Sabtu, 20 Juli 2013

Kita Bicara




Sudah dua puluh menit perjalanan gue yang sampai saat ini gue gak tau mau kemana. Sejak sore tadi di café, gue sama sekali gak mengeluarkan kata apapun. Gue merasa kecewa atas diri gue sendiri yang sudah mengkhianati segalanya, mengkhianati dia, mengkhianati keadaan, bahkan mengkhianati diri gue sendiri. Bahkan gue merasa bahwa gue gak pantas lagi disayang oleh dia. Gak pantas lagi buat gue menjalin hubungan spesial dengannya. Gue harusnya dituruni disini, di pinggir tol luar kota. Dia seharusnya membuang jauh-jauh gue dari hidupnya. Gue pantas untuk dicaci, ditampar atau apapun yang menggambarkan kemarahan dia atas tindakan gue.

Gue mengakui kesalahan gue ini. Bahkan gue juga menyadari, kata maaf dari gue ini gak pantas ia balas dengan memaafkan. Air mata pun gak bisa membuat keadaan kembali mencair dan kembali seperti semuanya tidak ada. Gak pantas, itu saja yang ada dipikiran gue sedari tadi.

Saat ini, gue hanya mampu diam dan tertunduk. Bingung, apa yang harus gue lakukan yang gue pikir pantas untuk gue mendapatkan kata manis lagi dari dia. Gue lihat wajahnya yang sedari tadi serius dengan kemudinya. Sekali lagi gue merasa gue adalah orang paling bodoh di dunia. Bisa-bisanya gue mengkhianati orang yang sudah dua tahun menemani gue dalam sedih dan senang gue. Orang yang sudah bisa menerima gue apa adanya. Orang yang bisa sabar menghadapi gue yang dalam keadaan emosi. Orang yang sudah dua tahun sering sekali menghapus air mata gue dan memberikan gue hiburan agar gue kembali tersenyum. Orang yang setia menunggu gue ketika gue masih ada kuliah sampai malam. Orang yang rela berjam-jam menghadapi nenek gue yang bawelnya bukan main ketika gue bersiap untuk pergi sama dia. Orang yang mau menjadi supir pribadi gue yang siap mengantar-jemput gue kapan saja dan kemana saja. Orang yang selalu mau mengeluarkan uangnya untuk membelikan hadiah ketika mood gue sedang jelek. Orang yang selama dua tahun ini berperan jauh lebih banyak dari pada orang tua gue yang tinggal di Yogyakarta. Orang yang gue sebut kekasih ini, dia bernama Dhika.

Sore tadi di café. Gue memang menelponnya untuk datang. Ada hal yang ingin gue sampaikan. Hal yang sudah gue tutupi darinya sejak tiga bulan terakhir. Seperti biasa, gue duduk di meja depan kaca besar yang menghadap ke jalan raya. Secangkir cappuccino panas menemani gue menunggu Dhika. Kali ini , keempat kalinya dari dua tahun berpacaran sama dia, gue menunggu dia. Baru dua belas menit gue menunggu dia, gue sudah tujuh kali mengirimi dia pesan singkat dan lima kali telpon yang akhirnya menjadi missed call. Gue yang memang kurang pengertian selalu bisa memaksa dia dengan keegoisan gue. Gue memang jahat.

Disisi lain, gue menunggu kedatangan orang lain. Gue menunggu Bima.

Lebih dulu dari Dhika, Bima sampai dan sudah duduk di samping gue. Gue menyuruh dia untuk memesan terlebih dulu dari pada menunggu Dhika yang masih di jalan. Selama gue menunggu Dhika, gue asik berbincang mesra dengan Bima. Saling bertatapan dan tertawa layaknya orang pacaran. Tangan kanan Bima menggenggam erat tangan kiri gue. Dan semua gue tutupi ketika Dhika datang.

Dhika berdiri di hadapan gue. Dari jauh rupanya ia melihat Bima yang sedang menggenggam tangan gue. Dan melihat gue yang asik bercanda mesra dengan Bima. Tapi itulah hebatnya Dhika, dia gak marah. Dia justru bertanya meminta izin untuk duduk di antara gue dan Bima. Dengan gugup, gue berusaha ramah dengannya. Gue sadar, dia masih memiliki status pacar gue. Dia duduk, tanpa banyak diam dia bertanya, “Ada apa, Fik?”

Cara dia menyebut nama gue dalam pertanyaannya membuat gue sudah dapat menyimpulkan, dia cemburu dan dia marah. Gue gak mau banyak basa-basi, posisi gue disini masih gak enak dan gak aman. Sesaat setelah ia melepaskan nafas panjangnya, gue berbicara.

“Dhika, sebelumnya, kenalin ini teman kuliah gue dulu, namanya Bima.” Mereka saling berjabat tangan. Bima ramah menyapanya, begitu pula Dhika. Dhika seseorang yang handal menahan segala emosinya. Sekali pun dalam hatinya sudah sepanas besi yang diapikan, ataupun emosinya sudah meluap seperti lava gunung berapi yang mau menyembur keluar, dia masih bisa mengontrol dirinya. Itu yang paling aku suka darinya, bahkan itu juga yang membuat aku menyepelekannya hingga seperti ini.

Ia melihat gue dan tersenyum seperti tak ada masalah di meja ini. Padahal ia jelas memngetahui bahwa ada yang tidak beres disini. Bima berbisik di telinga gue, menyuruh gue untuk tidak melakukannya dan melupakan masalah yang ada. Gue menggelengkan kepala gue dan menjawab perkataannya dengan kalimat tenang gue. Entah itu tenang, entah itu masa bodoh.

Gue melihat dahi Dhika yang sudah mengkerut karena sudah bosan menunggu kalimat penjelasan yang keluar dari mulut gue. Gue masih ragu, ternyata gue masih khawatir dan merasa bersalah, tapi… “Dhika, kamu sekarang sudah kenal Bima. Ini yang pernah aku certain beberapa bulan lalu ketika kamu di luar kota dan aku sendiri disini. Dhika, jujur aku sayang banget sama kamu. Aku bahagia sama kamu. Kamu sangat sabar menghadapi aku yang egois ini. Tapi gak tau kenapa? Mungkin karena kamu sudah lelah menghadapi aku yang egois terhadap kamu. Aku pikir kamu berubah. Waktu kamu pergi ke Palembang buat Studibanding, aku selalu menceritakan Bima. Saat kamu disana, kamu sibuk sama urusan kamu dan aku merasa kehilangan kamu. Dalam satu hari kita hanya punya lima belas menit setelah kamu bangun tidur, itu pun karena aku duluan yang sms kamu mengucapkan selamat pagi. Begitupun malam hari nya, aku duluan yang mengucapkan selamat tidur ketika mata aku sudah sangat ngantuk. Kamu gak ada waktu, sampai sekarang, sampai saat ini ketika aku memintamu untuk datang ke café ini. Memang kamu datang, tapi hanya sekali respon kamu dari belasan sms aku. Dari sekian lama waktu aku yang kamu anggurin, ada Bima hadir. Setiap waktu aku yang gak ada kamu, selalu ada Bima. Bukannya aku gak pengertian sama kamu yang sibuk sama kerjaan. Aku berpikir seperti ini juga karena ada hal yang mendorong aku untuk melakukannya. Kamu ingat? Aku punya teman di Palembang, Dwi, dia membantu aku memantau kamu disana. I’m worried about you. Aku meminta Dwi untuk selalu memberikan kabar kamu yang gak pernah kamu kasih ke aku. Dari satu bulan studibanding kamu yang kamu bilang ke aku, Dwi bilang kalau hanya sepuluh hari kamu pakai buat kerjaan kamu, sisanya kamu liburan sendiri. Mungkin disitu aku juga berpikir kalau kamu memang butuh waktu tanpa aku. Tapi, aku hanya butuh satu, kabarin aku keadaan kamu disana. Kamu bahkan gak pernah tau kalau aku khawatir, kalau aku selalu menunggu kamu menelpon aku. Kamu gak tau karena kamu gak pernah kasih aku kesempatan untuk memberitahu ke kamu. Aku kesel sendiri, aku cerita ke Bima. Hanya Bima yang saat itu mengerti keadaan aku. Sampai aku merasa terbiasa tanpa kamu dan seiring itu pula aku terbiasa dengan kehadiran Bima. Sampai terbiasa itu juga berubah menjadi segaris senyum di bibir aku dan menjadi tawa bahagia ketika bersama dia. Lalu semua itu dengan cepat berubah menjadi cinta yang tumbuh di antara cinta aku ke kamu. Hingga semua berbalik, bukan kamu yang aku tunggu kabarnya. Dia buat aku bahagia, dia buat setiap malam aku yang tanpa kamu itu menjadi kembali berwarna. Sesaat aku kehilangan kamu, dia datang membawa wangi baru. Awalnya aku takut, karena aku samasekali gak mau berbuat jahat sama kamu. Aku takut semua ini terjadi, aku berkali-kali mencoba terapi perasaan aku dengan buku-buku tentang cinta. Agar aku kuat, agar aku bisa bertahan dan mempertahankan perasaan aku ke kamu. Tapi semua itu kalah. Aku terlanjur bahagia bersama dia. Setiap ada dia di saat gak ada kamu, aku lengkap. Sampai akhirnya, ketika kamu bilang kamu sudah di Jakarta, aku malah mendeklarasikan kalau aku benar-benar jatuh cinta lagi. Dan semua berjalan dengan cepat. Dua bulan aku menjalani hubungan tanpa status sama dia, tanpa sepengetahuan kamu, bahkan siapapun. Aku minta maaf. Kamu boleh marah sama aku, kamu boleh putusin aku, kamu boleh memaki aku dengan kata-kata yang sekalipun gak pernah aku dengar. Aku meminta maaf sekali lagi sama kamu, Dhik.” Gue menunduk. Sekian banyak kata yang gue keluarin untuk menjelaskan semua yang terjadi, Dhika hanya diam mendengarkan. Masih dalam senyumnya, namun kali ini gue melihat dia tampak bosan dengan ditunjukkan dengan tangannya usil memutar-mutarkan smartphonenya. Bima disini masih diam menunggu gue selesai berbicara.

“Dhika, gue minta maaf juga sudah lancang mengambil yang sudah dimiliki orang lain. Disini juga posisi awalnya lo tau lah, gue hanya mencoba mengobati luka rindu yang dirasakan sama Fika. Gue sebagai cowok yang gak tega juga melihat cewek yang dicuekin sama cowoknya, gue bantu menghibur dia. Tapi ternyata keadaan memberikan dukungan lain buat gue sama dia. Gue emang berengsek, gue mengakui itu. Gue sadar, gue gak berhak buat memiliki Fika. Apa yang lo liat tadi, gue yang menggenggam tangannya Fika, gue hanya berusaha untuk mencegahnya. Gue berniat sungguh-sungguh buat mengembalikan apa yang sudah lo punya. Fika itu cewek baik, dia sayang banget sama lo. Makanya dia sampai datang ke gue untuk meminta menguatkan hatinya buat lo. Selain itu, gue juga mau kasih saran ke elo. Harusnya lo gak sia-siain Fika. Gak dengan gak kasih kabar ketika lo jauh dari orang yang lo sayang. Lo harusnya mengerti kalau dia khawatir sama lo. Dan sekali lagi gue minta maaf, gue kembaliin yang gak seharusnya jadi milik gue ini ke elo.” Bima meraih tangan gue dan membawanya ke tangan Dhika. Sebagai tanda bahwa Bima tidak ingin gue mengkhianati Dhika. Setelah itu, Bima pergi meninggalkan kita berdua disini.

Gue masih menatapnya kecewa, gue sedikit masih berharap dia mengeluarkan kata marahnya. Dia menarik tangannya yang berada di bawah telapak tangan gue. Dia bangkit dari tempat duduknya, menarik tangan gue dan membawa gue keluar café. Ia menyuruh gue untuk masuk ke mobilnya dan sekarang gue berada di dalam mobilnya dan dalam suasana hening tanpa pembicaraan.

Kini sudah setengah jam gue sama dia saling diam. Dari petunjuk arah yang baru saja gue lewati, gue baru tersadar kalau dia membawa gue ke Yogya, dia mengantarkan gue ke rumah orang tua gue. Setelah gue mengetahuinya dan mulai merasa kesal dengan keadaan hening ini, gue memulai pembicaraan lagi dari awal.

“Dhika, kamu bisu?” dia tidak menjawab. “Dhika, aku mohon dong, dari tadi di café sampai sekarang kamu sama sekali gak mengeluarkan kata sedikit pun. Apa sih yang ada di pikiran kamu? Dhika! Please! Say something, aku gak suka suasana hening tanpa jawaban gini. Kamu membuat aku sama Bima jauh, dan sekarang kamu mau membawa aku ke Yogya, ke rumah orang tuaku tanpa sedikit pun kamu bilang. Kamu itu!” gue mengepalkan tangan gue menahan emosi. Dia masih dengan kemudinya dan tidak merespon apapun. Gue kembali terdiam hingga gue lelah dan tertidur.

Gue terbangun, cahaya lampu membangunkan kelelahan gue malam itu. Sekarang pukul  sebelas malam. Gue berada di rest area. Gue menoleh ke arah kanan, gue gak melihat Dhika disana. Sepertinya Dhika sedang berada di dalam supermarket. Gue turun dari mobil dan pergi menuju kamar kecil. Ketika gue kembali dari kamar kecil dan masuk ke dalam mobil Dhika, Dhika sudah ada di dalamnya. Gue duduk dan menatap ke depan. Dia memberikan gue sebotol minuman kopi kesukaan gue. Gue menerimanya dan segera menenggaknya.

“Maafin gue, Fik. Gue dari tadi diam saja dan gak mau ngomong apapun. Gue takut ada apa-apa di jalan. Sekarang lo udah  bangun dan kita gak lagi di dalam tol. Gue mau ngomong sekarang.” Kata dia datar.

“Akhirnya” respon gue sinis.

“Gue maklumin lo sampai jatuh cinta lagi. Itu pun karena ulah gue. Gue emang marah dan kesel tadi. Bahkan lo pasti taulah, semarah apapun gue, gue gak akan mengungkapkan itu. Setidaknya gak di sembarang tempat, di tempat umum kayak café tadi deh. Sekarang, ketika gue pikir gue mau marahin lo, gue malah gak merasa emosi lagi. Gue udah redam dan lupain semua. Gue kepikiran ucapan Bima tadi. Ya gue yang salah, gue yang terlalu cuek dan salah waktu gue di Palembang. Satu hal yang lo tau, saat gue di Palembang, gue ketemu sama mantan pacar gue. Maka dari itu, sebagian besar waktu gue disana gue pake buat liburan. Gue sempet suntuk sama lo. Lo menyadari kan kalau lo tuh ngeselin? Lo terlalu egois sama diri lo sendiri. Lo sama sekali gak pernah menghargai kesabaran gue. Sampai akhirnya di Palembang gue merasa happy sama mantan gue, dan lupa sama lo. Itu kesalahan gue yang paling fatal. Tapi, sehari sebelum gue pulang ke Jakarta. Dwi mengunjungi hotel gue, dia memarahi gue karena dia pernah melihat gue makan malam sama mantan gue itu. Gue meminta dia untuk gak bilang sama lo. Gue yang menanggung resiko sendiri atas apa yang gue lakuin. Karena saat itu gue percaya, ketika kita berdua bicara, kita mampu menyelesaikannya. Perasaan lo sama perasaan gue sama-sama kuat. Pada dasarnya kita sama-sama lelah sama hubungan kita yang gak pernah bisa beranjak dari kata datar. Gue juga gak nyangka permainan ini jadi semakin dalam. Gue udah mau bilang sama lo setelah dua hari gue ada di Jakarta lagi. Tapi gue juga melihat perubahan lo yang drastis terhadap gue. Gue menunggu kapan titik puncak ini kita temuin. Ternyata hari ini titik puncaknya. Terima kasih udah menyadarkan gue atas kesalahan gue. Gue juga udah maafin lo kok. Karena gue juga yang salah. Lo gak akan sampai kayak gini kalau gak gue yang mulai duluan.” Ujarnya panjang lebar. Penjelasan yang gak pernah gue sangka. Di luar praduga gue. Gue mau marah, tapi gue kembali tersadar. Masalah ini gak akan pernah selesai kalau kita gak saling mengalah dan mengakui kesalahan. Gue mengerti dia, begitu pun dia. Gue memaafkan dia tulus, begitupun sebaliknya.

“Gue rasa, ini semua udah selesai ya, Dhik. Semua ini adalah murni kesalaha kita yang gak pernah kita coba bicarakan.” Gue kembali tersenyum karenanya.

“Gue mau bawa lo ke Yogya, karena…” dia menjedakan pembicaraannya. Gue merasa bingung dan penasaran, hingga akhirnya dia melanjutkan, “karena gue mau melamar lo di depan orang tua lo, Fik.”

“Ha?” gue terkejut tapi gue merasa sangat bahagia. Gue menunggu sampainya gue di rumah Mama dan Ayah. Gue menunggu Dhika melamar gue di hadapan mereka. Gue bahagia. Kebahagiaan yang kemarin gue berikan karena orang lain, kali ini kembali gue berikan karena Dhika.

Minggu, 14 Juli 2013

Buka Bersama The Blue Army 10-11 (13 Juli 2013)

Setelah melalui beberapa sesi pertemuan rapat. Akhirnya berjalan juga acara pembuka dari seluruh agenda OSIS 10-11 pasca lulus dari SMA.







Dan kami, yang dipersatukan dalam sebuah organisasi kecil bersebutkan OSIS SMA Negeri 94 Jakarta Periode 2010-2011, kembali menjalin silaturahmi dengan acara kecil yang Insya Allah bisa membawa kami menuju acara-acara selanjutnya yang selalu membuat tali persaudaraan ini tidak pernah putus. Amin.



Buka Bersama OSIS 2010-2011 , Sabtu 13 Juli 2013
at Fadhly's House present :
☑Eka Puja Darmawan @eka_pudja
☑Rizky Aditya Midjil Pamungkas @dityoMidjil
☑Syarifah Mudarsih @syarifahmu
☑Dendy Dwi Gandra @dendygandra
☑Bachtiar Hidayat @tiarthird
☑Nur Syarafina Dini @syarafinaaka
☑Ahmad Baidowi
☑Palupy Aprilianita Handinny @dinnyCP
☑Redina Dhitamaya @RedinaD
☑Intan Fitriana @fitriianaa
☑Muhammad Fadhly
☑Adi Kurniawan @adiAK9
☑Putri Nurdiyanti




A part of planning :
(pas rapat boleh dong ada dokumentasinya? )
Rapat di rumah Fadhly
5 Mei 2013

(Fadhly sama Eka serius banget ya? hahaha)















Terima Kasih Atas Kebersamaannya, Semoga Kita Tetap Menjadi Solid Dan Tali Persaudaraan Ini Tetap Terjalin. Amin

Setetes Tinta Hitam Pada Kertas Putih



“Dingin banget.” Kalimat pertama yang aku dengar ketika aku sampai dan berdiri di depan pintu rumah. Ibu yang sedari tadi duduk menunggu kehadiranku di bangku kayu ruang tamu mengeluhkan suasana yang hadir. “Apalagi Dini, Bu? Dini baru saja pulang dan kehujanan. Basah semua baju Dini, pasti dingin banget.” Jawabku membalas perkataan Ibu.

Aku melihat beliau bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju dapur. Aku masuk ke rumah dalam keadaan basah kuyup. Dengan berlari kecil aku menuju ke kamar. Melepas semua pakaian basah ini dan menggantinya dengan sweater putih dan celana batik favoritku. Begitu keluar dari kamar, aku melihat Ibu menaruh segelas teh hangat di atas meja depan televisi. “Ini teh hangatnya, Din.” Ternyata ia baru saja membuatkan ku segelas teh manis hangat. Mungkin ia merasa perkataanku tadi adalah sebuah intruksi atau sindiran agar aku dibuatkan teh panas.

“Terima kasih, Ibu.” Aku memeluknya erat. Aku cium bau tubuhnya yang khas itu membuat aku merasa bersalah telah mengucapkan kalimat tadi. “Maafin, Dini ya Ibu kalau perkataan Dini tadi menyinggung.”

“Engga kok, sayang.” Dia membalas dengan senyuman manisnya yang khusus itu. Aku mengambil segelas teh manis hangat itu dan membawanya ke dalam kamar. Aku teringat akan satu hal yang sedang terjadi dalam hati dan pikiranku saat ini. Sedari tadi aku sudah menyiapkan ide untuk tulisanku selanjutnya.

Ditemani oleh segelas teh hangat dan beberapa potong kue bolu sisa makan malam tadi, aku memulai mengulang kembali kejadian beberapa jam yang lalu hingga beberapa menit yang lalu. Seraya menyeruput teh manis, mataku terbuka lebar menatap layar laptop yang sedang membuka program Microsoft office 2010. Aku taruh kembali cangkir itu si meja samping laptop. Tampilan laptop ini pun sudah menunjukkan kesiapannya untuk kuisikan dengan segala curahan hatiku saat ini.

Sambil mengulas kembali apa yang sudah terjadi, aku menggigit kue bolu itu. Kemudian, aku memulai.

Beberapa menit lalu aku masih ada di jalan kampung menuju rumahku. Ditemani tetesan air dari langit yang sudah dari tadi pagi mengguyur kotaku. Sekitar 500 meter jalan yang ku lalui tadi setelah aku turun dari angkutan umum. Sepanjang jalan itu, aku tidak berhenti tersenyum mengingat segala hal yang baru saja terjadi. Rintikan hujan membasahi kepalaku yang terbalut jilbab berwarna merah muda kala itu. Hingga akhirnya merembas masuk mengenai kulit kepalaku. Lalu mulai ku rasakan dingin menggerayangi perjalananku dan aku masih dalam senyuman rasa bahagiaku.

Sesekali aku mendengakkan wajahku menatap ke langit. Aku bahagia mengingatnya, ketika sekali lagi aku melihat wajahnya yang tampan itu. Di suasana yang ramai saat itu aku mencuri kesempatan melihat wajahnya utuh sekali lagi. Mata yang sudah tiga bulan tidak pernah aku lihat, kini aku kembali dapat melihatnya hanya dengan jarak 15 sentimeter dari mata ini memandang. Untung saja saat itu ia tidak sedang melihatku atau mau mengajakku berbincang.

Aku mengingatnya ketika ia datang. Dari jauh sudah ku lihat awak tubuhnya yang sudah ku hapal sejak lama. Dari jarak 50 meter aku sudah bisa menebak kalau itu adalah dirinya. Aku mengingat ketika aku harus menunduk ketika ia berada di hadapanku. Ia mengulurkan tangannya mengajakku berjabat tangan. Aku meraihnya dengan rasa grogi. Aku ucapkan kata selamat datang untuk menyambutnya ramah. Aku tarik tangannya yang sudah ku genggam. Aku ucapkan kalimat penghibur agar aku tidak terlihat salah tingkah. Kemudian ia duduk di sampingku, membuka jaketnya dan mulai merapihkan rambutnya. Aku nekat, dorongan adrenalin membuatku membantunya merapihkan rambut. Aku mengingatnya tersenyum, ketika ia memegang tanganku yang berada di kepalanya dan membawanya ke depan wajahnya yang kemudian ia kekap tangan ini dengan kedua tangannya. Aku malu. Aku tarik tangan ini dan mengeluarkan kalimat ejekkan yang membuat suasana manis di antara kita berdua ini pecah.

Aku terniang ketika ia berbisik menanyakan kabarku. Suaranya yang ku dengar sangat dekat itu membuat jantung ini semakin tidak karuan detakkannya. Aku yakin dia merasakannya. Melalui desah nafasku yang menutupi rasa cinta. Aku menoleh kepadanya ketika ia mulai menjauhkan wajahnya. Senyumku lebih tajam ke kanan. Kemudian aku tertunduk. Melihatnya berbicara dengan Miky mulai mencairkan suasana tegang yang bergejolak di hatiku. Sesekali ia menoleh ke arahku dan berusaha mengajakku berbicara. Tanpa banyak pikir, aku menyambut ajakannnya dengan manis.

Aku teringat ketika ia mengajakku untuk pergi ke musholah dan mengajakku sholat ashar berjamaah. Aku dengan semua rasa grogiku menerimanya. Kemudian aku berjalan menuju musholah yang berada pada lantai dasar gedung ini. Berdua, hanya berdua. Keadaan saat itu mendukung sekali, Miky bukan lah seorang muslim, maka dari itu dia tidak ikut kami menuju musholah. Di musholah yang kecil itu kami melakukan sholat berjamaah. Hingga selesai sholat, hanya satu hal yang belum pernah kami lakukan. Mungkin nanti, yaitu ketika aku mencium tangannya ketika aku sudah selesai dalam semua kekhusyukkanku menghadap Allah. Tapi kali ini, hanya menoleh kepadaku dan tersenyum yang dapat ia lakukan, dan aku membalas senyum itu.

Aku terbayang beberapa saat berlalu setelah itu. Duduk di sampingnya dan  mulai memakan makanan yang sudah 15 menit tadi kami pesan. Nasi goreng seafood favoritku ketika aku makan di restoran ini membumbui pertemuanku dengannya. Dan ia, masih dengan menu favoritnya juga, begitu yang ia katakan dua menit lalu. Tak menyangka, ia kembali mau menyuapiku dengan makanan yang ada di hadapannya itu. Kembali, setelah satu tahun lalu ia melakukannya di sekolah kami dulu. Masih dengan alasan yang sama, hanya untuk mencicipi menu yang ia pesan. Padahal aku pun pernah mencobanya sesekali ketika aku makan disini.

Aku terhenti pada langkahku yang sebentar lagi sampai di depan rumah. Aku menunduk, kedua tangannku menyentuh lututku yang sudah basah terkena air hujan. Senyumku masih terpasang, tak sedikit pun memudar. Mataku tertutup mencoba mengingat hal-hal indah yang aku lewati tadi. Nafasku kutarik panjang mengendalikan suasana hati. Air hujan juga mulai mengenai punggungku dan dingin semakin menjalar di seluruh kulit.

Kembali aku mengingat hal terakhir yang membuatku tersenyum bahagia. Setelah melalui perbincangan hangat yang panjang, setelah kita sudah mengulas semua kenangan kita bertiga di masa sekolah, setelah sepiring dan semangkuk makanan yang kami pesan habis, setelah Miky bersendawa panjang memecahkan suasana serius, setelah semua rencana yang kami buat seminggu yang lalu usai dan berakhir, ia bersandar di pundakku dan mengeluhkan dirinya yang lelah dengan aktivitasnya saat ini. Aku kaget dan semakin tidak bisa mengontrol dengan baik antara pikiran, hati, dan raga. Ternyata ia benar-benar menyadarinya dan mencetuskannya begitu saja, membuatku merasa malu dan sangat bingung harus mengeluarkan kata-kata apa lagi. Wajahku memucat seketika kata Miky. Tapi kemudian, ia mengeluarkan kalimat penenang, ia bilang semua tidak masalah, aku hanya terkejut karena ia tiba-tiba bersandar. Benar-benar menutupi rasa grogiku saat itu.

Luar biasa, ternyata perasaan itu masih ada. Dan kini aku tersadar. Seraya kembali aku menyeruput teh ini, aku telah mendustakan diriku sendiri yang kemarin sudah mendeklarasikan di hadapan dua orang teman baruku jika aku sudah tidak memiliki perasaan apapun terhadapnya. Semua ini bukan tumbuh kembali, melainkan semakin kuat bersinar ketika semua terwujud di hadapannya. Ya, aku masih mencintainya.

Jumat, 12 Juli 2013

Coklat Stroberi



Bima      : “Udah lama ya kita gak jalan berdua gini?!”
Ika          : (tertawa kecil) “Iya, Tak.”
Bima      : “Setelah kita jalan seharian begini, baru ini kamu panggil aku dengan sebutan ‘tak’. Padahal kan aku udah gak botak.” (Ia tersenyum membalas)
Ika          : “Setelah kita jalan seharian begini, baru ini lo mengucapkan kata kamu dan aku di antara percakapan kita.” (Menarik bibir ke arah kanan)
Bima      : (tertawa kecil) “Bu, roti bakar isi stroberi satu ya.”
Ika          : “Gue”
Bima      : (menyelak) “Roti bakar coklatnya satu, Bu.”
Ika          : “Masih inget aja deh lo rasa kesukaan gue.”
Bima      : (melirik ke arah Ika) (tersenyum) “Yang coklat rotinya jangan gosong, tapi kering ya, Bu. Terus jangan pakai pinggirannya, pinggirannya di buang aja, Bu.”
Ika          : (menatap Bima) (tersenyum) “Lo benar-benar masih ingat selera gue.”
Bima      : “Minumnya es teh manis aja. Dua ya, Bu. Gulanya sedikit aja.”
Ika          : (menunduk) (menarik nafas kemudian dihembuskan) “Setelah kita dekat, sering jalan bareng dulu, sering makan roti bakar, gue gak pernah tau alesan lo milih roti bakar rasa stroberi. Lo mau kasih tau gak? Gue sedikit kepo nih.”
Bima      : “Yakin mau tau?” (menaikkan alis kanannya)
Ika          : “Iya, itu juga kalau lo bersedia sih. Habisnya gue agak bingung aja sih. Mind set tentang stroberi itu kan identik dengan kefeminiman perempuan. Atau jangan-jangan lo ini jiwanya perempuan ya?”
Bima      : (menatap mata Ika kemudian mendekatkan wajahnya) “Selama kita dekat, selama kita sering jalan bareng dulu, selama kita makan roti bakar, apa pernah lo liat gue bergelagat seperti perempuan?”
Ika          : “E… eng.. eng.. engga…” (mengedipkan mata) “Udah ah, jangan lagi-lagi lo menatap mata gue kayak tadi!” (mendorong wajah Bima agar menjauh)
Bima      : “Loh? Kenapa? Bukannya dulu lo biasa aja kalau kita berbicara dengan jarak wajah kita yang tidak jauh gitu?”
Ika          : “Itu kapan? Itu dulu kan? Sekarang udah gak lagi!”
Bima      : “Sekarang pun iya. Lo aja yang menutupi itu semua.”
Ika          : “Engga! Sekarang pun engga, Tak ! Hanya pacar gue aja yang boleh menatap gue kayak gitu.”
Bima      : “Loh kenapa memangnya?”
Ika          : “Ya karena dia pacar gue. Orang yang gue sayang, orang yang selalu buat gue bahagia, orang yang selalu ada buat gue, orang yang selalu hadir di mimpi gue, orang yang selalu perhatian sama gue.”
Bima      : “Oh, iya ya? Hm… hebat ya dia? Bisa buat lo seperti ini. Bisa dapetin tatapan dari mata lo yang indah itu. Kapan nih lo mau kenalin gue sama dia?”
Ika          : “Not right now. Kita tunggu waktu yang pas buat kalian ketemu. Nanti kalau dia ada di Bandung ya, kalau dia lagi liburan semester.”
Bima      : “Oke. Gue tunggu saat itu. Oyah, semanis apa sih kalian?”
Ika          : “Semanis…”
(Roti bakar itu pun hadir di hadapan Ika dan Bima)
Ika          : “Semanis roti bakar coklat ini. Semua berjalan dengan keromantisan dan ya sweet lah gitu. Sesuai dengan keinginan kita berdua. Selalu bahagia dan penuh dengan hal-hal yang manis lah.”
Bima      : “Wah keren yah. Sukses deh buat kalian berdua.”
Ika          : “Kalau lo gimana, Tak?”
Bima      : “Kalau gue kayak roti bakar rasa stroberi ini.”
Ika          : “Eh tunggu dulu. Sejak kapan lo punya pacar, Tak? Gue gak pernah tau kalau lo jadian sama cewek. Kok lo gak pernah cerita sama gue sih?”
Bima      : “Kata siapa gue punya pacar? Gue single, gue available.”
Ika          : (tertawa) “Kan bener. Terus maksud lo tentang roti bakar rasa stroberi yang lo pilih itu apa? Kan? Lo kan kayak apaan tuh? Punya kisah cinta kayak stroberi tapi lo gak punya cewek. Mungkin lo punyanya cowok kali ya? Nahloh!”
Bima      : (mengusap kepala Ika) “Dengerin gue ngomong dulu dong,Cung!”
Ika          : “Ha? Cung? Mancung maksud lo? Akhirnya lo manggil gue dengan sebutan mancung lagi.”
Bima      : “Iya , Mancung. Itu panggilan special gue buat lo.”
Ika          : “Terima kasih, Botaaaaak. Lanjutlah sama cerita lo.”
Bima      : “Siapa yang mau cerita?”
Ika          : “Lo lah tadi. Kan tadi lo udah mau mulai membahas tentang pilihan rasa stroberi lo itu tuh.”
Bima      : “Apa yang lo pikirin tentang stroberi? Apa yang ada di pikiran lo kalau lo dengar kata stroberi?”
Ika          : “Stroberi ya? Hmm… yang tadi gue bilang. Identik sama cewek, feminim, lembut, manis gitu deh.”
Bima      : “Nah, maksud dari manis itu apa?”
Ika          : “Ya karena menunjukan kefeminiman jadi kesannya manis aja.
Bima      : “Lo salah, Cung. Lo liat deh bentuk asli stroberi, lo inget-inget bentuknya. Bentuknya sih emang seperti orang-orang menggambarkan hati ya. Padahal hati aja bentuknya gak seperti itu. Kulitnya stroberi,Cung. Kulit stroberi ada gak sih yang mulus? Gak ada, Cung. Pasti permukaannya gak halus ataupun mulus. Ya, kan? Sama kayak kisah percintaan gue, Cung. Gue sejak dulu sampai sekarang hanya jatuh cinta sama satu orang cewek. Tapi hampir setiap hari kalau gue lagi stalking twitter dia, gue selalu melihat dia lagi asik saling balas mention sama pacarnya.” (seraya mencaplok roti bakar stroberi miliknya)
Ika          : (menyimak tanpa sedikit pun mencolek roti bakar dihadapannya)
Bima      : “Jangan terlalu serius gitu lah, nanti dengan gampang lo nebak gue jatuh cinta sama siapa. Makanlah itu roti bakar kesukaan lo.”
Ika          : “Suka-suka gue lah, Tak. Tapi iya deh sayang juga ini roti.”
Bima      : “Gue lanjut ya.” (mengambil sepotong roti dengan garpunya lalu dimakan) “Itu lah gambaran percintaan gue dari kulitnya stroberi. Gak mulus. Setiap kali gue harus merasa putus asa karena sang cewek ini udah ada yang punya, setiap itu juga gue terus-menerus jatuh cinta sama dia. Artinya stroberi walaupun dari luarnya udah gak mulus gitu, tapi bagi sebagian orang stroberi itu selalu membuat pengen nambah lagi, Cung.”
Ika          : “Iya juga sih.” (menyuap sepotong roti bakar)
Bima      : “Selanjutnya nih, kalau lo belah itu stroberi menjadi dua, stroberi itu gak akan bisa berdiri sempurna. Dengan mudahnya dia akan jatuh, karena stroberi gak punya tumpuan di bawahnya, kan bawahnya lancip.”
Ika          : “Tapi gak cuma stroberi aja tuh, Tak. Buah-buahan lainnya juga.” (sewot)
Bima      : “Lo mau denger teori gue tentang stroberi dan cinta gak? Bawel banget lo kayak ikan.”
Ika          : “Ba…”
Bima      : (menyela) “Heh nama lo aja udah Ikan ya?”
Ika          : “Ika, Botak!” (menarik hidung Bima)
Bima      : “Heh! Kebiasaan gue ke elo tuh. Udah ah, gue mau lanjut nih.”
Ika          : “Iya, sayaaaang.”
Bima      : “Indahnya dipanggil sayang sama kamu.” (tersenyum manis) “lanjut ya. Dengan penjelasan gue yang tadi. Cinta gue ke dia tuh seperti separuh dari stroberi, masih suka rapuh dan gak mampu bertahan kalau yang separuh lagi gak bersatu sama gue. Dan satu lagi, stroberi itu rasanya asem tau. Asem banget malah. Ya sama tuh balik lagi sama kisah cinta gue. Asem banget. Setiap hari gue harus liat cewek yang gue sayang harus sayang-sayangan sama orang lain. Dan bahkan ketika gue bertemu langsung atau lagi jalan berdua sama dia nih ya, dia sering banget tuh membanggakan pacarnya. Syukurnya sih dia gak pernah bawa pacarnya ketemu sama gue. Kalau sampai itu terjadi, mungkin mau gue bunuh aja itu pacarnya.”
Ika          : “Kok lo jahat banget sih? Harusnya lo bisa nerimain dong kalau emang cewek yang lo sayang itu punya pacar. Kan cinta tak harus memiliki, Tak. Dan kalau emang lo yakin sama itu cewek, jodoh mah gak akan kemana, Tak.”
Bima      : “Nah! Itu dia. Gue yakin sama kalimat itu ketika gue makan roti bakar rasa stroberi ini. Gue selalu menyadari kisah ini dan gue bisa menerima semua kenyataan ketika gue juga menyadari bagaimana stroberi itu sendiri. Yaa sedikit untuk memberi gambaran supaya hati gue tenang lah. Kalau lo gimana sama coklat lo?”
Ika          : “Ya itu, manis, romantis. Kan kalau sekarang tuh cowok mengungkapkan rasa sayangnya tuh banyak yang pakai coklat ya. Ya begitu, sama kayak dia. Selalu seperti itu.”
Bima      : “Manis. Romantis. Coklat.” (dengan nada meledek) “Asal kamu tau ya Mancung. Coklat itu kalau gak ditambah gula atau pemanis, coklat tetap saja coklat yang pahit. Harusnya lo menyadari, coklat yang menurut lo manis dan romantis itu udah diolah dengan berbagai cara untuk menutupi aslinya. Gue rasa juga sama kayak lo, lo beranggapan kalau cinta lo itu selalu manis, padahal cinta lo itu pahit. Lo bilang manis karena udah lo kasih pemanis aja. Dan semua itu ya seperti kebohongan aja gitu. Warnanya aja udah gelap, kan gak bagus. Harusnya cinta itu diibaratkan sama yang cerah-cerah dong.”
Ika          : “Bim, gue dari tadi sabar loh denger teori lo yang sebenernya menurut gue cuma menutupi diri lo yang patah hati aja karena gak bisa dapetin apa yang lo mau. Kenapa gak lo coba roti bakar stroberi lo diganti sama rasa lain? Yang pasti jangan rasa coklat juga. Karena gue yakin, di mata lo, entah itu coklat entah itu stroberi, gak akan berarti baik juga.” (Ika mulai naik pitam)
Bima      : “Santai dulu dong, Cung. Kok lo sensi banget sih? Gue pikir lo dengan mudah menebak semua pengibaratan gue itu. Dan lo gak perlu marah begitu mendengar semua penjelasan gue.”
Ika          : “Tapi gue gak suka sama penjelasan lo yang menganggap percintaan gue itu adalah sebuah kebohongan. Sama seperti teori lo yang sama sekali gak masuk akal.”
Bima      : (menaikkan alis kanannya)
Ika          : “Kalau lo masih beranggapan seperti itu, kenapa gak kita coba aja tuker. Lo coklat dan gue stroberi, biar lo tau arti coklat itu apa setelah lo merasakannya. Karena sejauh yang gue tau, teori lo tentang coklat gak berdasarkan apa yang lo rasain dengan lidah lo. Lo hanya menilainya dari jauh aja.”
Bima      : “Bener? Lo mau kita tukeran?”
Ika          : “Iya. Nih!” (menyodorkan sisa roti bakar rasa coklatnya)
Bima      : “Oke. Gue makan ya yang ini. Dan lo makan yang itu.”
Ika          : “Oke.”
(setelah melalui beberapa potong roti bakar)
Ika          : (terdiam dan kemudian menoleh ke Bima)
Bima      : “Kenapa?”
Ika          : “Gue baru menyadari maksud dari teori asal lo itu. Bukan itu maksud lo menjelaskan semua itu. Tapi…”
Bima      : “Maaf gue gak segentle cowok lo.”
Ika          : (mengerutkan kening)

Stupidfy : Ku Yakin Cinta Part IV

Read Stupidfy : Ku Yakin Cinta Part III                 Via Whatsapp aku mengajaknya pergi ke Puncak, enam bulan kemudian. Dia mau dan si...