Jumat, 10 Juli 2015

Akhirnya Di Dua Belas September

Read Previous Chapter : Tetap Di Dua Belas September

Dua hari berlalu sejak kejadian di bioskop itu. Aku pergi dengan temanku dan bercerita apa yang terjadi antara aku dan kamu. Dia antusias dengan ceita ini bahkan sampai-sampai dia ingin bertemu dengan kamu dan menegur kicauanmu yang memang menyinggung perasaan aku.

Seminggu dari hari dimana aku menceritakan kamu kepada dia, kita bertiga bertemu di pertemuan yang tidak terduga.
"Eh eh... kayaknya gue pernah liat dia deh. Dimana ya?"
"Siapa?"
"Itu... cowok anak skateboard yang lagi duduk disana" menunjuk ke arah kanan dari posisi kami berdiri.
Aku menoleh dan melihatnya secara baik, itu kamu. Aku merasa malas sekali kalau memang harus berpapasan dengan kamu. Ada rasa ill'feel ketika melihat wajah kamu. Namun, Tuhan memberikan takdir lain. Seseorang di samping kamu melihat temanku sedang menunjukmu dan memanggil kamu agar menoleh ke arah sini. Aku panik karena tingkah temanku itu. Aku mengajaknya pergi menjauh, tapi kamu malah berlari menghampiri aku.

"Hey... apa kabar?"
"Lo siapa ya?" Aku menjawab sinis, "gue punya nama kok. jadi bisa kan sebut nama gue, bukan pake 'hai'?
"Asli lo ribet banget."
"Heh... Demen banget sih lo bilang temen gue ribet?" temanku yang protes.
"Lah emang temen lo ribet. Harus banget gue nyebut nama dia. Wajar kali kalau udah beberapa hari gak ketemu terus manggilnya 'hey' dulu."
"Beberapa hari? Kita udah gak ketemu seminggu lebih ya, Bro."
"Oke... Oke... Gue ngalah, maaf yaaa mantan gebetan. apa kabar?"
"Gila! Orang gila!" Kamu malah menyebutku mantan gebetan. Sepertinya lebih enak disebut teman lama. Kalau kamu menyebut seperti itu kan rasanya kamu menunjukkan masalah di antara kita yang menyebabkan kita menjadi mantanan.

Aku pergi meninggalkan kamu, akan tetapi temanku yang satu itu malah tetap berada di samping kamu dan entah apa yang kalian bicarakan. Yang pasti, aku meninggalkan kalian berdua di taman mall.

Keesokan harinya aku ada kegiatan karang taruna, aku bertemu temanku itu lagi. Kemudian dia bercerita mengenai pembicaraan kalian berdua setelah aku tinggalkan. Rupanya memang aku yang lupa akan sifat asli kamu yang memang sudah kuketahui beberapa tahun sebelumnya. Karakter keras kamu, cuek kamu, dan gak mau ribet itu memang akan menghasilkan kisah yang seperti ini. Harusnya, kalau saja aku ingat tentang sifat dan karakter kamu itu, aku akan menerima argumen kamu di bioskop.

Ibarat nasi sudah menjadi bubur, ketika kamu sudah bilang 'mantan gebetan' tandanya tidak akan ada lagi 'kita' di masa depan. Iya, sepertinya aku sempat gagal move on berkepanjangan. Sampai saat ini tepat tiga tahun sejak tanggal 12 September di bioskop.

Namun, yang dapat aku mengerti saat ini adalah bahwa memang saat itu aku seperti remaja labil yang masih menuntut hubungan dengan status pacaran padahal tanpa status itu pun seorang laki-laki atau pun perempuan bisa menjalin hubungan. Bahkan dalam ikatan yang lebih serius. Jika dalam istilah agama ada yang namanya ta'aruf, dimana dua anak cucu adam bertemu sekali untuk diikatkan dalam ikatan suci yang disebut pernikahan. Jelas tanpa harus ada masa-masa yang disebut pacaran. Selain itu, aku juga mengerti bagaimana tidak menuntut suatu hal berdasarkan apa yang aku inginkan. Karena memenuhi keinginanku tidak pernah ada habisnya, aku manusia biasa. Aku tau itu. Aku juga mengerti bagaimana aku harus mengingat sesuatu yang penting bahwa aku harus menerima kekurangan dan kelebihan seseorang, menerima sifat dan karakter seseorang yang memang membuat aku jatuh hati. Aku mengerti semua itu sehingga pada akhirnya aku bisa mengalahkan keegoisan diriku sendiri.

Saat ini, walau aku masih belum bisa berpaling dari kamu. Bahkan aku masih sedikit merasa belum siap menerima apa yang sudah aku mengerti tadi. Jadi, kamu pun tau, aku tidak berani lagi untuk menjalin hubungan yang waktu itu menjadi perdebatan kita. Aku hanya ingin menikmati masa gadisku bersama teman-temanku sampai nanti entah kamu ataupun orang lain bisa membuatku merasa jatuh hati kembali.

Selesai.

Kamis, 09 Juli 2015

Tetap Di Dua Belas September

Read Previous Chapter : Masih Di Dua Belas September

"Kemana dia? Kok kamu pulang sendiri? Putus?"
"Diem deh, Yah. Gimana aku mau putus, jadian aja engga. Engga mungkin jadian juga kali sama dia."
"Tuh kan, laki-laki zaman sekarang emang begitu. Mana janjinya mau kembaliin kamu pulang dengan baik-baik aja. Anak gue kok dibikin patah hati begini."
Aku menatap wajah Ayah justru semakin kesal saat itu, "rrggghh" kemudian aku pergi ke kamar.

Aku tidak menangis sama sekali hari itu. Aku malah merasa bersyukur, mungkin kamu bukan yang aku inginkan. Buktinya, memang kamu tidak bisa memenuhi apa yang aku inginkan. Sama seperti temanku yang satu itu.

"Yaudalahyah kalau emang bukan dia ataupun dia," aku menunjuk foto kedua laki-laki seumuranku di meja belajar, "masih akan ada laki-laki yang punya pemikiran dewasa datang ke kehidupan gue."

Walaupun aku berulang kali mengatakan hal itu, tetap saja mataku berkali-kali melirik smartphone hitam yang kuletakkan di meja belajar. Bolak-balik aku ke luar kamar, pandanganku tidak pernah sekalipun lepas dari smartphone itu. Setiap dering dari Blackberry Messanger, Line, Whatsapp, tidak aku gubris, aku intip pun tidak, bahkan menyentuhnya juga tidak. Tapi ada rasa penasaran yang luar biasa untuk meraih dan membuka pesan-pesan instan tersebut. 

Tiga jam aku seperti ini. Aku hanya melakukan aktivitas yang memang sudah menjadi kewajiban, seperti makan malam, shalat maghrib dan shalat isya. Aku ingat perkataan Mama tadi saat aku mengambil sebotol air putih dan cemilan di kulkas. "Tuhan itu tidak memberikan kita apa yang inginkan, tapi apa yang kita butuhkan."

"Apa emang gue harus berhenti mencari apa yang gue mau ya? Gue harus lebih berpikir mencari yang lebih gue butuhkan. Hmm..." Aku membaringkan tubuhku yang mulai lelah di atas kasur dan akhirnya aku meraih smartphone itu. Aku tidak sama sekali membuka pesan instan yang sudah banyak masuk. Aku memilih untuk membuka twitter dan facebook untuk mencari moodbooster atau kata-kata motivasi yang bisa membangunkan semangat kedewasaanku kembali.
Tak lama aku scroll ke bawah, kamu yang tadi sore jalan denganku muncul dan menge-tweet beberapa kicauan yang membuatku semakin merasa kesal.

Buat apa pacaran kalau ujung-ujungnya putus juga.

Abis jalan sama anak kecil yang ngerasa dirinya dewasa tapi pola pikirnya amit-amit.

Kalau udah sama-sama suka ya mending sekalian halal-in aja dari pada cuma status yang sebenernya juga ga boleh sama agama. Malu juga ah sama umur, kok bocah banget.

"Keparat banget nih anak" kataku setelah membaca kicauan dari kamu.

Bersambung...

Rabu, 08 Juli 2015

Masih Di Dua Belas September

Read Previous Chapter : Dua Belas September

Sekitar jam setengah sepuluh kita memutuskan untuk pulang. Setelah kita sudah saling banyak bicara mengenai hobi kamu, keinginan kamu untuk jadi anak traveler, lalu kamu bercerita tentang Iphone baru kamu, lalu masa lalu kita dan kenangan kita di masa dulu.
Kamu mengendarai sepeda motormu sangat cepat waktu itu, takut dicap jelek sama Mamaku katamu. Kemudian belum jam sepuluh kita sampai depan rumah. Aku mengajakmu mampir, tapi kamu menolak dan berkata, "lain waktu gue bakal jemput lo lagi dan saat itu gue akan jemput lo dari dalam rumah lo, kok. Minta izin secara langsung ke kedua orang tua lo. Terutama bokap lo yang tinggi itu. Kali ini gue mau buru-buru nge-band lagi. Thanks ya buat pertemuan ini."
"Iya sama-sama. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."

Kita kembali berkomunikasi lewat Blackberry Messanger sampai akhirnya suatu hari kamu mengajak aku pergi.

Hari ini lo gak kerja kan?
Engga, males gue. Mau nyantai di rumah.
Yakin? Gue mau minta temenin nonton film Raditya Dika nih. Seru banget. Gue suka film-film dia
Kapan? Dimana?
Tunggu dulu, lo mau apa engga?
Ya, boleh deh 
Oke, jam 4 sore gue ke rumah lo
Sore ini?
Iyalah
Yauda, tapi nanti gue kabarin ya. Soalnya gue mau pergi dulu sama temen gue.

Sampai tiba pukul jam 4 sore dan aku memang sudah selesai dengan urusanku. Ayah dan Mama di rumah. Kebetulan hari itu Ayah sedang sakit, jadi beliau tidak masuk kerja. Kamu berdiri di depan pagar rumahku dan memencet bel. Aku keluar dengan mengenakan celana jeans hitam, t-shirt putih bertuliskan "GEEK" dan crop jeans yang masih kutenteng dilengan kiri bersamaan dengan totebag hitam bertuliskan "I AM WHO I AM". Kemudian, kamu meminta untuk mampir dan meminta izin secara baik-baik dengan Ayah dan Mama. Aku mempersilahkan kamu masuk.

"Om... Tante... Saya mohon izin ngajak putrinya pergi. Insya Allah saya jaga dengan sebaik-baiknya kok. Dan pulang juga dengan keadaan sama seperti berangkat."
"Kamu itu... teman sekolahnya, ya? Kayaknya Om dulu pernah lihat kamu."
"Iya, Om. Dulu saya sering kesini sama pacarnya dia juga. Tapi pas itu, dia sama sekali gak liat saya, Om."
"Pacar? Waktu itu dia udah punya pacar?"
Aku mencubit kamu, "kok lo ember sih mulutnya? Gue kan waktu itu masih backstreet."
"Biarin."
"Udah ah, Yah. Pergi dulu ya Ayaaaahhh." Aku mengambil sepasang sneakers hitam milikku dari rak sepatu di belakang pintu dan menarik kamu keluar.

Belum sampai kita membeli tiket nonton, kita justru malah berdebat mengenai prinsip menjalin hubungan.
"Buat gue, status itu penting. Ngapain lo sama-sama suka kalau lo gak pernah ngutarain apa yang lo rasa. Terus lo gak mengikatkan suatu hubungan? Ngegantung gitu?"
"Ya lagian kan kita yang sama-sama ngerasain, orang pun akan tau semuanya dengan seringnya kita jalan, makan bareng, nonton bareng, atau kenal sama orang tua kita masing-masing."
"Pokoknya, gue setuju hubungan yang jelas. Jangan-jangan... kita bakal..." Aku menatap kamu curiga.
"Ya, pokoknya gue gak akan pernah bilang sayang ke cewek, gak akan pernah nembak cewek, dan gak akan pernah bilang putus ke cewek. Kalau kita sama-sama nyaman jalin hubungan ya sudah jalanin aja."
"Gue gak suka cara lo kayak gitu. Gak menjamin gue satu-satunya di hidup lo. Eh... maksudnya di kehidupan seseorang."
"Ya terserah elo sih."
Pernyataan kamu yang terakhir itu membuat aku kesal. Sepertinya kamu menganggap remeh sebuah hubungan.
"Gue mau pulang. Gue gak mood buat nonton. Gue pulang aja sendiri."
"Kok lo lebay deh? Pulanglah sana! Begitu aja ngambek. Dasar cewek ribet."
Emosiku semakin memuncak saat itu. Manis obrolan kita beberapa bulan berakhir seperti ini. Kalau aku ingat, aku seperti anak SMP saat itu. Benar bukan? Tapi aku benar-benar pulang dan kamu tidak sama sekali mengantarku pulang. Bahkan kamu mengingkari janjimu ke kedua orang tuaku. Untuk hal seperti itu saja kamu ingkar, apalagi ketika memang kita sudah menjadi pasangan suami istri, seperti yang sering kita bicarakan di Blackberry Messanger.

Bersambung...

Selasa, 07 Juli 2015

Dua Belas September

Iya, aku masih ingat jelas kok. Hari Rabu di awal September itu, kan? Kita, pergi untuk pertama kalinya setelah sekian lama kita saling kenal. Kita, pergi setelah sekian bulan kita hanya saling bertukar pesan melalui Blackberry Messanger. Kita, pergi setelah sekian hari kita mulai mengutarakan apa yang membuat kita sama-sama nyaman berkomunikasi.

Sederhana, di antara sekitaran teman-temanku saling menge-post di media sosial bahwa mereka telah mengunjungi cafe-cafe yang lagi hits, kamu mengajakku pergi ke suatu kedai tradisional di pinggir jalan di balik flyover yang memang letaknya gak jauh dari rumah kita. Walaupun, bisa kita ketahui kedai itupun cukup terkenal di kalangan beberapa orang kantoran.
"Tempat apa ini? Sego kucing?" tanya aku saat kita udah sampai di tempat itu, "parkir dimana emang?"
Kamu sama sekali tidak menjawab apa yang aku tanyakan. Kemudian kamu memarkirkan motor kesayanganmu itu yang aku tau sejak kita lulus SMA kamu sudah memilikinya. Dulu, kalau kamu ingat, aku pernah diboncengi di motor ini. Bukan, bukan sama kamu, tapi sama teman kita. Gak perlulah aku menyebut namanya, dia teman baikku dan teman baikmu juga. Walau beberapa hari yang lalu dia bilang kalau kamu sudah berbeda dari dulu yang ia kenal.
Hm... kenapa dulu bukan kamu yang memboncengi ya? Mungkin kamu bertanya seperti itu. Maka aku akan menjawab bahwa saat itu kamu sedikit memberi modusan dengan teman kita yang cantik itu. Iya, dia memang cantik dan disukai anak laki-laki di kelasan kita. Mungkin termasuk kamu saat itu.
Setelah turun dari motor, aku berdiri di samping kamu. Aku melihat kamu dari bawah sampai ke atas, "asli ya dari dulu sampai sekarang badan lo selalu lebih besar dari gue. Padahal yang gue tau, sekarang gue lebih tinggi dari teman sekelas kita yang paling tinggi dulu."
"Maksud lo, Maryam?"
"Iya."
"Emang lo sekarang lebih tinggi dari Maryam?" aku belum sempat menjawab, kamu melanjutkan, "oh iya, jelas sekarang lo tinggi doang. Bokap lo kan tinggi banget. Dulu gue takut banget tuh kalau ketemu bokap lo. Abis dia tinggi banget, kan gue dulu masih kecil di mata dia. Sekarang juga kali ya, nyali gue masih kecil di mata bokap lo."
"Gue yakin badan lo sekarang gak jauh beda dari bokap gue."

Kemudian kita masuk ke kedai itu. Kamu menyuruh aku memilih makananku sendiri sesuai keinginan, tapi kamu malah menaruh sepotong ayam di piringku.
Kita kebingungan mencari tempat duduk yang nyaman untuk kita. Akhirnya, kita duduk di belakang si abang penjual.
Kita berbicara tentang hobi kamu, memasak kan? Lalu kita saling bertukar informasi mengenai keahlian kita. Kamu ahli memasak, aku ahli menjahit. Kamu bilang saat itu kalau kamu mau mencoba mengenyam pendidikan kembali di bidang masak-memasak. Lalu aku memberi saran yang aku tau informasinya.

Singkat cerita, ternyata kamu mengundang teman dekatmu, laki-laki. Sayangnya, temanmu gak tau jalan kesini. Akhirnya kita menjemput dia di Sevel di perempatan jalan besar. Setelah menjemput temanmu itu, kita kembali ke kedai.
"Kalian ini reunian? Atau emang mau jalan berdua? Kayaknya gue ganggu kalian deh." Teman kamu bertanya seperti itu saat kita duduk bersama di pinggir jalan.
"Bukan, dia teman gue. Ini juga bukan reunian, bukan jalan berdua juga."
"Lah? Gimana? Emang dia siapa?"
"Temen kok." Aku memotong obrolan kalian.
"Yah, temen?"
"Bukan, dia cemewew."
"Apa tuh cemewew?" Aku bertanya.
"Yaaahh... Gak pernah nonton Talkshow dia." Kata temanmu menyebut salah satu acara TV yang memang channelnya gak ada di TV milikku.
"Ih emang itu artinya apa?" Aku bertanya ke kamu.
"Bukan deh, bukan cemewew. Masih wakacipuy, gak tau nih kapan jadi cemewew." Kamu malah melanjutkan perbincangan dengan temanmu.
"Ih, itu artinya apaan? Kasih tau gue duluuuuu." Aku geregetan dengan tingkah kalian.
"Pokoknya nanti lo cari tau sendiri deh nonton Talkshow makanya."
"Ah curang!!!"

Bersambung...

Sabtu, 06 Juni 2015

Mecca

Mecca mengambil selembar kertas di meja kerjanya. Dia pun mengambil pulpen hitam dari laci. Mecca masih bingung apa yang harus dia tulis di atas kertas putih itu. Mecca memutar-mutar pulpen diantara jari-jemari. Kaki kanan Mecca tidak berhenti bergerak. Mecca memutuskan untuk lembur hari ini. Padahal sudah tidak ada kegiatan yang ia harus lakukan di kantor. Tapi, Mecca enggan pulang.

Satu menit berlalu dengan pulpen masih berputar di jemari. Lalu, Mecca menenggak air mineral dari tupperware pink yang ia bawa dari rumah. Kaki kanannya semakin cepat ia gerakkan. Mecca mulai mendaratkan ujung pulpennya di atas kertas. Ia baru membuat titik di pojok kiri atas. Setelah itu, Mecca kembali mengangkat pulpen dan memutarnya kembali. Mecca mencoba mencairkan suasana dengan memainkan playlistnya.

Lagu pertama, berlalu begitu saja tanpa membuat Mecca menggoreskan tinta di kertas putih tadi. Mecca menghentikan gerakan kakinya dan mencoba untuk berdiri. Mecca menarik nafas panjang kemudian ia mulai berjalan keluar mejanya menuju kamar mandi.

Mecca menatap cermin sepanjang 90cm dengan cahaya lampu neon di kanan dan kirinya. Mecca masih dengan keadaan gelisah. Ia menyalakan kran dan mengusapkan air yang ia tampung di kedua telapak tangannya di wajahnya. Kemudian Mecca memutuskan untuk kembali ke ruangannya. Ia mematikan seluruh lampu ruangan dan menyalakan lampu kerja di mejanya.

Lagu selanjutnya terputar setelah sedari tadi tidak Mecca matikan. Mecca meraih kembali pulpen dan kertas putih itu ke hadapannya. Mecca menulis kata "Resah". Kemudian ia robek kertas tersebut menjadi sobekan kecil dengan tulisan kata tadi di tengah-tengah kertas tersebut. Akhirnya, ia pulang setelah menancapkan sobekan kertas itu di belakang komputer.

Senin, 11 Mei 2015

Stupidfy: Maulana Wisnu A.

Bagian Empat.

Mungkin Fay sudah lelah untuk memberikan perhatian ke Wisnu yang tidak pernah ia rasakan balasannya. Anak kecil itu kan mudah bosan. Sudah memasukin akhir Catur Wulan tiga. Hubungan pertemanan antara Fay, Wisnu dan Wawan yang dibumbuhi cinta monyet ini masih terjalin rapih.
Minggu lalu Fay masih suka membicarakan Wisnu di depan Wawan ketika mereka pulang sekolah bersama. Satu hal, Wisnu tidak pernah pulang bareng Wawan dan Fay karena Wisnu selalu pulang bersama Ibunya. Hari ini Fay sedikit berubah. Sejak kemarin, hari Selasa, ketika Fay melihat Wisnu menarik hidung Pamela di kelas, Fay mulai sedikit terlihat ill feel terhadap Wisnu.
Hari ini Fay dan Wawan kembali pulang bersama. Fay mulai menceritakan dirinya yang sudah kesal dengan Wisnu yang selalu mengabaikan perhatiannya. Dasar anak kecil.
“Aku udah males deh Wan sama Wisnu. Dia cuek-cuek banget sama perasaan aku. Kita udah mau selesai TK kan, mau ke SD, masa si Wisnu masih gak suka sama aku sih? Emangnya aku gak cantik apa? Kata Ibu aku, aku cantik banget. Lucu juga. Menurut kamu begitu kan? Ah iya, pasti menurut kamu gitu. Kamu kan suka sama aku. Aku cuma mau dibilang cantik lagi sama Wisnu. Tapi Wisnu nya begitu.” Fay menggerutu.
“Yauda Fay kamu jangan kayak bego gitu dong. Kalau Wisnu kayak gitu sama kamu ya suka sama yang lain aja. Kayak aku gitu yang suka sama kamu. Kamu malah cuekin aku juga. Emangnya aku gak ganteng ya? Masih gantengan aku tau Fay dari pada Wisnu. Liat deh muka aku. Aku ganteng tau.”
“Ih, engga! Gantengan Wisnu kemana-mana Wan. Kamu mah jelek. Item gitu kamunya. Kalau Wisnu kan putih, tinggi lagi. Kamu mah pendek, Wan.”
“Ah seterah kamu deh. Kamu jadi main ke rumah aku kan? Nanti kita main Nintendo. Kemarin ayah aku baru beli Nintendo buat aku mainin.”
“Tuh kan, gimana kamu mau pinter? Kamu main mulu. Orang mah sekali-sekali belajar dong, buka buku terus kayak aku.”
“Gak mau, aku mah mau main aja. Belajar mah capek udah di sekolah. Ngapain belajar mulu sih?”
“Ya kan biar pinter.”
“Kan ada kamu yang suka ngajarin aku sama Wisnu, jadi aku males lagi belajar. Eh, udah jadi ya ke rumah aku. Aku temenin kamu ganti baju dulu nanti kita bareng-bareng ke rumah aku buat main game. Ya, Fay?”
“Iya, Wan. Aku kasian sama kamu. Hehe yauda aku masuk dulu, kamu tunggu di bangku situ ya. Aku mau ganti baju dulu. Sebentar kok.”
“Oke deh, Fay. Aku minta minum ya sekalian.”
Fay masuk ke rumahnya dan mengambilkan sebotol minum untuk Wawan yang menunggunya di depan. Fay dengan cepat mengganti seragam TK berwarna oranye itu dengan celana santai pendek dan kaos lengan pendek. Dengan cepat ia meminta Ibunya untuk menguncirkan rambutnya di sisi kanan dan kiri kepalanya. Dihiasi juga dengan jepitan bergambar Barbie di masing-masing ikatan. Dengan poni depan sesuai gayanya.
“Fay main dulu ke rumah Wawan ya, Bu.” Kemudian mereka berdua jalan ke rumah Wawan.
Di perjalanan mereka, mereka bertemu dengan Wisnu yang saat itu lewat dengan diboncengi di jok motor belakang oleh bapaknya. Wisnu yang hanya lewat berteriak, “Fay sama Wawan pacaran. Yeeee!!!”

Kemudian ejekan itu belanjut sampai mereka keluar dari taman kanak-kanak dan melanjutkan ke SD. Mereka masuk SD yang berbeda. Sesekali ketika mereka sudah di Sekolah Dasar mereka bertemu, Wisnu masih suka mengejek Fay yang dianggapnya pacaran dengan Wawan. Walaupun, memang sekarang diantara mereka bertiga, hanya Fay dan Wawan yang semakin dekat. Fay suka ke rumah Wawan hanya untuk sekedar main Nintendo dan cerita tentang Wisnu atau orang lain lagi yang disukai Fay. Tapi hubungan mereka masih saja dalam status berteman.

Stupidfy: Maulana Wisnu A.

Bagian Tiga.

“Wan, nanti main ke rumah Wisnu yuk. Aku mau ketemu dia di rumahnya. Kamu tau kan rumahnya? Tapi jangan bilang-bilang ke Wisnu.” Fay mencoba mengajak Wawan ke rumah Wisnu sepulang sekolah.
“Gak ah. Ngapain aku ke rumah Wisnu sama kamu. Kalau kamu suka sama dia ya kamu aja sana yang ke rumah Wisnu sendirian. Kalau kamu masih ngajak aku, nanti aku bilangin malah ke Wisnu.”
“Kamu mah pelit Wan sama aku. Aku kan pengen tau rumahnya aja Wan. Sekalian iseng siang-siang aku gak ada temen main di rumah.”
“Yauda kamu main ke rumah aku aja, kan yang penting main kan?”
“Wan, tapi kan aku mau main ke rumah Wisnu. Mumpung gak ada PR. Ayolah Wan!”
“Engga mau ah. Aku males sama kamu.”
“Yauda, aku jalan sendiri aja nanti nyari rumahnya Wisnu kalau kamu gak mau nemenin. Aku kesel sama kamu ah Wan. Kita musuhan.” Fay sampai di rumahnya dan langsung masuk ke dalam.
“Bodo amat, Fay!”
Fay segera mengganti seragam sekolahnya dengan baju mainnya. Baju kodok berwarna biru langit itu ia pilih setelah lima belas menit mencocokan dengan dirinya di depan cermin. Fay memang termasuk anak yang genit. Lihat saja, lima tahun juga belum ada tapi dia sudah mulai mempercantik dirinya yang masih polos.
Ibu Fay melihat anaknya yang sibuk dengan beberapa helai pakaian yang ia keluarkan dari lemarinya. Beliau bingung apa yang dilakukan anaknya siang-siang gini. Memang Ibu Fay tau kalau Fay mau pergi ke rumah Wisnu, tapi menurutnya ada niat lain kalau dia sibuk mencocokan pakaian hanya untuk berkunjung ke rumah teman sekolahnya.
“Bu, Fay mau ke rumah Wisnu dulu ya.”
“Udah rapih emangnya? Udah cantik? Mau ke rumah Wisnu aja dandannya lama banget. Kamu tuh masih kecil aja udah genit banget. Gedenya gimana? Emang kamu tau rumahnya Wisnu?”
“Bawel nih Ibu. Aku gak tau Bu rumahnya Wisnu.”
“Terus?”
“Ya aku inget-inget aja dulu. Yang aku tau Wisnu rumahnya deket sama rumah Imay, jadi nanti aku tanya sama Imay aja. Minta anterin sebentar.”
“Emang Imay nya mau?”
“Mau kali. Yauda aku pergi dulu ya. Uang jajan Fay masih ada gopek bu. Buat jajan di rumah Wisnu. Kata Mamanya Wisnu, Mamanya Wisnu dagang di depan rumahnya. Dadah Ibuuuuu” Fay pergi.
Fay berjalan ke rumah Imay, memang yang dia tau rumah Wisnu tidak jauh dari rumah Imay. Sekitar lima puluh meter Fay berjalan, sampailah di rumah Imay. Fay meminta Imay untuk mengantarnya ke rumah Wisnu. Tetapi Imay sedang sibuk mengurus adik kecilnya juga. Hingga pada akhirnya Imay hanya memberikan petunjuk jalan ke Fay.
“Tadikan kamu dari rumah kamu buat masuk kesini kamu belok kanan kan. Nah nanti kamu keluar aja dari gang ini, Fay. Dari depan situ kamu lurus. Abis itu kalo ada lapangan kamu belok ke kanan, kamu jalan kelilingin lapangan itu aja, sambil liat ke kiri. Rumahnya Wisnu ada di sebelah kiri. Warna catnya putih, di depannya ada warung, itu rumah dia. Pokoknya di jalanan itu yang warung cuma rumahnya Wisnu doang deh.”
“Yah sayang ya kamu gak bisa nemenin aku. Yauda deh, makasih ya May. Aku jalan dulu. Daaah.”
“Iya, dadaaah.” Imay melambaikan tangan ke arah Fay.
Fay mulai mengikuti petunjuk dari Imay. Berjalan cukup dekat ia bertemu dengan lapangan. Mungkin dari sini tidak jauh lagi pikirnya. Akhirnya ia berjalan kembali. Panas matahari saat itu memang sedang puncaknya. Bagaimana tidak? Ini pukul dua belas siang. Matahari jelas sedang panasnya. Tapi demi orang yang dia suka, Fay rela berjalan di bawah terik untuk mencari rumah Wisnu. Padahal ketika sampai pun ia masih belum tau apa yang akan dia lakukan.
Ternyata memang tidak jauh dari lapangan, bahkan tidak sampai mengelilingi lapangan Fay sudah bertemu warung Ibu Wisnu. Dengan beralasan mau jajan di warung ini, Fay memanggil nama Wisnu.
“Beli… Beli…” teriak Fay di depan warung itu. Tidak menunggu lama, Ibu Wisnu keluar.
“Mau beli apa?” Tanya Ibu Wisnu, “eh kamu Fay” Ibu Wisnu mengenali wajah Fay, “akhirnya kamu kesini juga. Wisnunya lagi tidur, Fay. Kamu mau jajan apa?”
“Aku beli mi gemes aja mamanya Wisnu. Wisnunya tidur ya?”
“Iya, dari tadi pulang sekolah dia langsung tidur. Capek katanya. Ini, nak” memberikan sebungkus jajanan ke Fay, “kamu mau main dulu? Duduk-duduk aja dulu di dalem sambil nunggu Wisnu bangun.”
“Engga deh mamanya Wisnu. Aku mau pulang aja. Cuma mau jajan disini. Hehe” Fay menutupi malunya karena berkunjung di waktu yang salah. Setelah memberikan uang dua ratus rupiah ke Ibu Wisnu, Fay izin untuk kembali ke rumahnya.
Tindakan ini memang pertama kali Fay lakukan untuk mencari perhatian orang yang dia suka. Dengan kepolosan yang masih ada dalam dirinya, Fay melakukan hal yang selalu menurutnya benar. Dan kunjungan ini tidak bermakna apa-apa selain ia harus mengeluarkan uang untuk makanan yang dia tidak suka. Kemudian ia pulang dengan keringat yang menembus bajunya karena panas terik matahari.
***
Paginya sangat sejuk hari itu. Fay, Wisnu, dan Wawan sudah hadir di sekolah berbarengan tadi. Mereka duduk di ayunan ganda seperti biasanya. Sambil bercanda-canda layaknya anak TK mereka menghabiskan waktu menunggu. Bel masih akan berbunyi sekitar sepuluh menit lagi. Masih ada cukup waktu untuk bersantai.
Wisnu mulai jahil. Ia menggoda Wawan dengan menyebut nama orang tuanya lagi. Wawan awalnya terlihat biasa, ia lebih tidak memperdulikan dan hanya mengobrol dengan Fay. Tingkah Wisnu semakin menjadi ketika Wawan memang menghiraukannya. Wisnu berteriak di telinga Wawan menyebut nama Bapaknya. Terlihat juga kerisihan di wajah Fay. Fay menjewer telinga Wisnu dan Wisnu membalas juga.
Perhatian Wisnu beralih ke Fay. Akhirnya Wisnu bercanda dengan Fay dan Wawan mulai diabaikan. Wawan turun dari ayunan dan berdiri di samping ayunan tersebut. Mungkin emosi Wawan sudah memuncak. Kelihatan dari dahinya yang mulai mengkerut itu. Ia goyangkan ayunan ini ke kanan dan ke kirinya. Ayunan ini mulai mengencang goyangannya. Fay terlihat panik, dia teriak menyebut nama Wawan. Wisnu mencoba menenangkan Fay dan mau membalas tingkah Wawan. Wisnu berdiri di ayunan dan berniat keluar ayunan untuk menghampiri Wawan dan memberinya pelajaran. Ketika Wisnu melangkahkan kakinya, kakinya justru tersangkut satu besi penyanggah. Kemudian ia terjatuh dengan posisi kepala yang menyusruk.
Wisnu menangis, Fay panik, sedangkan Wawan pergi sambil tertawa puas. Fay menghentikan ayunan ini, kemudian membopong Wisnu menuju ruang guru. Bu Wati mendengar suara tangisan Wisnu, kemudian dengan sigap beliau membatu Fay. Begitu Wisnu ditangani oleh Bu Wati, Fay langsung mencari Wawan. Mencari ke sudut kelas, ternyata Wawan mengumpat di bawah meja paling belakang di kelas.
Fay menarik tangannya. Dia memaki Wawan karena menurutnya tindakannya sudah kelewatan. Tapi Wawan membantah karena menurut dia, Wisnu yang mulai duluan. Memang kalau dipikir, Wisnu yang terlalu jahil, wajar sampai Wawan membalas. Apalagi mungkin Wawan juga jengkel dengan kedekatan Wisnu dan Fay. Cinta monyet yang sangat lucu. Anak TK sudah mengenal jatuh cinta dan cemburu. Kacau.
Di ruang guru, Wisnu masih menangis dan kesakitan. Darah di kepalanya sudah dilap dan lukanya sudah ditutup dengan kassa yang ditetesin obat merah dan dilekatkan dengan plaster. Keadaan Wisnu memang tidak memungkinkan untuk melakukan pelajaran hari ini. Fay menawarkan dirinya untuk mengantar Wisnu ke rumahnya. Penawaran itu disetujui oleh Bu Wati dan beliau juga menyuruh Wawan menemani Fay. Kemudian mereka mengantar Wisnu ke rumahnya.
Sepanjang jalan, Fay tidak sedetikpun berhenti mengomeli Wawan. Walaupun Wawan sudah meminta maaf kepada Wisnu dan Wisnu sudah memaafkannya. Begitu sampai di rumah Wisnu, Wawan langsung mengajak Fay kembali ke sekolah untuk mengikuti pelajaran. Dengan menahan rasa simpatiknya, Fay kembali ke sekolah.

***

Stupidfy : Ku Yakin Cinta Part IV

Read Stupidfy : Ku Yakin Cinta Part III                 Via Whatsapp aku mengajaknya pergi ke Puncak, enam bulan kemudian. Dia mau dan si...