Jumat, 16 November 2012

THE BLUE ARMY (OSIS 2010-2011)



Ketua Umum                                     :  Eka Puja Darmawan
Wakil Ketua Bid. Agama                 :  Rizky Aditya Midjil Pamungkas
Sekretaris Umum                               :  Alpia
Sekretaris 1                                         :  Andini Endang Setyawati
Bendahara                                          :  Aal Awaliah
Humas 1                                             :  Syarifah Mudarsih
Humas 2                                             :  Dendy Dwi Gandra
7K 1                                                    :  Nazlyna Sungkar
7K 2                                                    :  Sutiawan
Ketua Bidang Keagamaan               :  Bachtiar Hidayat
Ketua Bidang Akademik Politik      :  Muhammad Riyanto
Ketua Bidang Kebangsaan               :  Nur Syarafina Dini
Ketua Bidang Kesenian                    :  Abdullah Edwin Arieputra
Ketua Bidang Olahraga                    :  Ahmad Baidowi
Kasi Rohani Islam                            :  Dwi Linda Mardiyanti
Kasi Rohani Kristen                         :  Rutikah
Kasi Bahasa Inggris                          :  Anggi Saputra
Kasi Bahasa Jerman                          :  Ayu Novia Aryanti
Kasi Mading                                      :  Eka Nur Yuniar
Kasi KIR Penelitian                         :  Nurrachmawati
Kasi Pecinta Alam                            :  Palupy Aprilianita Handinny
Kasi Paskibra                                     :  Nia Permatasari
Kasi Pramuka                                    :  Siti Fathonah Nuzul Yati
Kasi PMR                                          :  Islami Dian Pertiwi
Kasi Paduan Suara                           :  Intan Fitriana
Kasi Teater                                         :  Redina Dhitamaya
Kasi Sepak Bola                                :  Abdul Aziz
Kasi Basket                                        :  Muhammad Fadhly
Kasi Volly                                          :  Adi Kurniawan
Kasi Karate                                       :  Shinta Winahyu Dewanti
Kasi Taekwondo                                :  Putri Nurdiyanti
Kasi Silat                                           :  Aisyah Alawiyah


LDKS tanggal 5 – 7 Juli 2010
@Cisarua, Jawa Barat

Cuplikan di LDKS..

Rabu, 07 November 2012

Tentang Si Strong (temen gue)

                Ini cerita tentang teman saya, saya berteman dengan dia sudah 2 tahun lebih. Dia ini perempuan, tomboy, suaranya itu loh yang ‘WOW’ banget kalau teriak. Sebutlah nama dia Tina. Hihi :D kayak tooh perempuan di film-film Bollywood yah? Tapi, gak dong. Gak mungkin ceritanya seperti film-film Bollywood. Hahaha :D
                Singkat saja, ketika kami bersama-sama di kelas 12, tepatnya ketika sudah detik terakhir masa SMA lah. Si Tina ini merasakan masa PDKT atau Pendekatan dengan seorang cowok. Cowok itu juga saya kenal sejak kelas 2, karena dia begitu akrab dengan anggota organisasi sekolah yang cowok pastinya. Ya saya kasih nama Anam. Nah, disini pertama kali deh kasus lucu ini membuat saya geregetan.
                Saat itu, Tina dan Anam memang menjalin hubungan yang sangat deat. Bahkan Tina sering menceritakan tentang kedekatan mereka itu sudah sampai di keluarga Tina. Ya, deket bangetlah untuk hubungan tanpa status (HTS) itu. Tapi, ya itu dia. Hanya hubungan tanpa status.
                Alasan Anam yang waktu itu diceritakan Tina sama saya adalah… “tidak mau pacaran sebelum diterima di PTN” yap… okelah itu sedikit… lebih baik mungkin. Faktanya, disisi lain. Mantan dari Ana mini, tiba-tiba mencoba mendekati Anam lagi. WOW… hahaha :D Naaaah, inilah lucunya yang sampai geregetan. Mantan dari Anam sudah lama memasang status “in relationship” dengan seseorang yang saya juga gak tau itu siapa. Siapa peduli juga ? tapi… mantannya ini (ya sebutlah namanya Tika) mulai mendekati Anam, yang sebenernya saat itu sedang menjalin hubungan dekat tanpa status dengan temen saya, Tina. Jelas dong itu si Tika nyebelinnya bukan main? Secara, dia sudah punya pacar gitu, kenapa masih ganggu mantannya yang sedang dekat cewek lain. Keliatan maruknya kan? Gak mau kehilangan cowok? Iyuuuuh :p
                Kasihannya, tadinya saya mau mengucapkan itu untuk Tina, tapi, yang semestinya diberi ucapan itu si Tika. Yasudahlah, kasihannya si Tika ini terus saja bertingkah seperti cewek yang gak punya harga diri. Terlihat jelas di setiap status yang dia update di jejaring social. Dan itu… mengganggu aktivitas saya di jejaring social itu. Huh >.< Tika Tika :D
                Sekarang, temen saya yang bernama Tina ini sudah mulai tidak menjalin hubungan dan bahkan sudah jarang berkomunikasi dengan Anam. Jelas, teman saya ini laris manis di kampusnya. Banyak cowok yang senang berteman dengan Tina. Ya mungkin karena faktor tomboy yah, bukan karena Tina ini genit. Sorry, teman saya gak mungkin genit sama cowok orang.
                Bicara dengan genit sama cowok orang, nyambung nih sama pengalaman Tina selanjutnya.
                Sejak Tina gak berhubungan dekat lagi sama Anam, kemudian Tina juga pandai bergaul dengan teman-teman baru di kampusnya, Tina juga mendapatkan teman dekat baru. Banyak sekali (menurut cerita Tina). Saya saja sampai iri, ingin sekali dikenali dengan salah satu teman cowoknya itu. Hahaha :D
                Dari sekian banyak yang deketin, Tina hanya kecantol sama seorang cowok. Naah, cowo ini Tina kasih tau saya dari foto. Katanya sih mirip salah satu vokalis band (memang benar), bandnya pun salah satu band yang saya sangat sukai. Hehehe :p
                Lama Tina gak pernah cerita sama saya. Eh akhirnya dia cerita ketika dia malah sudah putus dengan cowok itu. Apa? Sudah putus? Kapan jadiannya? Hahaha :D
                Yaa beberapa hari yang lalu Tina jadian sama cowok itu. Ternyata eh ternyata. Ketika Tina jadian sama cowok itu, ada cewek genit yang ganggu hubungan mereka yang baru berjalan 3 hari, dan berakhir putus.
                Cerita Tina nih. Jadi cewek lainnya itu, ya panggilannya siapa ya? Diva aja deh. Anggaplah tuh cewek namanya Diva. Nah si Diva ini emang awalnya suka sama cowoknya Tina itu. Yang ini namanya siapa ya? Aray deh. Haha :D nah si Diva emang awalnya suka sama Aray, tapi sayangnya Diva ini sudah bertunangan sama seorang cowok gitu. Yooo sudah tunangan? Masih mau ngejar cowok lain? Mending tunangannya gue ambil saja ya :D *abaikan*
                Okehnih, suka kan? Diva lepas nih si Aray, karena ingat dengan tunangannya. Selain itu, Diva juga punya gebetan lain. Alamaaaak?? Perempuan macam apa ini? Napsu banget ya sama cowok. Hahahaha :D *sudah sudah -.-
                Diva melepas Aray, mulai si Tina mendekati Aray. Aray merespon sip, jadian deh sama Tina. Pas jadian sama Tina, ini si Diva datengin si Aray lagi nih. Kacau bukan? Tina, diem saja. Sampai mana Diva berani bermain api. Tunggu saja. Tunggu sampai Tina sakit hati? Huh enak saja! Tapi benar, Tina keburu putus dan sakit hati sama Aray dan Diva. Naah, malam itu, saya diberi tugas oleh Tina untuk manas-manasin Diva, via jejaring social nih. Seru nih. Saya mulai deh perbincangan antara saya, Tina, dan Diva. Perang dingin. Hahaha :D sampai akhirnya Diva mengajak Tina ketemuan di kampusnya, katanya ingin membicarakan sesuatu. Hihihi ya sudah, sampai sini lah. Mungkin si Diva berasa kali ya sudah menyakiti temannya sendiri. Padahal kata Tina, dia dan Diva itu memang sangat dekat di kampus. Nah, jahat bukan si Diva?
                Kalau begitu, urusannya sama saya apa dong? Entah karena empati sama Tina atau murni saya membenci sifat dua cewek yang mengganggu teman saya itu, yang pasti saya jadi membenci Tika maupun Diva. Masa bodoh, gak masalah. Hahahaha :D hanya saja ya seperti itu, setiap dua perempuan itu muncul di halaman jejaring social saya, saya jelas langsung berhenti beraktivitas di jejaring social. Iyyuuuuh, jijik :p *sebenernya soal Diva, saya juga sebelumnya pernah cemburu sama perempuan ini karena…. * RAHASIA :D :D :D :D
See You :* muah muah muah

Tentang Kenek Perempuan

Selasa, 06 November 2012
                Postingan kali ini saya akan membahas tentang sesuatu yang saya amati pagi ini. Sesuatu yang sederhana, tapi cukup mengerutkan kening saya.
                Seperti biasa, saya berangkat kuliah jam setengah 7 pagi, berjalan kaki menuju jalan raya supaya bisa naik angkutan umum menuju kampus. Seperti biasanya lagi, saya menunggu di sebuah jembatan. Menunggu dengan waktu yang cukup lama, karena saya memilih angkutan yang tidak banyak penumpangnya. Karena saya malas untuk berdiri selama perjalanan menuju kampus.
                Sekitar lima belas menit saya menunggu, akhirnya saya mendapatkan angkutan umum yang saya inginkan. Saya naikilah angkutan itu, kemudian saya mencari tempat duduk yang masih kosong, sehingga saya dapat menikmati perjalanan yang nyaman ini.
                Sejak saya melihat angkutan ini, saya juga melihat sosok perempuan yang kelihatannya sudah tua, tapi ya gak tua banget sih. Mungkin kepala tiga (umurnya). Dari gaya nya dia adalah seorang kenek angkutan umum yang saya naiki ini. Selain itu, memang sejak awal dia berdiri saja di pintu. Ok, ya benar dia kenek angkutan umum ini. Jelas tertebak saat dia menagih ongkos perjalanan saya.
                Sebenarnya, bukan hal yang luar biasa yang saya ketahui tentang perempuan yang berprofesi menjadi kenek angkutan umum. Bahkan, karena sekarang negeri saya ini telah diemansipasikan kaum perempuannya oleh seorang tokoh bersejarah, banyak perempuan di negeri ini memiliki profesi yang seharusnya dimiliki oleh kaum adam atau laki-laki. Yap, semua karena emansipasi.
                Saya akan membahas tentang yang dilakukan perempuan yang berprofesi menjadi kenek angkutan umum yang saya naiki ini. Hal ini sedikit membuat saya ingin tertawa dan mengerutkan kening. Tepatnya saya mengerutkan kening terlebih dahulu, kemudian tertawa.
                Ketika perjalanan saya sudah sampai setengahnya, saya mendengar perempuan kenek itu berteriak kepada supir angkutan umum ini. Tepatnya saya tidak tau, ya seperti … “Itu *menyebut nomor angkutan lainnya* mau ngejar”. Saya pun memperhatikan kejadian itu. Sang supir tidak menjawab, ia hanya melirik keadaan melalui kaca yang ada di depan kemudinya.
                Jadi begini, mungkin banyak orang tau istilah “rapat” dalam silsilah perangkutan umuman *sedikit ribet ya mengucapnya?*. nah, ucapan dari perempuan tadi lah yang menunjukkan istilah ini. Oh gini deh, kalau memang kurang jelas dengan istilah “rapat”, saya akan menjelaskannya sedikit.
ð  Rapat dalam perangkutan umuman berarti “Jika di depan atau di belakang angkutan yang sedang beroperasi di jalan, ada angkutan lainnya, entah dengan nomor yang sama atau pun beda, ataupun memiliki tujuan akhir yang saling berdekatan, kemudian angkutan lainnya tersebut berada tidak jauh dari…” ah pusing saya. Jadi gini aja deh. Ketika mobil A ada di jalan M, kemudian mobil B berada di jalan N, sedangkan jalan M dan jalan N hanya berjarak 100 meter, maka timbullah istilah “rapat” itu. Artinya, seharusnya jarak antara mobil A dan mobil B adalah lebih dari 100, bisa 150 atau 200 meter di depan atau di belakang. Karena biasanya kalau jarak berdekatan antar angkutan, akan menimbulkan kebut-kebutan untuk dulu-duluan mendapatkan sewa atau penumpang. Logikanya sih penumpang atau orang itu kan gak setiap menit ada dan menunggu di tempat yang sama. Nah jadi, antara mobil A atau mobil B itu harus saling menjauhkan jarak. Ya kurang lebih begitulah.
Lanjut.
Ternyata supir angkutan yang saya naiki ini merespon dengan mulai mengebut dan berusaha menjauhkan jarak dengan angkutan yang dilaporkan si supir tadi. Eh gak disangka ketika angkutan ini mulai berjalan dengan cepatnya, di depan angkutan ini ada angkutan lain. Dan sudahlah, terjadilah kebut-kebutan antara dua angkutan ini. Jelas ini membuat penumpang panik, termasuk saya. Tapi, saya memang mencoba menahan saja.
Nah, inilah yang terjadi. Ketika angkutan ini berada sekitar 2 meter di belakang angkutan yang di depannya itu, saya melihat si kenek perempuan ini menggenggam besi pintu angkutan, ia keluarkan bagian belakang tubuhnya, kemudian berteriak kepada kenek angkutan yang lainnya itu, dan yang membuat saya terkejut adalah… perempuan ini menggoyangkan pinggulnya yang berada di sebagian luar angkutan sambil meledek kenek lainnya itu. Dan ‘wow’ kenek lainnya yang berjenis kelamin laki-laki dan sedikit lebih tua wajahnya dari kenek perempuan ini, membalas goyangan pinggul si kenek perempuan. Saya sempat mengerutkan kening saya, kemudian rasa tawa itu mulai keluar. Tapi jelas saya tahan, karena saya sadar saya bisa tertawa terbahak-bahak melihat kejadian itu. Aneh! Ingin sekali saya mengeluarkan kamera dan merekam kejadian itu. Tapi, ya saya tidak bisa. Aplikasi tidak mendukung.
Huh, benar-benar kejadian itu membuat saya lebih banyak tersenyum pagi ini :D

Selasa, 30 Oktober 2012

SEUNTAI KATA by ME

Dengan smua kekuranganmu, dgn smua bencimu, dgn smua ketdk pedulianmu, kmu ttp sahabatku (

bagaimana aku mengatakan sayang padamu jika aku takut kehilangan dirimu? (

Ingin ku teriak agar ku berhenti merindukan mrka tp tak bisa. Jujur rindu kalian sahabat. ( )

ku ucapkan Sampai Ketemu. Nanti , karena aku percaya dengan rencana Tuhan :) ( )

sifat matrealistis pada perempuan itu adalah pemberian wajib dari Tuhan. Karena perempuan hebat dapat mengatur segala hal @syarifahmu

Tuhan menciptakan perempuan dr tulang rusuk laki2 kan? So, dia berperan bg laki2. Emg bs manusia tanpa tulang rusuk menatap langit? #tentangperempuan
 
ku inginkan surat cinta itu datang dari kamu untuk yang terakhir ( )

pernah ku rasa cinta pertama. Tp blm pernah ku rasa cinta terakhir. Dan ku mau kamu yg terakhir (

kau dtg dalam mimpiku, menghapus air mataku disana. Namun itu gak cukup menghapus rindu ini ( )

aku wanita yang tak akan memulai. Aku wanita yang menunggumu mengatakan cinta ( )

Jumat, 12 Oktober 2012

SENYUM UNTUK LUNA

Matahari tak lagi menyinari dengan sempurna. Cahayanya sudah mulai tergilir oleh hadirnya sang bulan. Pantulan warna kuning kemerahan terlihat di setiap sisi dan ruang. Diiringi dengan hembusan-hembusan angin sore yang membuat kain ini menjadi megar.
            Suasana semakin hening, setiap orang mulai melangkahkan kakinya menuju pintu gerbang. Berbondong-bondong dan saling berebutan untuk dapat lebih dulu mengeluarkan dirinya dan kendaraan yang mereka bawa dari parkiran. Dengan segala beban pikiran akan tugas dan tentengan buku yang tebalnya bukan kepalang. Mereka adalah orang-orang yang menyebut dirinya sebagai mahasiswa. Mereka pergi meninggalkan dengan berbagai rona.
            Bangku panjang berwarna hijau yang terpampang antara dua pohon yang tidak begitu besar namun rindang telah lama ku duduki. Sengaja ku singgah untuk menunggu datangnya seseorang. Seraya menikmati setiap hembus angin yang lewat di sekitarku, mataku tak henti melirik. Mulai mencari sesuatu yang semakin lama semakin tidak pasti.
            Sesekali aku melihat jam tangan berwarna coklat yang terpasang di pergelangan tangan kiriku. Wajah lusuh ini sudah mulai menunjukan emosinya. Dahi ini muali terlihat mengkerut. Tak sesekali aku menggigit bibir ini, tak lain hanya untuk mengurangi rasa kegelisahan.
“Lun, gue balik duluan ya.” Ucap Septi dengan cepatnya.
“Iya, Sep. Bye !” jawabku.
            Kegelisahan akan menunggu sesuatu yang indah itu tidak memiliki ujung yang pasti. Semua harapan rasanya sudah mulai pergi tertiup angin. Setiap detik telah dihabiskan dengan setiap kedipan mata. Desah nafas yang penuh dengan rasa bahagia itu mulai sirna.
            Cahaya matahari yang semakin lama semakin meredup adalah gambaran sebuah harapan yang mulai bosan menunggu. Ingin langkah kaki pergi dan segera melupakan. Tapi entah, berat rasanya untuk meninggalkan. Jika meninggalkan dia adalah yang terbaik katanya, maka mungkin yang terburuklah yang akan aku ambil. Karena bertemu dengannya adalah hal terindah yang sedang kuinginkan.
“Lun… Luna!”
“Ha?” mataku melirik penuh harapan.
“Kok belum pulang?”
“Eh, Aray. Iya nih belum.”
“Kenapa belum?”
“Lagi nunggu temen. Lu kenapa gak pulang?”
“Gue lagi nunggu nyokap gue nih. Bentar lagi juga mau pulang.” Kemudian ia duduk di sampingku.
“Oh.” Aku menatap layar handphone itu.
“Emang siapa si yang lu tunggu? Anak sini?”
“Engga, Ray. Temen SMA gue.”
“Cowok?”
“Iya.”
“Cowok lu kali?”
“Engga. Belum sih tepatnya.”
“Udah gak available nih kayaknya.”
“Ha? Engga kok. Masih.” Aku tersenyum, “sebentar ya. Gue mau  telpon dulu.” Lalu ku ketik beberapa nomor di handphone itu. Ku mulai menunggu tersambungnya panggilan itu.
“Gak diangkat?” tanyanya ketika melihat wajahku nampak kecewa. Dan ku balas dengan menggelengkan kepala.
“Ray, lu udah punya pacar?”
“Hm?” wajahnya terkejut.
“Emm jangan berpikir macem-macem Ray. Gue cuma mau nanya aja.”
“Oh, maaf deh. Gue udah punya pacar, Lun. Kenapa?”
“Pacar lu kuliah atau kerja?”
“Kuliah, Lun. Di universitas swasta. Memangnya kenapa deh?”
“Gak kenapa-kenapa sih. Yakin buat long distance?”
“Siap ataupun engga, ya harus siap. Jalanin aja gitu, Lun.” Ia melihat jam tangannya, “Lun, nyokap gue udah selesai. Gue pulang duluan ya.”
“Oh, iya. Hati-hati ya Ray. Salam buat pacar lu.”
“Lah?” ia menaikkan alis kanannya, “hehe oke deh” memberiku jempolnya dan kemudian pergi.
Tuhan, jika memang aku harus menjalin suatu hubungan dengannya. Kuatkanlah perasaan ini dan jauhilah dari segala rasa curiga. Tuhan, jika tidak terjadi apapun antara aku dan dia. Biarkan semua itu terjadi nanti. Izinkan aku dengannya, Tuhan. I love him because You.
            Ternyata matahari memperlambat pergerakannya. Sudah hampir tiga puluh menit dan ia tak datang. Tak ada satu pun kabar. Tak ada satu pun panggilan.
            Rasanya bercampur aduk. Ingin marah, menangis, mengamuk, memaki, menjerit, yang pasti aku kecewa. Dia kemana? Kenapa dia tak datang? Dia kenapa? Apa yang dia lakukan? Dia? Dia tak ingat. Dia sengaja melupakan. Dia memang tidak peduli. Dia tidak menginginkannya. Dia.
            Air mata ini mulai keluar. Mulai membasahi pipi. Mengalir dari mata, turun melewati lengkungan pipi, terdiam di bibir dan ku hapus dengan kain merah penutup kepala. Aku menunduk. Dari kejauhan sudah terlihat segukkan rasa kecewa itu. Tapi, tak ada yang pahami.
Julian…
“Kenapa kamu gak datang? Kenapa kamu gak ingat? Julian, kenapa kamu jahat?” aku pergi ke kamar mandi untuk membersihkan wajah ini dari air mata. Kemudian handphone itu berdering. Ia menelponku, ia mengingatku, ia menyayangiku juga.
“Halo?” aku memulai.
“Luna…” suara perempuan itu. Memang bukan orang asing. Ia … “ini Dewi, Luna. Julian…” suaranya terdiam kembali, tergambarkan sebuah suasana yang panik dan mengganggu, “Luna, maafkan Julian, Luna. Julian gak bisa datang ke tempat kamu, Luna.” Suara itu semakin bergetar, namun jantung ini berdegup jauh lebih kencang dari gemetar suaranya. Mulut ini tak mampu berkata, begitu takut untuk bertanya.
“Luna, Julian kecelakaan di depan kampus gue. Dia gak bisa ke kampus lu untuk menepati janjinya. Julian kritis, Luna. Dia sekarang di rumah sakit deket kampus gue. Gue udah minta tolong Aska ke kampus lu, jemput lu dan membawa lu kesini. Buat ketemu sama Julian, Luna.” Penjelasan panjang lebar itu dibuatnya terbata. Setiap kata yang keluar melemahkan raga, meneteskan air mata, dan menggetarakan hati.
            Di depan sebuah cermin kamar kecil aku menatap wajahku yang sudah penuh dengan kesedihan. Di depan sebuah cermin ku membayangkan dirinya berdiri di belakangku. Di depan sebuah cermin aku melihat ia memelukku. Di depan sebuah cermin aku melihatnya mengatakan “I Love You”.
            Aku berlari keluar. Aku mencoba menyadarkan diriku dari sebuah khayalan. Ku berlari menuju tempat awal. Aku berdiri di tempat ku menunggu. Entah makhluk bodoh apa aku ini. Gak tahu malu menangis di depan umum. Di tempat orang banyak yang berjalan. Aku gak peduli.
            Ku bayangkan wajahnya yang indah. Yang dulu selalu dapat ku lihat dengan sepuasnya. Matanya yang terbingkai kacamata. Hidungnya yang mancung selalu menggoda jari jemariku untuk menariknya. Bibirnya yang menggoda membentuk senyuman indah yang selalu membuatku teringat dengan manis gingsulnya. Mulutnya yang manis selalu memberikanku motivasi yang dapat membuatku terus bangkit dari kesedihan. Kini, ia terjatuh, ia tak mampu berkata ketika ku sedih. Tak mampu memberiku semangat ketika ku sekarang merasakan sedih yang lebih dari sebelumnya. Tak mampu  memberiku tatapan percaya akan hidup yang tak hanya sampai disini. Tak mampu menggoda jariku untuk tidak mengepal memendam kekecewaan. Tak mampu membariku senyuman kepastian akan hadirnya rasa bahagia yang tak pernah usai. Julian.

BINTANG

21 juli 2012
Bintang
Temani aku dalam sepinya malam
Bintang
Terangi aku dalam gelapnya malam
Bintang
Ramaikan mala mini dari kesunyian
Bintang
Bisikan aku dalam keheningan
Bintang
Hanyutkan aku dalam keindahan malam
Bintang
Tuntun aku dalam kebutaan malam
Bintang
Hiasi mala mini dari kesedihan
Bintang
Ajari aku untuk selalu bersinar
Bintang
Bantu aku mengukir rasi terindah
Bintang
Hapus aku dari segala kegelisahan
Bintang
Tuntun aku menuju cahayamu yang benderang
Bintang
Bimbing aku pergi dari kebingungan
Bintang
Warnai hidupku dengan cahayamu
Bintang
Semangati aku dengan kekuatan sinarmu
Bintang
Kau yang ku harapkan
Kau bintang terhebat untukku
Karena kau bintang

Rabu, 03 Oktober 2012

MALAM MINGGU BARENG (OSIS 10-11)


OSIS 10/11
diundang acara rohis yaitu SENAR. Sabtu/ 14 Agustus 2010
yg diundang 32 orang , yg dateng 17 orang. yaitu :
  1. Eka ( Ketos )
  2. Midjil ( Ketua 1 bid. agama )
  3. Andini ( Sekretaris 1 )
  4. Aal ( Bendahara Umum )
  5. Efah ( Humas 1 )
  6. Dendy ( Humas 2 )
  7. Nazel ( 7K1 )
  8. Syara ( Kabid kebangsaan )
  9. Ubay ( Kabid Olahraga )
  10. Nuy ( Kasi KIR penelitian )
  11. Canye ( Kasi Mading )
  12. Anggi ( Kasi EC )
  13. Islami ( Kasi PMR )
  14. Fadly ( Kasi Basket )
  15. Chomenk ( Kasi Volly )
  16. Redina ( Kasi Teater )
  17. Intan ( Kasi Padus )

Ubay yg td nya males banget ngumpul, dia dengan rajin nya pagi pagi udah dateng. hehe
disana kita bantu bantu anak Rohis nyiapin konsumsi, dr ngeset box makanan , masukin makanan ke box, smpe makan tuh makanan. haha
adzan maghrib smua buka puasa, abis itu sholat maghrib deh di masjid SMAN 94 tercinta. sebelum sholat nyanyi nyanyi bareng sambil diiringi gitar nya dendy. abis sholat kita bantu beres beres ruangan. muncul lah ide buat ngebakso bareng.
dan setelah beres beres kita bergegas pergi keluar sekolah buat nyari tukang bakso. akhir nya dapet lah di dpn SD. makan bakso lah kita rame rame. Asiiik banget lhoo. yg gak ikut pasti iri. hehe
semua keribetan makannya, soalnya gak ada tempat duduk. ada yg makan di stan stan tukang jualan. itu sii Nazel sm Chomenk. hehe kayak org pacaran gitu dah..
sayang nyaa.. disana MIdjil gak ikut..
selesai makan, kita semua balik ke rumah masing masing.
Eka nganter Ubay, Syara nganter Redina abis itu bareng sama Nuy, Dendy nganter Anggi, Islami bareng Canye, Intan sm Andini plg sendiri soal nya rumah nya dkt, Fadly pulang naek angkot, Nazel balik sm Chomenk naek angkot ( cinlok dah ). sisa nya Efah sm Aal. Efah kebingungan mau balik sm siapa, sedangkan Aal udah minta jemput Topik ( pacarnya ) akhir nya Efah minta tolong Dendy dah buat nganterin. dengan syarat harus beliin bensin. Tapi akhir nya semua pulang dengan selamaat :D Lain waktu dan lain kesempatan moment kebersamaan ini harus dilakukan lagi :D

yeyeye :P

Stupidfy : Ku Yakin Cinta Part IV

Read Stupidfy : Ku Yakin Cinta Part III                 Via Whatsapp aku mengajaknya pergi ke Puncak, enam bulan kemudian. Dia mau dan si...