Matahari tak lagi menyinari hari dengan sempurna. Cahayanya sudah mulai tergilir oleh hadirnya sang rembulan. Pantulan warna kuning kemerahan terlihat di setiap sisi, seiring dengan hembusan-hembusan angin sore yang membuat jilbab ini megar.
Suasana semakin hening. Setiap orang mulai melangkahkan kakinya menuju pintu gerbang. Berbondong-bondong dan saling berebutan untuk dapat lebih dulu mengeluarkan kendaraannya dari parkiran. Dengan beban pikiran akan tugas dan tentengan buku yang tebalnya bukan kepalang. Mereka yang menyebut dirinya Mahasiswa, pergi dengan berbagai rona.
Bangku panjang berwarna hijau yang terpampang di antara dua pohon yang tak besar. Ku singgah sementara untuk menikmatinya. Merasakan setiap hembusan kebanggaan telah dapat duduk di tempat ini. Mata tak henti melirik, mencari sesuatu yang tak tau apa yang sebenarnya aku cari. Yang pasti aku lakukan hanya untuk menikmati segala inspirasi. Disini, senja di kampusku.
Melihat apa yang dilihat. Memikirkan apa yang terlintas. Menulis apa yang ingin ditulis.
Sabtu, 08 September 2012
Jumat, 06 Juli 2012
CERBUNG : LUKA SANG BUNGA PART IV
Sore itu aku diajak pergi oleh Tio, Zahid, dan Hilda. Mereka mengajakku untuk menonton film. Aku meng-iyakan karena aku pun suka film, apalagi film-film luar negeri yang bergenre action. Yang pasti lagi aku tidak lupa mengajak Dhika, karena ia pun suka film action. Sebelum pergi, aku sempat meminta izin kepada Tio, Zahid, dan Hilda untuk mengajak teman sekelasku yaitu Dara dan Lucy. Mereka pun mengizinkan. Setelah aku menghubungi dua orang teman sekelasku, ternyata hanya Dara yang bisa ikut. Sore ini Lucy pergi ke rumahnya untuk acara syukuran atas rumah baru keluarganya.
Bertemulah kami berenam di sebuah tempat makan di mall. Sebelum kami membeli tiket, kami memang memutuskan untuk makan terlebih dahulu. Prinsipnya supaya kita tidak perlu membeli popcorn dan minuman di dalam bioskop. Ya itu adalah prinsip dari Dhika. Entah kenapa yang lain menyetujui prinsip itu. Benar-benar menghemat, karena makanan dan minuman di dalam bioskop harganya sangat mahal.
Usai makan, kami langsung pergi menuju bioskop. Disana aku bertemu dengan Riza. Kali ini dan untuk pertama kalinya aku melihat dia sedang jalan bersama seorang perempuan. Mungkin itu pacarnya. Dan itu membuatku patah hati. Sekali lagi, aku bertemu dengannya dan hanya saling melontarkan senyum. Sedangkan Dara, ia terkejut melihat Riza dan mulai terlihat badmood. Ternyata Dara sedikit sensitif.
Kamis, 05 Juli 2012
DO FUN ON DUFAN
Mari bersoraaaaaak !!! Say A !
Say Wooo!
Libur telah tiba, libur telah tiba, simpanlah tas dan
buku mu, lupakan keluh kesahmu.
Ya itu adalah sepenggal lagu
yang pernah dipopularkan sama Tasya. Lagu yang emang cocok sekali untuk kita sebagai
pelajar kalau sudah mulai memasuki masa liburan.
Beberapa minggu yang lalu, gue janjian sama beberapa
temen gue buat liburan bareng ke salah satu tempat wisata yang emang keren
banget di Jakarta, yang kata nyokap gue si ini tempat mungkin lebih keren dari
Desney Land Hongkong, atau bisa juga dibilang tempat ini adalah Disney Landnya
Indonesia. Keren bukaaaan ?
Yap… gue janjian sama beberapa teman gue dengan susah
payahnya karena apa? Karena untuk masuk ke tempat wisata ini butuh biaya ekstra
dan rencana yang matang. Sebagai pelajar yang uangnya pas-pasan kayak gue dan
temen-temen gue, emang kita itu peril menabung dan berpuasa selama seminggu
untuk menjalankan niat liburan kami ini. Sedikit lebay mungkin, tapi itu adalah
kenyataan loohh.
Seminggu penuh gue dan beberapa temen gue ngumpulin
uang dengan giat, mencari sumbangan dana (kayak bakti social aja yah), pokoknya
sampai gue bisa mendapatkan uang yang cukup untuk liburan satu hari gue disini.
Dimana si itu? Kayaknya dari tadi gak disebutin yah namanya apa. Hehe J penasaran yaaaa ?
Namanya itu Dunia Fantasi (nama bekennya Dufan) yang merupakan salah satu
bagian dari Taman Impian Jaya Ancol. Itu tuuh yang ada di Jakarta bagian Utara.
Yang ada mitos tentang Si Manis Jembatan Ancol itu tuuh (padahal sampai
sekarang gue gak tau deh, jembatan yang dibicarain itu di sebelah mananya
Dufan) hahaha
Oke, banyak hal yang menjadi kendala buat gue,
Redina, Yati, Silvi, Syara, Dinny, dan Fika. Salah satunya itu adalah kendala
karena biaya (itu pasti). Gila coy, buat kantong pelajar macam gue, biaya yang
seratus lima puluh ribu itu besar banget looh. Apalagi disiapin hanya dalam
waktu satu minggu. Uang jajan aja sehari sepuluh ribu. Tujuh hari itu tujuh
puluh ribu. Jauh banget kaan? Maka dari itu, seluruh strategi mengumpulkan uang
kita jalani. Padahal ya, kita itu berniat menuju kesana pas ada diskon 50
persen masuk Dufan. Jadi nya berapa tuh gue dan temen-temen gue harus membayar?
Hitung sendiri yah :p
Okeeh, dengan cara halal kami lakukan semua itu
(Alhamdulillah). Sampai pada masalah
kedua ini. Nah yang ini datang dari perbedaan pendapat antara kita. Syara,
Dinny, dan Fika berubah fikiran (Oh NOOOO). Mereka justru mengajak untuk
liburan ke kawah ratu (maklum, mereka anak pecinta alam). Tapi yaa gue si tetep
bersiteguh untuk ke Dufan. Padahal udah diwanti-wanti dengan banyak hal yang
bisa dibilang merugikan. Tetep, buat gue apa yang gue pilih itu pasti
menyenangkan buat gue.
Sip pada akhirnya, hanya gue,
Redina, Yati, dan Silvi yang bener-bener jadi ke Dufan.
Dufan … We coming :D
Dengan isi kantong yang bisa dibilang ngepas, kita
nekat untuk berangkat. Berjalan menuju halte Trans Jakarta Kalideres
(Transportasi murah meriah, bener-bener meriah). Menunggu adalah hal yang wajib
kita arungi kalau kita naik bis Trans Jakarta ini. Tapi emang kita sebagai
warga Jakarta yang baik, kita harus mendukung program pemerintah. Apapun itu
walaupun sedikit menjengkelkan. Hehe maap Bang Foke *poke. Berjalan dan terus
berjalan, hingga sampai di halte Trans Jakarta Ancol. Kami pun berlari dan
bersorak (kurang lebih kayak anak ilang deh) hahaha :D
Masuk ke pintu gerbang TIJA, membeli tiket masuk dan
terus menelusuri jalan menuju loket pembelian tiket Dufan. Tau gak sih
pemirsaaah, hatiku senang bukan main loohh saat itu, sedikit kayak orang
kampong lagi main ke kota gituuu haha :D
Sampailah kita di loket pembelian tiket. Itu
ngantrinya meeeen. Manusia aja udah kayak sekumpulan daging import yang
disimpen dalam gudang. Bejibun dan bener-bener mantep dehh ngantrinya. Huhhh
kita berempat sepakat untuk gue dan Silvi yang membeli tiketnya. Mesti extra
sabar nih sodarah, soalnya kalau engga bisa jadi berantem. Inget banget, waktu
itu ada yang sampai teriak-teriak ngatain mba-mba yang melayani pembelian
tiket. Gue sih sebagai orang baik, mending diem aja. Yang penting pada akhirnya
gue tau gue bakal dapet tuh tiket.
Yaaap… hamper satu jam mengantri, akhirnya kebagian
juga deeeh. Bahagianyaaa….
Oke berjalan menuju pintu masuk, ngasih tiket ke
petugas dan langsung deh tuh tangan kita dicap gitu. Haha keren capnya,
warnanya biru kayak stampel ijazah gue. Haha :D
Kita berputar terlebih dahulu men, kita liat-liat arena permainannya. Ngantrinya puaaanjaaang-puaaanjaaang ternyata sodarah. Akhirnya kita bertekat untuk yang pertama kali kita naikin adalah Tornado. Liat nih pas kita ngantri. Haha
Bahkan ada yang sampai ketiduran loohh
Hahah buat masnya, kami mohon maaf yaaa :* hehe
Tapi guys, kalau gak begini gak asik dan gak ada
cerita-cerita lucunya tau. Hehe malah sebenernya mengantri itu melatih kita
untuk menjadi lebih sabar, dapat menahan emosi, dan yang pasti mencari hal-hal
kocak yang kayak tadi itu tuuuh hahah *eh
Lets check this photo, ini waktu kita yang lagi
diputer-puter itu tuh di tornado. BADAAAAAI
WOOOO SERU ABISSS MEEEEN J
mau tau sensasi nya? Naik aja itu TORNADO di DUNIA FANTASI.
Selanjutnya
kita berjalan-jalan menuju arena lainnya, rencananya pengen banget naik
Halilintar itu tuh. Tapi gue nya masih rada ragu, akhirnya nyoba yang sederhana
dulu, coba apa hayoooo ?
Hayoo itu apaaa ? hehehe J
Yang ini juga permainannya seru lohhh, bikin
jantung lo itu kayak hanyut gimana gituu.. huuuu nyeesss banget tapi seru
banget nget nget ! hehehe asiiik banget, disini kita juga kenalan sama kakak
yang cantik loohh , nih orangnya
Yang pake baju biru itu tuuuh J anak kuliahan loh, mahasiswa
meen, tapi gue lupa tuh dari mananya. Gue juga lupa namanya hehehe , maaf ya
qaqa yank cantiq *sedikit4l4y
Berlanjut ke permainan selanjutnya. Permainan apa yaa,
lupa deh. Ohayaaaa… kita jalan-jalan dulu. Pokoknya ngiterin beberapa arena
permainan. Mau ke Hysteria, eh rame akhirnya ke sampingnya (Toilet) hahaha :P
lalu melangkah menuju arung jeram, eehh malah belok ke balik arena. Ddan disitu
kita memutuskan untuk makan siang. Makanlah kita dengan bekal yang kita bawa.
Joinan deh tuh tuker-tukeran lauk. Tapi ya okelah kenyaang :q
Lanjut
kita jalan menuju mushola yang letaknya gak jauh dari tempat kita makan tadi
itu. Sholatlah dulu kita, selesai sholat kita mulai lagi berpetualang. Niat mau
naik halilintar lagi, tapi tetep gak berani. Akhirnya kita berjalan menuju
parade. Oh bener tuh, pas kita kesana eh pas lagi ada parade gitu. Nih fotonya
…
Keren kan tuuuh ? hehe cantik dan ganteng, fantastic pula
dandanan mereka. Dufan emang bikin Fun J
Liburan
kita gak cuma berakhir disini, masih ada wahana dan pemberhentian kita
selanjutnya. Dengan semangat yang antusias dan rasa senang yang kita alami,
kita gak akan menghabiskan hari ini dengan sia-sia. Satu hal yang sedari datang
kita rencanain adalah kita akan naik Bianglala pas matahari sudah mulai
terbenam. Karena apa? Karena itu pasti sangaaaaat indah. Dan kenyataan nya
emang sangat indah loh kawan. Melihat matahari terbenam di puncak ketinggian
Bianglala itu emang super mengasyikan.
Liat saja kecerian kita berempat…
Ada satu hal yang lucu looh, tau gak apa? Si Yati, temen
gue itu. Lagi asik jalan-jalan eeehh tau tau dia jatoh gitu. Gak tau kesandung
atau apa, yang pasti dia lagi ilang konsentrasi itu. Sampai kerudungnya kotor
dan dia mengganti kerudungnya itu deeeh.
Malu pisan tapi it’s FUN meeen J
Oke,
I think enough from us. Thanks for your attention, Wassalam J
Sabtu, 23 Juni 2012
SOZIALE VIER tahun KEDUA
Hallo semuaa penikmat cerita SOS4 J
Pada sesi sebelumnya gue udah janji untuk ngebahas cerita ketika gue berada di kelas 12 yaa ? naahh sekarang cerita tentang kelas 12 wabilkhusus kelas XII IPS 4 udah selesai nih. Gue nulis ini tepat tanggal 21-Juni-2012. To the point ajaa yah J
Review dikit ketika awal semester ganjil, tepatnya semester lima.
Tiga hari berturut-turut di awal semester gue gak ada di kelas, karena gue harus ngejalanin tugas terakhir gue sebagai OSIS yaitu sebagai mentor kelas X-1. Pada saat gue enyah dari kelas ini untuk beberapa hari, mereka, para keluarga ketiga gue ini membentuk susunan pengurus kelas yang baru. Dipimpin sama walikelas kita yang baru yaitu Madam Wirda yang juga guru Bahasa Inggris kita.
Lo tau gak seeeh ? jadi kelas XII IPS 4 tahun ini bisa dibilang gak enak tau. Kenapa ? karena kelas ini selalu dapat pengkhususan. Guru Bahasa Inggris kita itu Ma’am Wirda, sedangkan kelasan lain itu Ma’am Chaerani. Mungkin itu lah penyebabnya Ma’am Wirda jadi walikelas kita. Tapi okelah, beliau juga walikelas yang oke kok. Dan akan selalu kami ingat, entah apa aja deh yang dari beliau yang kami ingat, hehe.
Susunan pengurus kelas XII IPS 4 yaituuuuu :
Ketua kelas : Dirga Yoga Tama
Wakil Ketua Kelas : Dicky Alamsyah
Sekretaris : Ariena Junisa
Wakil Sekretaris : Bachtiar Hidayat
Bendahara : Annisa
Wakil Bendahara : Ria Andriani
Okee… kita belajar disini dengan niat LULUS dengan bersama. Itu PASTI. Focus jadi anak kelas 3 sekarang, tapi tetep aja konyol nya tuh gak akan ilang. Ya gak ? naahh kekonyolan itu tetap ada. Beberapa hal yang gue inget aja yang mungkin gue bahas disini. Sorry yaa daya ingat gue kurang bagus nih hari huhu
CERBUNG : LUKA SANG BUNGA PART III
“Permisi, Pak. Saya mau cari buku sastra Indonesia, ada di bagian mana ya?”
“Di barisan E, neng. Dari sini eneng jalan lurus terus ke kiri.”
“Oke. Terima kasih yah, Pak.”
“Jangan manggil saya ‘Pak’. Mahasiswa disini biasa manggil saya Mang Endang.”
“Oh, oke deh Mang Endang yang kece” aku tertawa kecil menggodanya.
“Iya deh, Eneng?”
“Panggil saya Debby ya Mang.”
“Oh ya neng Debby, isi buku tamunya.”
“Hmm Mang, manggilnya jangan pakai eneng. Ya udah aku isi ya Mang.” “Terima kasih nih Mang.” Aku berjalan mengikuti arahan yang diberikan Mang Endang tadi.
Nah! Ketemu deh bagian Sastra Indonesia. Liat koleksinya dulu deh.
Tak lama aku melihat-lihat koleksi di rak bagian atas, datang seorang lelaki berkulit hitam bercirikhas keturunan Arab.
“Hai! Suka baca buku Sastra juga” ucapnya mengagetkanku.
“Eh” aku menjatuhkan beberapa buku, “sorry sorry.”
“Nggak papa, santai aja. Sini gue bantu.”
“Thanks nih. Haduh gue kaget pas elu dateng.”
“Iya gue minta maaf juga ngagetin elu” merapihkan buku yang berjatuhan.
“Oh iya, gue Flo…” menggelengkana kepala, “sorry, gue Debby.”
“Oke. Gue Zahid. Mahasiswa Fakultas Ilmu Ekonomi.”
“Kalau gue dari Ilmu Komunikasi. Jurusan Public Relation.”
“Hm… Aneh yah kita bukan dari jurusan Bahasa, tapi ada di perpustakaan Bahasa.”
“Ya nggak salah sih. Tohh kalau kita suka sastra kenapa engga? Oh iya, lu dari Ilmu Ekonomi? Temen SMA gue ada tuh yang masuk situ. Lu kenal gak namanya Dhika. Muhammad Rodhika Lukmana.”
“Oh si anak petakilan itu.”
“Petakilan? Waduh baru seminggu kuliah disini tuh anak udah terkenal petakilannya. Emang sih sejak gue sekelas sama dia waktu SMA, gue sering banget ngomelin dia karena dia itu nggak bisa diem. Kadang suka gue cubitin. Tapi sebenernya dia itu baik dan pinter. Omongannya juga mantep buat jadi penasehat pribadi. Tapi yaa tingkahnya yang gak bisa diem itu yang nyebelin. Dulu sih dia juara kelas. Eh sorry nih, kok gue jadi ngebahas si Dhika deh?”
“Wah kayaknya lu tau banyak yah tentang Dhika. Dia mantan lu ya?”
“Hah?” aku terkejut, dengan terbata-bata aku menjawab “Engga kok. Kenapa kita jadi ngomongin hal yang gak seharusnya kita omongin sebagai perkenalan yah?”
“Ya bagus, Deb. Tandanya kan kita emang mudah nyambung.”
“Iya sih. Oh iya, duduk yuk.”
Aku berbincang dengannya lebih jauh. Mengenal satu sama lain. Yang pasti masih masa-masa perkenalan. Handphone ku bergetar menandakan ada telepon masuk. Aku meminta izin pada Zahid untuk menjawab telepon itu dan aku segera mancari tempat yang pas untuk menjawab telepon.
Selasa, 12 Juni 2012
CERBUNG : LUKA SANG BUNGA part II
Bunyi alarm itu terdengar sangat bersemangat. Entah apa yang membuat suara itu terasa seperti semangat pagi yang luar biasa. Mungkin saja karena sudah dua bulan aku tidak mengaktifkan alarm tersebut. Jadi, ketika alarm itu berbunyi lagi terdengar sangat bersemangat. Memang hebat, alarm yang berbunyi hanya sekali saja dapat membangunkan aku dari tidur lelapku malam ini.
Sabtu, 12 September.
Hari pertama aku masuk kuliah. Rasanya senang sekali. Setelah lima bulan berdiam diri tanpa rutinitas yang tetap. Kini aku memulainya di tempat yang berbeda, suasana yang berbeda, semangat yang berbeda, dan yang pasti sebutan yang berbeda.
“Ciee… Mahasiswa nih ye” kata Ibu meledekku yang sedang sarapan roti, pagi itu.
“Ih apa sih Ibu?” jawabku tersipu malu.
“Kenapa masih pakai baju putih abu-abu?”
“Oyah ?” aku melihat diriku, “ya Allah. Beneran salah kostum.”
“Ya sudah sana ganti baju yang keren dulu.”
“Oke” berjalan menuju kamar dan segera mengganti baju.
“Naaaah udah bener kan, Bu?”
“Udah. Keren kok, tapi sayang, masih aja keliatan kayak anak SMA.”
“Berarti Flower keliatan masih muda dong?”
“Emang kamu masih muda, Flo. Kalau Ibu, baru sudah tua.”
Aku tersenyum, “iya emang Ibu udah tua. Kan udah punya anak perempuan yang jadi mahasiswa.”
“Flower. Ini motor kamu udah siap. Inget yah hati-hati!” selak Ayah yang baru saja selesai memanaskan mesin motorku.
Aku keluar dan melihat kendaraan yang baru dua minggu parkir di rumah kecil ini.
“Terima kasih Ayaaaaah” aku mencium pipinya.
“Tumben kamu cium pipi Ayah. Udah 10 tahun kayaknya kamu nggak pernah cium pipi Ayah.”
“Ah masa sih, Yah? Selama itukah?”
“Kayaknya sih gitu” lalu ia mengambil beberapa lembar kertas di saku celananya, “nih uang bensinnya” memberikan beberapa lembar kertas itu.
“Nggak usah, Yah. Flower masih punya uang hasil dari ikut kuis beberapa minggu yang lalu. Emang Flower sengaja menyisakan uang itu buat jajan pertama si Putih.”
Putih adalah sebutan untuk motor baruku. Sengaja aku memberikan satu julukan pada motor ini. Karena aku yakin, motor inilah saksi bisu perjalanan aku di kampus.
“Oke. Ya udah, sekarang udah jam setengah tujuh. Cepat jalan!”
“Baik, Ayah” aku mengambil tas dan memakai sepatu yang juga baru aku beli seminggu yang lalu.
Sejak pengumuman penerimaan mahasiswa baru, aku, Ibuku dan juga Eyang sibuk dengan segala perihal yang dapat membuatku keren ketika kuliah nanti. Mulai dari terwujudnya janji Eyang dengan si Putih, lalu Ibu yang sibuk membelikan aku sepatu dan baju-baju yang pantas dipakai ketika ke kampus. Kalau aku ? Aku hanya mempersiapkan mental supaya tidak pingsan ketika hari pertama kuliah.
Setelah aku selesai dengan tali di sepatuku, aku bergegas pergi dan yang pasti meminta restu kedua orang tuaku.
Si putih membawaku dengan asiknya menuju kampus impian. Suasana pagi yang segar dengan udara yang masih sejuk dan wajib dihirup sepuas-puasnya, karena satu atau dua jam lagi udara ini akan lenyap. Dengan jaket yang tebal, penutup mulut, sarung tangan, serta helm yang disiapkan oleh Ibu untuk melindungiku menuju kampus impian.
Satu jam perjalanan dari rumahku menuju kampus ku lewati dengan nyanyian-nyanyian penyemangatku. Begitu senang rasanya. Melewati pintu masuk kampus itu rasanya seperti masuk ke pintu rumah yang di dalamnya berisikan keluarga yang harmonis. Menyenangkan.
Segera ku parkirkan si putih di tempat yang menurutku strategis dan aman. Aku berjalan dengan rasa percaya diri yang luar biasa menuju Fakultas Ilmu Komunikasi. Di koridor yang lumayan panjang yang baru beberapa langkah ku telusuri. Aku melihat seorang lelaki yang dari gayanya memang sangat keren dan terlihat berasal dari keluarga yang berada.
Gile tuh cowok ganteng banget. Gaya nya keren. Tajir nih orang. Anak mana yah? Satu fakultas kah sama gue? Mudah-mudahan lah
Selasa, 22 Mei 2012
BANTU YAAAH :)
Langganan:
Postingan (Atom)
Stupidfy : Ku Yakin Cinta Part IV
Read Stupidfy : Ku Yakin Cinta Part III Via Whatsapp aku mengajaknya pergi ke Puncak, enam bulan kemudian. Dia mau dan si...
-
Read Part I -> Stupidfy : Ku Yakin Cinta Part I Setahun berlalu dengan banyak perseteruan dan kebahagiaan yang tidak...
-
Read Stupidfy : Ku Yakin Cinta Part II “Hari ini aku sidang tugas akhir nih. Kamu yang kampusnya ga jauh dari sini, gak mau support aku?”...
-
Ratusan pasang mata menatapnya. Beberapa cibiran terlontar padanya. Namun, tidak sedikit pujian tertuju padanya. Entah kare...




















