Jumat, 27 Februari 2015

Chapter Baru Lainnya

Assalamu'alaikum...
Halo :)
Apa kabar?
Lucu yeh, gue bertanya seperti itu seakan ada yang baca postingan gue ini.

Hmm.. Tapi baiklah biarkan saja.
Gue udah lama banget gak posting di blog pribadi gue, apalagi pacar gue udah sering banget bertanya "Kamu gak pernah ngeblog lagi?". Makanya gue mencoba untuk menulis lagi deh.
Meskipun gue gatau siapa yang mau baca postingan gue kali ini. Gue sih bisa yakin, pacar gue baca. Tuh yang dimaksud lagi senyum-senyum kan.

eh eh eh eh...
Kok sok buang muka gitu sih???





Jangan belagu gitu ah ... Haha
Maaf Maaf..
Gue cuma mau share beberapa hal yang terjadi selama postingan gue gak pernah terbit.
Mulai dari mana yaaa.... Dari ulang tahun gue aja deh ya. Terakhir kan gue posting foto pas gue ulang tahun.
Nah saat itu gue baru menjalin hubungan dengan Mr. Adi (Mas Adi) belum ada satu bulan. Tapi doi sayang banget sama gue. Cieee....

Jujur, saat itu gue masih ada bawa-bawa perasaan dengan seseorang yang pernah gue buatin satu postingan di blog ini, soal daun yang gugur itu tuh. (Gue berani ngomong ini karena gue udah pernah cerita sama Mas Adi).Ya tapi sekarang mah udah biasa, udah beralih nih ke Mas Adi. Hahahaha cie cie cie senyum tuh yang disebut-sebut.

Oke skip. 23 Desember 2014, gue berulang tahun yang ke-20. Eh engga!!! Fix gue masih 14 tahun!!! HAHAHA
Diumur gue yang kedua puluh (oke fine gue mengakui), gue punya beberapa hal yang harus gue capai. Yang pertama banget adalah khatam Al-Qur'an. Setelah itu, diumur yang kedua puluh, gue harus lulus D3 (kuliah gue yang perjuangan banget). Nah, satu lagi adalah gue harus udah bisa dapetin kerjaan yang bisa bikin gue lebih baik, mandiri, dan bantu kedua orang tua gue.

Ceritanyaa.... (yang udah terjadi)
Khatam Al-Qur'an. Sampai postingan ini ditulis, gue masih belum menyelesaikan rencana gue yang ini.
Lulus D3...
10 Februari 2015, jadwal sidang Laporan Praktik Kerja Lapangan gue. Itu hari Selasa. Sedikit singkat cerita, hari Minggu hujan deres banget. Sampai akhirnya banjir melanda dan gue gak jadi sidang di jadwal tersebut. Situasi dan kondisinya banjir di rumah gue dan banjir pula kampus gue. Gue kuliah dimana? Ya cari tau aja. Akhirnya re-schedule jadi tanggal 17 Februari 2015.

17 Februari 2015 semua ini terjadi ...






AKU LULUS DENGAN NILAI A-
Gue gak sempurna, gue tau kemampuan gue. Maka dari itu gue gak protes dengan adanya tanda minus setelah A. HAHAHA
Lulus kuliah bukan hal yang "gak disangka". Gue emang udah merencanakan hidup gue harus bisa lulus dari perguruan tinggi. Apapun gelarnya, setidaknya gue harus merasakan belajar di perguruan tinggi.
Di hari itu sebenernya gue sedih :'( Soalnya gue gak dapet waktu santai dan cerita-cerita dengan Ibu gue. Nangis di jalan itu gue.
Kenapa gue gak dapet waktu santai?

Tanggal 21 Januari 2015, Laporan PKL gue di-acc sama Dosen Pembimbing gue. Beliau adalah Bu Triana. Di hari itu juga gue dapet telpon dari teman gue, gue diajak kerja sebagai Junior Auditor di KAP tempat kerjanya dosen gue. Akhirnya gue kerja deh setelah sebelumnya gue sempet menolak ajakan untuk audit di Makasar karena gue masih harus remedial.

Mulai dari 28 Januari 2015, gue mengaudit sebuah perusahaan di Tangerang. Karena letaknya yang cukup jauh dari rumah, akhirnya gue dikasih kosan. Gue nge-kos di daerah Cimone.
Balik lagi ke hari dimana gue dinyatakan LULUS. Setelah sidang, gue harus balik ke kosan karena besok paginya gue harus kembali kerja. Maka dari itu gue agak sedih.

Setelah lulus dan berbagi cerita tentang pekerjaan pertama gue. Gue akan berbagi yang lain.
Banyak hal yang gue rasain. Dari sedih, senang, yang biasanya gue share dengan kata-kata yang gue olah di blog ini, gue memilih untuk diam dan memendam semuanya sendiri.
Oyah, sebelumnya ada masalah besar yang datang di hidup gue. That's nightmare, mimpi buruk yang sudah lama terjadi eh dateng lagi.

After that, yang bisa gue sharing adalah ...
Nanti lagi deh, gue masih belum semangat nulis.
Bye~~~~~~~

Kamis, 06 November 2014

(belum ada judul)

"Aduh sebel !" gerutu Dera sebelum berangkat kuliah.
"Kenapa sih, Der?" tanya mama dengan lembutnya.
"Ini loh, Ma. Ransel Dera kayak gak rata gitu."
Mama memalingkan wajahnya dari mesin jahit yang sudah ia nyalakan sejak pukul lima pagi.
"Lihat deh, Ma! Sudah rata atau belum yang kanan dan kirinya?"
"Mana sini! Kamu balik badan!" Dera pun menuruti perintah Mama.
"Sama panjang kok, Der. Kanan dan kirinya udah sama."
"Yang bener, Ma?" mata dan tangan Dera masih sibuk dengan tali punggung pada ransel. "Ah! Masa bodoh deh. Dera udah kesiangan gini" ia pergi menghampiri Mama dan mencium tangan kanannya, "assalamu'alaikum".
"Wa'alaikumsalam. Hati-hati ya, Der!" kemudian wanita berumur 42 tahun itu kembali ke hadapan mesin jahit.

Sabtu siang ini terasa sangat panas. Menurut kabar yang ia terima dari media sosial bernama Twitter, hari itu suhu di Jakarta mencapai 36 derajat celcius. Bagi manusia, itu suhu ketika seseorang sedang sakit. Hari itu Dera memiliki janji bertemu dengan teman dekatnya ketika masih SMA. Namun, karena cuaca yang sangat panas, Dera membatalkan janji yang ia buat seminggu yang lalu.
"Der, katanya kamu mau main sama sepan?" Sepan adalah sebutan untuk teman-teman dekatnya itu. "Mau kumpul di rumah Andira kan? Jam 11 kan? ini udah jam setengah 11 dan kamu belum jalan?"
"Gak jadi, Ma. Panas. Dera batalin aja janjinya. Toh yang lain juga males keluar rumah."
"Andira gak kecewa?"
"Engga, Ma. Kebetulan katanya Mama Andira juga mau pergi dan mengajak Andira juga."
"Oh... Ya sudah kamu bantu Mama merapihkan kaos-kaos ini aja."
Tanpa berpikir panjang dan mengelak pinta Mama, Dera segera menghampiri tumpukan kain yang sudah menjadi kaos oblong.
"Ini ada berapa banyak, Ma?" tanya Dera seraya melipat satu per satu kaos oblong.
Dengan terus menginjak pedal mesin jahitnya, Mama menjawab pertanyaan Dera dan melanjutkan perbincangan mereka. "Semuanya ada enam lusin, Der."
"Lumayan dong, Ma? Kalau sehari ini jadi enam lusin, berarti nanti sehari Mama dapat upah 96.000 dan aku dapat 18.000. Lumayan kan, Ma? Dari pada aku keluar rumah, udah panas, bukannya menghasilkan uang tapi malah menghabiskan uang."
"Iya, emang bener. Mendingan kamu bantu Mama. Kan jadi Mama juga lebih cepet selesainya."
"Kalau sehari dapat 96.000, seminggu bisa dapat 600 ribuan, dan sebulan bisa menghasilkan dua jutaan dari menjahit kaos ini, Ma. Kalah dong ya gaji Ayah sebulan."
"Ya maka dari itu, kamu bantu Mama kerjain kerjaan rumah. Biar Mama fokus buat menjahit. Terus juga kamu jangan males kalau jemput Windu. Satu lagi nih yang penting"
"Jangan kebanyakan main!" selak Dera.
"Iya, itu kamu tau."
"Tau, Ma. Klasik. Tapi sulit, Ma. Teman-teman Dera hobi banget main kalau ada waktu luang. Kumpul sama yang inilah, kumpul sama yang itu lah."
"Jangan sering-sering kumpul!"
"Hmm..."
Waktu terus berjalan. Siang pun sudah menjadi sore. Tumpukan kaos sudah rapih dimasukkan dalam satu kantong plastik berwarna ungu dengan ukuran yang sangat besar. Dera telah menyelesaikan tugasnya siang ini.
"Punggung Dera pegal banget, Ma." Dera mengeluh ketika bangun dari duduknya.
"Kamu sih kalau duduk bungkuk, jadi punggung kamu merasa pegal ketika bangun dan direnggangkan."
"Kan Dera emang bungkuk, Ma. Sama kayak Ayah."
"Jangan dibiasakan bungkuk! Jadi bungkuk kayak Ayah sih bangga. Tegak gitu. Kamu jelek kalau bungkuk. Udah badan kamu kurus."
"Iya, Ma."

Rabu, 01 Oktober 2014

Dari Sehelai Daun yang Gugur

Senja datang bersama angin
Tak beda dengan datangnya sendu bersama rindu
Ini bagian dari sebuah penyesalan
Dimana luka menggores tak berarah
Sebuah kesalahan menjadi kekecewaan
Ketika surat datang berisikan harapan
Dari sobekan buku anak sekolahan
Berisikan kata lugu "aku suka kamu"
Lalu waktu berputar cepat dan meninggalkan anak
Mereka tumbuh dewasa bersama tanggung jawab
Kesempatan selalu ada
Bukan lagi sebuah sobekan, melainkan keberanian
Bukan lagi sikap tak acuh, melainkan cinta telah jatuh
Lalu kembali kesalahan menjadi kekecewaan
Hingga luka mengakibatkan penyesalan
Dalam senja bersama angin
Ribuan daun gugur bersama harapan yang hancur
Dan dari sehelai daun yang gugur
Tertulis juga dengan kasar "aku juga suka kamu"
Tapi semua sudah terlambat
Bagai sobekan buku, sehelai daun gugur pun tersapu.

Selasa, 23 September 2014

Saat Berada Di Tempat Baru



Setiap orang memiliki cara masing-masing untuk bersosialisasi di suatu tempat baru. Setiap orang juga memiliki tingkat kemudahan atau kesulitan yang berbeda dalam proses tersebut. Terkadang seseorang perlu waktu yang lama untuk bisa dengan mudah berinteraksi. Namun, ada juga beberapa yang dapat langsung mencairkan suasana baru di tempat baru. Ada yang masih perlu interaksi pembuka dari orang yang sudah lama di tempat tersebut. Atau ada pula yang memulai terlebih dahulu dengan orang lama. Semua itu tergantung subjeknya.
Bagi orang yang mudah berbaur, bukan masalah yang besar jika bertemu dengan suasana dan tempat baru. Biasanya, orang-orang tersebut memiliki keahlian pandai bicara, mungkin. Jadi mereka bisa saja membuka banyak topik pembicaraan yang menjadikan komunikasi terjalin dengan baik. Hal seperti ini dapat didasari dengan pengetahuan yang dimiliki seseorang. Pengetahuan yang dimaksud bukan hanya sebuah ilmu pasti, akan tetapi pengetahuan umum. Bisa seperti gosip, perkembangan berita terkini di bidang yang pasti sesuai dengan tempat baru. Selain topik pembicaraan yang mendukung mudahnya komunikasi terjalin, bisa saja seseorang mudah beradaptasi dengan cara pembawaan hatinya yang menerima suasana baru di tempat baru. Dengan suasana hati yang terbuka, orang-orang tersebut bisa dengan mudah merasa nyaman dan senang dengan tempat barunya.
Ada kemudahan, pasti ada lawannya, yaitu kesusahan. Beberapa orang sulit beradaptasi. Biasanya memang mereka tipikal orang yang sulit berbaur, penyendiri, dan suka melakukan banyak hal sendiri. Komunikasi yang dilakukan juga hanya sekedarnya, sesuai dengan keperluan yang dilakukan mereka. Atau terlalu fokus terhadap hal-hal lama yang ada pada mereka yang bisa selalu membuat mereka nyaman, seperti gadget. Selain hal tersebut, bisa pula disebabkan karena kurangnya pengetahuan yang mereka miliki. Jelas, semua ini kebalikan dari alasan beberapa orang mudah bersosialisasi.
Di sisi lain, ada pula orang yang awalnya mudah bersosialisasi, namun pada akhirnya mereka merasa tempat baru yang mereka datangi adalah bukan tempat yang cocok dengan kepribadian mereka. Hal inilah yang biasanya merubah sikap humble seseorang menjadi kaku. Penyebab seseorang seperti ini jelas bukan pada faktor internal dalam diri mereka, tetapi faktor lingkungan sekitar. Bagi beberapa orang juga bisa menemukan jalan keluarnya agar mereka bisa nyaman pada tempat barunya. Tugas mereka adalah mencari tau bagaimana karakter lingkungan di tempat tersebut dan mencoba mempelajari karakternya hingga bisa mencairkan suasana. Kegiatan ini tidak mudah dilakukan bagi orang-orang yang memiliki sifat “menyerah”. Artinya, ketika ketidaknyamanan menghampirinya, mereka akan lebih memutuskan untuk pergi dan mencari suasana baru yang cocok dengan dirinya. Namun, jika mereka harus bertahan pada suasana atau tempat tersebut, mereka yang sulit merubah harus berusaha keras untuk menemukan titik kenyamanannya.
Bagaimanapun cara mereka, semudah atau sesulit apapun. Orang yang pandai beradaptasi dan bersosialisasi di kondisi seperti apapun akan dengan mudah mencapai tujuan mereka. Saat ini, bagi mereka yang masih sulit beradaptasi dan bersosialisasi, diam sejenak dan telaah segala yang ada di lingkungan tersebut. Kaji dengan mudah, maka dengan mudah kita mengetahui jalan keluarnya.

Senin, 15 September 2014

Matahari Pagi

      Pagi ini matahari tepat di depanku. Mungkin karena hari ini aku harus pergi menelusuri jalan ke arah timur. Jadi jelas matahari ada di hadapanku. Walaupun terhalang oleh kaca lensa di kacamataku, ditambah juga dengan kaca yang terpasang di helm. Agak samar, tapi jelas kulihat pagi itu matahari bentuknya bulat, warnanya kuning gading, dan cahayanya juga tidak begitu terang. Aku bisa melihatnya. Cahayanya yang tidak terang benderang itu membuat cuaca terasa mendung. Sepertinya sang Mentari tau kalau aku sedang tidak semangat-semangatnya hari ini. Hingga akhirnya, aku hanya terdiam dalam ramai mengingat banyak hal yang belum bisa aku selesaikan.

Sang Merpati

Aku wanita yang menyukai keindahan. Aku taburkan bibit-bibit keindahan di teras rumahku. Yang selalu kuinginkan, setiap pagi, sebelum aku beraktifitas, aku bisa melihat mereka bermekaran menunjukkan warnanya yang indah. Aku pun wanita yang menyukai kemerduan. Aku biarkan kicauan burung bergeming di setiap hembusan angin yang aku nikmati setiap paginya. Aku juga seorang wanita yang menyayangi keindahan pada makhluk hidup. Aku suka melihat merpati-merpati yang kusimpan dalam sangkar di teras. Namun, aku menyadari, kehadirannya tidak mengartikan kebahagiaan bagi sang merpati. Teras indah depan mataku ini memberikan batas baginya, apalagi ia yang bergerutu dalam sangkarnya. Aku menyadari, dia tidak menyukai ini. Hari ini aku memutuskan, memang merpati itu harus terbang bebas sampai ia akan bertemu dengan merpati lainnya.

Stupidfy : Ku Yakin Cinta Part IV

Read Stupidfy : Ku Yakin Cinta Part III                 Via Whatsapp aku mengajaknya pergi ke Puncak, enam bulan kemudian. Dia mau dan si...