Sabtu, 01 Februari 2014

Kamu yang kucinta, kemana aku harus melangkah?



Kamu berharga bagiku. Kamu mengajariku hal yang pernah aku sepelekan. Oleh karena itulah aku menghargaimu. Aku merindukan kamu yang dulu. Dulu sebelum kamu cetuskan kalau kamu suka aku. Dan aku dibawa pergi melayang dengan perasaanmu. Kemana kamu yang dulu? Aku mohon, kembalilah. Berikan aku setetes kasih sayangmu. Walau itu hanya sekedar teman. Kamu yang kucinta, kemana aku harus melangkah?

-14 November 2010-

LIHAT AKU



Mengenalmu membuatku bahagia. Kau ajarkan aku sesuatu yang tak pernah kutemukan sebelumnya. Kucintaimu lebih dari yang kamu tau. Bahkan ku berjanji menjaga rasa ini hanya untukmu. Menempati tempat terindah di hidupmu. Bahkan, kamu tak perkenankan aku mengetuk pintu hatimu sedikit saja. Segitu angkuhnya kah kamu atas cintamu kepadanya? Sehingga sulit bagiku mendapatkan cintamu. Walau itu hanya setetes embun pagi.

-14 November 2010-

Rabu, 15 Januari 2014

Di Balik Derasnya Hujan



Sudah dua puluh menit aku berdiri disini tapi belum sekalipun aku melihat ada angkutan yang lewat. Rambutku sudah basah dan lepek akibat kehujanan tadi. Dari pelajaran terakhir, aku sudah tau hari ini akan berakhir seperti apa. Hujan di awal Januari memang selalu terjadi menyambut semester genap. Baru dua hari aku masuk sekolah, hujan sudah mulai sering membasahi kawasan tropis di bumi ini.
Sweater merah jambu yang kebesaran ini memang jadi andalanku ketika aku merasa mulai kedinginan. Sweater ini juga menjadi pelindungku dari derasnya hujan ketika aku harus menerjangnya menuju depan gang untuk menunggu angkutan umum agar aku bisa pulang. Tapi hujan hari ini membuat sweater yang juga memiliki hoodie ini tidak berguna. Walaupun aku telah memasangkan hoodienya untuk menutup kepalaku, hujan yang begitu deras masih meresap di setiap lembar benangnya hingga merembas dan membasahi rambutku yang baru tadi pagi aku keramasi. Kesal rasanya ketika rambut harus terlihat lusuh dan kotor kembali padahal tadi pagi sudah aku bersihkan.
Sepatu kets hitam bermerek converse ini pun sudah basah, bahkan sudah merembas airnya ke dalam. Kaos kaki putih yang aku kenakan juga mungkin sudah basah. Hujan hari ini memang benar-benar membuat keadaanku kuyup. Ransel merah favoritku juga sudah basah, untungnya ransel ini tidak mudah tembus air. Kalau tidak, seluruh buku pelajaran yang aku bawa juga akan kebasahan.
Dari balik derasnya air hujan, aku melihat beberapa temanku yang mengendarai sepeda motor keluar dari gang sekolah. Kebanyakan dari mereka mengenakan jas hujan, maka dari itu mereka berani nekat pulang dengan hujan yang masih deras ini. Di depan toko klontong aku menunggu angkutan umum berwarna merah. Bersama beberapa murid lainnya yang juga dalam keadaan basah. Namun, nampaknya hanya aku yang benar-benar kuyup. Karena mereka membawa payung untuk melindungi diri mereka sendiri.
Ada sekitar tujuh orang yang sedang menunggu sama seperti aku. Dua di antaranya aku kenal. Yang satu memang teman kelas sepuluh dan yang satunya lagi adalah seseorang yang sedang menjalani satu masa pendekatan denganku. Aku agak sedikit jaga sikap disini, aku berpura-pura tidak merasakan dingin karena aku tidak ingin dia melepaskan sweaternya untuk aku kenakan. Bukannya aku terlalu percaya diri, tapi beberapa menit yang lalu dia memang menawarkan sweaternya.
Aku berlari bersama dia dari depan sekolah menuju tempat menunggu ini. Aku memang mengatur janji agar bisa pulang bersama dia. Dan aku merasakan bahwa sore ini memang indah.
Tadi, dari depan gerbang sekolah dia mengajakku untuk bersama-sama menerjang hujan agar bisa segera menunggu di depan gang. Awalnya aku menolak, alasanku karena tidak mau rambutku yang baru dikeramasi tadi pagi harus basah dan kotor karena air hujan. Namun setelah menunggu sekitar tujuh menit di depan gerbang, tiba-tiba dia menarik tanganku dan membawaku berlari di bawah rintik hujan.
Cukup jauh aku berlari dari depan gerbang menuju ke depan gang, sekitar seratus meter. Jelas membuat seluruh badanku basah. Begitu pun dia. Tapi sweater yang dia simpan dalam tasnya itu memang tidak sama sekali basah. Maka dari itu, dia menawarkan aku untuk mengenakannya.
Aku tak banyak bicara atau membantah ajakan dia yang memang memaksa untuk berlari. Aku lebih merasakan degup jantung yang kencang ketika dia menarik tanganku dan terus menggenggamnya. Sesekali dia berkata, “sebentar lagi sampai”. Kemudian, aku hanya tersenyum mendengarnya berusaha memotivasi dirinya juga aku. Sesekali aku juga tertawa ketika kita sama-sama melangkah dalam kubangan air, karena cipratannya akan mengenai satu sama lain yang kemudian akan membuat celana ataupun rok semakin basah.
Begitupun ketika aku dan dia telah sampai disini, di depan warung ini. Bukannya langsung merapihkan badan, kita malah tertawa terbahak-bahak. Entah apa yang kita tertawakan, tapi kita merasa memang kita perlu tertawa. Kemudian dia berkata, “ya sudahlah, kita udah hebat melawan derasnya hujan. Lo mau pakai sweater gue gak? Lo kuyup banget.”. Lalu aku menatap matanya dan kemudian menolak tawarannya. Aku melihat dia terus saja memandangku, seperti ada yang dia pikirkan atau mungkin dia nilai dari penampilanku. Yang pasti, itu membuatku merasa malu.
Sekarang, sudah hampir tiga puluh menit aku menunggu angkutan umum itu bersama dia dan sudah lima belas menit aku dan dia saling terdiam tanpa berbicara apapun. Mungkin topik pembahasan kita sore ini sudah habis atau mungkin aku sudah malu untuk berkata-kata setelah dia bertanya, “kamu suka sama aku gak?”.
Aku tidak terbiasa menyampaikan perasaanku terhadap seorang cowok secara langsung. Nyaliku baru berani di pesan singkat. Selain itu juga, dia bertanya dengan nada tinggi sehingga beberapa orang di sekitar kita menoleh dan menunggu jawabanku dari pertanyaannya.
Aku sudah berkali-kali menguap, aku rasa kebosanan mulai mendatangiku.
“Ngantuk?” tanyanya setelah sekian lama tidak ada perbincangan disini.
“Iyah. Cuacanya mendukug buat tidur. Angkotnya juga lama, bikin bosen.” Aku menjawab.
“Sebentar lagi juga angkotnya datang. Nanti tidur di angkot aja.”
“Gak ah, malu kali tidur di angkot. Nanti kepalanya gimana? Bersandar di orang-orang dong? Malu ah.”
“Ya kamu bersandar di aku aja, jadinya kan gak malu.”
“Apa sih, lu? Tetep ah gue malu.”
“Bandel nih dikasih solusi juga. Kan enak juga bisa tidur.”
“Iya juga sih. Tapi liat deh, angkotnya saja gak kelihatan.”
“Mau tau gak caranya biar gak ngantuk?”
“Gimana?” tanyaku seraya mengucak mata kananku yang terkena tetesan air hujan.
“Jawab pertanyaan aku yang tadi aja. Jadi kan kita bisa mengobrol.”
Aku diam, merasa agak malu untuk menyampaikannya disini. Sebenarnya bukan karena malu mengutarakan perasaanku, akan tetapi ada hal lain yang memang mengganjal dalam pikiranku.
“Jawab dong!” ujarnya sedikit memaksa.
“Aku cuma bingung sama perasaan aku sendiri. Yang pasti aku bahagia sama kamu. Bahagia ketika berhubungan sama kamu.”
“Itu bukan jawaban.” Sahutnya ketus.
“Ada hal yang mengganjal di pikiranku, Bim.”
“Apa? Kamu cerita dong! Jangan buat aku bertanya-tanya terus. Aku merasa kamu berubah belakangan ini. Komunikasi kita udah gak kayak dulu. Mungkin emang salah aku sih, kita udah lima bulan deket tapi aku juga belum kasih kepastian. Justru baru kali ini aku bertanya seperti itu ke kamu.”
“Ya, itu kamu tau. Mungkin ini efek kita terlalu lama pendekatan tanpa mencoba beranjak dari zona nyaman di masa pendekatan.”
“Ya… ya… ya… aku emang salah. Dua bulan awal kamu terus yang menanyakan hal itu tapi aku selalu aja gak siap buat kasih jawaban dari suatu kepastian.”
Aku membalas pernyataannya dengan tersenyum dan mengangkat kedua bahuku.
“Jadi gimana? Kamu suka kan sama aku? Atau kamu sudah bosan? Kalau gitu sih gak apa-apa. Mungkin kamu udah dapetin yang lebih baik dari aku.”
Aku kembali mengangkat kedua bahuku.
“Kok kamu diem aja sih?”
“Aku harus ngomong apa? Aku udah sering ngomong sama kamu tentang hal ini. Kenapa sekarang gak kamu aja yang terus-terusan ngomong dan aku hanya dengerin aja.”
“Kamu kasih penjelasan aja, kenapa kamu agak berubah? Cuma tadi aja tuh, pas kita hujan-hujanan aku liat kamu tertawa lagi lepas kayak dulu.”
“Terlalu banyak masalah disini,” aku menunjuk keningku, “banyak hal yang masuk dalam pikiran aku setelah tiga bulan lalu kamu cuekin aku seminggu”.
“Apa?” mulutnya memang bertanya untuk aku, akan tetapi matanya menoleh ke arah lain. Ternyata angkutan umum yang sudah setengah jam kami tunggu datang.
Ketika dia akan memberhentikannya, aku menarik tangannya, “biarin aja angkotnya lewat. Gue rasa kita masih perlu mengobrol disini. Gue gak masalah pulang lebih lama dari biasanya. Lagi pula kalau masih hujan deras gini nanti gue turun dari angkot dan jalan ke rumahnya kebasahan lagi. Baju gue udah mulai kering juga disini.” Kemudian kami membiarkan angkutan itu lewat begitu saja.
“Oke. Sekarang apa yang mau lo sampaiin ke gue. Cerita semuanya.” Dia mulai menggunakan subjek gue dan elo lagi setelah sekitar tiga bulan dia rutin menggunakan subjek aku dan kamu.
“Tiga bulan lalu, yang pas kita jalan bareng. Terus pas pulang aku buat kamu marah karena aku bilang sikap kita udah berlebihan kalau dalam ukuran teman dan kemudian kamu cuek sama aku. Sms engga, boro-boro ngucapin selamat pagi. Apalagi untuk telpon. Satu sekolah, satu lantai, tapi kalau ketemu gak pernah menyapa. Seakan kita gak pernah kenal. Satu minggu kamu kayak gitu. Aku pikir semuanya udah selesai sampai hari itu. Tiga malam berturut-turut aku menangis. Aku pikir aku salah bicara sama kamu. Tapi aku pikir mungkin ini caranya agar kita berhenti. Tapi tiba-tiba pas event itu kamu tarik tangan aku ke belakang panggung padahal aku lagi sibuk mengurusi acara dan disitu kamu minta untuk aku gak pergi dan kita kembali seperti dulu. Dan setelah hari itu kamu kembali hubungi aku dan terus-terusan mencari aku kalau aku gak balas sms kamu. Lalu semua keulang seperti awalnya sampai berjalan dua bulan hingga hari ini. Aku capek ngikutin sikap kamu, mood kamu, yang kamu bisa ubah tiga ratus enam puluh derajat tanpa proses. Semua teman-teman aku sudah melarang aku untuk berhenti menghubungi kamu dan mencoba menjalani cerita baru sama yang lain. Tapi hati aku milih kamu. Aku gak bisa menjalani cerita lain. Aku gak bisa jauh dari kamu walaupun memang saat ini seperti aku harus memilih untuk mengabaikan nasehat sahabat-sahabat aku.” Jelasku panjang lebar dan dia hanya menyimak.
“Sebenarnya ini  adalah satu hal yang sulit untuk gue jalanin sama lu. Kadang gue harus berpikir panjang untuk maju. Bukan karena gue takut, tapi gue cuma mau menyiapkan diri untuk lebih banyak menghadapi resikonya. Lo tau kan kalau ada beberapa cewek di sekolah yang lagi suka sama gue dan emang gue juga merespon mereka. Gue tau emang gue salah yang terus-terusan menanggapi mereka padahal gue cuma mau berteman biasa sama mereka. Tapi, lo juga tau kan sebagai perempuan pasti ada dong perasaan ingin lebih kalau udah sering komunikasi. Dan jujur gue ngerasa ada di posisi yang rumit sedari beberapa bulan yang lalu. Gue bingung buat ambil sikap. Gue dari dulu mau lo untuk gue pilih. Tapi gue juga gak mau lo akan jadi punya masalah dengan mereka. Pastilah gue udah bayangin itu, kalian pasti akan adu mulut selayaknya perempuan. Gue gak mau ambil resiko yang jauh untuk orang yang akan gue pilih. Gue perlu menyelesaikan urusan sama mereka terlebih dahulu baru gue tentuin yang gue pilih.” Balasnya dengan penjelasan yang panjang juga. Kemudian dia menarik nafas panjang sebagai jeda, “tapi, gue juga gak berani untuk menjanjikan apa-apa sama lo selain gue mau buat lo bahagia ketika ada di samping gue. Seperti saat ini.”
Aku mendengarkan semua yang dia sampaikan dengan tatapan kosong menatap rintik hujan di depan kita. Aku merasakan tidak ada yang jelas untuk kisah ini. Bagaimana ini akan selesai? Ini tidak akan selesai hingga aku meninggalkannya dan membiarkan kisah yang sudah terjalin selama lima bulan ini hanya sebagai persinggahan saja.

Rabu, 08 Januari 2014

Catatan Baru

Bagaimana aku mengisahkanmu?
Kamu terlalu rendah diri. Selalu saja menganggap dirimu tidak tampan dan tidak hebat. Kamu terlalu tidak percaya diri. Aku tidak mengerti kenapa kamu selalu bersikap seperti itu. Tapi boy, aku mengenal kamu dengan kesederhanaan dan apa adanya kamu.
Sebagai perempuan normal, jujur saja aku akan terpukau melihat laki-laki yang tampan dan terlihat keren ketika mereka lewat di hadapanku. Tapi perlu kamu ingat boy, itu hanya sekedar hasrat sepintas. Sama seperti ketika kamu melihat perempuan cantik. Itu saja.
Kamu. Baru saja memasuki ruang hati yang sudah kosong. Walaupun aku tau, kamu bukan orang baik seperti mereka, laki-laki yang selalu kamu bahas. Tapi boy, kamu bisa membuat aku lebih bahagia dengan cara kamu yang jelas saja tidak pernah mereka lakukan untuk aku. So, jangan pernah merendahkan diri kamu untuk menjadi yang terbaik untuk aku.
Dan yang pasti telah, sedang, dan mungkin akan terus terjadi adalah kamu catatan baru dalam semua kisah aku.

Jumat, 03 Januari 2014

Lembaran Akhir Tahun, Ulang Tahun Ke-19







Random, Kadang Hati Pun Bingung

Terlalu banyak laki-laki yang membuat hari-hariku berwarna belakangan ini.

MIKE, laki-laki ini ketika permainan dimulai berperan sebagai seseorang yang menjalin hubungan khusus denganku. Pacarku. Pacar yang sudah melewati sembilan belas kali monthversarry. Dari sembilan belas bulan, hanya empat bulan pertama aku merasakan bahagia seperti milik dia. Setelah itu, aku tau sifat aslinya dia. Dia tidak lebih dari laki-laki yang mementingkan teman-temannya dibandingkan perempuan yang menurut dia adalah kekasih hatinya. Dia tipikal laki-laki yang lebih senang sendiri. Entah apa motivasi dia memacariku. Tapi yang pasti, menurutnya seharian tanpa aku bukanlah masalah. Itu membuatku frustasi di dua bulan ini.

EDWARD, laki-laki ini mulai konstan mengobrol denganku lewat aplikasi blackberry messanger setelah kami memang mempunyai kepentingan khusus. Mulai lebih dekat setelah aku ditinggal Mike pergi. Aku banyak cerita tentang Mike padanya. Kemudian berlanjut pula dia yang bercerita tentang hubungan ppercintaan dengan kekasihnya hingga berujung mantan kekaasih. Kemudian aku menjadi saksi ketika dia mencoba mencari tambatan hati baru yang pada akhirnya dia memang sangat selektif hingga bergonta-ganti dekat dengan perempuan. Kemudian, aku putus dengan Mike dan tak lama dari itu dia pergi untuk kepentingan studinya dalam jangka waktu yang cukup lama.

JACOB, laki-laki ini memang sudah hadir ketika aku mulai jatuh hati dengan Edward namun belum menyelesaikan hubungan dengan Mike. Dia kembali setelah sekian lama aku tak melihatnya. Kemudian aku lebih dekat dengan dia ketika Edward pergi dan Mike sudah lepas dari hidupku. Kemudian berlanjut dekat dan sangat dekat hingga menjalin hubungan tanpa status. Namun, tetap saja, hubungan ini menyiksa aku. Karena aku tidak bisa melakukan apapun ketika aku tau, dia laki-laki egois yang mempermainkan hubungan dengan beberapa perempuan.

Di malam-malam terakhir di akhir tahun ini, Mike sudah pergi entah kemana dari kehidupanku. Edward, masih berada di jarak yang cukup jauh dan masih sulit untuk aku raih. Jacob, masih hadir mengisi kekosongan hati namun dengan keegoisannya. Entah bagaimana semua ini berakhir. Mungkin, Edward akan menjadi pilihan yang terbaik nantinya setelah dia kembali.

Bahagia Bersamamu

Entahlah, gua bingung~
Selalu kata itu yang aku dengar ketika aku mulai mempertanyakan tentang perasaan kamu ke aku.

Aku mulai dengan ketidakpedulian ketika kamu memberi sinyal-sinyal yang aku mengerti itu mungkin hanya sebuah guyonan. Ketidakpedulianku itu pun bukan hanya karena itu, saat itu aku masih memiliki seseorang yang membuatku gila karena bertahan dalam rasa sayang.

Aku juga tidak mengerti, mengapa semudah ini aku berpaling dari dia. Tapi yang pasti, ini semua karena kehadiran kamu.

Aku paham. Dari awal aku memutuskan untuk serius dekat dengan kamu, kamu tidaklah mudah untuk dibaca. Maka dari itu, aku rasa ini cukup untuk bersenang-senang.

Tapi, sayang, waktu itu tidak pernah bisa menjauhkan keadaan dengan perasaan. Waktu terus berjalan, sayang, merubah tiap keadaan hari demi hari. Merubah pula perasaan itu, dari tidak peduli menjadi peduli, dari bersenang-senang menjadi rasa nyaman, bahkan dari ketidakseriusan menjadi rasa sayang dan tak ingin kehilangan.

Saat ini, aku rasa aku hanya bingung. Aku mungkin hampir lelah membatasi dan menahan diriku untuk tidak benar-benar jatuh hati dan berharap sama kamu. Aku hanya ingin bahagia bersamamu ini bisa lebih dari sekarang. Sebagai perempuan normal, aku masih suka kepastian. Bukan kamu menjadi yang terbaik lah yang aku mau, tapi usaha kamu menjadi yang terbaik yang pasti akan membuat senyumku itu senatural mungkin aku lontarkan.

Kamu bahagia jika aku bilang aku kangen sama kamu, aku bahagia di samping kamu, aku senang dimanja sama kamu. Percayalah, sayang, tulus dalam hati aku pun ingin kamu mengatakannya. Mengatakan seperti aku satu-satu nya yang kamu inginkan. Tanpa ada orang lain yang bisa bahagia di samping kamu. Hanya itu.

Kamu, yang terbaik buat aku. Aku bisa buat itu, kita bisa mewujudkannya. To be the best for me enough to act not afraid to be the best.

Stupidfy : Ku Yakin Cinta Part IV

Read Stupidfy : Ku Yakin Cinta Part III                 Via Whatsapp aku mengajaknya pergi ke Puncak, enam bulan kemudian. Dia mau dan si...