang paling indah di hidup gue dan nggak akan pernah gue melupakan itu. Satu hal lagi, gue akan pergi ke Jerman untuk mewujudkan impian kita yang sempat tertunda karena setahun ini gue masih belum bisa meninggalkan lo disini sendirian.”

SM feat AJ

Rabu, 19 Maret 2014

Rahasia Hati



Sekitar pukul sebelas malam aku baru menyalakan motor matic berwarna putih yang aku pinjam dari adik Ibuku. Dengan menarik nafas panjang dan senyum yang sangat lebar aku mulai menarik gas di tangan kanan. Membuat kuda besi ini berjalan beberapa meter lurus ke depan untuk bertemu dua orang penjaga yang akan memeriksa Surat Tanda Nomor Kendaraan dari kendaraan yang aku bawa. “Terima kasih, Pak” ucapku ketika salah satu dari mereka mengembalikan selembat kertas yang dibungkus plastik tebal. Kemudian aku menarik gas dan meluncur ke jalan raya dengan senyum dan tatapan mata yang kosong.
Apapun yang terjadi nanti, itulah yang emang harus terjadi. udah gitu aja- sekiranya itu yang menjadi pemicu sehingga aku tersenyum dengan tatapan kosong dan duduk mengendarai motor matic putih di tengah jalan yang sudah kosong pula. Inilah yang terjadi padaku.
Hari ini aku ada janji dengan seorang pria, dia teman dekatku di masa sekolah dulu. Saat itu kami dipersatukan dalam satu ekstrakurikuler. Sejak awal masuk perkumpulan ini memang kami dipertemukan sebagai seorang pemimpin dan pendamping pemimpin. Di sebuah permainan kecil kami bertemu dalam satu tim. Di tim ini, dia menjadi pemimpinnya. Sedangkan aku, mendapatkan peran sebagai pendamping dia dalam menjalankan tugas yang diminta dalam permainan ini. Namun, saat itu tidak sekalipun atau sedikit apapun aku berpikir akan jatuh hati dengan dia.
Aku tersenyum, bahkan aku sesekali tertawa kecil dari balik masker abu-abu yang aku kenakan. Merasa lucu bagaimana tadi aku mempersiapkan diri sebelum berangkat. Aku berdiri di depan cermin dan bolak-balik mencari pakaian yang paling cocok aku kenakan. Setelah selesai dengan pakaian, aku berkutit dengan seperangkat alat make-up yang sebenarnya sudah biasa aku gunakan ketika aku mau berangkat kuliah. Sekedar bedak tipis tanpa foundation, lipstick merah muda, eyeliner yang aku oleskan pada kelopak mataku, serta mascara yang membuat bulu mataku terlihat lentik. Tapi kali ini beda dari biasanya, semua itu mengabiskan waktu sepuluh kali lipat.
Ketika rapih dengan tampilan, aku bergegas ke garasi untuk mengeluarkan sepeda motor milik Om Danang. Lagi dan lagi aku harus menarik nafas panjang untuk menenangkan hatiku dan menghubungkan dengan pikiranku.
Aku sudah berbekal sebungkus coklat dan permen yang biasa aku andalkan untuk mengontrol emosiku. Aku yakin, ketika aku melihat wajahnya dari kejauhan pasti jantungku akan berdegup jauh lebih kencang dari biasanya. Benar saja, ketika dia menyapaku dari kejauhan tadi, keringat sudah mengalir dari dahi melewati pipi dan menetas jatuh di dagu. Aku segera mengambil sebungkus coklat dan aku mengunyahnya dengan terburu-buru sebelum dia berdiri tepat dihadapanku dan menyapa, “hai, Ka!”
Sapaannya itu membuat jantungku mulai berdetak dengan tempo yang sangat cepat, semakin lama dia menatapku dengan senyumnya yang khas semakin membuat jantung ini tidak karuan merasakan sensasi orang yang memendam perasaan. Perasaan yang sudah sekitar tiga tahun dipendam.
“Makan apa, Ka?” tanyanya lanjut sebelum aku sempat membalas sapaannya tadi. Wajahnya terlihat lesu, yang pasti dia sedang merasa lelah. Karena dia baru saja pulang dari kuliahnya dan langsung datang untuk memenuhi janjinya denganku.
“Eh? Hm…” aku berusaha menenangkan diri sebelum mengeluarkan kata-kata yang menurutku tidak pantas dikeluarkan. Mungkin efek dari rasa grogi. “Makan… coklat.” Lanjutku terbata-bata. “Oh iya. Hai, Bim.” Sekali lagi aku mengeluakan suara, kali ini maksudku membalas sapaan dia di awal.
“Kamu kenapa, Ka? Kok kayaknya grogi banget.” Kalimat itu, membuat mataku terbuka lebar, nampaknya rasa grogi ini benar-benar terlihat jelas di raut wajahku sehingga dia bertanya seperti itu.
“Engga, biasa aja kok.” Jawabku menutupi semuanya.
“Ok. Kalau gitu, bisa kita langsung ke café aja?”
“Bisa kok. Ayo!”
Kami tidak banyak berbincang selama perjalanan menuju café yang ada di pusat perbelanjaan ini. Aku sibuk mengatur detak jantung, keringat, dan rasa grogiku agar dia tidak bertanya hal seperti tadi. Setidaknya agar aku tidak terlihat benar-benar sedang jatuh hati dengannya.
Begitu sampai di café tersebut, dia langsung memilih tempat duduk di balkonnya. Tampak jelas indah jika kami duduk disini untuk candle light dinner. Sayangnya, bukan itu yang menjadi alasan kami bertemu disini setelah sekitar enam bulan tidak bertemu.
“Disini aja ya, Ka. Pemandangannya bagus. Kita bisa lihat pemandangan gedung-gedung yang ada disana. Berasa banget jadi orang Jakarta gitu.”
“Iya. Oke deh, Bim. Aku ikutin kata kamu aja.”
Kami duduk dan merapihkan barang-barang yang kami bawa di sisi bangku yang kami duduki. Tak lama kemudian, seorang pelayan café menghampiri kami dengan membawa dua buku menu yang ia berikan kepada kami. Seperti biasanya, dengan keramahan yang dia miliki, dia menyambut layanan dari pelayanan tersebut dengan sopan.
“Vanilla Latte nya satu ya, Mas.” Katanya kepada pelayan itu. Benar saja dugaanku. Dia masih dengan vanilla latte-nya.
“Kalau saya, jus strawberry nya ya. Oyah, gulanya dilebihin ya.”
“Jangan manis-manis, Ka. Gak baik.” Katanya mengingatkanku.
“Hm… biasa aja deh. Gak jadi dilebihin.” Dengan spontanitas aku mendengar nasehatnya.
Selesai dengan pesanan kami, pelayan tersebut segera pergi dari meja kami untuk membuat pesanan kami. Sama seperti dulu, dia tidak suka membuang waktu untuk mengobrol sebelum selesai dengan tugasnya. Dia membuka catatan kuliahnya dan mulai bertanya-tanya tentang satu tugas mata kuliahnya yang tidak dia kuasai sepenuhnya. Kemudian aku mulai menyambut pertanyaannya dengan menjawab sesuai dengan ilmu yang sudah aku terima sebelumnya.
Kami terus saja berkutik dengan materi pelajaran hingga waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Nampaknya, café ini pun sudah mau tutup. Kami bergegas pergi dari café ini untuk pulang. Begitupun materi pelajaran yang ia minta ajarkan itu sudah selesai aku berikan. Sedikit lebih tenang disini, karena sedari tadi aku dibawanya serius ke dalam pelajaran kuliah. Aku tidak lagi merasakan degup jantung yang berlebihan ataupun keringat yang terus mengalir. Suasana serius tapi santai berhasil mencairkan suasana disini hingga kami bergegas pergi dari café.
“Ke tamannya dulu yuk” ucapnya. Ajakannya membuat degup jantung kembali kuat. “Kayaknya lebih enak kita mengobrol-ngobrol dulu deh. Lagi pula besok kan hari Minggu. Gak ada kegiatan kan, Ka?”
“Hm…” aku berusaha tenang, “baiklah, kita mengobrol aja dulu ya di taman. Besok aku free kok. Masih jam sembilan juga. Tapi jangan lama-lama ya. Aku gak enak sebagai perempuan kalau pulang larut malam.”
“Tenang aja deh, Ka. Paling juga sampai jam sebelas kurang.”
“Itu lama loh, Bim. Dan sudah malam juga kalau aku pulang jam segitu.”
“Ya, sekali-kali pulang malam juga gak apa-apa kan? Toh kan kita juga jarang mengobrol berduaan begini. Suasananya lagi asik banget sih, Ka.”
“Ya sudah. Kalau itu buat kamu seneng. Lagi pula bener juga, suasana di taman ini buat nyaman banget” aku menarik nafas panjang dan menutup mataku sejenak untuk menikmati suasana malam di taman belakang pusat perbelanjaan ini. “Boleh minta tolong gak, Bim?”
“Minta tolong apa?”
“Fotoin aku dengan handphone ini. Viewnya bagus.”
“Jangan! Pakai handphone aku aja. Biar sekalian aku simpan foto kamu.”
Berawal dari situlah aku merasa benar-benar senang sekali dengan kencan pertama kami ini. Sebenarnya ini bukan kencan juga. Entahlah, apapun itu semuanya membuat senang.
Beberapa kali kami berfoto di taman ini. Awalnya bergantian, foto sendiri-sendiri. Kemudian ia nekat meminta tolong salah satu pengunjung disini untuk mengambil gambar kita berdua.
Degup jantungku seperti sedang naik hysteria di dufan. Nanti dia naik temponya, kemudian turun, kemudian naik lagi, lalu turun lagi dan naik lagi seperti sekarang aku berdiri di sampingnya untuk foto bersama dan yang paling membuat jantung ini memuncak berdetak adalah ketika dia merangkulku kemudian aku menatapnya dan dia menatap balik. Ekspresi menyebalkan itu berhasil tertangkap kamera handphonenya.
“Ekspresinya natural banget ya, Ka. Aku suka foto kita yang ini.”
“Kamu mengagetkan banget sih, Bim. Kamu kan gak pernah merangkul aku kayak gitu. Makanya aku langsung menengok ke kamu terkejut gitu.”
“Dan aku malah menatap balik kamu, ya?”
“Ah kacau juga sama kamu.”
“Yang penting kamu senang kan? Ya sudah, kita duduk dulu disini.” Kemudian kami duduk menghabilkan beberapa menit yang berubah menjadi jam di malam ini di sebuah taman yang cukup indah.
Semua terasa menyenangkan. Menghabiskan beberapa menit paling kusuka di sini dengan sosok yang sudah membuatku selalu berdoa kepada Tuhan agar dia menjadi tujuan akhirku. Senyumnya, tawanya, raut wajahnya, gerak tubuhnya, ucapannya, kembali sekali lagi membuatku semakin menginginkannya. Dan kembali aku hanya bisa memintanya kepada Tuhan melalui doa.

Stupidfy : Ku Yakin Cinta Part IV

Read Stupidfy : Ku Yakin Cinta Part III                 Via Whatsapp aku mengajaknya pergi ke Puncak, enam bulan kemudian. Dia mau dan si...