Senin, 11 November 2013

Waktu



Waktu , kamu pergi begitu cepat. Bahkan belum sempat aku bertemu denganmu tanpa memikirkan masalahku.
Waktu, kenapa kamu tidak peduli? Tidak mempedulikan orang-orang yang selalu ingin memberikan kamu kenangan.
Waktu, seandainya menyapamu tidak sesulit menahan mentari untuk tidak terbenam.
Waktu…
Aku hanya ingin mencoba bertemu denganmu tanpa perlu berusaha merasakan takut kehilanganmu.
Andai waktu selalu dapat membuat aku tetap terkosongkan.

Minggu, 03 November 2013

KU INGIN, KATAKANLAH



Dia menatap mataku tajam seperti biasa. Tepat di hadapanku. Aku yang memergokinya tak sanggup untuk mengalihkan pandanganku. Aku membalas seluruh binar matanya yang jatuh tepat di kedua bola mataku. dari bali kaca setebal tiga millimeter berbingkai plastik warna hitam. Empat bola mata saling berhadapan.
“Boleh aku buka?” ucapnya menunjuk mata kananku. Bukan mataku yang ingin ia buka, itu pasti, “maaf ya, sebentar” ia lanjutkan menyentuh batang dari kacamata ini. kemudian ia tarik keluar dari sela telinga, perlahan tapi benar-benar ia melepasnya dari depan mata.
Aku terdiam, sama sekali tidak bisa berkata apapun. Seolah waktu berhenti, aku mematung, namun hanya dia yang bisa beraksi. Mulutku terbuka sedikit menunjukkan aku terkejut melihat apa yang dia lakukan. Bukan tentang cara dia menatapku, karena aku sudah sering merasakannya berkali-kali dulu. Tapi aku menyadari, ada yang beda disini. Maksud dia menatapku beberapa detik ini.
Benda itu terlepas. Seluruh bentuk mata tampak sangat jelas. Ia tak berhenti menatapku walau satu detik. Walau dia bergerak untuk melepaskan kacamata itu. Tatapanku pun masih terpaku penuh. Kali ini aku bingung dan tidak bisa mengelak seperti biasanya. Ya, dia menghipnotis aku dengan matanya.
Bola mataku mulai lelah dengan diamnya. Mereka bergerak ke kanan dan ke kiri, namun tak lepas dari matanya. Mulutku yang terbuka mulai tertutup rapat dan tertarik pada kedua sisi.
“Aku seneng lihat mata kamu telanjang seperti ini. tanpa benda ini, tanpa alat pembantu apapun walaupun kamu memang membutuhkan benda-benda itu.”
Senyum itu tampak semakin memanjang. Mungkin reflek dari dalam hati yang senang mendengar pujian.  Mulai tersadar, aku menghelakan nafas dan melepas tatapanku. Kemudian aku lanjutkan dengan senyum sinisku, seolah aku tidak percaya dengan apa yang dikatakannya.
“Kamu gak percaya? Ya, walaupun dengan seperti ini mata kamu lebih terlihat judes. Tapi percayalah, kejudesan mata kamu timbul akibat sudutnya yang terbentuk tajam. Semua itu akan dinilai oleh orang lain kalau kamu orang yang mampu menjamin dan yakin terhadap apa yang kamu lihat. Sesuai dengan mata hati kamu. Dua hal itu, jujur menunjukkan apa yang akan kamu lakukan.”
“Berhenti memuji aku seperti itu. Itu tidak benar. Aku tidak selalu sama dengan apa yang kamu lihat dan pikirkan.” Aku menundukkan kepalaku dan mendorong perutnya dengan kepalan tangan kananku.
“Look at me!” ia menarik kedua sisi lenganku dan memaksaku kembali menatapnya. Aku mengikuti intruksinya dengan benar, “aku bicara seperti itu karena aku melihat mata kamu. Kesungguhan yang ada di lingkar bola mata yang berwarna coklat itu!” aku diam, “kamu tau? Mata kamu dan senyum kamu itu yang membuat semua orang di sekitar kamu menghormati kamu sebagai wanita yang tidak bisa dipermainkan. Wanita tangguh yang selalu membuat pria sungkan” aku mengerutkan keningku, “tapi aku yakin, aku sudah menaklukan kamu.”
Keteganganku buyar mendengar kalimat narsisnya, “percaya diri banget kamu!” tatapanku pun kembali lepas dan mengacaukan suasana yang sudah ia buat sedari tadi.
“Look at me, now! Jangan lepas itu kalau memang kamu tidak berhasil aku taklukan!” kembali ia membuat aku menatapnya. Ini sudah ketiga kalinya, aku harap ini yang terakhir, “aku sering melihat kamu, melihat mata kamu, tapi aku tidak pernah seyakin ini untuk menatapmu lebih dari biasanya. Karena sekarang aku sudah berhasil melepaskan penghalang rasa yakin aku ke kamu. Ketika aku melepasnya dari pangkuan hidung kamu yang mancung itu, aku melihat sesuatu yang aku cari. Tatapan yang bisa meyakinkan aku untuk menatap masa depan. Tatapan yang bisa membuat aku selalu termotivasi untuk maju. Tatapan yang aku yakini bisa menjadi solusi dari sudut pandang orang lain. Tatapan kamu, itu yang tidak bisa aku lupain dari awal pertama kali aku menatap kamu dulu” ia menghela nafas, aku juga, “I love you” ucapnya setelah menghempaskan nafas panjang.
“Ha?” ekspresiku tidak beda dengan orang lain pada umumnya. Terkejut tetapi tersenyum. Bola mataku bergerak melihat bibirnya yang baru saja mengatakan hal yang tidak pernah aku bayangkan akan keluar di saat seperti ini. jantungku merasakan semua itu. Ia mengekspresikannya dengan degup yang sangat kuat dan cepat. Semua nampak sangat kuat di dalam sana, hingga aku harus terus menerus menarik dan membuang nafas. Mungkin rasa grogi yang memicunya.
“Bilang sama aku kalau kamu juga merasakan hal yang sama. Aku tidak akan mengulangi kalimat itu kedua kalinya. Aku tidak mau hal tersebut akan terlihat seperti omong kosong. Satu kali aku keluari, satu kesungguhan dari hati aku. Katakan! Katakan kalau kamu juga merasakan apa yang aku rasakan! Aku merasakan perasaan itu disini,” ia menunjuk ke dadanya, “aku bisa merasakan seperti yang disini, tapi itu ada di kamu.” Aku masih terdiam. Aku tidak bisa berkata apapun dalam beberapa detik ini. aku masih bingung dengan apa yang terjadi. aku senang, aku bahagia, tapi semua orang akan merasakan malu untuk mengungkapkannya.
“Jawab! Aku merasakan semua itu ada di kamu juga. Aku melihatnya di mata kamu, di senyum kamu, bahkan di degup jantung kamu. Kamu grogi kan kalau ketemu aku. Ayo bilang!” ia mulai memaksaku berkata.
Mataku masih ada dalam lingkarannya, kekuatan dalam hati ini membantuku mengeluarkan kata-kata, “kalau kamu memang merasakannya di dalam mata aku, di senyum aku, di degup jantung aku. Kenapa kamu masih bertanya? Apa perlu aku bilang lagi padahal kamu sudah tau jawabannya?”
“Aku hanya ingin kamu mengatakannya dan mengakuinya. Aku mau lebih yakin dari sekarang ini. dan aku akan yakin seratus bahkan seribu atau sepuluh ribu kalau kamu benar-benar mengatakannya dari mulut kecil kamu itu.”
“Masih perlukah? Semua ada disini,” aku menunjuk dadaku, “semua aku rasain disini. Sama seperti apa yang kamu rasa kok.”
“Ah!” ia mulai emosi melihat aku yang bersikukuh untuk tidak mengatakan apa yang ia suruh. Ia melepaskan tatapannya, membalikkan badannya seperti sebuah rasa  kecewa. Ia berjalan beberapa langkah ke belakang, mengusap rambutnya seperti sebuah penyesalan. Yang ia mau hanya sebuah pengakuan dari mulutku.
Aku menghampirinya dari belakang, aku raih telapak tangan kanannya. Aku genggam erat, “Aku juga mencintai kamu. Lebih dari yang kamu lihat di mata aku, di senyum aku, bahkan lebih bergejolak dari degup jantungku. Bahkan jika aku mau berlebihan lagi, aku merasakan semua itu lebih dari yang kamu rasakan.”
Ia membalik dan memelukku dengan kebahagiaan yang ia rasakan dalam hati dan pikirannya, “aku hanya perlu itu. Pengakuan dari kamu.”

Jumat, 25 Oktober 2013

Minggu, 13 Oktober 2013

99persen + 1persen



Assalamu’alaikum :)
               Berbagi nih yaa tentang pengalaman gue. Yuk silahkan …
               Suatu hari waktu gue masih bergelar pelajar, Kepala Sekolah gue memberikan wejangan di lapangan. Ada satu hal yang diucapkan beliau begitu sangat berarti dalam kehidupan nyata kita semua. Kata-kata itu beliau ucapkan ketika gue kelas 3 SMA dan ingin menghadapi Ujian Nasional. Beliau mengucapkan kalimat itu bukan karena gak ada maksud, justru makna nya sangat dalam loh.
               Kita selalu mendengar, untuk mencapai apa yang kita inginkan kita wajib berusaha dan berdoa. Yap itu benar banget. Gue udah aplikasikan ke dalam hidup gue. Dan kalian bisa oleh sendiri dimana letak usaha dan doa itu.

               Lulus Ujian Nasional dengan ketentuan 60% nilai UN ditambah 40% nilai UAS membuat gue sangat yakin pada diri gue kalau gue pasti lulus SMA. Bahkan karena terlalu percaya diri, gue menggampangkan semua itu dan salah membuat mindset. “Ah… kalau nilai UN gue rata-ratanya 6 aja gue udah pasti lulus kok. Jadi gue gak perlu lah sampai nyontek-nyontek gitu yang malah nantinya nyusahin gue.” Emang sih kata-kata gue tadi itu merujuk supaya gue gak terjerumus dalam proses KKN. Tapi guys, faktanya…
Pada tanggal 25 Mei 2012, gue menghadapi hari pengumuman kelulusan. Yap dengan rasa syukur yang mendalam kepada Allah SWT, gue lulus. Tapi… ketika gue pergi ke sekolah buat liat nilai yang gue dapet, WOW ! gue bener-bener dapatin apa yang gue omongin. Rata-rata gue gak jauh dari angka 6 (antara 7-7,5). Dan sebagian besar dari mata pelajaran yang diujikan nilainya enam.
So … what do you get from this session?
Intinya, lu harus baik-baik memanfaatkan kesempatan, bukan kesempatan buruk itu ya. Tapi kesempatan untuk memasang mindset yang lebih dari biasanya. Pasang mindset dalam diri lu supaya lu bisa mencapai target yang lebih dari biasa.
Next ke sesi berikutnya.
Ketika gue belum menghadapi UN, gue udah dapet tawaran buat ikut tes program beasiswa di salah satu PTS. Dengan program studi Pendidikan Bahasa Inggris. Dua hari gue ikut tes disini dengan kondisi yang sangat kurang fit. Saat itu gue lagi akut dengan penyakit yang pernah gue rasain dulu. Yap, Februari-Maret ini memang sangat padat. Dan gue malah sakit. So apa yang gue dapatkan? Gue menjalani serangkaian tes dengan tidak konsentrasi sehingga mengakibatkan gue gak lolos masuk PTS ini. Yaah Gagal lah..
Tiga hari berturut-turut gue menjalani tes beasiswa itu di kampus yang bersangkutan. Setiap pagi gue diantar oleh Bapak gue. Dengan kondisi badan yang gak fit, membuat gue harus memakai jaket, penutup mulut, dan mengkonsumsi obat rutin yang haram buat gue tinggalin.
Kondisi seperti ini bikin gue sama sekali gak konsen. Dari tes tertulis, gue gak berhenti-berhenti batuk sehingga gue menjawab soal yang sebagian adalah soal listening dalam bahasa Inggris itu menjadi terganggu. Bahkan ketika tes wawancara dan tes mengajar, gue masih sibuk dengan batuk gue yang gak berhenti dan ganggu gue ketika menyampaikan satu materi.
Semua gangguan itu membuat gue bener-bener gagal.
And … what is the lesson from this session?
Lu harus jaga kondisi badan lu. Walau pun aktifitas banyak dan membuat kondisi badan lu perlahan drop. Lu harus sisihin waktu setiap harinya untuk istirahat yang cukup. Bukan berarti banyak istirahat ya. And, lu juga harus banyak makan. Penyakit itu dating ketika daya tahan tubuh lu menurun akibat kurang makan. Makanlah makanan yang bergizi, banyakin makan sayur dan buah supaya tubuh lu tetep seger. Untuk mendompang semangat, lu juga boleh mengkonsumsi suplemen.
Than, gue berusaha untuk bisa kuliah di PTN. Kesempatan pertama adalah SNMPTN Undangan. Alhamdulillah juga gue bersyukur sampai nangis ketika gue tau kalau gue dapat rekomendasi dari sekolah untuk bisa mengikuti SNMPTN Undangan. Karena gak semua siswa disini mendapatkan kesempatan ini. Oke gue ambil kesempatan ini dengan semangat. Gue pilih -> UNJ Pendidikan Geografi dan PGSD, UNTIRTA Pendidikan Bahasa Inggris dan PGSD. Dengan nomor peserta 4120192696 dan terdaftar sebagai pelamar Bidikmisi. Tau gak itu apa?
               Bidikmisi adalah program beasiswa dari pemerintah untuk anak Indonesia yang memiliki kemampuan di bidang akademik ataupun non sehingga dapat meraih pendidikan tinggi tanpa harus mengeluarkan biaya. Karena biaya ditanggung pemerintah.
Awalnya gue gak dibolehin nih sama Bapak gue buat hal positif ini (SNMPTN Undangan). Aneh ya? Kenapa? Karena Bapak gue bilang kalau gue kuliah siapa yang biayain. Bapak gue udah gak punya uang buat menyekolahkan anaknya sampai perguruan tinggi. Bener-bener gak ada, gue tau itu. Maka dari itu gue melamar beasiswa bidikmisi. Bapak gue sempet marah-marah karena gue beneran nekat daftar SNMPTN Undangan, beliau pikir untuk pendaftarannya aja gue harus bayar. Saat itu pendaftarannya 150.000, dan Bapak sama sekali gak punya uang untuk itu. Padahal, dengan melamar Bidikmisi, gue bisa daftar SNMPTN Undangan tanpa harus membayar uang pendaftaran. Nah pas gue kasih tau ke Bapak gue itu, baru deh Bapak gue memberikan izin.
Di sekolah gue hanya sedikit yang direkomendasiin, dan itu diumumin di depan ruang BK dengan urutan jumlah nilai gitu. Nama gue berada 3 dari bawah. Miris banget kan? Faktanya gue emang bukan orang yang sangat pintar, gue hanya orang pintar. Tapi gue milih jurusan yang difavoritkan orang banyak. Lanjutlah ke pengumuman. Pengumuman SNMPTN Undangan berbarengan dengan pengumuman kelulusan. 25 Mei 2012, bedanya ini sore hari. Pas gue dapat kabar dari temen-temen gue tentang pengumuman undangan gue lagi jalan-jalan sama Ibu. Dan gue segera pulang untuk nyalain Laptop dan liat pengumuman. Jam 5 lewat lah gue buka, dan gue GAGAL SNMPTN UNDANGAN !
So… apa nih maksud dari sesi ini? Coba pikirkan. Kalau ketemu jangan diulangi, kaji lagi supaya gak terjadi ke kalian yang belum mengalami hal ini.
Lu harus mengukur kemampuan lu. Lu boleh percaya diri, tetapi percaya diri juga harus liat kondisi lu. Mampu gak sih lu menggapai apa yang lu inginkan itu? Kalau memang niat lu cuma mau kuliah, coba aja berpikir untuk “yang penting gue kuliah”, pilih jurusan yang sepadan dengan apa yang lu punya. Karena SNMPTN Undangan itu dari nilai rapot, ya lu kira-kira, dengan nilai rapot yang ada, lu bisa diterima di jurusan apa di kampus yang lu mau. Jangan pasang jurusan yang lu mau, tapi sebenernya jauh dari kemampuan lu. Begitu sih ketika gue ditanya sama kepala Sekolah gue apakah gue lolos undangan atau engga. Tapi itu bener banget, dan gue setuju.
Berlanjut…
Lanjut ke SNMPTN, yang bukan undangan loh. Gue daftar bareng temen sekelas gue saat itu. Beberapa jam setelah gue tau kalau gue gagal SNMPTN Undangan gue janjian sama temen gue buat daftar SNMPTN. Pas itu orang tua gue juga gak ngasih uang buat pendaftaran tapi gue sekali lagi nekat untuk daftar. Menurut guru BK gue, nomor pendaftaran bidikmisi di SNMPTN Undangan bisa gue pake lagi buat daftar yang sekarang. Sip, gue daftarin diri gue.
Gak lama gue melakukan registrasi. Gue udah bisa mendapatkan tempat ujian. Gue ujian di SMA N 71 Jakarta. Serius gue sama sekali gak tau nih sekolah ada dimana. Gue search di google untuk alamat dan mencari posisinya melalui googlemaps. Tapi tetep aja kurang jelas. Akhirnya Bapak gue telpon ke sekolah tersebut untuk meminta petunjuk arah. Ya gak begitu ribet, karena Bapak kerjanya muter-muter  di jalanan, jadi beliau tau jalan menuju ke sekolah itu.
Hari pertama ujian gue dianter sama Bapak. Ada kejadian nyasar sih sedikit gara-gara kita malu bertanya. Bener kan kata pepatah? Hehe
Yauda ujian tuh disana, dari sekolah gue, gue berbarengan sama temen organisasi gue. Jadi gue masih bisa ngobrol-ngobrol sama dia disana. Terlebih ada lagi temen SMP gue yang dapet lokasi ujian disana. Jadi ada tambahan temen juga deh. Oyah, ada satu lagi temen yang kenalan dari twitter, tapi gue gak ketemu dia disana.
Ujian itu gue nekat jawab banyak soal, ini masalahnya. Seperti biasa kalau gue ujian, dari dulu, dari SD. Gue paling cepet nyelesaiin soal yang udah gue tau jawabannya. Kalau dulu pas SD atau SMP atau SMA, gue jawab asal-asalan juga gak berpengaruh banget. Tapi ini, SNMPTN coy. Salah jawab, nilai dikurangi satu poin. Waktu yang tersisa banyak itu bikin gue nekat jawab beberapa soal lagi yang pada intinya gue gak tau jawabannya. Asli, gue yakin banget ini yang buat nilai gue semakin anjlok.
Selain itu juga ada satu kesalahan fatal yang gue lakuin. Gue udah berusaha, dalam arti gue udah belajar giat banget sebelum ujian ini. Tapi, gue sombong banget sama yang menciptakan gue. Gue sadar banget, kalau mau gue lolos, gue meminta itu ya sama Allah. Gue berdoa sama Dia dalam sholat, dalam ibadah. Tapi, gue malah berdoa dengan teriak-teriakan ketika gue inget mau pengumuman SNMPTN. Kata Ibu gue sih gitu. Gue gak sopan minta ke Allah. Udah gitu gue lalai juga. Ya gimana Allah mau kasih ya?
So… you can take one lesson
Jangan pernah nekat jawab soal yang gak lu mengerti jawabannya. Kalau emang lu gak tau, ya tinggalin aja. Mending gak diisi dari pada lu isi tapi salah. Terus juga itu, jangan sombong dan gengsi untuk meminta sama yang menciptakan lu. Berdoalah dengan benar, dengan cara yang udah dikasih dari agama lu. Itu aja.
Selanjutnya gue masih nekat nih buat kuliah. Kesempatan terakhir. Ujian Mandiri Universitas Negeri Jakarta. Gue berjuang satu minggu buat daftar. Dan satu minggu itu adalah minggu terakhir pendaftaran. Mepet banget emang waktu pengumuman SNMPTN dan pendaftaran Ujian Mandiri. Udah gitu, server web kampusnya bermasalah. Jadi gue yang masih dengan kondisi sakit itu, harus bolak-balik setiap harinya ke kampus impian gue itu buat daftar doang. Dari pagi sampai sore, sampai di rumah pasti malam.
Saking sibuknya mengurus pendaftaran, gue sama sekali gak nyolek latihan soal. Fiks, sampai hari Minggunya pas ujian, gue gak punya persiapan apapun, maksudnya gue gak belajar. Pas ujian lagi nih ada masalah, malu bertanya sesat dalam ujian. Gue malu buat bertanya “Pak, ini system nilainya kayak SNMPTN apa kayak ujian nasional?”. Alhasil, gue hanya menjawab beberapa soal. Matematika aja gue cuma jawab enam soal dari sekian banyak soal yang dikasih.
Masalah selanjutnya disini adalah gue gak belajar dari pengalaman yang baru saja terjadi. Dari selesai ujian sampai pengumuman,lagi dan lagi gue masih gengsi dan sombong. Gue sering banget ninggalin shoolat lima waktu gue dan gue gak bener-bener minta sama Allah. Akhirnya pas pengumuman, gue gagal lagi. Dan Ibu kembali mengoceh akan diri gue yang gak mau minta ke yang menciptakan gue. Sudah cukuplah gue gagal.
Untuk yang bagian tadi, ambil sendiri deh tuh pelajarannya.
Dan dari seluruh pengalaman gue ini, bisa kan jadi pelajaran buat kalian yang membaca? Gue berharap, gak ada dari kalian yang mengalami hal yang sama dengan gue. Jadi coba berpikir untuk tidak melakukan kesalahan.
Perlu kalian tau, sebesar apapun juga usaha kalian. Belajar, usaha materi, tenaga, kalau kalian tidak meminta dengan sungguh-sungguh dengan Tuhan. Maka, kalian perlu waspada gays. Karena keputusan Tuhan yang cuma 1 persen dari 100 persen yang ada itu lah yang berpengaruh. Walaupun kalian udah usaha dan berdoa, tetep yang memutuskan itu adalah Tuhan.
Gue juga mau berbagi kutipan nih…
“Manusia bisa merencanakan, tetapi Tuhan yang menentukan.”
“Tuhan selalu memberikan yang terbaik buat hamba-Nya, sekali pun yang terbaik membuat Hamba-nya meneteskan air mata.”
“Tuhan memberikan yang hamba-Nya butuhkan, bukan yang hamba-Nya inginkan.”
Terima Kasih dan Selamat Berjuang J
Wassalamu’alaikum

Kamis, 10 Oktober 2013

Tentang Kita, Kenangan yang Belum Pernah Kita Rasakan Indahnya



Malam itu, aku sepertinya galau.
Bukan karena aku baru saja putus dengan pacarku. Bukan juga karena suasana di bis ini, malam hari, dengan kemacetan tol dalam kota. Apalagi karena lagu yang terputar di bis ini adalah lagu galau dan sesuai dengan kisah aku sama rekan kerjaku itu yang ceritanya sudah kandas setelah ia memutuskan untuk melabuhkan cintanya pada sahabatku sendiri.
Galau kali ini terlebih menoleh ke orang lain, orang baru yang saat itu masih ku pikir hanya sekedar ketertarikan biasa.
Aku pikir aku menyukaimu dengan alasan seseorang yang aku panggil “Ibu” itu telah jatuh hati sama kamu. Tapi ternyata itu hanya alasan pendukung saja. Setelah ku pikir kita sudah terlalu dekat. Dekat seperti saat kamu menatap mataku setiap kali kita bicara. Seolah mata kamu itu menunjukkan bahwa akulah satu-satunya perempuan yang ingin kamu dampingi hingga akhir hayat kamu.
Panjang aku memikirkanmu di malam hari. Aku ingat kita selalu di takdirkan untuk berdua, di setiap kesempatan di sekolah. Aku pun teringat ketika salah satu guru kita menganggap kita sebagai sepasang kekasih dan kamu bilang ‘iya’ karena kamu terlihat bangga ada di sampingku. Aku juga teringat ketika kita jalan berdua di berbagai kesempatan. Hingga kita dua kali bertemu dengan seorang teman kita, kemudian dia bertanya atas kecurigaannya “kalian jadian ya? Kenapa gak pacaran aja sih? Kalian kan cocok?”
Terdiam lagi, kemudian aku ingat ketika kita main kucing-kucingan di sekolah saat kita mau pergi ke suatu tempat dengan beberapa teman kita lainnya. Kamu mulai merayu ketika sudah bertemu denganku, agar aku tetap ikut dengan rombongan untuk pergi ke tempat itu. Sepertinya itu pertama kali aku duduk di belakangmu. Sayangnya, aku tidak punya keberanian untuk memelukmu dari belakang. Mungkin lebih seperti menghargai batas diantara kita, seperti yang dijabarkan di ajaran agama kita.
Tapi, sadarkah kamu? Aku tersenyum ketika aku ingat kamu yang saat itu menyuapiku dengan menu makanan yang kamu pesan di tempat impian kita berdua itu. Kamu memaksa aku untuk menerima sesendok nasi goreng dari piring kamu. Terlihat manis, jujur sangat merasuk dalam hatiku dan membuat aku seperti ingin memiliki kamu seutuhnya. Lalu, ada juga percakapan kita melalui ponsel. Kamu bilang mau memberikan aku yang terbaik dari hidup kamu. Sehingga aku juga merasa untuk menjaga diriku ini dari semua nafsu jiwa mudaku yang haus akan hal-hal yang terjadi di dunia kita.
Mungkin iya kamu juga jatuh hati, sama seperti yang aku rasakan. Akan tetapi, kamu kurang agresif dan cekatan untuk meraih kebahagiaan kita. Malam itu di bis, aku rasa kamu mau memanfaatkan waktu indah itu, ya walaupun hanya di bis kota yang keadaannya sudah buruk itu. Kamu duduk di samping aku, di bangku panjang paling belakang bis, beberapa menit kita habiskan sampingan tanpa saling berdiskusi. Tatapan kita jatuh pada mobil-mobil yang berlalu di samping bis ini. Jujur aku berharap, aku dan kamu bisa menjadi kita saat itu. Tapi ternyata, tidak.
Kekecewaanku malam itu berlanjut sampai detik ini. Sampai saat ini aku menjalin status dengan orang lain. Saat kamu menyanyikan satu lagu girlband dalam negeri, yang liriknya menunjukkan agar aku tetap tinggal, hanya untuk sebentar saja agar kita bisa bersama. Aku pikir, itu yang membuat aku yakin kalau kamu jatuh hati. Tetapi balik lagi, kamu kurang cekatan dalam memanfaatkan kesempatan yang sudah ada di depan kamu. Tapi mungkin, itu juga takdir dari Allah. Indahnya bukan sekarang, Insya Allah nanti.
Seandainya bisa aku utarakan semuanya dan memberikan semua bukti kalau kamu sudah cukup membuat kamu jauh merasuk dalam pikiranku. Semua masih terangkum jelas walaupun gak ada bukti nyata. Tapi memori otakku kalau bisa kamu ambil buat bukti, aku ikhlas menunjukkannya. Seandainya juga, ponsel itu masih bisa ku gunakan, mungkin ponsel itu saksi bisunya. Dan ponsel itu penuh dengan kenangan kita yang belum pernah bisa kita rasakan indahnya.

Stupidfy : Ku Yakin Cinta Part IV

Read Stupidfy : Ku Yakin Cinta Part III                 Via Whatsapp aku mengajaknya pergi ke Puncak, enam bulan kemudian. Dia mau dan si...