Jumat, 14 Februari 2014

Cinta Itu...



Cinta itu…
Sesuatu yang sulit dijelaskan. Sesuatu yang gak bisa direncanain yang datang dengan tiba-tiba. Suatu perasaan yang berkeinginan keras untuk memiliki. Jika sudah dimiliki, orang yang merasakan cinta itu akan selalu menjaga dan gak mau untuk kehilangan. Jika sampai kehilangan, orang itu akan sangat kecewa, kaena cinta adalah bagian dari hidupnya yang gak bisa dilepaskan. Sesuatu yang harus dijaga sampai akhir hayat. Perasaan yang gak boleh diduakan, kukuh dengan satu pilihan. Dan cinta adalah buah hasil kerja keras seorang anak adam. Cinta adalah hak setiap manusia untuk ia rasakan. Yang gak bisa dikurangi, namun bisa dilebihi. Sesuatu yang diraih dengan cara apapun, dari cara yang wajar hingga kurang ajar. Sesuatu yang menjadi impian setiap orang. Sesuatu yang dicurahkan dari kasih sayang dan kepatuhan atas apa yang diinginkannya. Cinta itu abadi, gak akan pernah hilang, hanya saja sering menjadi kenangan. Sesuatu yang bisa mengeluarkan air mata, darah, keringat, pengorbanan demi kebahagiaan sejati. Sesuatu yang dapat membuat orang menjadi gila dan kecanduan. Namun, bisa juga membuat orang girang, berkhayal, dan kesenangan yang gak tertandingi. Cause Love Is Everything
 

Sabtu, 01 Februari 2014

Untitled-



Tak ingin membohongi perasaan ini. aku memang suka, bahkan sayang. Sayang melebihi seorang teman. Ingin hati memilikinya. Namun, memang sulit mewujudkannya.

Aku memanglah bukan manusia sempurna yang mampu meraih cintanya. Aku menyayanginya tulus dari hatiku. Mungkin, aku bisa bicara bahwa aku tegar, aku dapat menerima semua keputusan yang ia cetuskan. Tapi aku pun tak ingin munafik. Aku sedih. Apapun yang ia lakukan aku ingin mengetahuinya.

Bantu aku menerima semua ini…

Aku ingin dia menjadi milikku selamanya, jika itu suatu hari nanti…

-revisi: 14 November 2010-

Maaf, Aku Jatuh Cinta Kamu. Teman.



Akhirnya kini dapat aku rasakan. Betapa merintis hati ini mendengar kabar buruk itu. Sesungguhnya itu kabar yang membahagiakan. Namun, cukup menyakiti hati ini.

Hujan pun datang. menandai betapa terlukanya hati ini. mungkin, ia sedang bersenang disana. Tetapi aku menangis karena merasa tersakiti.

Sejak awal, memang ini salahku. Mengkhianati arti sebuah pertemanan. Namun, apa dayaku. Ketika cinta itu datang. seandainya kamu tau, rasa ini sungguh sangat menyakiti. Tiada arti hanya sebuah luapan emosi. Hidup ini serasa hampa, ketika cerita hanya tinggal sebuah kenangan.
Benar-benar salahku. Terlalu mempercayai apa yang kamu katakan. Terlalu sulit untuk aku lupakan. Dan kini aku hanya mampu menyesali dan menangisi.

-revisi: 14 November 2010-

Terima Kasih

Aku gak suka perpisahan.

Aku gak pernah mau hal ini aku ungkapkan. Aku bahkan masih kuat dengan pendirianku untuk mempertahankan ini. Percayalah, aku juga gak mau semua ini berakhir begitu aja. Tanpa aku, kita, saling bicara, saling mengungkapkan hal-hal yang semestinya kita bahas sejak lama. Aku juga masih mau berada di samping kamu, mendukungmu, memberi perhatian ke kamu, mendoakanmu, melihatmu dengan impian kamu yang akan mulai kembali kamu perjuangkan. Aku masih ingin mengucapkan selamat dengan kata spesial sebagai orang spesial. Aku juga ingin kamu lihat aku melambaikan tangan mengucapkan 'hati-hati' dan 'jangan lupa hubungi aku ya'. Jujur, aku masih menginginkan semua itu. Saat dimana mungkin hubungan ini terasa sangat spesial dan penuh dengan lebih dari sekedar kata romantis. Dimana kita saling mendukung dan saling mendoakan. Aku menginginkannya.

Tapi perlu kamu tau, semua keinginan itu sudah terkikis. Sudah rapuh. Sudah terhapus. Ketika aku merasa sudah lelah bertahan. Ketika aku sudah tidak kuat menahan air mataku agar gak keluar. Ketika aku sudah berhenti berfikir normal. Semua itu keluar dari mulut, dari hati, dari pikiran begitu alaminya. Tanpa sedikit pun terlintas segala keinginan itu. Mungkin benar, aku sudah sangat lelah hingga aku sakit hati dan benar-benar merasakan kekecewaan atas sikap kamu kali ini. Yang sebenarnya diperkuat juga dengan kekecewaan-kekecewaan lainnya yang sudah terpendam sejak lama. Yang selalu saja aku tutupi dengan kata 'yaudalah, semua akan baik-baik saja kok'. Ketika sekarang, aku rasa semua sudah mencapai puncaknya, aku sendiri yang meruntuhkan pertahananku. Dan terakhir, aku hanya bisa mengucapkan terima kasih. Ternyata aku bukan perempuan yang kuat dan pandai, yang mungkin seharusnya memilih untuk berbicara dengan apa adanya untuk menyelesaikan masalah-masalah yang selalu kita bungkam ini. Ternyata aku adalah seorang perempuan yang lemah, rapuh, dan bodoh. Itu saja. Terima Kasih

Catatan Selanjutnya...

Sudah sejak hari Rabu, hari ini hari Senin. Artinya sudah 6 hari. Hujan tidak berhenti membasahi setiap malamku. Sedangkan sudah empat hari aku tidak bertemu dengannya.

Kamis lalu, aku pergi kencan dengannya. Sekedar ingin menghabiskan waktu seharian. Bahagia rasanya hari itu. Bagaimana tidak? Aku seperti ada dalam satu judul sinetron remaja yang selalu aku tonton setiap jam tujuh malam. Berawal dari hal yang biasa seperti ia datang ke rumahku untuk menjemputku dan meminta izin kepada Ibuku. Kemudian menjadi cerita indah yang mengisi tiap cerita antara aku dan dia. Walaupun aku dan dia tidak memiliki kejelasan dalam status hubungan.

Hari itu aku kembali merasakan aroma tempat yang sudah aku rindukan beberapa bulan terakhir ini. Kemudian aku pergi ke tempat yang pernah aku kunjungi sebelumnya. Tapi, di perjalanan selalu saja kita punya kisah sendiri. Entah, aku tidak bisa menjabarkannya. Terlalu indah.
Tapi setelah itu...
Empat hari aku harus menahan rindu tidak berjumpa dengan dia. Aku rindu saat dia di samping aku. Duduk dan bercerita. Sesekali mencubit pipiku. Kemudian memanjakan aku dan hatiku dengan tindakan-tindakannya yang memang membuat suasana nyaman selalu menyelimuti aku dengan dia.

Malam ini, hujan kembali menemani rindu aku yang belum bisa aku sampaikan padanya. Tapi, sudah dua hari ini aku hanya bisa bicara pada rintik hujan kalau aku merindukan kehadiran kamu. Aku harap, hujan menyampaikannya.

Stupidfy : Ku Yakin Cinta Part IV

Read Stupidfy : Ku Yakin Cinta Part III                 Via Whatsapp aku mengajaknya pergi ke Puncak, enam bulan kemudian. Dia mau dan si...