Tampilkan postingan dengan label PENGALAMAN PRIBADI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PENGALAMAN PRIBADI. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Februari 2015

Chapter Baru Lainnya

Assalamu'alaikum...
Halo :)
Apa kabar?
Lucu yeh, gue bertanya seperti itu seakan ada yang baca postingan gue ini.

Hmm.. Tapi baiklah biarkan saja.
Gue udah lama banget gak posting di blog pribadi gue, apalagi pacar gue udah sering banget bertanya "Kamu gak pernah ngeblog lagi?". Makanya gue mencoba untuk menulis lagi deh.
Meskipun gue gatau siapa yang mau baca postingan gue kali ini. Gue sih bisa yakin, pacar gue baca. Tuh yang dimaksud lagi senyum-senyum kan.

eh eh eh eh...
Kok sok buang muka gitu sih???





Jangan belagu gitu ah ... Haha
Maaf Maaf..
Gue cuma mau share beberapa hal yang terjadi selama postingan gue gak pernah terbit.
Mulai dari mana yaaa.... Dari ulang tahun gue aja deh ya. Terakhir kan gue posting foto pas gue ulang tahun.
Nah saat itu gue baru menjalin hubungan dengan Mr. Adi (Mas Adi) belum ada satu bulan. Tapi doi sayang banget sama gue. Cieee....

Jujur, saat itu gue masih ada bawa-bawa perasaan dengan seseorang yang pernah gue buatin satu postingan di blog ini, soal daun yang gugur itu tuh. (Gue berani ngomong ini karena gue udah pernah cerita sama Mas Adi).Ya tapi sekarang mah udah biasa, udah beralih nih ke Mas Adi. Hahahaha cie cie cie senyum tuh yang disebut-sebut.

Oke skip. 23 Desember 2014, gue berulang tahun yang ke-20. Eh engga!!! Fix gue masih 14 tahun!!! HAHAHA
Diumur gue yang kedua puluh (oke fine gue mengakui), gue punya beberapa hal yang harus gue capai. Yang pertama banget adalah khatam Al-Qur'an. Setelah itu, diumur yang kedua puluh, gue harus lulus D3 (kuliah gue yang perjuangan banget). Nah, satu lagi adalah gue harus udah bisa dapetin kerjaan yang bisa bikin gue lebih baik, mandiri, dan bantu kedua orang tua gue.

Ceritanyaa.... (yang udah terjadi)
Khatam Al-Qur'an. Sampai postingan ini ditulis, gue masih belum menyelesaikan rencana gue yang ini.
Lulus D3...
10 Februari 2015, jadwal sidang Laporan Praktik Kerja Lapangan gue. Itu hari Selasa. Sedikit singkat cerita, hari Minggu hujan deres banget. Sampai akhirnya banjir melanda dan gue gak jadi sidang di jadwal tersebut. Situasi dan kondisinya banjir di rumah gue dan banjir pula kampus gue. Gue kuliah dimana? Ya cari tau aja. Akhirnya re-schedule jadi tanggal 17 Februari 2015.

17 Februari 2015 semua ini terjadi ...






AKU LULUS DENGAN NILAI A-
Gue gak sempurna, gue tau kemampuan gue. Maka dari itu gue gak protes dengan adanya tanda minus setelah A. HAHAHA
Lulus kuliah bukan hal yang "gak disangka". Gue emang udah merencanakan hidup gue harus bisa lulus dari perguruan tinggi. Apapun gelarnya, setidaknya gue harus merasakan belajar di perguruan tinggi.
Di hari itu sebenernya gue sedih :'( Soalnya gue gak dapet waktu santai dan cerita-cerita dengan Ibu gue. Nangis di jalan itu gue.
Kenapa gue gak dapet waktu santai?

Tanggal 21 Januari 2015, Laporan PKL gue di-acc sama Dosen Pembimbing gue. Beliau adalah Bu Triana. Di hari itu juga gue dapet telpon dari teman gue, gue diajak kerja sebagai Junior Auditor di KAP tempat kerjanya dosen gue. Akhirnya gue kerja deh setelah sebelumnya gue sempet menolak ajakan untuk audit di Makasar karena gue masih harus remedial.

Mulai dari 28 Januari 2015, gue mengaudit sebuah perusahaan di Tangerang. Karena letaknya yang cukup jauh dari rumah, akhirnya gue dikasih kosan. Gue nge-kos di daerah Cimone.
Balik lagi ke hari dimana gue dinyatakan LULUS. Setelah sidang, gue harus balik ke kosan karena besok paginya gue harus kembali kerja. Maka dari itu gue agak sedih.

Setelah lulus dan berbagi cerita tentang pekerjaan pertama gue. Gue akan berbagi yang lain.
Banyak hal yang gue rasain. Dari sedih, senang, yang biasanya gue share dengan kata-kata yang gue olah di blog ini, gue memilih untuk diam dan memendam semuanya sendiri.
Oyah, sebelumnya ada masalah besar yang datang di hidup gue. That's nightmare, mimpi buruk yang sudah lama terjadi eh dateng lagi.

After that, yang bisa gue sharing adalah ...
Nanti lagi deh, gue masih belum semangat nulis.
Bye~~~~~~~

Jumat, 18 Juli 2014

Falling in love with you, it's like a drug

Falling in love with you, it's like a drug 

Once tried, it's hard to stop. There is no you, I'm gonna sick. 


You always I needed if I'm going crazy 


Everytime I spend thinking about how can I get you? 


I'm willing to be bad for you. 


Your presence is like a heaven of my flat world. 


Always makes me laugh even though my heart is crying. 


You make the world I lived is very easy when you're there with me. 


You make me feel brave and challenged to fight the world.

Namanya Masih Menjadi Mimpi Buruk Gue

Namanya masih jadi mimpi buruk buat gue. 

Itu yang gue rasakan seketika sesaat setelah teman tongkrongan gue menyebut satu nama yang gak asing pastinya. Badmood? Pasti! Buktinya? Gue langsung memutuskan untuk pulang. Padahal Ibu atau Ayah gue sama sekali belum menyuruh gue pulang seperti biasanya. 

Mata gue? Jelas menggambarkan kecemburuan yang teramat sangat. Wajah? Sudah pasti menunjukkan mimik emosi yang memuncak. Walaupun gue tutupin itu semua dengan gurauan penutup sebelum gue pergi ke parkiran. Langkah kaki gue juga sudah seperti orang yang sedang muak dengan keadaan yang baru saja dilewati. Entahlah, yang jelas mood gue sudah buruk banget sekarang. 

Di parkiran, gue melampiaskan semuanya. Gue kucek-kucek baju gue, gue pukulin speedometer motor gue. Gue acak-acak kerudung gue sendiri. Tapi itu doang yang bisa gue lakukan. Masih ada yang mengganjal di tenggorokan. Yaitu suara emosi yang mau banget gue keluarin sekencang-kencangnya. 

Cukup puas dengan melampiaskan emosi, gue bersegera menyalakan mesin motor dan mengeluarkannya dari deretan moto yang terparkir. Sesaat sebelum gue menarik pedal gas, seseorang menepak pundah gue dari belakang. Otomatis gue gak jadi menarik pedalnya. Gue menoleh ke belakang. 
"Elo? Ada apa?" Ucap gue dengan nada mencoba tenang. Gue gak mau dia mendapatkan apa yang sedang gue rasakan. 
"Mau langsung pulang? Gue temani yah sampai rumah. Gak baik perempuan pulang sendirian, malam pula. Jalanan ke rumah lo kan gelap dan sepi." 
"Gak. Gak perlu. Gue biasa pulang sendiri kok. Sekarang juga baru jam sepuluh. Biasanya jam sebelas juga gue nyantai aja." 
"Biasanya kan lo pulang malem juga gak ada gue. Sekarang ada gue dan gue gak mau lihat perempuan pulang malem-malem sendirian." 
"Udahlah, gak perlu. Gue bisa sendiri. Gue kan princess yang kuat." Nada bicara gue mulai tinggi karena gue ikut terbawa emosi mendengar kalimat keras kepala orang ini. 
"Tapi, gak ada princess yang pulang sendiri. Ada pangeran atau jongosnya deh yang mengantar princess itu sampai ke depan istana." 
Gue menarik nafas panjang, "okelah kalau lo memaksa." 
"Gue akan mengikuti lo dari belakang ya. Jangan mengebut! Biar gue gak ketinggalan jejak lo." 
"Ya sudah. Cepat ambil motor lo!" 

Setelah ia selesai menyalakan motornya, kita jalan bersamaan. Sekitar lima belas menit kita berkendara menuju rumah gue. Sampai di depan gerbang, gue menawarkan dia untuk mampir hanya sekedar minum teh atau makan biskuit. Dengan ramah, dia menerima tawaran gue. 

"Ini tehnya dan ini biskuitnya. Dicelupin lebih enak." Terjalanilah tawaran pertama gue. Kemudian, gue duduk di kursi samping dia. 

Dia langsung menyeruput teh yang gue buat barusan. Gue menarik nafas panjang kembali dan membuka smartphone yang ada di saku celana jeans gue. Gue balas satu obrolan dari satu teman dekat gue. Setelah itu, gue kembali fokus terhadap orang di samping gue. 

"Udah lama ya gue gak kesini? Setahun ada?" 
"Enggalah, terakhir kan abis lebaran lo kesini." 
"Oh iya." Dia menjedakan pembicaraannya untuk mengambil biskuit kelapa, "ada apa?" 
"Ada apa? Maksudnya?" Gue mulai merasa bingung dengan pertanyaan orang ini. 
"Iya, tadi ada apa? Tiba-tiba mau pulang? Gue tau, lo biasa pulang jam sebelasan. Lo akan pulang kalau orang tua lo sudah menyuruh balik kan? Terus, kenapa tadi lo pulang buru-buru?" 
"Gak, gak ada apa-apa. Karena udah malam saja. Maka dari itu gue pulang." 
"Yakin?" 
"I... Iya... Yakinlah..." Gue mulai curiga dengan pertanyaannya. Pikiran gue menunjukkan kalau dia tau apa yang gue rasakan. 
"Bukan karena itu sih. Mata sama wajah lo tuh gak bisa bohongin gue kali. Ceritalah sama gue. Lo udah gak pernah cerita sama gue." 
"Cerita apa? Apa yang perlu gue ceritain?" 
"Lo hutang banyak loh sama gue. Hutang banyak cerita. Lo gak inget? Waktu gue pergi, lo bilang sama gue kalau gue sudah pulang, lo akan cerita semua yang terjadi sama lo ke gue." 
"Masa sih? Gue gak inget pernah ngomong kayak gitu." 
"Iya, lo pernah ngomong kayak gitu." 
Gue memainkan ujung jilbab, "gue... Gue gak kenapa-kenapa. Serius." 
"Ah lo masih kaku saja sama gue!" Dia menunduk dan kemudian tatapannya penuh ke gue. Dia pegang telapak tangan gue, "gara-gara sebuah nama? Nama perempuan itu?" 

Gue membalas tatapannya, gue mulai merasa ingin meneteskan air mata. Gue lepas tangannya dari tangan gue. Gue gak mau banyak hal terjadi disini. 

"Tuh! Mata lo gak bisa bohong! Cerita sama gue!" 
"Gue ... Nama itu masih jadi mimpi buruk buat gue. Gue gak tau kenapa, gue gak suka nama itu terdengar di telinga gue." 
"Kenapa gitu? Bukannya lo sama sahabat gue itu juga sudah berjalan jauh dan semakin dalam? Lo sayang kan sama dia?" 
"Gue sayang sama dia. Sayang banget." Gue meneteskan air mata, "tapi, gue gak paham kenapa rasa ketidakpercayaan itu memangkas rasa sayangnya. Ini lebih seperti, daun-daun yang berguguran di musim gugur, kemudian rasa dingin menyelimuti ketika musim saltu menggantikan, lalu daun-daun kembali tumbuh di musim semi, kemudian cinta ini menghangat seperti mentari yang ada di musim panas, lalu gugur lagi, lalu dingin lagi, lalu tumbuh, lalu panas, lalu gugur, lalu..." 
"Stop!" Dia memberhentikan omongan gue. 
Ekspresi wajah gue mulai sedih, kening gue mulai mengkerut. Air mata gue semakin banyak yang menetes. Gue juga gak berhenti menggerakkan kaki dan memainkan jari gue. Gue menggigit bibir bawah gue, gue mulai gusar dengan keadaan ini. 

"Terlalu banyak yang gak kita bicarakan yah? Harusnya dari kemarin-kemarin gue ajak lo sharing ya." 
"Gak tau, gak tau, gak tau. Gue benci keadaan ini." 
"Maafin gue ya yang membiarkan lo berpikir sendiri." Ucapannya membuat gue menatap wajahnya yang menunjukkan mimik kecewa. "Maafin gue ya, gue ninggalin lo." 
"Hey! Jangan kayak gitu! Lo gak pernah ninggalin gue. Gue yang menemukan sosok lain." 
"Maksud lo?" 
"Maafin gue ya, gue diam-diam menyimpan semua itu. Gue berharap, ketika lo pulang kemarin, gue sama lo bisa..." 
"Maksud lo apa?" 
"Sebelum dia masuk ke dunia gue, setelah gue selesai dengan masa lalu gue. Ada elo yang hadir. Dan entah kenapa, justru gue merasa gue ini salah satu korban lo. Korban atas kelabilan lo, korban atas pelampiasan lo sama masa lalu lo juga. Kemudian gue juga akhirnya beralih dengan cepat ke dia." 
"Jadi, lo?" Dia mencoba membuat gue pengakuan. 
"Iya, di saat gue bermasalah dengan masa lalu gue. Ada elo yang hadir bawa senyuman dan menghapus luka itu. Lo yang buat gue sembuh dari luka itu tapi gue gak berani menunjukkan lebih ke elo. Gue menutupi semuanya dengan kata persahabatan. Sampai akhirnya lo juga nyaman dengan sahabatan dan gue juga bertemu dia sebagai tokoh pengganti karena lo yang samar." 
"Gue juga merasakan kalau lo emang memasuki gue dalam ruang untuk menggantikan masa lalu lo. Tapi, lo mengerti sendiri kan kalau kita ini hanya sahabat. Gue bahagia ketika lo sama dia, akhirnya lo bisa lepas dan gak berharap sama gue." 
"Ya akhirnya. Tapi, kesedihan itu ada. Dia tokoh baru ini melibatkan gue dalam banyak pikiran dan konflik. Dan nama itu, nama yang menjadi mimpi buruk gue, adalah satu masalah yang sampai saat ini mengikis rasa sayangnya." Gue berhenti sejenak. "Gue mau ini selesai. Gue mau balik ke mimpi gue yang dulu. Kembali ke doa gue. Bukan elo, bukan dia, bukan masa lalu gue. Gue mau mempersiapkan diri buat doa gue. Mau itu." Tangisan gue semakin menjadi. 

Dia menggenggam tangan gue. Dia menatap mata gue yang sudah penuh dengan air mata. "Lo perempuan yang kuat. Tapi perempuan kuat gak selalu harus bertahan pada rasa sakit. Perempuan kuat bisa mengambil keputusan yang terbaik untuk dirinya sendiri. Kalau itu hanya akan terus menyakiti, perempuan kuat berhak pergi dan mencari yang lain yang lebih pantas. Lo belum pernah berdoa atas masalah ini kan? Berdoa dong! Pintalah kepada Tuhan untuk melepaskan ikatan ini. Tuhan akan memberikan cara terbaiknya untuk bisa melepaskan lo dan dia. Dan untuk lo sama doa lo, gue akan mendoakan juga." 

Suasana hening dan kita saling menatap. Disini benar-benar gue merasakan dimana persahabatan dengan lawan jenis gak perlu dibumbui dengan rasa lain. 

"Okelah, sudah malam. Gue mau pulang. Perjalanan jauh, coy." Dia tertawa dan menghapus air mata gue. "Gue akan selalu mendengar cerita lo. Gue akan bantu menguatkan lo. Tapi inget ya! Kita ini sahabatan. Oke." 
"Iya terima kasih, ya. Terima kasih banyak menunjukan arti sahabat yang baru ke gue." 

Kemudian ia menghampiri motornya dan menyalakan mesin. "Gue pulang ya. Jangan tangisin dia! Perempuan kuat meneteskan air mata bahagia dengan orang yang tepat. Princess harus ceria dong. Jangan menangis! Assalamu'alaikum." 
"Wa'alaikumsalam."

Lima Yang Ketujuh

Bertemu lagi dengan tanggal lima. 

Kamis, 5 Juni 2014. Genap tujuh bulan kita menjalin komunikasi. Entah hanya aku saja yang menginginkan komunikasi ini berakhir dengan status yang indah, entah hanya aku saja yang merasakan indahnya jatuh cinta. Dimana aku ingin kamu selalu ada di dekatku, ingin kamu selalu bersama aku, menjalani setiap hari dan menghabiskan setiap waktu untuk bersama dan terus bersama. Entah. Aku engga tau. 

Siang ini mendung. Mendung sekali. Langit gelap tapi tak pekat. Ronanya abu-abu. Dingin juga terasa akibat angin yang semilir menghempas ke seluruh tubuh dan terasa menyakitkan di telapak tanganku. Disini aku sendiri. Tanpa kamu. 

Aku ingat kembali banyak hal yang sudah kita lewati. Hal-hal yang tidak pernah aku alami sebelumnya. Bahkan dengan mantan-mantan kekasihku. Kamu yang pertama, bagaimana kita melanjutkan semua ini? 

Tuhan tau, hatiku sedang sedih. Tapi, apa pernah kamu mengetahui itu? Tentu saja tidak. 

Untuk pemuda yang seperti kamu, yang masih panas jiwanya untuk mengisi hidup kamu dengan cerita luar biasa. Apa masih perlu hadir aku? 

Iya, perlu. Jawaban itu yang tepat. Aku hadir sebagai pendengar yang baik dari semua cerita-cerita kamu bersama teman-teman kamu, dengan segala semangat muda kamu. Bisakah aku menyebut diriku sebagai buku diarymu yang selalu kamu butuhkan setiap malam untuk mendengar seluruh kisah yang kamu sebut luar biasa itu. Aku? Hanya tersenyum. Aku bangga, sungguh aku bangga melihat semangatmu yang sungguh luar biasa itu. Kamu dengan semua obsesimu. 

Tapi, sekali saja. Apa kamu pernah bertanya kepadaku? "Apa cerita kamu di hari ini, wahai wanita yang aku sayangi?" 

Tidak, jelas tidak. Bahkan mungkin jika kamu bertanya seperti itu, aku tidak akan mengeluarkan kata apapun, aku akan mengembalikan pertanyaan itu ke kamu. 

Hari ini, aku merasakan perih atas semua kebungkamanku. Perih itu selalu terasa setiap malam ketika aku mau memejamkan mata. Aku hanya mau menyampaikan semua isi hatiku yang tidak bisa aku ungkapkan langsung dari mulutku sendiri. 

Sayang, kenapa kamu seperti ini? Aku sungguh menyayangimu. Aku ingin jadi milikmu seutuhnya. Hanya aku. Tapi kenapa ketika kamu bilang kalau aku satu-satunya, ada rasa tak percaya? Sayang, bisakah kamu merubah perasaan itu? Sayang sekali saja kamu dengar aku. Aku datang bukan untuk menjadi buku diarymu, menjadi teman curhat kamu, menjadi pendengar yang baik untuk semua cerita-cerita kamu. Bukan. Aku hadir untuk menjadi seseorang yang berharga untuk kamu. Bukan sekedar untuk menjadi saksi perjalanan hidup kamu yang labik ini. Aku ingin dicintai seutuhnya. Aku tau, aku bukan yang terbaik. Karena terbaik itu tidak pasti. Sayang, dengar rintihan aku yang meminta kepastian dari hubungan ini. Hingga hilang seluruh keraguan hati aku atas rasa sayang kamu. Aku butuh itu di bulan ketujuh kita menjalin hubungan. Sayang, aku menangis saat menulis ini. Bisakah kamu merasakannya?

Sabtu, 29 Maret 2014

ASP 2012

First time at ASP as ASP 2012
 
 Semester Kedua Sebagai ASP 2012.
Kelas A

Kelas B




Semester Ketiga sebagai ASP 2012. All In One

Semester Keempat sebagai ASP 2012. All In One



DIII AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK 2012
UNIVERSITAS TRISAKTI

Minggu, 13 Oktober 2013

99persen + 1persen



Assalamu’alaikum :)
               Berbagi nih yaa tentang pengalaman gue. Yuk silahkan …
               Suatu hari waktu gue masih bergelar pelajar, Kepala Sekolah gue memberikan wejangan di lapangan. Ada satu hal yang diucapkan beliau begitu sangat berarti dalam kehidupan nyata kita semua. Kata-kata itu beliau ucapkan ketika gue kelas 3 SMA dan ingin menghadapi Ujian Nasional. Beliau mengucapkan kalimat itu bukan karena gak ada maksud, justru makna nya sangat dalam loh.
               Kita selalu mendengar, untuk mencapai apa yang kita inginkan kita wajib berusaha dan berdoa. Yap itu benar banget. Gue udah aplikasikan ke dalam hidup gue. Dan kalian bisa oleh sendiri dimana letak usaha dan doa itu.

               Lulus Ujian Nasional dengan ketentuan 60% nilai UN ditambah 40% nilai UAS membuat gue sangat yakin pada diri gue kalau gue pasti lulus SMA. Bahkan karena terlalu percaya diri, gue menggampangkan semua itu dan salah membuat mindset. “Ah… kalau nilai UN gue rata-ratanya 6 aja gue udah pasti lulus kok. Jadi gue gak perlu lah sampai nyontek-nyontek gitu yang malah nantinya nyusahin gue.” Emang sih kata-kata gue tadi itu merujuk supaya gue gak terjerumus dalam proses KKN. Tapi guys, faktanya…
Pada tanggal 25 Mei 2012, gue menghadapi hari pengumuman kelulusan. Yap dengan rasa syukur yang mendalam kepada Allah SWT, gue lulus. Tapi… ketika gue pergi ke sekolah buat liat nilai yang gue dapet, WOW ! gue bener-bener dapatin apa yang gue omongin. Rata-rata gue gak jauh dari angka 6 (antara 7-7,5). Dan sebagian besar dari mata pelajaran yang diujikan nilainya enam.
So … what do you get from this session?
Intinya, lu harus baik-baik memanfaatkan kesempatan, bukan kesempatan buruk itu ya. Tapi kesempatan untuk memasang mindset yang lebih dari biasanya. Pasang mindset dalam diri lu supaya lu bisa mencapai target yang lebih dari biasa.
Next ke sesi berikutnya.
Ketika gue belum menghadapi UN, gue udah dapet tawaran buat ikut tes program beasiswa di salah satu PTS. Dengan program studi Pendidikan Bahasa Inggris. Dua hari gue ikut tes disini dengan kondisi yang sangat kurang fit. Saat itu gue lagi akut dengan penyakit yang pernah gue rasain dulu. Yap, Februari-Maret ini memang sangat padat. Dan gue malah sakit. So apa yang gue dapatkan? Gue menjalani serangkaian tes dengan tidak konsentrasi sehingga mengakibatkan gue gak lolos masuk PTS ini. Yaah Gagal lah..
Tiga hari berturut-turut gue menjalani tes beasiswa itu di kampus yang bersangkutan. Setiap pagi gue diantar oleh Bapak gue. Dengan kondisi badan yang gak fit, membuat gue harus memakai jaket, penutup mulut, dan mengkonsumsi obat rutin yang haram buat gue tinggalin.
Kondisi seperti ini bikin gue sama sekali gak konsen. Dari tes tertulis, gue gak berhenti-berhenti batuk sehingga gue menjawab soal yang sebagian adalah soal listening dalam bahasa Inggris itu menjadi terganggu. Bahkan ketika tes wawancara dan tes mengajar, gue masih sibuk dengan batuk gue yang gak berhenti dan ganggu gue ketika menyampaikan satu materi.
Semua gangguan itu membuat gue bener-bener gagal.
And … what is the lesson from this session?
Lu harus jaga kondisi badan lu. Walau pun aktifitas banyak dan membuat kondisi badan lu perlahan drop. Lu harus sisihin waktu setiap harinya untuk istirahat yang cukup. Bukan berarti banyak istirahat ya. And, lu juga harus banyak makan. Penyakit itu dating ketika daya tahan tubuh lu menurun akibat kurang makan. Makanlah makanan yang bergizi, banyakin makan sayur dan buah supaya tubuh lu tetep seger. Untuk mendompang semangat, lu juga boleh mengkonsumsi suplemen.
Than, gue berusaha untuk bisa kuliah di PTN. Kesempatan pertama adalah SNMPTN Undangan. Alhamdulillah juga gue bersyukur sampai nangis ketika gue tau kalau gue dapat rekomendasi dari sekolah untuk bisa mengikuti SNMPTN Undangan. Karena gak semua siswa disini mendapatkan kesempatan ini. Oke gue ambil kesempatan ini dengan semangat. Gue pilih -> UNJ Pendidikan Geografi dan PGSD, UNTIRTA Pendidikan Bahasa Inggris dan PGSD. Dengan nomor peserta 4120192696 dan terdaftar sebagai pelamar Bidikmisi. Tau gak itu apa?
               Bidikmisi adalah program beasiswa dari pemerintah untuk anak Indonesia yang memiliki kemampuan di bidang akademik ataupun non sehingga dapat meraih pendidikan tinggi tanpa harus mengeluarkan biaya. Karena biaya ditanggung pemerintah.
Awalnya gue gak dibolehin nih sama Bapak gue buat hal positif ini (SNMPTN Undangan). Aneh ya? Kenapa? Karena Bapak gue bilang kalau gue kuliah siapa yang biayain. Bapak gue udah gak punya uang buat menyekolahkan anaknya sampai perguruan tinggi. Bener-bener gak ada, gue tau itu. Maka dari itu gue melamar beasiswa bidikmisi. Bapak gue sempet marah-marah karena gue beneran nekat daftar SNMPTN Undangan, beliau pikir untuk pendaftarannya aja gue harus bayar. Saat itu pendaftarannya 150.000, dan Bapak sama sekali gak punya uang untuk itu. Padahal, dengan melamar Bidikmisi, gue bisa daftar SNMPTN Undangan tanpa harus membayar uang pendaftaran. Nah pas gue kasih tau ke Bapak gue itu, baru deh Bapak gue memberikan izin.
Di sekolah gue hanya sedikit yang direkomendasiin, dan itu diumumin di depan ruang BK dengan urutan jumlah nilai gitu. Nama gue berada 3 dari bawah. Miris banget kan? Faktanya gue emang bukan orang yang sangat pintar, gue hanya orang pintar. Tapi gue milih jurusan yang difavoritkan orang banyak. Lanjutlah ke pengumuman. Pengumuman SNMPTN Undangan berbarengan dengan pengumuman kelulusan. 25 Mei 2012, bedanya ini sore hari. Pas gue dapat kabar dari temen-temen gue tentang pengumuman undangan gue lagi jalan-jalan sama Ibu. Dan gue segera pulang untuk nyalain Laptop dan liat pengumuman. Jam 5 lewat lah gue buka, dan gue GAGAL SNMPTN UNDANGAN !
So… apa nih maksud dari sesi ini? Coba pikirkan. Kalau ketemu jangan diulangi, kaji lagi supaya gak terjadi ke kalian yang belum mengalami hal ini.
Lu harus mengukur kemampuan lu. Lu boleh percaya diri, tetapi percaya diri juga harus liat kondisi lu. Mampu gak sih lu menggapai apa yang lu inginkan itu? Kalau memang niat lu cuma mau kuliah, coba aja berpikir untuk “yang penting gue kuliah”, pilih jurusan yang sepadan dengan apa yang lu punya. Karena SNMPTN Undangan itu dari nilai rapot, ya lu kira-kira, dengan nilai rapot yang ada, lu bisa diterima di jurusan apa di kampus yang lu mau. Jangan pasang jurusan yang lu mau, tapi sebenernya jauh dari kemampuan lu. Begitu sih ketika gue ditanya sama kepala Sekolah gue apakah gue lolos undangan atau engga. Tapi itu bener banget, dan gue setuju.
Berlanjut…
Lanjut ke SNMPTN, yang bukan undangan loh. Gue daftar bareng temen sekelas gue saat itu. Beberapa jam setelah gue tau kalau gue gagal SNMPTN Undangan gue janjian sama temen gue buat daftar SNMPTN. Pas itu orang tua gue juga gak ngasih uang buat pendaftaran tapi gue sekali lagi nekat untuk daftar. Menurut guru BK gue, nomor pendaftaran bidikmisi di SNMPTN Undangan bisa gue pake lagi buat daftar yang sekarang. Sip, gue daftarin diri gue.
Gak lama gue melakukan registrasi. Gue udah bisa mendapatkan tempat ujian. Gue ujian di SMA N 71 Jakarta. Serius gue sama sekali gak tau nih sekolah ada dimana. Gue search di google untuk alamat dan mencari posisinya melalui googlemaps. Tapi tetep aja kurang jelas. Akhirnya Bapak gue telpon ke sekolah tersebut untuk meminta petunjuk arah. Ya gak begitu ribet, karena Bapak kerjanya muter-muter  di jalanan, jadi beliau tau jalan menuju ke sekolah itu.
Hari pertama ujian gue dianter sama Bapak. Ada kejadian nyasar sih sedikit gara-gara kita malu bertanya. Bener kan kata pepatah? Hehe
Yauda ujian tuh disana, dari sekolah gue, gue berbarengan sama temen organisasi gue. Jadi gue masih bisa ngobrol-ngobrol sama dia disana. Terlebih ada lagi temen SMP gue yang dapet lokasi ujian disana. Jadi ada tambahan temen juga deh. Oyah, ada satu lagi temen yang kenalan dari twitter, tapi gue gak ketemu dia disana.
Ujian itu gue nekat jawab banyak soal, ini masalahnya. Seperti biasa kalau gue ujian, dari dulu, dari SD. Gue paling cepet nyelesaiin soal yang udah gue tau jawabannya. Kalau dulu pas SD atau SMP atau SMA, gue jawab asal-asalan juga gak berpengaruh banget. Tapi ini, SNMPTN coy. Salah jawab, nilai dikurangi satu poin. Waktu yang tersisa banyak itu bikin gue nekat jawab beberapa soal lagi yang pada intinya gue gak tau jawabannya. Asli, gue yakin banget ini yang buat nilai gue semakin anjlok.
Selain itu juga ada satu kesalahan fatal yang gue lakuin. Gue udah berusaha, dalam arti gue udah belajar giat banget sebelum ujian ini. Tapi, gue sombong banget sama yang menciptakan gue. Gue sadar banget, kalau mau gue lolos, gue meminta itu ya sama Allah. Gue berdoa sama Dia dalam sholat, dalam ibadah. Tapi, gue malah berdoa dengan teriak-teriakan ketika gue inget mau pengumuman SNMPTN. Kata Ibu gue sih gitu. Gue gak sopan minta ke Allah. Udah gitu gue lalai juga. Ya gimana Allah mau kasih ya?
So… you can take one lesson
Jangan pernah nekat jawab soal yang gak lu mengerti jawabannya. Kalau emang lu gak tau, ya tinggalin aja. Mending gak diisi dari pada lu isi tapi salah. Terus juga itu, jangan sombong dan gengsi untuk meminta sama yang menciptakan lu. Berdoalah dengan benar, dengan cara yang udah dikasih dari agama lu. Itu aja.
Selanjutnya gue masih nekat nih buat kuliah. Kesempatan terakhir. Ujian Mandiri Universitas Negeri Jakarta. Gue berjuang satu minggu buat daftar. Dan satu minggu itu adalah minggu terakhir pendaftaran. Mepet banget emang waktu pengumuman SNMPTN dan pendaftaran Ujian Mandiri. Udah gitu, server web kampusnya bermasalah. Jadi gue yang masih dengan kondisi sakit itu, harus bolak-balik setiap harinya ke kampus impian gue itu buat daftar doang. Dari pagi sampai sore, sampai di rumah pasti malam.
Saking sibuknya mengurus pendaftaran, gue sama sekali gak nyolek latihan soal. Fiks, sampai hari Minggunya pas ujian, gue gak punya persiapan apapun, maksudnya gue gak belajar. Pas ujian lagi nih ada masalah, malu bertanya sesat dalam ujian. Gue malu buat bertanya “Pak, ini system nilainya kayak SNMPTN apa kayak ujian nasional?”. Alhasil, gue hanya menjawab beberapa soal. Matematika aja gue cuma jawab enam soal dari sekian banyak soal yang dikasih.
Masalah selanjutnya disini adalah gue gak belajar dari pengalaman yang baru saja terjadi. Dari selesai ujian sampai pengumuman,lagi dan lagi gue masih gengsi dan sombong. Gue sering banget ninggalin shoolat lima waktu gue dan gue gak bener-bener minta sama Allah. Akhirnya pas pengumuman, gue gagal lagi. Dan Ibu kembali mengoceh akan diri gue yang gak mau minta ke yang menciptakan gue. Sudah cukuplah gue gagal.
Untuk yang bagian tadi, ambil sendiri deh tuh pelajarannya.
Dan dari seluruh pengalaman gue ini, bisa kan jadi pelajaran buat kalian yang membaca? Gue berharap, gak ada dari kalian yang mengalami hal yang sama dengan gue. Jadi coba berpikir untuk tidak melakukan kesalahan.
Perlu kalian tau, sebesar apapun juga usaha kalian. Belajar, usaha materi, tenaga, kalau kalian tidak meminta dengan sungguh-sungguh dengan Tuhan. Maka, kalian perlu waspada gays. Karena keputusan Tuhan yang cuma 1 persen dari 100 persen yang ada itu lah yang berpengaruh. Walaupun kalian udah usaha dan berdoa, tetep yang memutuskan itu adalah Tuhan.
Gue juga mau berbagi kutipan nih…
“Manusia bisa merencanakan, tetapi Tuhan yang menentukan.”
“Tuhan selalu memberikan yang terbaik buat hamba-Nya, sekali pun yang terbaik membuat Hamba-nya meneteskan air mata.”
“Tuhan memberikan yang hamba-Nya butuhkan, bukan yang hamba-Nya inginkan.”
Terima Kasih dan Selamat Berjuang J
Wassalamu’alaikum

Stupidfy : Ku Yakin Cinta Part IV

Read Stupidfy : Ku Yakin Cinta Part III                 Via Whatsapp aku mengajaknya pergi ke Puncak, enam bulan kemudian. Dia mau dan si...