Senin, 11 Mei 2015

Stupidfy: Maulana Wisnu A.

Bagian Dua.

Hari ini tepat dua bulan Fay belajar di TK. Kemarahan Wawan atas tingkah Wisnu waktu itu sudah lama hilang. Kini mereka bertiga berteman akrab. Bahkan, karena akrabnya Fay lebih perhatian ke Wisnu. Ketika ada tugas atau hal yang tidak Wisnu dan Wawan tidak mengerti, Fay akan lebih cenderung mengajarkan dengan asik ke Wisnu. Sepertinya memang Fay suka sama Wisnu.
Wawan yang curiga atas perhatian Fay yang berlebihan itu, akhirnya ia bertanya secara langsung kepada Fay di depan Wisnu. Cinta monyet yang pertama kali dirasakan Fay memang membuat Fay malu. Karena ia harus mengutarakannya langsung di depan Wisnu dan Wawan.
Kembali lagi insidennya terjadi di hari Sabtu, jam olahraga. Fay bilang ke Wisnu kalau ia suka. Ada Wawan juga.
“Tapi aku gak suka sama kamu, Fay. Yang suka sama kamu Wawan. Bukan aku, kamu jangan suka sama aku yah. Sukanya sama Wawan aja, Wawan suka banget sama kamu. Katanya kamu cantik dan baik. Jadinya kamu sama Wawan aja.”
Fay yang malu karena ditolak begitu saja, ia pulang ke rumahnya tanpa membawa tas dan perlengkapan lainnya yang ia bawa ke sekolah. Ibu Fay yang hari itu tidak sedang menunggu Fay di sekolah terkejut karena Fay pulang dengan menangis. Fay tidak bilang apa-apa ke Ibunya, kali itu Fay masih malu bilang ke Ibunya kalau ia baru saja ditolak oleh teman sepermainannya.
Tidak lama setelah Fay berhenti menangis, sekitar pukul sepuluh lewat lima. Wawan datang ke rumah Fay. Wawan yang memang kata Wisnu suka sama Fay sering sekali membuntuti Fay sampai rumahnya untuk sekedar tau. Jadi hari itu, Wawan dengan kesadarannya membawakan perlengkapan Fay yang ditinggal di kelas ke rumah.
“Kamu nangis, Fay? Ini perlengkapan kamu.”
“Gak tau” jawab Fay ketus, kemudian ia ambil perlengkapannya tanpa berterima kasih kepada Wawan, “sudah sana pulang! Nanti kamu dicariin Ibu kamu.”
“Iya, aku pulang dulu ya, Fay.” Kata Wawan lugu.
Di hari sekolah berikutnya, Fay masih sering mengajak Wisnu main bersama di rumahnya dan masih tidak peduli dengan Wawan.
***
Kebodohan Fay selanjutnya yang dilakukan Fay karena jatuh cinta dengan Wisnu adalah ketika masa belajar Catur Wulan dua selesai dan waktunya pengambilan laporan hasil belajar. Saat itu semua murid datang ke sekolah ini bersama orang tuanya.
Pagi-pagi sekali Fay sudah rapih. Pakaian rapih dan juga sudah selesai dengan sarapannya. Padahal jam masih menunjukkan pukul setengah tujuh. Sedangkan acara pengambilan rapot adalah pukul delapan.
“Kamu sudah rapih, Fay? Tumben. Yauda kamu siapin baju buat Naufal yah!”
“Iya, Ibu. Naufalnya juga belum mandi ya? Gimana sih Ibu? Kan kita mau ngambil Rapot. Masa jam segini belum apa-apa sih?!” Fay menggerutu. Naufal adalah adik laki-laki Fay, saat itu Naufal masih berusia empat bulan.
“Yauda bantuin Ibu dulu deh.”
Dengan cemberut, Fay menjalankan perintah Ibunya. Fay merasa kalau dirinya sudah rapih ya siap jalan. Tapi pekerjaan rumah masih banyak yang belum Ibu Fay kerjakan. Padahal kalau saat itu dia sudah mampu berpikir benar, ia harus rela terlebih dahulu membantu Ibunya. Ayah Fay? Beliau juga masih belum rapih. Hanya Fay yang bersemangat lebih, bahkan lebih dari hari pertama sekolahnya.
Sambil menunggu Ibu Fay memandikan Naufal, Fay membuka buku-buku pelajarannya. Ia mengulang kembali pelajarannya. Padahal setelah ini ia akan menghadapi masa libur selama satu minggu. Ya begitulah kalau anak kecil lagi semangat belajar, jangan sekali pun dilarang untuk berhenti. Sebelum ia besar dan kenal dengan Mal, jalan-jalan, gadget, atau hal lainnya yang membuat belajar itu menjadi malas untuk dijalani.
Waktu menunjukkan pukul delapan, Fay dan Ibunya belum juga jalan. Fay yang sudah tidak sabar terus saja mengoceh tidak karuan memaki Ibunya yang hampir selesai dandan. Ia duduk di bangku plastik depan rumahnya. Fay mulai mengayunkan kakinya untuk menghabiskan kebosanannya. Hingga akhirnya Ibu Fay selesai dan langsung berangkat menuju sekolah.
Sesampainya di sekolah, Fay langsung mencari Wawan dan Wisnu. Katanya hanya untuk mencari tau hasil belajar mereka, sekaligus mengukur kemampuan Fay dalam membantu Wawan dan Wisnu belajar. Begitu yang dikatakan Fay ketika ia melepaskan genggaman tangan Ibunya.
“Gimana hasilnya kalian?” kata Fay antusias menatap Wisnu yang berdiri di samping Ibunya dan Wawan.
“Aku hasilnya ga bagus, Fay. Udah gitu ada yang kurang baik katanya di kedisiplinannya kata Ibu aku.” Jawab Wisnu.
“Iyalah, kamu kan gak disiplin, Wis. Datengnya telat, kalo di kelas kerjaannya jalan-jalan terus. Udah gitu sukanya iseng sama orang.” Wawan sewot.
Fay tertawa, “iya termasuk ngatain kamu pake nama bapak kamu ya, Wan?”. Wisnu ikut menyambut ucapan Fay dengan tertawa. Sedangkan Wawan langsung meninggalkan mereka berdua. Karena Wawan dan keluarganya akan pergi ke kampungnya untuk beberapa hari,
“Kamu masih suka sama aku? Kan nilai rapot aku jelek?” Tanya Wisnu polos. Ternyata ia masih tau kalau Fay masih suka dengannya. Ibu Wisnu yang berdiri di samping Wisnu terkejut dengan pertanyaan anaknya itu. Beliau tertawa geli juga mendengarnya. Yang ada di benaknya adalah anaknya masih terlalu dini untuk mengenal cinta, walaupun itu cinta monyet.
“Ih kamu mah, Wis. Aku kan jadi malu. Itu didenger sama Ibu kamu tau. Aku malu kalau aku masih suka kamu walaupun kamu gak pinter, jahil, kurang disiplin. Itu tuh Ibu kamu ngeliatin aku aja.”
“Kamu suka sama Wisnu, nak?” Tanya Ibu Wisnu, “kalian masih kecil, belajar dulu yang bener, jangan suka-sukaan dulu!”
“Iya tuh, Ma. Si Fay suka sama aku katanya. Aku ganteng kali ya, Ma?”
“Udah kek Wis, aku kan malu. Kamu mah begitu deh. Nanti aku pulang lagi nih.”
“Kamu mau pulang? Kan mama kamu masih disini, Fay. Kalau kamu pulang gak ada Wawan lagi loh yang bantu kamu.”
“Kamu jahat Wisnu. Jangan digituin dong!” kata Fay dengan wajah cemberut.
“Eh… Nanti main ke rumah Wisnu yuk, Fay. Banyak jajanan di rumah. Kan Mama Wisnu jualan jajanan.”
“Iya Mamanya Wisnu. Nanti aku main deh ke rumah Wisnu kalau Wisnu nya udah jadi pacar aku.” Kata Fay polos sehingga membuat Wisnu dan Ibunya tertawa.

***

Stupidfy: Maulana Wisnu A.

Bagian Satu.

Hari pertama tahun ajaran baru, 1998-1999. Fay baru saja merapihkan buku dan rapih juga dengan sarapan paginya. Saat itu Fay baru saja memutuskan untuk belajar di Taman Kanak-Kanak di dekat rumahnya. Rambut lurus dan rapih terhenti di samping antingnya yang saat itu berbentuk bulat melingkari lubang telinganya. Poni depan nyaris menutupi alisnya yang tipis. Rambutnya memiliki belah tengah, tepat ditengah kepalanya. Gigi susunya yang masih rapih putih dan kecil itu akan sangat terlihat di tawanya yang manis.
Dia semangat sekali nampaknya untuk pergi ke sekolah. Hari ini semangatnya karena dia masih dalam semangat belajar. Besoknya? Mana tau?
Dengan diantar Ibunya, ia berjalan dengan senang hari itu. Tertawa dan melompat. Sesekali dia menyanyikan lagu anak-anak yang sudah hapal dia nyanyikan. Bertanya-tanya lugu kepada Ibu membuat beliau jengkel dan menarik tangannya hingga jatuh, kemudian dia terdiam dan menunjukkan wajah sedihnya.
Sampai dia di depan gerbang Taman Kanak-Kanak Kelapa Gading. Dia melihat banyak orang yang seumuran dengannya. Sedihnya tadi berubah menjadi tawa kembali. Tapi kali itu ia masih tidak punya nyali untuk bergabung bermain dengan teman-temannya. Akhirnya dia duduk di samping Ibunya sekaligus memperhatikan keadaan sekitarnya.
Bel masuk berbunyi, semua anak masuk ke dalam kelas. Fay masih malu nampaknya, dia masih menggandeng tangan Ibunya. Kemudian datang seorang wanita yang seumuran dengan Ibu Fay dan mengajak Fay masuk ke dalam kelas untuk mengikuti pelajaran di hari pertamanya. Nama wanita itu adalah Wati, biasanya orang di TK ini memanggilnya Ibu Ncas. Tidak tau dari mana nama panggilan itu. Namun, panggilan itu membuat orang tua murid disini akrab dengannya.
Fay menerima ajakan Bu Wati, dia masuk kelas dan mencari tempat duduk yang masih kosong. Masih dengan malunya, Fay diam saja di kelas. Semangatnya beberapa menit yang lalu seketika tertutupi dengan rasa kurang percaya diri di hari pertama sekolahnya. Fay duduk di bangku baris kedua dari depan, di barisan bangku sejajar dengan pintu. Ternyata kebiasaan ini sudah ada sejak zamannya Fay TK, bangku depan selalu kosong karena banyak anak yang kurang percaya diri untuk menunjukan bahwa ia pintar dan semangat untuk belajar.
Sehari berlalu, dua hari berlalu, tiga hari berlalu, hingga bertemulah Fay dengan pelajaran olahraga. Bagi sebagian anak, terlihat juga di beberapa TK lainnya atau murid disini tahun sebelumnya, semua bersemangat ketika jam pelajaran olahraga. Kenapa? Karena pelajaran olahraga itu dilakukan di luar kelas, biasanya juga olahraga itu waktunya tidak akan sepenuhnya dihabiskan untuk pelajaran olahraga, dengan kata lain waktu olahraga adalah waktunya bersantai untuk murid yang cepat suntuk berada di dalam kelas.
Fay mulai menunjukkan kecentilannya disini. Di jam olahraga dia berada di barisan paling depan. Tinggi badannya inilah yang membuat Bu Wati dan Bu Sukaesih, kepala sekolah Taman Kanak-Kanak ini, menyuruh Fay berdiri di barisan paling depan. Memang, Fay tidak terlahir dengan postur tubuh yang digolongkan tinggi. Mungkin itu pula yang membuat Fay agak minder di hari pertama sekolahnya.
Lima hari pertama sekolahnya di minggu pertama, Fay malu. Tapi di hari keenam ini, Fay menunjukkan gelagat yang berbeda. Tidak tau apa yang hadir di mimpinya semalam, tapi Fay terlihat centil hari ini. Ketika Bu Sukaesih menyuruh murid-murid lencang tangan, tangan Fay menonjok bahu rekannya yang di sebelah kanan. Jelas di barisan kanan adalah murid laki-laki. Berdirilah disana murid laki-laki bernama Wawan. Bagaimana Fay bisa kenal Wawan?
Kemarin, tepatnya di hari Jumat, Fay yang sudah jago sekali dengan penulisan angka membuat dirinya harus duduk di bangku paling belakang. Kata Bu Wati supaya yang masih belum Lancar dan kaku dalam menulis bisa duduk di depan dan memperhatikan apa yang beliau ajarkan. Ketika Fay duduk di belakang, Fay dihampiri Wawan. Wawan minta diajarkan cara menulis angka empat di buku latihannya. Dengan polosnya, Fay mengajarkan Wawan apa yang ia bisa lakukan. Kemudian ketika Wawan paham, barulah disana Fay menanyakan namanya. Kenalah Fay dengan satu orang di kelas ini, karena sebelumnya Fay hanya hidup sendiri di kelas karena kepintarannya dibanding murid lainnya.
Olahraga selesai, Fay membeli jajanan lidi-lidian untuk ia makan sambil menunggu waktunya masuk kelas. Setelah membeli jajanan lidi-lidian yang saat itu masih berharga seratus rupiah, Fay duduk di ayunan ganda depan ruang guru. Ketika asik dengan makanannya, Wawan datang bersama seorang lainnya. Wawan duduk di samping Fay, sedangkan yang satu lagi duduk tepat di depan Fay. Wawan menyuruh Fay untuk berkenalan dengan anak itu. Saat Fay melihat anak itu, Fay terlihat salah tingkah. Ternyata lucunya anak kecil kalau suka sama orang. Salah tingkahnya pun aneh. Lebih centil dan polos. Ya maklumlah, mereka masih anak kecil.
“Nama kamu siapa?” Tanya anak itu ke Fay. Ternyata Wawan belum memberitahu apa-apa tentang Fay ke anak itu.
“Nama aku, Fay.” Jawab Fay lugu dan malu.
“Aku Maulana Wisnu Arifin. Kamu panggil aku Wisnu ya, Fay. Kata Mamaku, kalau kenalan kasih nama lengkapnya. Nama lengkap kamu?” ucap Wisnu.
“Tapi waktu aku kenalan sama Wawan aku gak pake nama lengkap. Ya kan, Wan?”
“Iya sih. Mama kamu ngada-ngada kali, Wis.” Wawan mendukung Fay.
“Tapi kan gak salah tau kalo kita kenalan dengan nama lengkap. Kamu juga Wan gak belain aku. Kan kita temenan.” Balas Wisnu.
“Yauda dari pada kita berantem, aku kasih tau aja nama lengkap aku deh. Nama aku Fay Aristi. Kalo kamu Wan?”
“Aku Hendra Hermawan. Tapi jangan panggil aku Hendra yah. Soalnya Hendra nama bapakku.”
“Oh Hendra nama bapak kamu? Woo Wawan anaknya Hendra. Wawan anaknya Hendra.” Ejek Wisnu dengan suara lantangnya membuat suasana ramai.
Kalau saja kita mengingat, semasa kecil, biasanya TK ataupun SD, mengejek nama orang tua adalah hal paling biasa dilakukan untuk bercanda, bisa juga sebagai bahan untuk menjelekkan teman ketika berantem.
Wawan yang merasa kesal dengan sikapnya Wisnu yang tiba-tiba mengejek dengan nama orang tua. Hal itu membuat ia pergi dan mengajak Fay menuju ke ruang guru. Wawan mengadukan sikap Wisnu yang menurutnya kurang terpuji itu ke Bu Wati dan Bu Sukaesih. Maksudnya agar Wisnu diberikan hukuman oleh guru karena membuat ia kesal.
Alhasil, Wisnu hanya diberi nasihat oleh Bu Wati di tempatnya itu juga, di ayunan. Sedangkan Fay dan Wawan meninggalkan kejadian itu begitu saja dengan kembali masuk kelas.

***

Jumat, 27 Februari 2015

Chapter Baru Lainnya

Assalamu'alaikum...
Halo :)
Apa kabar?
Lucu yeh, gue bertanya seperti itu seakan ada yang baca postingan gue ini.

Hmm.. Tapi baiklah biarkan saja.
Gue udah lama banget gak posting di blog pribadi gue, apalagi pacar gue udah sering banget bertanya "Kamu gak pernah ngeblog lagi?". Makanya gue mencoba untuk menulis lagi deh.
Meskipun gue gatau siapa yang mau baca postingan gue kali ini. Gue sih bisa yakin, pacar gue baca. Tuh yang dimaksud lagi senyum-senyum kan.

eh eh eh eh...
Kok sok buang muka gitu sih???





Jangan belagu gitu ah ... Haha
Maaf Maaf..
Gue cuma mau share beberapa hal yang terjadi selama postingan gue gak pernah terbit.
Mulai dari mana yaaa.... Dari ulang tahun gue aja deh ya. Terakhir kan gue posting foto pas gue ulang tahun.
Nah saat itu gue baru menjalin hubungan dengan Mr. Adi (Mas Adi) belum ada satu bulan. Tapi doi sayang banget sama gue. Cieee....

Jujur, saat itu gue masih ada bawa-bawa perasaan dengan seseorang yang pernah gue buatin satu postingan di blog ini, soal daun yang gugur itu tuh. (Gue berani ngomong ini karena gue udah pernah cerita sama Mas Adi).Ya tapi sekarang mah udah biasa, udah beralih nih ke Mas Adi. Hahahaha cie cie cie senyum tuh yang disebut-sebut.

Oke skip. 23 Desember 2014, gue berulang tahun yang ke-20. Eh engga!!! Fix gue masih 14 tahun!!! HAHAHA
Diumur gue yang kedua puluh (oke fine gue mengakui), gue punya beberapa hal yang harus gue capai. Yang pertama banget adalah khatam Al-Qur'an. Setelah itu, diumur yang kedua puluh, gue harus lulus D3 (kuliah gue yang perjuangan banget). Nah, satu lagi adalah gue harus udah bisa dapetin kerjaan yang bisa bikin gue lebih baik, mandiri, dan bantu kedua orang tua gue.

Ceritanyaa.... (yang udah terjadi)
Khatam Al-Qur'an. Sampai postingan ini ditulis, gue masih belum menyelesaikan rencana gue yang ini.
Lulus D3...
10 Februari 2015, jadwal sidang Laporan Praktik Kerja Lapangan gue. Itu hari Selasa. Sedikit singkat cerita, hari Minggu hujan deres banget. Sampai akhirnya banjir melanda dan gue gak jadi sidang di jadwal tersebut. Situasi dan kondisinya banjir di rumah gue dan banjir pula kampus gue. Gue kuliah dimana? Ya cari tau aja. Akhirnya re-schedule jadi tanggal 17 Februari 2015.

17 Februari 2015 semua ini terjadi ...






AKU LULUS DENGAN NILAI A-
Gue gak sempurna, gue tau kemampuan gue. Maka dari itu gue gak protes dengan adanya tanda minus setelah A. HAHAHA
Lulus kuliah bukan hal yang "gak disangka". Gue emang udah merencanakan hidup gue harus bisa lulus dari perguruan tinggi. Apapun gelarnya, setidaknya gue harus merasakan belajar di perguruan tinggi.
Di hari itu sebenernya gue sedih :'( Soalnya gue gak dapet waktu santai dan cerita-cerita dengan Ibu gue. Nangis di jalan itu gue.
Kenapa gue gak dapet waktu santai?

Tanggal 21 Januari 2015, Laporan PKL gue di-acc sama Dosen Pembimbing gue. Beliau adalah Bu Triana. Di hari itu juga gue dapet telpon dari teman gue, gue diajak kerja sebagai Junior Auditor di KAP tempat kerjanya dosen gue. Akhirnya gue kerja deh setelah sebelumnya gue sempet menolak ajakan untuk audit di Makasar karena gue masih harus remedial.

Mulai dari 28 Januari 2015, gue mengaudit sebuah perusahaan di Tangerang. Karena letaknya yang cukup jauh dari rumah, akhirnya gue dikasih kosan. Gue nge-kos di daerah Cimone.
Balik lagi ke hari dimana gue dinyatakan LULUS. Setelah sidang, gue harus balik ke kosan karena besok paginya gue harus kembali kerja. Maka dari itu gue agak sedih.

Setelah lulus dan berbagi cerita tentang pekerjaan pertama gue. Gue akan berbagi yang lain.
Banyak hal yang gue rasain. Dari sedih, senang, yang biasanya gue share dengan kata-kata yang gue olah di blog ini, gue memilih untuk diam dan memendam semuanya sendiri.
Oyah, sebelumnya ada masalah besar yang datang di hidup gue. That's nightmare, mimpi buruk yang sudah lama terjadi eh dateng lagi.

After that, yang bisa gue sharing adalah ...
Nanti lagi deh, gue masih belum semangat nulis.
Bye~~~~~~~

Kamis, 06 November 2014

(belum ada judul)

"Aduh sebel !" gerutu Dera sebelum berangkat kuliah.
"Kenapa sih, Der?" tanya mama dengan lembutnya.
"Ini loh, Ma. Ransel Dera kayak gak rata gitu."
Mama memalingkan wajahnya dari mesin jahit yang sudah ia nyalakan sejak pukul lima pagi.
"Lihat deh, Ma! Sudah rata atau belum yang kanan dan kirinya?"
"Mana sini! Kamu balik badan!" Dera pun menuruti perintah Mama.
"Sama panjang kok, Der. Kanan dan kirinya udah sama."
"Yang bener, Ma?" mata dan tangan Dera masih sibuk dengan tali punggung pada ransel. "Ah! Masa bodoh deh. Dera udah kesiangan gini" ia pergi menghampiri Mama dan mencium tangan kanannya, "assalamu'alaikum".
"Wa'alaikumsalam. Hati-hati ya, Der!" kemudian wanita berumur 42 tahun itu kembali ke hadapan mesin jahit.

Sabtu siang ini terasa sangat panas. Menurut kabar yang ia terima dari media sosial bernama Twitter, hari itu suhu di Jakarta mencapai 36 derajat celcius. Bagi manusia, itu suhu ketika seseorang sedang sakit. Hari itu Dera memiliki janji bertemu dengan teman dekatnya ketika masih SMA. Namun, karena cuaca yang sangat panas, Dera membatalkan janji yang ia buat seminggu yang lalu.
"Der, katanya kamu mau main sama sepan?" Sepan adalah sebutan untuk teman-teman dekatnya itu. "Mau kumpul di rumah Andira kan? Jam 11 kan? ini udah jam setengah 11 dan kamu belum jalan?"
"Gak jadi, Ma. Panas. Dera batalin aja janjinya. Toh yang lain juga males keluar rumah."
"Andira gak kecewa?"
"Engga, Ma. Kebetulan katanya Mama Andira juga mau pergi dan mengajak Andira juga."
"Oh... Ya sudah kamu bantu Mama merapihkan kaos-kaos ini aja."
Tanpa berpikir panjang dan mengelak pinta Mama, Dera segera menghampiri tumpukan kain yang sudah menjadi kaos oblong.
"Ini ada berapa banyak, Ma?" tanya Dera seraya melipat satu per satu kaos oblong.
Dengan terus menginjak pedal mesin jahitnya, Mama menjawab pertanyaan Dera dan melanjutkan perbincangan mereka. "Semuanya ada enam lusin, Der."
"Lumayan dong, Ma? Kalau sehari ini jadi enam lusin, berarti nanti sehari Mama dapat upah 96.000 dan aku dapat 18.000. Lumayan kan, Ma? Dari pada aku keluar rumah, udah panas, bukannya menghasilkan uang tapi malah menghabiskan uang."
"Iya, emang bener. Mendingan kamu bantu Mama. Kan jadi Mama juga lebih cepet selesainya."
"Kalau sehari dapat 96.000, seminggu bisa dapat 600 ribuan, dan sebulan bisa menghasilkan dua jutaan dari menjahit kaos ini, Ma. Kalah dong ya gaji Ayah sebulan."
"Ya maka dari itu, kamu bantu Mama kerjain kerjaan rumah. Biar Mama fokus buat menjahit. Terus juga kamu jangan males kalau jemput Windu. Satu lagi nih yang penting"
"Jangan kebanyakan main!" selak Dera.
"Iya, itu kamu tau."
"Tau, Ma. Klasik. Tapi sulit, Ma. Teman-teman Dera hobi banget main kalau ada waktu luang. Kumpul sama yang inilah, kumpul sama yang itu lah."
"Jangan sering-sering kumpul!"
"Hmm..."
Waktu terus berjalan. Siang pun sudah menjadi sore. Tumpukan kaos sudah rapih dimasukkan dalam satu kantong plastik berwarna ungu dengan ukuran yang sangat besar. Dera telah menyelesaikan tugasnya siang ini.
"Punggung Dera pegal banget, Ma." Dera mengeluh ketika bangun dari duduknya.
"Kamu sih kalau duduk bungkuk, jadi punggung kamu merasa pegal ketika bangun dan direnggangkan."
"Kan Dera emang bungkuk, Ma. Sama kayak Ayah."
"Jangan dibiasakan bungkuk! Jadi bungkuk kayak Ayah sih bangga. Tegak gitu. Kamu jelek kalau bungkuk. Udah badan kamu kurus."
"Iya, Ma."

Rabu, 01 Oktober 2014

Dari Sehelai Daun yang Gugur

Senja datang bersama angin
Tak beda dengan datangnya sendu bersama rindu
Ini bagian dari sebuah penyesalan
Dimana luka menggores tak berarah
Sebuah kesalahan menjadi kekecewaan
Ketika surat datang berisikan harapan
Dari sobekan buku anak sekolahan
Berisikan kata lugu "aku suka kamu"
Lalu waktu berputar cepat dan meninggalkan anak
Mereka tumbuh dewasa bersama tanggung jawab
Kesempatan selalu ada
Bukan lagi sebuah sobekan, melainkan keberanian
Bukan lagi sikap tak acuh, melainkan cinta telah jatuh
Lalu kembali kesalahan menjadi kekecewaan
Hingga luka mengakibatkan penyesalan
Dalam senja bersama angin
Ribuan daun gugur bersama harapan yang hancur
Dan dari sehelai daun yang gugur
Tertulis juga dengan kasar "aku juga suka kamu"
Tapi semua sudah terlambat
Bagai sobekan buku, sehelai daun gugur pun tersapu.

Selasa, 23 September 2014

Saat Berada Di Tempat Baru



Setiap orang memiliki cara masing-masing untuk bersosialisasi di suatu tempat baru. Setiap orang juga memiliki tingkat kemudahan atau kesulitan yang berbeda dalam proses tersebut. Terkadang seseorang perlu waktu yang lama untuk bisa dengan mudah berinteraksi. Namun, ada juga beberapa yang dapat langsung mencairkan suasana baru di tempat baru. Ada yang masih perlu interaksi pembuka dari orang yang sudah lama di tempat tersebut. Atau ada pula yang memulai terlebih dahulu dengan orang lama. Semua itu tergantung subjeknya.
Bagi orang yang mudah berbaur, bukan masalah yang besar jika bertemu dengan suasana dan tempat baru. Biasanya, orang-orang tersebut memiliki keahlian pandai bicara, mungkin. Jadi mereka bisa saja membuka banyak topik pembicaraan yang menjadikan komunikasi terjalin dengan baik. Hal seperti ini dapat didasari dengan pengetahuan yang dimiliki seseorang. Pengetahuan yang dimaksud bukan hanya sebuah ilmu pasti, akan tetapi pengetahuan umum. Bisa seperti gosip, perkembangan berita terkini di bidang yang pasti sesuai dengan tempat baru. Selain topik pembicaraan yang mendukung mudahnya komunikasi terjalin, bisa saja seseorang mudah beradaptasi dengan cara pembawaan hatinya yang menerima suasana baru di tempat baru. Dengan suasana hati yang terbuka, orang-orang tersebut bisa dengan mudah merasa nyaman dan senang dengan tempat barunya.
Ada kemudahan, pasti ada lawannya, yaitu kesusahan. Beberapa orang sulit beradaptasi. Biasanya memang mereka tipikal orang yang sulit berbaur, penyendiri, dan suka melakukan banyak hal sendiri. Komunikasi yang dilakukan juga hanya sekedarnya, sesuai dengan keperluan yang dilakukan mereka. Atau terlalu fokus terhadap hal-hal lama yang ada pada mereka yang bisa selalu membuat mereka nyaman, seperti gadget. Selain hal tersebut, bisa pula disebabkan karena kurangnya pengetahuan yang mereka miliki. Jelas, semua ini kebalikan dari alasan beberapa orang mudah bersosialisasi.
Di sisi lain, ada pula orang yang awalnya mudah bersosialisasi, namun pada akhirnya mereka merasa tempat baru yang mereka datangi adalah bukan tempat yang cocok dengan kepribadian mereka. Hal inilah yang biasanya merubah sikap humble seseorang menjadi kaku. Penyebab seseorang seperti ini jelas bukan pada faktor internal dalam diri mereka, tetapi faktor lingkungan sekitar. Bagi beberapa orang juga bisa menemukan jalan keluarnya agar mereka bisa nyaman pada tempat barunya. Tugas mereka adalah mencari tau bagaimana karakter lingkungan di tempat tersebut dan mencoba mempelajari karakternya hingga bisa mencairkan suasana. Kegiatan ini tidak mudah dilakukan bagi orang-orang yang memiliki sifat “menyerah”. Artinya, ketika ketidaknyamanan menghampirinya, mereka akan lebih memutuskan untuk pergi dan mencari suasana baru yang cocok dengan dirinya. Namun, jika mereka harus bertahan pada suasana atau tempat tersebut, mereka yang sulit merubah harus berusaha keras untuk menemukan titik kenyamanannya.
Bagaimanapun cara mereka, semudah atau sesulit apapun. Orang yang pandai beradaptasi dan bersosialisasi di kondisi seperti apapun akan dengan mudah mencapai tujuan mereka. Saat ini, bagi mereka yang masih sulit beradaptasi dan bersosialisasi, diam sejenak dan telaah segala yang ada di lingkungan tersebut. Kaji dengan mudah, maka dengan mudah kita mengetahui jalan keluarnya.

Stupidfy : Ku Yakin Cinta Part IV

Read Stupidfy : Ku Yakin Cinta Part III                 Via Whatsapp aku mengajaknya pergi ke Puncak, enam bulan kemudian. Dia mau dan si...