Jumat, 12 Juli 2013

Coklat Stroberi



Bima      : “Udah lama ya kita gak jalan berdua gini?!”
Ika          : (tertawa kecil) “Iya, Tak.”
Bima      : “Setelah kita jalan seharian begini, baru ini kamu panggil aku dengan sebutan ‘tak’. Padahal kan aku udah gak botak.” (Ia tersenyum membalas)
Ika          : “Setelah kita jalan seharian begini, baru ini lo mengucapkan kata kamu dan aku di antara percakapan kita.” (Menarik bibir ke arah kanan)
Bima      : (tertawa kecil) “Bu, roti bakar isi stroberi satu ya.”
Ika          : “Gue”
Bima      : (menyelak) “Roti bakar coklatnya satu, Bu.”
Ika          : “Masih inget aja deh lo rasa kesukaan gue.”
Bima      : (melirik ke arah Ika) (tersenyum) “Yang coklat rotinya jangan gosong, tapi kering ya, Bu. Terus jangan pakai pinggirannya, pinggirannya di buang aja, Bu.”
Ika          : (menatap Bima) (tersenyum) “Lo benar-benar masih ingat selera gue.”
Bima      : “Minumnya es teh manis aja. Dua ya, Bu. Gulanya sedikit aja.”
Ika          : (menunduk) (menarik nafas kemudian dihembuskan) “Setelah kita dekat, sering jalan bareng dulu, sering makan roti bakar, gue gak pernah tau alesan lo milih roti bakar rasa stroberi. Lo mau kasih tau gak? Gue sedikit kepo nih.”
Bima      : “Yakin mau tau?” (menaikkan alis kanannya)
Ika          : “Iya, itu juga kalau lo bersedia sih. Habisnya gue agak bingung aja sih. Mind set tentang stroberi itu kan identik dengan kefeminiman perempuan. Atau jangan-jangan lo ini jiwanya perempuan ya?”
Bima      : (menatap mata Ika kemudian mendekatkan wajahnya) “Selama kita dekat, selama kita sering jalan bareng dulu, selama kita makan roti bakar, apa pernah lo liat gue bergelagat seperti perempuan?”
Ika          : “E… eng.. eng.. engga…” (mengedipkan mata) “Udah ah, jangan lagi-lagi lo menatap mata gue kayak tadi!” (mendorong wajah Bima agar menjauh)
Bima      : “Loh? Kenapa? Bukannya dulu lo biasa aja kalau kita berbicara dengan jarak wajah kita yang tidak jauh gitu?”
Ika          : “Itu kapan? Itu dulu kan? Sekarang udah gak lagi!”
Bima      : “Sekarang pun iya. Lo aja yang menutupi itu semua.”
Ika          : “Engga! Sekarang pun engga, Tak ! Hanya pacar gue aja yang boleh menatap gue kayak gitu.”
Bima      : “Loh kenapa memangnya?”
Ika          : “Ya karena dia pacar gue. Orang yang gue sayang, orang yang selalu buat gue bahagia, orang yang selalu ada buat gue, orang yang selalu hadir di mimpi gue, orang yang selalu perhatian sama gue.”
Bima      : “Oh, iya ya? Hm… hebat ya dia? Bisa buat lo seperti ini. Bisa dapetin tatapan dari mata lo yang indah itu. Kapan nih lo mau kenalin gue sama dia?”
Ika          : “Not right now. Kita tunggu waktu yang pas buat kalian ketemu. Nanti kalau dia ada di Bandung ya, kalau dia lagi liburan semester.”
Bima      : “Oke. Gue tunggu saat itu. Oyah, semanis apa sih kalian?”
Ika          : “Semanis…”
(Roti bakar itu pun hadir di hadapan Ika dan Bima)
Ika          : “Semanis roti bakar coklat ini. Semua berjalan dengan keromantisan dan ya sweet lah gitu. Sesuai dengan keinginan kita berdua. Selalu bahagia dan penuh dengan hal-hal yang manis lah.”
Bima      : “Wah keren yah. Sukses deh buat kalian berdua.”
Ika          : “Kalau lo gimana, Tak?”
Bima      : “Kalau gue kayak roti bakar rasa stroberi ini.”
Ika          : “Eh tunggu dulu. Sejak kapan lo punya pacar, Tak? Gue gak pernah tau kalau lo jadian sama cewek. Kok lo gak pernah cerita sama gue sih?”
Bima      : “Kata siapa gue punya pacar? Gue single, gue available.”
Ika          : (tertawa) “Kan bener. Terus maksud lo tentang roti bakar rasa stroberi yang lo pilih itu apa? Kan? Lo kan kayak apaan tuh? Punya kisah cinta kayak stroberi tapi lo gak punya cewek. Mungkin lo punyanya cowok kali ya? Nahloh!”
Bima      : (mengusap kepala Ika) “Dengerin gue ngomong dulu dong,Cung!”
Ika          : “Ha? Cung? Mancung maksud lo? Akhirnya lo manggil gue dengan sebutan mancung lagi.”
Bima      : “Iya , Mancung. Itu panggilan special gue buat lo.”
Ika          : “Terima kasih, Botaaaaak. Lanjutlah sama cerita lo.”
Bima      : “Siapa yang mau cerita?”
Ika          : “Lo lah tadi. Kan tadi lo udah mau mulai membahas tentang pilihan rasa stroberi lo itu tuh.”
Bima      : “Apa yang lo pikirin tentang stroberi? Apa yang ada di pikiran lo kalau lo dengar kata stroberi?”
Ika          : “Stroberi ya? Hmm… yang tadi gue bilang. Identik sama cewek, feminim, lembut, manis gitu deh.”
Bima      : “Nah, maksud dari manis itu apa?”
Ika          : “Ya karena menunjukan kefeminiman jadi kesannya manis aja.
Bima      : “Lo salah, Cung. Lo liat deh bentuk asli stroberi, lo inget-inget bentuknya. Bentuknya sih emang seperti orang-orang menggambarkan hati ya. Padahal hati aja bentuknya gak seperti itu. Kulitnya stroberi,Cung. Kulit stroberi ada gak sih yang mulus? Gak ada, Cung. Pasti permukaannya gak halus ataupun mulus. Ya, kan? Sama kayak kisah percintaan gue, Cung. Gue sejak dulu sampai sekarang hanya jatuh cinta sama satu orang cewek. Tapi hampir setiap hari kalau gue lagi stalking twitter dia, gue selalu melihat dia lagi asik saling balas mention sama pacarnya.” (seraya mencaplok roti bakar stroberi miliknya)
Ika          : (menyimak tanpa sedikit pun mencolek roti bakar dihadapannya)
Bima      : “Jangan terlalu serius gitu lah, nanti dengan gampang lo nebak gue jatuh cinta sama siapa. Makanlah itu roti bakar kesukaan lo.”
Ika          : “Suka-suka gue lah, Tak. Tapi iya deh sayang juga ini roti.”
Bima      : “Gue lanjut ya.” (mengambil sepotong roti dengan garpunya lalu dimakan) “Itu lah gambaran percintaan gue dari kulitnya stroberi. Gak mulus. Setiap kali gue harus merasa putus asa karena sang cewek ini udah ada yang punya, setiap itu juga gue terus-menerus jatuh cinta sama dia. Artinya stroberi walaupun dari luarnya udah gak mulus gitu, tapi bagi sebagian orang stroberi itu selalu membuat pengen nambah lagi, Cung.”
Ika          : “Iya juga sih.” (menyuap sepotong roti bakar)
Bima      : “Selanjutnya nih, kalau lo belah itu stroberi menjadi dua, stroberi itu gak akan bisa berdiri sempurna. Dengan mudahnya dia akan jatuh, karena stroberi gak punya tumpuan di bawahnya, kan bawahnya lancip.”
Ika          : “Tapi gak cuma stroberi aja tuh, Tak. Buah-buahan lainnya juga.” (sewot)
Bima      : “Lo mau denger teori gue tentang stroberi dan cinta gak? Bawel banget lo kayak ikan.”
Ika          : “Ba…”
Bima      : (menyela) “Heh nama lo aja udah Ikan ya?”
Ika          : “Ika, Botak!” (menarik hidung Bima)
Bima      : “Heh! Kebiasaan gue ke elo tuh. Udah ah, gue mau lanjut nih.”
Ika          : “Iya, sayaaaang.”
Bima      : “Indahnya dipanggil sayang sama kamu.” (tersenyum manis) “lanjut ya. Dengan penjelasan gue yang tadi. Cinta gue ke dia tuh seperti separuh dari stroberi, masih suka rapuh dan gak mampu bertahan kalau yang separuh lagi gak bersatu sama gue. Dan satu lagi, stroberi itu rasanya asem tau. Asem banget malah. Ya sama tuh balik lagi sama kisah cinta gue. Asem banget. Setiap hari gue harus liat cewek yang gue sayang harus sayang-sayangan sama orang lain. Dan bahkan ketika gue bertemu langsung atau lagi jalan berdua sama dia nih ya, dia sering banget tuh membanggakan pacarnya. Syukurnya sih dia gak pernah bawa pacarnya ketemu sama gue. Kalau sampai itu terjadi, mungkin mau gue bunuh aja itu pacarnya.”
Ika          : “Kok lo jahat banget sih? Harusnya lo bisa nerimain dong kalau emang cewek yang lo sayang itu punya pacar. Kan cinta tak harus memiliki, Tak. Dan kalau emang lo yakin sama itu cewek, jodoh mah gak akan kemana, Tak.”
Bima      : “Nah! Itu dia. Gue yakin sama kalimat itu ketika gue makan roti bakar rasa stroberi ini. Gue selalu menyadari kisah ini dan gue bisa menerima semua kenyataan ketika gue juga menyadari bagaimana stroberi itu sendiri. Yaa sedikit untuk memberi gambaran supaya hati gue tenang lah. Kalau lo gimana sama coklat lo?”
Ika          : “Ya itu, manis, romantis. Kan kalau sekarang tuh cowok mengungkapkan rasa sayangnya tuh banyak yang pakai coklat ya. Ya begitu, sama kayak dia. Selalu seperti itu.”
Bima      : “Manis. Romantis. Coklat.” (dengan nada meledek) “Asal kamu tau ya Mancung. Coklat itu kalau gak ditambah gula atau pemanis, coklat tetap saja coklat yang pahit. Harusnya lo menyadari, coklat yang menurut lo manis dan romantis itu udah diolah dengan berbagai cara untuk menutupi aslinya. Gue rasa juga sama kayak lo, lo beranggapan kalau cinta lo itu selalu manis, padahal cinta lo itu pahit. Lo bilang manis karena udah lo kasih pemanis aja. Dan semua itu ya seperti kebohongan aja gitu. Warnanya aja udah gelap, kan gak bagus. Harusnya cinta itu diibaratkan sama yang cerah-cerah dong.”
Ika          : “Bim, gue dari tadi sabar loh denger teori lo yang sebenernya menurut gue cuma menutupi diri lo yang patah hati aja karena gak bisa dapetin apa yang lo mau. Kenapa gak lo coba roti bakar stroberi lo diganti sama rasa lain? Yang pasti jangan rasa coklat juga. Karena gue yakin, di mata lo, entah itu coklat entah itu stroberi, gak akan berarti baik juga.” (Ika mulai naik pitam)
Bima      : “Santai dulu dong, Cung. Kok lo sensi banget sih? Gue pikir lo dengan mudah menebak semua pengibaratan gue itu. Dan lo gak perlu marah begitu mendengar semua penjelasan gue.”
Ika          : “Tapi gue gak suka sama penjelasan lo yang menganggap percintaan gue itu adalah sebuah kebohongan. Sama seperti teori lo yang sama sekali gak masuk akal.”
Bima      : (menaikkan alis kanannya)
Ika          : “Kalau lo masih beranggapan seperti itu, kenapa gak kita coba aja tuker. Lo coklat dan gue stroberi, biar lo tau arti coklat itu apa setelah lo merasakannya. Karena sejauh yang gue tau, teori lo tentang coklat gak berdasarkan apa yang lo rasain dengan lidah lo. Lo hanya menilainya dari jauh aja.”
Bima      : “Bener? Lo mau kita tukeran?”
Ika          : “Iya. Nih!” (menyodorkan sisa roti bakar rasa coklatnya)
Bima      : “Oke. Gue makan ya yang ini. Dan lo makan yang itu.”
Ika          : “Oke.”
(setelah melalui beberapa potong roti bakar)
Ika          : (terdiam dan kemudian menoleh ke Bima)
Bima      : “Kenapa?”
Ika          : “Gue baru menyadari maksud dari teori asal lo itu. Bukan itu maksud lo menjelaskan semua itu. Tapi…”
Bima      : “Maaf gue gak segentle cowok lo.”
Ika          : (mengerutkan kening)

Senin, 08 Juli 2013

Zayn Malik

 Hasil Pencarian Gue Sore Ini.
Sekedar Untuk Memberikan Hiburan Buat Teman Kuliah Gue @deyaandira

ZAYN MALIK FEVER













Kamis, 04 Juli 2013

Stasiun Kereta Api Bojong Indah (Tiga Puluh Tujuh Menit Pertama)


Matahari kali ini gak gue lihat dengan sempurna wujudnya. Hanya setitik cahaya kuning yang nampak dengan dikelilingi awan colombus. Gue masih berpacu pada langkah kaki yang semakin lama semakin cepat pergerakannya. Masih terlihat mengejar dan mencoba menyaingi langkah kaki pria setinggi 185 sentimeter itu. Semakin cepat temponya, semakin terasa menyesak di dada. Sesekali gue mengeluh, berhenti dan menarik nafas panjang. Sesekali juga gue melihat pria itu menoleh ke arah gue dan terus berkata “Ayo, Fah! Nanti kita ketinggalan.” Gue selalu saja menggerlingkan mata gue ketika gue mendengar kalimat itu. Nafas gue yang semakin gak tertatur, wajah gue yang mulai memucat harusnya membuat beliau mengerti kalau gue sudah lelah berjalan sejauh sekitar 850 meter.
“Oke. Tinggal 100 meter lagi. Ganbatte !” gue memotivasi diri gue sendiri. Gue tarik nafas panjang-panjang dan melangkahkan kaki dengan cepat. Sejajarlah gue dengan beliau yang sedari tadi gue kejar. Beliau merangkul gue dan kembali mengeluarkan kalimat penyemangatnya. Dan untuk yang kali ini,  gue membalasnya dengan senyum semangat gue.
“Pak, beli tiketnya dimana?” kata gue terengah-engah.
“Di  loket lah, Fah.”
“Iya, loketnya yang mana, Pak? Itu ada dua.”
“Yang sebelah sana.” Menunjuk ke loket yang berada di seberang rel.
Berdiri di depan loket, Bapak mulai bicara dengan petugas loket untuk membeli tiketnya. Dan gue, gue melihat sekitar gue. Baru kali ini gue menginjakkan kaki disini setelah 13 tahun tinggal di daerah ini.
“Terima kasih, Mas.” Gue mendengar beliau sudah dengan pembicaraan singkat dengan pria muda yang berada di balik kaca. Kemudian gue berjalan ke arah pintu masuk.
“Loketnya udah elektrik ya,Pak.” Gue menempelkan kartu tiket itu di atas tulisan ‘Tap Your Ticket Here!’. Gue berjalan mencari tempat duduk yang menurut gue paling nyaman untuk menunggu.
Suasana disini hening, gak banyak orang di dalamnya. Hanya tiga orang calon penumpang kereta commuter line, gue, Bapak gue, dan seorang perempuan seumuran gue. Kita bertiga duduk di satu bangku panjang. Mata gue masih saja memantau seluruh penjuru stasiun. Suasananya sangat indah saat itu. Indah untuk merenung, mencari inspirasi, atau segala hal yang perlu dilakukan tanpa ada gangguan orang lain. Awan dan matahari pun mendukung untuk siapapun berdiam disini melepaskan segala masalahnya. Tapi ada satu catatan, menyelesaikan masalah disini hanya dengan cara merenungkan, bukan nekat tiduran di antara dua besi panjang yang di tengahnya diselingi batu-batu, atau yang mudah disebutnya di tengah rel. Jangan!
Bapak sibuk dengan handphonenya, gue juga. Tapi sialnya sedari tadi siang smartphone gue sama sekali gak bisa beroperasi. Gak tau kenapa, mungkin gangguan server dan provider. Biasalah, smartphone ini sudah usang nampaknya. Ups.
Gue simpan baik-baik smartphone gue ini ketika gue sudah merasa sangat kesal dengan kerusakan yang terjadi. Dan kesialan selanjutnya, gue lupa membawa headset, setidaknya kalau gue gak bisa chatting, gue kan bisa dengerin musik. Huh. Akhirnya gue hanya diam dan melantunkan beberapa bait lagu Pink yang berjudul Just Give Me A Reason, Untukmu Semalanya punya band asal Indonesia yaitu Ungu, lagu dari One Direction yang judulnya One Way Or Another, dan juga beberapa lagu dalam dan luar negeri. Sekedar untuk mengisi kekosongan ini.
Sepertinya sudah 10 menit gue duduk disini, tapi gue sama sekali gak merasa kereta akan datang. Gue memutuskan untuk bertanya sama Bapak. Bapak pun gak tau dan beliau juga mulai kecewa. Mata gue menjelajah ke belakang tempat duduk gue. “Nah!” gue melihat spanduk yang berisikan jadwal kedatangan kereta. Gue mengecek jam tangan gue, gue gak bisa menerjemahkannya. Akhirnya gue melihat jam di smartphone gue. Oke, sekarang jam 3 lewat 17 menit. Gue berbalik dan mencari jadwal kereta yang akan datang. What? Jam 15.54, masih lama rupanya. Gue sampaikan informasi singkat itu ke Bapak, Bapak pun semakin terlihat kesal. Tapi mau gimana lagi, namanya naik kereta kita harus mengikuti jadwal.
Oke gue menunggu kereta yang akan paling cepat tiba. Gue kembali menyanyikan beberapa lagu yang gue tau liriknya. Sesekali gue juga mengecek smartphone gue, siapa tau kan sudah gak eror lagi dan gue bisa mengirim pesan whatsapp ke pacar gue. Tapi ternyata masih saja seperti tadi.
Yap, ingat dengan pacar gue. Mulai deh gue merasa keingetan ini ditambah suasana stasiun ditambah lagi cuaca yang mendukung. Gue galau.
Kabar terakhir yang gue tau, tepatnya kemarin, Selasa Siang, dia akan pergi ke Yogyakarta besok malam. Jam Sembilan. Dari stasiun Senen. Dia mau mengikuti tes masuk Perguruan Tinggi Negeri yang ada di Yogya, yang sudah terkenal itu di Indonesia, iya UGM. Dia masih terobsesi dengan impiannya yang sudah tertunda setahun. Karena jalan yang terjadi tahun lalu lah yang membuat timbulnya kisah gue sama dia di kampus sementaranya, Insya Allah.
Karena gue tersadar kalau smartphone ini sedang ada gangguan server dan membuat gue sulit mengakses ke internet, atau mengirim pesan whatsapp ke pacar gue tepatnya. Gue memutuskan untuk mengirim sms saja ke dia. Mengetik empat hurup yang berpadu menjadi nama tengahnya. Send dan menunggu adanya balasan.
Lama juga, gue semakin bosan dengan keadaan ini. Bahkan sudah mulai kesal. Kening gue juga sudah mulai mengkerut. Sip. Ada balasan.
“Aduh, pulsanya cuma 200 car -.-” Yap kalimat itu menunjukkan gak akan ada hal postif yang membuat gue tersenyum hari ini. Gue melirik ke jam tangan, gue lihat jarum panjangnya sudah ke angka lima lewat sedikit. Mungkin tepatnya jam 3 lewat 26 menit.
“Ah!” gue sewot sendiri. Bapak menoleh ke gue dan kembali sibuk dengan handphonenya lagi. Gue tinggalin smartphone itu di dalam tas. Gue kembali bernyanyi-nyanyi sedikit untuk menghilangkan kekesalan gue saat itu. Penasaran. Akhirnya gue balas sms itu.
“Ya, sorry.” Gue harap dia mengerti perasaan gue dari balasan gue yang singkat itu. Gue mulai kembali dengan kebiasaan gue jika gue mulai merasa kesal dan gelisah, menggigit bibir bawah. Sambil mengeluarkan suara geregetan, gue bicara sendiri dalam hati. Ibaratnya sekarang di sisi kanan dan kiri gue lagi ada malaikat dan iblis yang lagi mengacaukan pikiran gue.
Sang Malaikat selalu berbicara hal-hal positif dan memberi gue motivasi. Malaikat ini sepertinya memberikan gue sugesti baik, supaya gue gak negative thinking sama pacar gue. Gue harus sabar dan mengerti keadaan dia. Mungkin dia lagi sibuk rapih-rapih perlengkapan dia untuk di Yogya dan sedang menghemat pengeluaran buat ongkos disana. Jadi dia harus hemat terhadap pulsanya.
Sedangkan sang Iblis ini mulai memberikan gue pikiran-pikiran yang membuat gue merasa kesal. Seharusnya dia sms gue dengan baik. Beli pulsa kek buat balas sms gue. Memangnya gue ini siapanya? Masih di Jakarta saja sudah malas menghubungi pacar sendiri. Apalagi kalau sudah di Yogya? Dilupakan iya kayaknya.
Tapi semua argument itu berakhir dengan pikiran positif. Oke positif. Dia balas sms gue lagi.
“Yeee justru aku yg minta maaf. Maaf yee, last pulsa nih. L itu isi balasannya. Semakin menjadi emosi gue dan semakin kuat juga sang malaikat menentramkan hati gue.
“Iya. Selau. Take care ya buat perjalanan besok” gue berusaha positif thinking di matanya. Tapi sebenarnya, ingin sekali gue lompat dari bangku panjang ini ke tengah rel dan berteriak. Setidaknya supaya gue gak perlu terus-terusan menarik nafas panjang.
Kembali mata gue melihat jam di smartphone ini. 15.41 Waktu Indonesia Bagian Barat. Gue bangun dari bangku ini, berjalan menjauh dari tempat duduk. Sekedar untuk mencari suasana hening di sisi lainnya. Sekitar tujuh langkah kaki gue ini bergerak, gue mendengar suara klakson dari kereta commuter line. Dengan gaya reflek, gue menoleh ke dua arah datangnya kereta. Ternyata kereta yang datang adalah kereta dari arah Duri ke Tangerang, sedangkan gue perlu kereta yang arah sebaliknya.
Kejadian kecil itu kembali membuat gue mengingat pacar gue. Dasar perempuan, apapun bisa dijadikan sumber perasaan. Kali ini gue gak merenung memikirkan hal itu. Gue mencoba mengilanginya dengan mengajak Bapak berbincang. Obrolan kecil seputar kereta commuter line ini. Satu hal yang membuat gue bingung adalah stasiun ini. Kenapa ini masih disebut stasiun kereta api? Padahal sekarang yang beroperasi bukan kereta api lagi, tetapi kereta listrik. Pemikiran itu gue utarakan ke Bapak. Seperti biasanya, watak humoris Bapak membuat pertanyaan itu semakin gak jelas ujungnya. Setidaknya gue gak galau mikirin pacar gue. Huh.
Berhenti sejenak, gue melihat jam di smartphone gue. Waktu menunjukan pukul 15.50. Empat menit lagi kereta datang. Tiga puluh tujuh menit waktu menunggu gue dengan kegalauan pacar gue yang gak bisa gue ajak berbincang akan segera berakhir. Suara kereta itu pun sudah terdengar jelas di telinga gue. Gue bangun dari tempat nyaman gue itu dan berdiri di garis batas tunggu. Bapak juga bangun dan berdiri di samping gue. Tepat jam 15.54 kereta itu berhenti di depan gue. Gue menarik nafas panjang sedetik sebelum pintu gerbong terbuka. Ketika gue melepasnya, pintu itu terbuka dan gue melangkahkan kaki masuk ke gerbong kereta. “Sudah, Fah. Lupakan dia sejenak. Ambil waktu liburan ini tanpa sedetik pun mikirin dia. Fine.” Perjalanan gue menuju ke kampung halaman untuk menjemput Ibu di mulai sekarang. Dengan perjalanan kereta menuju Bekasi, kemudian transit naik mobil pribadi ke Puncak. Halo kesegaran sementara!

Minggu, 23 Juni 2013

Happy Birthday Bu Erli

AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK 
CLASS

Pada posting sebelumnya, gue pernah membahas tentang kelas baru gue di awal masa perkuliahan gue. Cek -> http://mymudarsih.blogspot.com/2012/10/kedua-tentang-kelas-baru_3.html
atau http://mymudarsih.blogspot.com/2012/10/pertama-tentang-kelas-baru.html

nah kali ini gue tunjukin mereka semua melalui foto di atas. Pada dasarnya, orang-orang yang ada di atas itu adalah cewek-ceweknya. Terus cowoknya mana ?
jangan bete dulu, nih foto ini ada cowok-cowoknya, cekidot


Kisahnya dari foto ini juga ada guys. Foto ini diambil ketika kita sekelas ditraktir dosen kece bernama Erliana Banjarnahor yang hari itu, 19 Juni 2013 sedang berulang tahun. Happy Bithday Bu Erli :)
 Hasil karya gue looooh *pamer dikit*


  Nah itu yang dipegang adalah kado dari kita sekelas :))


Kalau diliat-liat Bu Erli gak kayak dosen ya? Masih muda dan oke banget hehehe

Jadi ceritanya begini,
rencana ini udah dibuat dari beberapa hari sebelum hari ulang tahunnya doi nih, hehe
Pagi Eksekusi :
Ceritanya gue sama rekan gue yang bernama Yuli bertugas untuk presentasi, kelompok terakhir nih huhuhu nah pagi itu yang masuk kelas hanya sedikit, gue, Yuli, Dewi, Sela, Dimas, Carel, Manda. sengaja sih, biar yang lainnya yang dari luar bawa kue ulang tahun buat Bu Erli ini. Dengan suasana kelas yang sepi, gue mulai eksekusinya dengan presentasi. ketika presentasi gue udah mau selesai, baru deh anak-anak lainnya masuk kelas sekaligus bawa kue ulang tahunnya yang udah dikasih lilin yang gak akan mati-mati. Pekerjaan pertama untuk Bu Erli, niupin lilin sampai mati. hahahaha
selanjutnya potong kue deh tuh kan,abis potong kue, kasih kado nih.
kado pertama untuk Bu Erli juga tipuan. Bungkusnya yang berlapis-lapis membuat kita sekelas gak berhenti ketawa, sampai pada bungkus terakhir dan kebuka deh isinya, ternyata itu hanya selembar kertas. abis itu baru deh ke kado yang sebenarnya yang berisi Jersey, gambarnya ada di atas noh.
hahaha skip kita masuk kelas Pak Sakwad dengan mata kuliah Aspek Hukum Ekonomi, kuis dan setelah itu kita siap-siap buat pergi makan siang bersama Bu Erli deh. Untungnya, mata kuliah Pak Komang yaitu Hukum Keuangan Negara tidak ada. Jadi langsung cus deh makan siang.
Begitulah cerita singkatnya hehehe


yowes intinya -> KITA AKAN TERUS BERUSAHA MENJADI KELAS YANG KOMPAK DAN BISA BIKIN SATU SAMA LAINNYA NYAMAN ADA DI KELAS INI hehehehe

Sesederhana Lebay Katamu



Sudah sekian kalinya kamu mengucapkan kata itu secara langsung kepadaku. Ribuan kali, aku selalu menganggap semua itu menjadi sebuah gurauan yang kamu keluarkan untuk membuat suasana perbincangan kita menjadi tidak kaku.
Tapi, apa sekarang kamu menyadari kalau aku merasa terkejut dengan kata itu yang keluar dari mulut kamu kali ini? Hah? Kamu bahkan tidak memperdulikannya kan?
Kita berbincang di suasana yang menyenangkan siang itu. Kamu selesai sholat jumat, disusul aku yang usai pula dengan sholat dzuhurku. Kripik kentang dan jus apel yang ketika itu menjadi selingan di antara setiap obrolan kita.
Kesibukanmu di luar kampus, kesibukanku di luar kampus juga, kegiatan kamu selama merantau di kota orang, kegiatan aku selama menunggu kamu kembali, teman-temanmu yang hanya aku ketahui melalui media sosial, teman-temanku yang dulu pernah kamu kenal, semua melarutkan setiap kerinduan yang sudah enam bulan aku tahan.
Enam bulan. Enam bulan adalah waktu yang lama yang aku jalani denganmu. Enam bulan juga waktu yang lama aku tahan tidak bertemu dengan seseorang yang memiliki status spesial denganku. Enam bulan tanpa melihatmu, memegang tanganmu, hanya rutinitas di dunia maya. Itu pun gak merubah keadaan sebenarnya.
“Kamu lebay” katamu seraya menarik hidungku.
Mataku terbuka lebar kemudian keningku mengkerut.
“Kenapa cemberut sih?” tanyamu tanpa merasa bersalah.
“Engga.” Jawabku singkat.
“Kamu bohong deh.”
“Aku hanya merasa shock aja pas kamu bilang aku lebay.”
“Bukannya udah biasa, yang?”
“Iya, aku tau udah biasa. Tapi gak tau perasaan ini langsung aja gitu.”
“Gitu gimana sih, sayang?”
“Mungkin aku merasa kata-kata kamu tadi terlalu nusuk. Karena aku benar-benar kangen sama kamu. Jadi ketika kamu bilang aku lebay, itu rasanya sakit banget. Kayaknya aku mau nangis deh.”
“Iya? Aku salah ya? Kamu jangan nangis dong, semakin jadi lebaynya deh kamu.”
“Kamu masih bilang aku lebay? Tolong dong, apa yang aku rasain ini. Kangen ini sama kamu, jangan pernah bilang itu lebay! Sadar atau engga, kita itu udah enam bulan gak ketemu. Dan enam bulan adalah waktu yang paling lama yang kita lewati tanpa pernah bertatap muka secara langsung. Tanpa pernah aku merasakan kamu yang ada di sampingku gini. Jadi kalau kamu bilang itu lebay, aku gak ngerti gimana aku bisa mengendalikan air mata aku. Aku merasa sia-sia.”

Stupidfy : Ku Yakin Cinta Part IV

Read Stupidfy : Ku Yakin Cinta Part III                 Via Whatsapp aku mengajaknya pergi ke Puncak, enam bulan kemudian. Dia mau dan si...