Tampilkan postingan dengan label Dua Belas September. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dua Belas September. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 April 2017

Stupidfy : Ku Yakin Cinta Part IV

Read Stupidfy : Ku Yakin Cinta Part III

                Via Whatsapp aku mengajaknya pergi ke Puncak, enam bulan kemudian. Dia mau dan siap test drive bersama SIM A barunya.
                Jumat malam kami berangkat berdua dengan mobil yang masih mulus. Suasana terasa hening sekali dan angin dingin menunjukkan kenapa kaca mobil berembun. Lantunan lagu EDM menemani perjalanan kami. Meskipun suasana hati sedang sendu, tapi mobil ini terasa mengajak kami berjoget. Jalanan pun lancar jaya, mungkin karena sudah malam. Kami tidak banyak mengobrol di mobil. Bukan, bukan karena alasan seperti dulu di motor. Tetapi memang karena aku malas ngomong.
                Dia sangat mengerti perasaanku. Maka dari itu, walaupun dia hobby bercanda garing seperti memuji diri sendiri, kali ini dia diam saja. Dia memancing mood baikku dengan lagu EDM. Dia akhirnya tau kalau belakangan ini aku suka dengan musik EDM. Setelah jari jemariku mulai bergoyang, dia baru membuka suara.
“Gue balikan sama Andine.”
“Hah ? Lo gila ? Lo cinta mati gitu sama bule ?”
“Gue selalu menemukan alasan kenapa gue harus maafin dia.”
“Oke. Kalau gitu lo juga bisa mengerti dong kenapa gue memilih bertahan sama Wahyu padahal dua jam yang lalu gue nangisin dia karena gue tau dia jalan sama sahabat gue sendiri ?”
“Agnes Monica bener, Fay. Cinta kadang tak ada logika.”
                Aku menggelengkan kepalaku dan sangat amat tidak percaya kalau hal ini terjadi lagi.
“Gue kira kalian udah lost contact.”
“Iya, dia baru datang lagi,Fay. Sebenarnya dia berkali-kali datang setelah lulus SMA. Dia kan belum dapat universitas, dia sempat meminta tolong gue untuk nemenin dia daftar di swasta”
“Dan lo nemenin?” aku menyela.
“Iya. Kita sempat jalan. Bahkan makan dan nonton. Sampai rumah dia pun gue sempet cium keningnya. Terjadi gitu aja.”
“Setelah itu?”
“Setelah itu gue tau kalau dia cuma jadiin gue pelarian. Dia punya pacar sebenernya, calon pilot. Ya tapi karena si calon pilot jarang pulang, dia butuh kasih sayang.”
“Gue udah berkali-kali jatuh dan bangun lagi dengan orang yang berbeda. Tapi lo, jatuh dan bangun di tempat yang sama.”
“Itu yang gue bilang, Fay. Gue punya alasan kenapa gue masih mau maafin dia.”
“Ah pasti alas an klasik yang lo bilang sayang.”
“Hm… Terus sepulang dari Singapore, dia hubungi gue lagi. Dia cerita kalau udah ga jadi sama si calon pilot karena dia gak mau LDR-an. Dia meminta gue balik.”
“Trus?”
“Gue cuma balas dengan ciuman, Fay.”
“So… kalian resmi balikan ? Trus ngapain sekarang kita di Puncak? Mau bikin gue berantem sama Bule? Kayak waktu SMA dulu. Hal yang dijadiin bule alesan untuk selingkuh lagi dari lo? Lo mau kali ini bule selingkuhin lo lagi ?”
“Gue mau kita berdua tenang, Fay. Pas lo ajak gue ke Puncak, disitu gue berpikir buat take time dan sharing sama lo lebih dari waktu yang kita abisin untuk satu cup mocha float.”
“Kan kalau mau lebih lama, lo tinggal beli 2 sampai 3 cup mocha float lagi.”
“Puncak itu tenang, Fay. Lo akuin itu kan ? Nikmatin aja perjalanan kita yang semoga besok kita terbuka lagi untuk menjalani hari.”
“Hm…” aku beralih pandangan ke luar mobil,”jagung yuk!”
“Yuk.”
                Bintang di langit puncak sangat indah. Sama seperti yang kita berdua lihat di langit Bromo, di dua waktu yang berbeda. Ribuan bintang itu menyebar di langit yang gelap gulita. Kita hanya mendengar keheningan yang terkadang dihiasi suara klakson mobil. Tidak ada jangkrik karena masih saja goyonannya tidak berujung “krik krik”. Tawa kami sangat lepas, kami tidak pernah seperti ini selama pertemanan kami. Badannya yang masih gendut, hmm tepatnya berisi, sudah berkali-kali aku cubit. Kami sudah tidak lagi curhat satu sama lain. Kami lebih memperluas perbincangan. Kami membicarakan realita yang terjadi di sekitar kita, lingkungan hidup, reboisasi, fauna di taman safari, sampai ke bentuk dan arsitek dari Masjid At-Ta’awun di Puncak.
                Jam menunjukkan pukul 2 pagi. Dia mengajakku pergi mencari penginapan untuk mengistirahatkan mobil dan supir baruku. Beruntungnya kami, kami mendapatkan satu penginapan kecil dengan dua kamar. Pas untuk kami berdua.
                Rasanya drama ini harus berputar kembali. Di luar sana banyak kisah yang menyakitkan hati kami. Hingga kami harus merasakan jatuh dan jatuh. Tapi di penginapan ini hanya ada satu dunia, yaitu dunia persahabatan kami yang tidak pernah kami sangka akan berlangsung lama. Ini merupakan satu satunya persahabatanku dengan lawan jenis yang mampu bertahan lama tanpa rasa cinta. Ya, aku pernah mengalami sahabat jadi cinta. Namun, itu bukan karena kejujuran. Semua terjadi karena keegoisan satu sama lain yang tidak bisa memisahkan yang semestinya terjadi dan yang tidak boleh terjadi. Rasanya, malam ini keegoisan itu kembali terjadi. Kisah selanjutnya, kita masih menjalaninya masing-masing.
                Untuk pertama kalinya, aku menatap mata Naufal dengan cara pandang yang berbeda. Aku mengambil handphoneku yang berada di sampingnya yang tengah duduk di sofa. Kemudian dia menoleh ke arahku tanpa sengaja. Kami menjatuhkan pandangan bersamaan. Lalu aku memecahkan dengan berpaling dan berjalan kembali ke kamar.
                Naufal memanggilku dengan nada rendah. Aku berbalik badan kemudian ia menyiumku tepat di bibir. Aku mendorongnya karena aku langsung merasakan yang tak semestinya terjadi.
“Kenapa pertanyaan Mela yang dulu belum kamu jawab sampai sekarang?”
“Karena… karena aku tau, Fal, jatuh cinta sama kamu bukan hal yang benar. Aku sudah pernah merasakannya karena aku orangnya baperan. Mela sudah kasih tau kamu itu kan? Tapi aku memilih untuk menjalani yang namanya cinta dengan orang lain. Bukan dengan kamu.”
“Kalau kita memang ditakdirkan bersama bukan sekedar sahabat, ya mungkin sahabat yang memiliki hubungan bukan persahabatan, gimana, Fay?”
“Kalau itu terjadi, bukan untuk jatuh dan bangkit lagi.”
                Kami terdiam dan saling menatap dengan pikiran kosong. Untuk waktu yang cukup lama.
“Peluk aku, Fal.” Aku menyerah dengan keadaan karena air mata memang tak sanggup lagi tertahan. Aku tertunduk malu karena ketidak-konsistenan omonganku beberapa menit yang lalu.Seperti hari itu di lapangan setelah pelantikan, betisku sudah lelah menahan tubuh hingga akhirnya aku harus menjatuhkan diri ke posisi duduk dengan kepala tertunduk. Naufal datang membopong aku menuju UKS. Kali ini, dia datang memelukku.
“Be the last, Fal. Kalau kamu udah siap. Kita sudah sama-sama lelah untuk membuat banyak kesalahan yang sama. Kita sudah sama sama belajar. Betisku sudah lelah dan sakit sekali kalau bukan kamu yang membopongku.”
“Aku gak bisa janji.”



---END---

Jumat, 11 September 2015

Kita Bukan Orang Yang Tepat

Meski bukan impianku satu-satunya, memilikimu adalah keinginanku yang teramat sangat. Sampai pada pelukan hangat, aku menyadari kita bukan orang yang tepat. Meski aku mendekap pada dada seorang yang dapat menerimaku sepenuhnya, bukan berarti aku meninggalkan rasa untukmu seutuhnya. Mataku memang memandang dia penuh, tapi mata hati ini masih melihat bayanganmu. Meski bibir ini terucap kata cinta, tapi hati ini selalu mendusta. Bagaimana semua ini bisa terjadi saat masih ada kamu di bagian lain hati?

Berhari-hari aku putar lagu sendu yang mengarahkan pada kisah kita. Walau kini aku tidak tau hatimu ada dimana. Apakah kamu juga merasakan apa yang aku rasakan? Atau hanya aku yang menangis sendirian. Jangan bilang, "kamu tidak tau bagaimana jadi aku", kalau kamu memang tidak melihatku saat ini. Jangan bilang, ini semua permainan, kalau kamu tidak tau bagaimana aku berusaha menunjukkan kesungguhan di depan keangkuhan. Jangan bilang, aku munafik, karena cinta memang butuh kemunafikan.

Tuhan menciptakan jodoh tidak hanya berdasarkan keinginan. Beribu-ribu kisah sudah menunjukkan bahwa terkadang hati memilih secara berlainan. Dan, pada akhirnya, restu Tuhan yang membuat insan tersebut bertahan. Lalu bagaimana dengan kita? Kita hanyalah puzzle cinta yang takkan pernah tertata. Berperang melawan waktu agar kita bisa menyatu. Walaupun kita memang sama-sama dalam satu tempat, ya kita bukan orang yang tepat.

Senin, 07 September 2015

Benci Itu Selembar Setelah Cinta


Hangat pelukan Ibumu malam itu membuatku tersadar bahwa aku memang mencintaimu sepenuhnya karena merasa bersalah. Aku tidak menyangka bisa menyakiti perasaan seseorang sedalam ini. Aku bertindak hanya sesuai kehendak. Walau aku tau, begitupun Ibumu juga menyampaikan hal yang sama, "wanita di mata laki-laki adalah sesuatu yang merumitkan. Tidak setiap waktu pemikirannya sama. Dalam sedetik, kita, wanita dapat merubah segalanya."
Sesaat aku mencintaimu, sedetik kemudian aku membencimu, kemudian mengagumimu lagi, lalu menghujat pemikiranmu, pada akhirnya selalu berputar seperti itu. Ya, kamu menyadari bahwa kamu di tahun pertama lost contact kita, masih juga peduli dengan hidupku. Kamu pun masih membuka akun media sosialku. Kamu memrediksi kapan kamu bisa datang lagi dan memulai dari awal. Kamu ingin mencoba menahan egomu. Kamu tulus. Itu bagian paling aku suka, begitupun kamu.
Ibu kamu bercerita bahwa ada satu hari dimana hati kamu memang benar-benar aku patahkan. Malam hari aku berkicau bahwa aku benar-benar tidak mampu melupakan kamu. Semua bagian indah yang terjalin sesaat di antara kita adalah yang paling berharga dan sulit aku lupakan. Aku terhenti di kamu dan terjebak dalam sebuah kisah yang selalu mengarahkan ke kamu. Kamu menyukai kicauan itu sehingga esok hari kamu berniat ke rumah dan meminta maaf kepada kedua orang tuaku.
Sore yang indah untuk berjalan berdua di akhir pekan. Duduk manis di taman memakan es krim dan berbagi kisah-kisah seminggu ini. Kamu berniat seperti itu setelah Ayah dan Mama memaafkanmu dan aku mengiyakan ajakanmu. Namun, sore itu terasa mendung bagi kamu. Tanpa kuduga, gambaran indah tadi justru kulukis berdua dengan orang lain. Bukan kamu. Dan, yang tak terduga lagi adalah kamu melihatku yang reflek terasenyum ketika dia mengecup keningku di depan rumah. Kamu yang masih mengenakan helm dan masker terhenti dan melihat adegan sialan itu. Aku merasa ada seseorang di belakang dia. Iya, kamu disana tapi aku tidak peduli membenciku selembar setelah cinta

Minggu, 06 September 2015

Pengantar Ke Kamu

Sekarang sudah di penghujung bulan Agustus. Aku sudah mantap akan bekerja dimana. Salah satu perusahaan milik pemerintah telah menetapkan aku sebagai pegawainya. Berkah di akhir bulan. Aku pulang dari warung internet dan segera mengabarkan kedua orang tuaku. Kabar baik ini, jelas membuat mereka sujud syukur.
Satu September, aku bersegera pergi ke tempat dimana aku akan mulai mempersiapkan kelengkapan dokumenku sebagai pegawai baru. Pagi-pagi sekali aku sudah sampai di kantor berlantaikan 27. Aku duduk di lobby yang sangat luas dan elegan, menunggu pembimbingku datang.
Aku mengambil smartphoneku dan mengabari beberapa orang. Mereka adalah Mama, seseorang yang sudah hampir satu tahun dekat denganku, dan kamu. Kamu cepat sekali membalas chatku itu.
"Oke, besok malam kita jalan deehh." Kata aku ke kamu ketika kamu meminta traktiran dari aku karena aku sudah mendapat pekerjaan sesuai dengan impianku.
"Besok gue masih ada kerja shift siang. Kalaupun mau jalan ya setelah gue pulang. Sekitar jam 11 malam, lo mau?"
"Aduh itu kemaleman. Gue kan besoknya kerja hari kedua."
"Yauda gimana kalau hari Rabu?"
"Oke fix."
Pada akhirnya, kencan pertama kita di hari Rabu.
Hari itu aku tidak mulai kerja. Aku hanya melengkapi dokumen sebagai pegawai, membuat id card, mengurus absensi, mengambil seragam, dan kemudian sosialisasi pertama ke divisi.
Hari pertama aku kerja, 2 September, aku diberikan setumpuk kebijakan pemerintah yang berlaku disini. Aku harus membaca berlembar-lembar kebijakan tersebut. Kalau ada yang kurang aku mengerti, aku diwajibkan bertanya ke kepala divisi. Tidak sulit, namun juga tidak mudah. Cukup membuat aku penat. Sore harinya, seseorang yang sudah dekat denganku selama satu tahun itu datang menjemput. Kami pergi untuk makan malam bersama dan menonton film di bioskop yang memang sedang ramai dibicarakan. Kamu, tiba-tiba menelpon dan membuat aku panik. Kamu adalah rahasia di depannya.
Malam itu usai, seperti malam-malam sebelumnya dengan dia. Berkesan, tapi sudah biasa. Ya, sebab sudah berjalan hampir satu tahun.
Hari kedua aku bekerja, hari yang aku tunggu-tunggu. Sebab, akan ada kamu di dalamnya. Namun, entah kenapa hari ini justru terasa lama, "ya Tuhaaaan, kalau mau kasih waktu yang panjang untuk aku lewati, mohon nanti malam saja".
Seharian jantungku berdegup sangat kencang. Nafasku menggebu untuk meredakan degupan tersebut.

Senin, 24 Agustus 2015

Demi Kamu, Cinta Yang Pernah Singgah

Sebab, mungkin karena aku pernah melakukan hal demi kamu, cinta yang pernah singgah. Ingat kah kamu saat kamu benar-benar menunjukkan rasa bencimu. Sepertinya Allah membisikanmu dalam setiap shalat malammu. Kamu tau betul bahwa aku akan muncul di akun media sosialku hanya untuk menunjukkan bahwa aku sedang galau karena kamu. Kemudian berulang kali kamu muncul juga menemaniku. Begitukah kita menjalani cinta? Apa itu cinta?

Kawan, aku hanya ingin bercerita satu hal ke kamu. Saat aku merasa terperangkap dalam ruang hati kamu, walau kamu tidak menutup ruang tersebut sehingga aku bisa pergi kapanpun, aku pernah melakukan hal yang selalu kusebut itu pembodohan dalam mencintai. Ya, semua demi kamu.

Pernahkah kamu terpikirkan siapa orang yang menaruh perkakas di jok motormu setelah kamu mengalami kecelakaan motor tempo hari? Aku tau kawan kamu pernah mengalami kecelakaan kecil yang sebenarnya membuat sobek lengan jaket kamu dan memberikan luka yang perih disana, juga benturan di kepala ketika kamu menghantam stang motor yang terparkir di depanmu yang juga kamu tabrak setelah menghindari mobil di tikungan. Aku tau itu, aku membuntutimu saat itu sampai kantor. Aku seperti mendapat pandangan dari Allah bahwa hari itu aku harus mengikuti kamu. Kalau saja kamu sadar, bukan wanita beranak itu yang membopongmu ke pinggir jalan. Dia adalah aku yang berani menghampirimu saat masih setengah sadar. Lalu aku tidak mampu menunjukkan jati diriku sehingga aku memilih meninggalkanmu dan memanggil si anak kecil agar menemanimu di depan rumah kosong yang kemudian dia memanggil Ibunya untuk menolongmu.  Dan berbondong-bondong warga menghampirimu setelahnya. Aku meminggirkan motormu ketika mulai banyak orang datang. Aku tau ada yang bermasalah di motormu, maka dari itu aku mempersiapkan perkakas yang tidak pernah kamu pikirkan sebelumnya. Tapi kamu, saat kembali bekerja, kamu malah menganggap ayah kamu yang menyiapkannya. Padahal, kalau kamu tidak buru-buru menarik gas, ayah kamu sudah bercerita tentang aku.

Sebab, demi kamu, cinta yang pernah singgah, aku nekat menunggumu di depan bar. Satu jam sebelum aku sampai disana, aku melewati depan rumahmu, bertemu teman mainmu ketika di rumah. Kebetulan, dia cukup tau banyak tentang kita, jadi aku mencoba bertanya tentang kamu. Dia bilang, kamu sedang pergi ke pesta teman kerjamu. Aku lupa namanya, aku selalu lupa nama dia, sahabatmu yang juga pernah bertemu denganku. Petunjuk mengarahkan aku pada sebuah bar di kota ini, daerahnya cukup terkenal dengan dunia malam. Demi kamu, aku kesana ketika teman rumahmu bilang kalau kamu sedang penat dan akan mencoba untuk meminum beberapa gelas. Aku tau, kamu bukan tipikal orang yang akan benar-benar melakukan hal gak baik kalau kamu gak lagi merasakan hal yang mengguncangmu. Entah kenapa, aku merasakan bahwa kamu memang sedang terguncang, dan aku takut. Kalau kamu sadar, ketika kamu dipaksa keluar karena habis menonjok orang di bar saat kamu mabuk, aku melepaskan rasa malu untuk menghampirimu dan membawamu pergi dari sana dengan mobil kantorku. Kamu masih mabuk dan tidak sadarkan diri. Benar saja, kamu memang sedang terguncang. Kata Ibu, itu karena aku. Ibu mengatakan banyak hal setibanya kita di rumahmu. Banyak hal yang membuatku menangis di pelukan Ibumu. Kemudian, dia membalas dengan ucapan terima kasih. Saat itu juga, aku merasa bahwa perasaan ini lebih kuat karena aku merasa bersalah. Bukan hanya karena cinta.

Bersambung... 

Sabtu, 15 Agustus 2015

Dua Puluh Enam Sobekan, Tidak Semudah Merobek Kertas

Read Previous Chapter : Dua Puluh Enam Sobekan

Sudah tiga hari aku mengabaikan dus sepatu yang dikirimkan subuh itu. Aku tidak berniat untuk membukanya karena aku tau akan terjadi gejolak di dalam hati yang sudah lama menghilang. Bukanlah perkara yang mudah melupakan kamu, kawan. Apalagi aku harus melewati rumahmu yang berada di samping pasar setiap aku menemani Mama kesana untuk belanja hari-hari. Setiap hari aku masih suka bertemu Bu Wiwid di depan rumahmu dan selalu beliau sedang menyapu halaman depan rumahmu sebelum bekerja. Sementara aku berharap kamu yang kutemui setiap pagi itu. Namun, kesibukanmu kerjalah yang memupuskan harapanku sehingga akhirnya tiga tahun kita lost contact dan tidak sekalipun dapat bertatap muka atau hanya sekedar mencuri pandang. Kemudian, kamu justru tiba-tiba datang ke rumahku dan memberikan dus ini.

Melupakan kamu sangatlah tidak semudah kita kembali berkomunikasi dulu, tidak juga sebanding dengan waktu yang kita habiskan bersama. Aku pun masih bingung sampai detik ini mengapa begitu sulit melupakan cinta sesaat. Mungkin, karena rasa penasaran dalam diriku yang membuatku masih terobsesi denganmu. Mungkin, karena kesalahanku dulu yang membuat aku sendiri merasa kecewa atas hal yang pernah aku lakukan dengan kamu. Mungkin, karena aku masih sering lewat depan rumahmu dan memanggil Mama kamu dengan sebutan "Ibu". Mungkin dan dengan segala kemungkinan.

Jatuh cinta. Apa mungkin memang aku sangat mencintaimu dengan waktu sekejab? Apa mungkin aku jatuh cinta hanya karena kamu kembalikan memori jaman kecil? Apa mungkin aku jatuh cinta karena memang rupamu yang rupawan? Apa mungkin aku jatuh cinta karena memang aku tau benar bagaimana Mama kamu mengharapkan aku sebagai menantunya? Apa mungkin?

Tiga tahun tidak sebentar, kawan. Setiap malam selama 6 bulan, 17 hari, aku membuka twittermu hanya untuk mengetahui perkembangan hidupmu. Setiap saat selama 1 tahun 2 bulan 14 hari, aku membuka facebookmu untuk mengetahui apakah kamu sudah memiliki yang lain lagi? Juga setiap pagi di hari Selasa, Rabu, Jumat, Sabtu, Minggu, aku harus menengok ke dalam rumahmu untuk mengetahui sedang apa kamu di dalam sana.

Sekarang, kamu datang? Aku sudah memudarkan setiap inci bayanganmu dari benakku. Aku sudah tidak lagi membuka seluruh akun media sosialmu dan mengabaikan seluruh perkembangan di hidupmu. Aku sudah memulai menata hidupku lagi, hatiku lagi, pikiranku lagi, hanya agar aku tidak berhenti di kamu. Aku sudah memutuskan bahwa memang dia, orang lain setelah kamu, yang bisa menggantikanmu. Kamu perlu tau, kawan. Itu tidak mudah.

Dua hari setelah aku memutuskan untuk kembali bangkit dan tidak lagi membuka akun facebookmu, aku berkenalan dengan laki-laki lain. Dia karyawan lain di perusahaan yang memakai gedung tempatku bekerja. Dia lebih tua dari kamu, lebih matang sepertinya, dan kurasa dia lebih dewasa, kata Mama pun dia lebih baik dari kamu. Menoleh ke dia tidak mudah, kawan. Aku harus memasang tameng berupa muka jutekku selama 7 bulan lebih. Aku menjaga jarak dengan dia. Tapi, ingat kawan. Hidup itu adalah sebuah pertarungan untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Dan, dia bisa dengan tegar untuk bertarung melawan kejutekanku. Tapi, apa memang dia orangnya? Aku masih membisu untuk hal ini.


Bersambung...

Rabu, 05 Agustus 2015

Dua Puluh Enam Sobekan

Setelah tiga tahun kita lost contact, sesuatu yang mengejutkanku datang. Dini hari di hari Minggu, pertengahan Agustus, baru saja aku rapih tadarus, seseorang mengetuk pintu kamarku. Ada titipan, kata Mama. Aku ke luar setelah merapihkan sajadah dan mukenah. Aku ikat rambutku yang mulai panjang sebahu. Aku menghampiri Mama, namun beliau malah meneriakiku dari kamar mandi, "titipannya ada di atas kulkas". Segera aku memutar arahku yang sebelumnya ingin ke arah kamar kedua orang tuaku menuju dapur. Seraya meraih sebotol air putih di lemari pendingin tersebut, aku mengambil titipan yang berbentuk kotak sebesar dus sepatu.
Aku berjalan ke ruang tamu dengan botol air mineral di tangan kiri dan kotak yang memang dari dus sepatu itu kujepit di ketiak kananku.
"Orang gila macam apa ya pagi-pagi gini ngasih paket? Semangatnya lebih-lebih dari Go-Jek", suatu perusahaan yang mengelola banyak tukang ojeg di Jakarta, yang memang saat ini sedang hits-hitsnya.
Aku memrediksi secara percaya diri bahwa kotak ini adalah dus bekas sepatu. Benar saja, setelah aku buka secara acak kertas koran yang membungkus seluruh permukaan dus terlihatlah merek sepatunya. Vans, sepatu yang memang lagi trend di kalangan anak gaul masa kini.
"Gue tau ini dari siapa," aku tersenyum seketika setelah membaca merek dus tersebut. Kemudian, Mama datang dari arah kamarnya. Beliau duduk di sampingku yang masih belum membuka dus titipan tadi.
"Ini tadi yang nganter siapa, Ma? Subuh-subuh gini ada aja orang kerajinan."
"Mama juga gak tau. Tadi pas Mama mau ke luar buat ambil sapu lidi, Mama lihat ada orang naro itu di pagar. Pas Mama teriakin mau ngapain, eh dia malah pergi gitu aja."
"Oh jadi tadi Mama teriakin itu orang. Mama mah kebiasaan. Pintu rumah sama pagar jaraknya dua meter aja pake teriak."
"Itu Mama reflek, Nak. Namanya Mama kaget ada orang ngendap-ngendap gitu. Mama kira kan maling."
"Dia laki-laki kan, Ma?"
"Iya. Kok kamu tau? Kamu tau itu dari siapa?"
"Ya mana mungkin sih, Ma, cewek subuh gini ngendap-ngendap gitu ke rumah orang."
"Iya juga sih. Tapi itu paket isinya apa ya? Hati-hati deh. Takutnya itu isi macem-macem. Buang aja deh. Nanti neror kamu. Udah mana tertuju banget ada nama kamu di atasnya. Kamu punya musuh? Siapa, Nak? Kamu jahatin orang ya? Sampai ada orang misterius gitu kasih kamu paket? Kok Mama baru sadar untuk hati-hati ya? Mama jadi takut. Udah buang aja sana. Atau Mama yang buangin sini." Mama seketika panik dan aku justru merasa Mama lucu dan berlebihan.
"Tenang, Ma. Aku tau ini dari siapa." Aku mencoba menenangkan Mama yang sudah bawel karena panik. Tidak mudah. Tapi tidak sampai aku harus membuka dus tersebut. Aku tidak mau isi dari dus ini membawaku ke masa abu-abu.
Aku sudah mulai melupakan yang memang harus aku lupakan. Dus ini yang kemungkinan besar adalah bagian dari kisah yang pernah membuatku merasa terjebak, takkan menjadi penyebab rusaknya suasana hati yang kini sudah mulai biasa lagi. Aku meninggalkan Mama dan membawa dus ini ke kamar. Aku letakkan dus itu di meja samping tempat tidur. Aku mengambil selembar post-it dan menuliskan serangkaian kata yang kini mengganjal di pikiranku.
"Seperti takkan pernah habis kisah yang dimulai dengan ketulusan, dijedakan dengan pendewasaan, dipertemukan kembali dengan ketidaksengajaan, dijelaskan melalui teka-teki, namun terhenti karena rasa sakit hati."

Bersambung...

Kamis, 23 Juli 2015

Pertemuan Di Bulan Syawal

Beberapa tahun telah berlalu dengan kisah kita yang pernah di mulai di awal bulan Syawal. Sebuah kisah yang dimulai dari pertemuan dan berakhir dengan kebencian. Kisah yang masih bisa teringat jelas di benak kita masing-masing. Walau kini telah banyak kisah baru yang mampu menggantikan sedikit demi sedikit. Meski demikian, pertemuan itu sangat indah. 

Allahuakbar... Allahuakbar... Allahuakbar Walillailham... 
Takbir itu masih berkumandang di masjid-masjid rumah kita. Aku tidak pernah menyangka bahwa Allah mempertemukan kita di bulan yang indah ini. 
Pertemuan sederhana di sebuah kafetaria daerah Cengkareng, salah satu kecamatan di Jakarta Barat, tempat kita tinggal. Saat itu kamu sudah lebih dulu datang di kafetaria tersebut. Lalu berselang beberapa menit, aku tidak tau pastinya, aku dan keluargaku datang. 
Kita duduk di meja yang bersebelahan. Aku melirik ke arahmu, kukira aku mengenal laki-laki sebaya yang berkaos hitam dan mengenakan sweater hitam. Aku tidak menyapamu, jelas karena aku malu untuk memulai duluan dan kembali mengakrabkan diri. Beberapa kali aku menengokan kepala ke arah kiri, akhirnya kita saling bertemu pandang. 
"Ehh... Elu?" Sapamu membuatku grogi. 
"Ehh... Iya." Ternyata benar dia teman sekelasku dulu. 
"Itu siapa?" Adik keduaku bertanya di sela tatapan kita. 
"Temen Kakak dulu waktu sekolah. Kayaknya," kataku pelan di ujung kalimat. 
"Lah? Itu adek lu? Banyak banget adek lu." 
"He... Iya ini adek gue yang kedua." 
"Wehh bro!!!" Kamu menyapa adik pertamaku. 
"Ehh iya, Bang" jawabnya. 
"Sebentar ya. Gue mau pesen makanan dulu." 
"Oh iya iya, sorry ganggu." 

Selang beberapa menit, kita kembali bercakap. 
"Kok lu ga mudik?" 
"Iya, tahun ini lg krisis moneter nih di keluarga. Jadi ga mudik dulu. Ya paling jalan-jalan sekalian makan aja di deket-deket rumah." 
"Sama dong. Gue juga nih. Tapi sayangnya keluarga gue ga sekompak keluarga lu. Bapak sama Ibu lu mah mau diajak jalan kayak gini. Gue mah susah." 
"Bukannya kalau cowok mah malah susah diajak main sama keluarga? Dia aja susah banget." Aku menunjuk adik pertamaku. 
"Ya bener sih. Udah gede mah anak laki suka males main sama keluarga. Ya ga?" Kamu malah bertanya ke adik pertamaku. 
"Iya, Bang. Gue juga males ini kalau ga dipaksa sama Kakak." 

"Pak, Bu, kok anaknya tambah cantik ya? Gingsulnya bikin manis." Kamu memujiku di depan Ibu dan Bapak. 
"Hush!!!" 
"Yeeeh, emang bener. Makin manis lu." 
"Ya namanya juga anak Ibu." Ibu menjawab. 
"Manis dari mana? Amit-amit dia mah." Bapak meledek. 
Aku sedikit malu saat itu. Kamu berani memuji di pertemuan pertama kita setelah enam tahun kita tidak pernah berjumpa. 
"Eh... Lu inget gak waktu dulu gue kirim surat ke elu yang isinya tentang perasaan gue. Tapi lu gak pernah sekalipun bales. Jangankan bales, baca juga engga." 
"Surat? Kapan lu pernah kasih gue surat deh?" 
"Dulu, tuh kan lupa. Lu kan selalu gitu sama gue. Ya gue mah apa kan, cuma pengagum lu aja dari dulu." 
"Ha?" Aku terkejut dengan pernyataan kamu. 
Tapi, itulah awal mula kita menjalin kisah hingga berakhir dengan rasa saling benci. 

Read : Dua Belas September

Jumat, 10 Juli 2015

Akhirnya Di Dua Belas September

Read Previous Chapter : Tetap Di Dua Belas September

Dua hari berlalu sejak kejadian di bioskop itu. Aku pergi dengan temanku dan bercerita apa yang terjadi antara aku dan kamu. Dia antusias dengan ceita ini bahkan sampai-sampai dia ingin bertemu dengan kamu dan menegur kicauanmu yang memang menyinggung perasaan aku.

Seminggu dari hari dimana aku menceritakan kamu kepada dia, kita bertiga bertemu di pertemuan yang tidak terduga.
"Eh eh... kayaknya gue pernah liat dia deh. Dimana ya?"
"Siapa?"
"Itu... cowok anak skateboard yang lagi duduk disana" menunjuk ke arah kanan dari posisi kami berdiri.
Aku menoleh dan melihatnya secara baik, itu kamu. Aku merasa malas sekali kalau memang harus berpapasan dengan kamu. Ada rasa ill'feel ketika melihat wajah kamu. Namun, Tuhan memberikan takdir lain. Seseorang di samping kamu melihat temanku sedang menunjukmu dan memanggil kamu agar menoleh ke arah sini. Aku panik karena tingkah temanku itu. Aku mengajaknya pergi menjauh, tapi kamu malah berlari menghampiri aku.

"Hey... apa kabar?"
"Lo siapa ya?" Aku menjawab sinis, "gue punya nama kok. jadi bisa kan sebut nama gue, bukan pake 'hai'?
"Asli lo ribet banget."
"Heh... Demen banget sih lo bilang temen gue ribet?" temanku yang protes.
"Lah emang temen lo ribet. Harus banget gue nyebut nama dia. Wajar kali kalau udah beberapa hari gak ketemu terus manggilnya 'hey' dulu."
"Beberapa hari? Kita udah gak ketemu seminggu lebih ya, Bro."
"Oke... Oke... Gue ngalah, maaf yaaa mantan gebetan. apa kabar?"
"Gila! Orang gila!" Kamu malah menyebutku mantan gebetan. Sepertinya lebih enak disebut teman lama. Kalau kamu menyebut seperti itu kan rasanya kamu menunjukkan masalah di antara kita yang menyebabkan kita menjadi mantanan.

Aku pergi meninggalkan kamu, akan tetapi temanku yang satu itu malah tetap berada di samping kamu dan entah apa yang kalian bicarakan. Yang pasti, aku meninggalkan kalian berdua di taman mall.

Keesokan harinya aku ada kegiatan karang taruna, aku bertemu temanku itu lagi. Kemudian dia bercerita mengenai pembicaraan kalian berdua setelah aku tinggalkan. Rupanya memang aku yang lupa akan sifat asli kamu yang memang sudah kuketahui beberapa tahun sebelumnya. Karakter keras kamu, cuek kamu, dan gak mau ribet itu memang akan menghasilkan kisah yang seperti ini. Harusnya, kalau saja aku ingat tentang sifat dan karakter kamu itu, aku akan menerima argumen kamu di bioskop.

Ibarat nasi sudah menjadi bubur, ketika kamu sudah bilang 'mantan gebetan' tandanya tidak akan ada lagi 'kita' di masa depan. Iya, sepertinya aku sempat gagal move on berkepanjangan. Sampai saat ini tepat tiga tahun sejak tanggal 12 September di bioskop.

Namun, yang dapat aku mengerti saat ini adalah bahwa memang saat itu aku seperti remaja labil yang masih menuntut hubungan dengan status pacaran padahal tanpa status itu pun seorang laki-laki atau pun perempuan bisa menjalin hubungan. Bahkan dalam ikatan yang lebih serius. Jika dalam istilah agama ada yang namanya ta'aruf, dimana dua anak cucu adam bertemu sekali untuk diikatkan dalam ikatan suci yang disebut pernikahan. Jelas tanpa harus ada masa-masa yang disebut pacaran. Selain itu, aku juga mengerti bagaimana tidak menuntut suatu hal berdasarkan apa yang aku inginkan. Karena memenuhi keinginanku tidak pernah ada habisnya, aku manusia biasa. Aku tau itu. Aku juga mengerti bagaimana aku harus mengingat sesuatu yang penting bahwa aku harus menerima kekurangan dan kelebihan seseorang, menerima sifat dan karakter seseorang yang memang membuat aku jatuh hati. Aku mengerti semua itu sehingga pada akhirnya aku bisa mengalahkan keegoisan diriku sendiri.

Saat ini, walau aku masih belum bisa berpaling dari kamu. Bahkan aku masih sedikit merasa belum siap menerima apa yang sudah aku mengerti tadi. Jadi, kamu pun tau, aku tidak berani lagi untuk menjalin hubungan yang waktu itu menjadi perdebatan kita. Aku hanya ingin menikmati masa gadisku bersama teman-temanku sampai nanti entah kamu ataupun orang lain bisa membuatku merasa jatuh hati kembali.

Selesai.

Kamis, 09 Juli 2015

Tetap Di Dua Belas September

Read Previous Chapter : Masih Di Dua Belas September

"Kemana dia? Kok kamu pulang sendiri? Putus?"
"Diem deh, Yah. Gimana aku mau putus, jadian aja engga. Engga mungkin jadian juga kali sama dia."
"Tuh kan, laki-laki zaman sekarang emang begitu. Mana janjinya mau kembaliin kamu pulang dengan baik-baik aja. Anak gue kok dibikin patah hati begini."
Aku menatap wajah Ayah justru semakin kesal saat itu, "rrggghh" kemudian aku pergi ke kamar.

Aku tidak menangis sama sekali hari itu. Aku malah merasa bersyukur, mungkin kamu bukan yang aku inginkan. Buktinya, memang kamu tidak bisa memenuhi apa yang aku inginkan. Sama seperti temanku yang satu itu.

"Yaudalahyah kalau emang bukan dia ataupun dia," aku menunjuk foto kedua laki-laki seumuranku di meja belajar, "masih akan ada laki-laki yang punya pemikiran dewasa datang ke kehidupan gue."

Walaupun aku berulang kali mengatakan hal itu, tetap saja mataku berkali-kali melirik smartphone hitam yang kuletakkan di meja belajar. Bolak-balik aku ke luar kamar, pandanganku tidak pernah sekalipun lepas dari smartphone itu. Setiap dering dari Blackberry Messanger, Line, Whatsapp, tidak aku gubris, aku intip pun tidak, bahkan menyentuhnya juga tidak. Tapi ada rasa penasaran yang luar biasa untuk meraih dan membuka pesan-pesan instan tersebut. 

Tiga jam aku seperti ini. Aku hanya melakukan aktivitas yang memang sudah menjadi kewajiban, seperti makan malam, shalat maghrib dan shalat isya. Aku ingat perkataan Mama tadi saat aku mengambil sebotol air putih dan cemilan di kulkas. "Tuhan itu tidak memberikan kita apa yang inginkan, tapi apa yang kita butuhkan."

"Apa emang gue harus berhenti mencari apa yang gue mau ya? Gue harus lebih berpikir mencari yang lebih gue butuhkan. Hmm..." Aku membaringkan tubuhku yang mulai lelah di atas kasur dan akhirnya aku meraih smartphone itu. Aku tidak sama sekali membuka pesan instan yang sudah banyak masuk. Aku memilih untuk membuka twitter dan facebook untuk mencari moodbooster atau kata-kata motivasi yang bisa membangunkan semangat kedewasaanku kembali.
Tak lama aku scroll ke bawah, kamu yang tadi sore jalan denganku muncul dan menge-tweet beberapa kicauan yang membuatku semakin merasa kesal.

Buat apa pacaran kalau ujung-ujungnya putus juga.

Abis jalan sama anak kecil yang ngerasa dirinya dewasa tapi pola pikirnya amit-amit.

Kalau udah sama-sama suka ya mending sekalian halal-in aja dari pada cuma status yang sebenernya juga ga boleh sama agama. Malu juga ah sama umur, kok bocah banget.

"Keparat banget nih anak" kataku setelah membaca kicauan dari kamu.

Bersambung...

Rabu, 08 Juli 2015

Masih Di Dua Belas September

Read Previous Chapter : Dua Belas September

Sekitar jam setengah sepuluh kita memutuskan untuk pulang. Setelah kita sudah saling banyak bicara mengenai hobi kamu, keinginan kamu untuk jadi anak traveler, lalu kamu bercerita tentang Iphone baru kamu, lalu masa lalu kita dan kenangan kita di masa dulu.
Kamu mengendarai sepeda motormu sangat cepat waktu itu, takut dicap jelek sama Mamaku katamu. Kemudian belum jam sepuluh kita sampai depan rumah. Aku mengajakmu mampir, tapi kamu menolak dan berkata, "lain waktu gue bakal jemput lo lagi dan saat itu gue akan jemput lo dari dalam rumah lo, kok. Minta izin secara langsung ke kedua orang tua lo. Terutama bokap lo yang tinggi itu. Kali ini gue mau buru-buru nge-band lagi. Thanks ya buat pertemuan ini."
"Iya sama-sama. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."

Kita kembali berkomunikasi lewat Blackberry Messanger sampai akhirnya suatu hari kamu mengajak aku pergi.

Hari ini lo gak kerja kan?
Engga, males gue. Mau nyantai di rumah.
Yakin? Gue mau minta temenin nonton film Raditya Dika nih. Seru banget. Gue suka film-film dia
Kapan? Dimana?
Tunggu dulu, lo mau apa engga?
Ya, boleh deh 
Oke, jam 4 sore gue ke rumah lo
Sore ini?
Iyalah
Yauda, tapi nanti gue kabarin ya. Soalnya gue mau pergi dulu sama temen gue.

Sampai tiba pukul jam 4 sore dan aku memang sudah selesai dengan urusanku. Ayah dan Mama di rumah. Kebetulan hari itu Ayah sedang sakit, jadi beliau tidak masuk kerja. Kamu berdiri di depan pagar rumahku dan memencet bel. Aku keluar dengan mengenakan celana jeans hitam, t-shirt putih bertuliskan "GEEK" dan crop jeans yang masih kutenteng dilengan kiri bersamaan dengan totebag hitam bertuliskan "I AM WHO I AM". Kemudian, kamu meminta untuk mampir dan meminta izin secara baik-baik dengan Ayah dan Mama. Aku mempersilahkan kamu masuk.

"Om... Tante... Saya mohon izin ngajak putrinya pergi. Insya Allah saya jaga dengan sebaik-baiknya kok. Dan pulang juga dengan keadaan sama seperti berangkat."
"Kamu itu... teman sekolahnya, ya? Kayaknya Om dulu pernah lihat kamu."
"Iya, Om. Dulu saya sering kesini sama pacarnya dia juga. Tapi pas itu, dia sama sekali gak liat saya, Om."
"Pacar? Waktu itu dia udah punya pacar?"
Aku mencubit kamu, "kok lo ember sih mulutnya? Gue kan waktu itu masih backstreet."
"Biarin."
"Udah ah, Yah. Pergi dulu ya Ayaaaahhh." Aku mengambil sepasang sneakers hitam milikku dari rak sepatu di belakang pintu dan menarik kamu keluar.

Belum sampai kita membeli tiket nonton, kita justru malah berdebat mengenai prinsip menjalin hubungan.
"Buat gue, status itu penting. Ngapain lo sama-sama suka kalau lo gak pernah ngutarain apa yang lo rasa. Terus lo gak mengikatkan suatu hubungan? Ngegantung gitu?"
"Ya lagian kan kita yang sama-sama ngerasain, orang pun akan tau semuanya dengan seringnya kita jalan, makan bareng, nonton bareng, atau kenal sama orang tua kita masing-masing."
"Pokoknya, gue setuju hubungan yang jelas. Jangan-jangan... kita bakal..." Aku menatap kamu curiga.
"Ya, pokoknya gue gak akan pernah bilang sayang ke cewek, gak akan pernah nembak cewek, dan gak akan pernah bilang putus ke cewek. Kalau kita sama-sama nyaman jalin hubungan ya sudah jalanin aja."
"Gue gak suka cara lo kayak gitu. Gak menjamin gue satu-satunya di hidup lo. Eh... maksudnya di kehidupan seseorang."
"Ya terserah elo sih."
Pernyataan kamu yang terakhir itu membuat aku kesal. Sepertinya kamu menganggap remeh sebuah hubungan.
"Gue mau pulang. Gue gak mood buat nonton. Gue pulang aja sendiri."
"Kok lo lebay deh? Pulanglah sana! Begitu aja ngambek. Dasar cewek ribet."
Emosiku semakin memuncak saat itu. Manis obrolan kita beberapa bulan berakhir seperti ini. Kalau aku ingat, aku seperti anak SMP saat itu. Benar bukan? Tapi aku benar-benar pulang dan kamu tidak sama sekali mengantarku pulang. Bahkan kamu mengingkari janjimu ke kedua orang tuaku. Untuk hal seperti itu saja kamu ingkar, apalagi ketika memang kita sudah menjadi pasangan suami istri, seperti yang sering kita bicarakan di Blackberry Messanger.

Bersambung...

Selasa, 07 Juli 2015

Dua Belas September

Iya, aku masih ingat jelas kok. Hari Rabu di awal September itu, kan? Kita, pergi untuk pertama kalinya setelah sekian lama kita saling kenal. Kita, pergi setelah sekian bulan kita hanya saling bertukar pesan melalui Blackberry Messanger. Kita, pergi setelah sekian hari kita mulai mengutarakan apa yang membuat kita sama-sama nyaman berkomunikasi.

Sederhana, di antara sekitaran teman-temanku saling menge-post di media sosial bahwa mereka telah mengunjungi cafe-cafe yang lagi hits, kamu mengajakku pergi ke suatu kedai tradisional di pinggir jalan di balik flyover yang memang letaknya gak jauh dari rumah kita. Walaupun, bisa kita ketahui kedai itupun cukup terkenal di kalangan beberapa orang kantoran.
"Tempat apa ini? Sego kucing?" tanya aku saat kita udah sampai di tempat itu, "parkir dimana emang?"
Kamu sama sekali tidak menjawab apa yang aku tanyakan. Kemudian kamu memarkirkan motor kesayanganmu itu yang aku tau sejak kita lulus SMA kamu sudah memilikinya. Dulu, kalau kamu ingat, aku pernah diboncengi di motor ini. Bukan, bukan sama kamu, tapi sama teman kita. Gak perlulah aku menyebut namanya, dia teman baikku dan teman baikmu juga. Walau beberapa hari yang lalu dia bilang kalau kamu sudah berbeda dari dulu yang ia kenal.
Hm... kenapa dulu bukan kamu yang memboncengi ya? Mungkin kamu bertanya seperti itu. Maka aku akan menjawab bahwa saat itu kamu sedikit memberi modusan dengan teman kita yang cantik itu. Iya, dia memang cantik dan disukai anak laki-laki di kelasan kita. Mungkin termasuk kamu saat itu.
Setelah turun dari motor, aku berdiri di samping kamu. Aku melihat kamu dari bawah sampai ke atas, "asli ya dari dulu sampai sekarang badan lo selalu lebih besar dari gue. Padahal yang gue tau, sekarang gue lebih tinggi dari teman sekelas kita yang paling tinggi dulu."
"Maksud lo, Maryam?"
"Iya."
"Emang lo sekarang lebih tinggi dari Maryam?" aku belum sempat menjawab, kamu melanjutkan, "oh iya, jelas sekarang lo tinggi doang. Bokap lo kan tinggi banget. Dulu gue takut banget tuh kalau ketemu bokap lo. Abis dia tinggi banget, kan gue dulu masih kecil di mata dia. Sekarang juga kali ya, nyali gue masih kecil di mata bokap lo."
"Gue yakin badan lo sekarang gak jauh beda dari bokap gue."

Kemudian kita masuk ke kedai itu. Kamu menyuruh aku memilih makananku sendiri sesuai keinginan, tapi kamu malah menaruh sepotong ayam di piringku.
Kita kebingungan mencari tempat duduk yang nyaman untuk kita. Akhirnya, kita duduk di belakang si abang penjual.
Kita berbicara tentang hobi kamu, memasak kan? Lalu kita saling bertukar informasi mengenai keahlian kita. Kamu ahli memasak, aku ahli menjahit. Kamu bilang saat itu kalau kamu mau mencoba mengenyam pendidikan kembali di bidang masak-memasak. Lalu aku memberi saran yang aku tau informasinya.

Singkat cerita, ternyata kamu mengundang teman dekatmu, laki-laki. Sayangnya, temanmu gak tau jalan kesini. Akhirnya kita menjemput dia di Sevel di perempatan jalan besar. Setelah menjemput temanmu itu, kita kembali ke kedai.
"Kalian ini reunian? Atau emang mau jalan berdua? Kayaknya gue ganggu kalian deh." Teman kamu bertanya seperti itu saat kita duduk bersama di pinggir jalan.
"Bukan, dia teman gue. Ini juga bukan reunian, bukan jalan berdua juga."
"Lah? Gimana? Emang dia siapa?"
"Temen kok." Aku memotong obrolan kalian.
"Yah, temen?"
"Bukan, dia cemewew."
"Apa tuh cemewew?" Aku bertanya.
"Yaaahh... Gak pernah nonton Talkshow dia." Kata temanmu menyebut salah satu acara TV yang memang channelnya gak ada di TV milikku.
"Ih emang itu artinya apa?" Aku bertanya ke kamu.
"Bukan deh, bukan cemewew. Masih wakacipuy, gak tau nih kapan jadi cemewew." Kamu malah melanjutkan perbincangan dengan temanmu.
"Ih, itu artinya apaan? Kasih tau gue duluuuuu." Aku geregetan dengan tingkah kalian.
"Pokoknya nanti lo cari tau sendiri deh nonton Talkshow makanya."
"Ah curang!!!"

Bersambung...

Stupidfy : Ku Yakin Cinta Part IV

Read Stupidfy : Ku Yakin Cinta Part III                 Via Whatsapp aku mengajaknya pergi ke Puncak, enam bulan kemudian. Dia mau dan si...