Kamis, 23 Juli 2015

Pertemuan Di Bulan Syawal

Beberapa tahun telah berlalu dengan kisah kita yang pernah di mulai di awal bulan Syawal. Sebuah kisah yang dimulai dari pertemuan dan berakhir dengan kebencian. Kisah yang masih bisa teringat jelas di benak kita masing-masing. Walau kini telah banyak kisah baru yang mampu menggantikan sedikit demi sedikit. Meski demikian, pertemuan itu sangat indah. 

Allahuakbar... Allahuakbar... Allahuakbar Walillailham... 
Takbir itu masih berkumandang di masjid-masjid rumah kita. Aku tidak pernah menyangka bahwa Allah mempertemukan kita di bulan yang indah ini. 
Pertemuan sederhana di sebuah kafetaria daerah Cengkareng, salah satu kecamatan di Jakarta Barat, tempat kita tinggal. Saat itu kamu sudah lebih dulu datang di kafetaria tersebut. Lalu berselang beberapa menit, aku tidak tau pastinya, aku dan keluargaku datang. 
Kita duduk di meja yang bersebelahan. Aku melirik ke arahmu, kukira aku mengenal laki-laki sebaya yang berkaos hitam dan mengenakan sweater hitam. Aku tidak menyapamu, jelas karena aku malu untuk memulai duluan dan kembali mengakrabkan diri. Beberapa kali aku menengokan kepala ke arah kiri, akhirnya kita saling bertemu pandang. 
"Ehh... Elu?" Sapamu membuatku grogi. 
"Ehh... Iya." Ternyata benar dia teman sekelasku dulu. 
"Itu siapa?" Adik keduaku bertanya di sela tatapan kita. 
"Temen Kakak dulu waktu sekolah. Kayaknya," kataku pelan di ujung kalimat. 
"Lah? Itu adek lu? Banyak banget adek lu." 
"He... Iya ini adek gue yang kedua." 
"Wehh bro!!!" Kamu menyapa adik pertamaku. 
"Ehh iya, Bang" jawabnya. 
"Sebentar ya. Gue mau pesen makanan dulu." 
"Oh iya iya, sorry ganggu." 

Selang beberapa menit, kita kembali bercakap. 
"Kok lu ga mudik?" 
"Iya, tahun ini lg krisis moneter nih di keluarga. Jadi ga mudik dulu. Ya paling jalan-jalan sekalian makan aja di deket-deket rumah." 
"Sama dong. Gue juga nih. Tapi sayangnya keluarga gue ga sekompak keluarga lu. Bapak sama Ibu lu mah mau diajak jalan kayak gini. Gue mah susah." 
"Bukannya kalau cowok mah malah susah diajak main sama keluarga? Dia aja susah banget." Aku menunjuk adik pertamaku. 
"Ya bener sih. Udah gede mah anak laki suka males main sama keluarga. Ya ga?" Kamu malah bertanya ke adik pertamaku. 
"Iya, Bang. Gue juga males ini kalau ga dipaksa sama Kakak." 

"Pak, Bu, kok anaknya tambah cantik ya? Gingsulnya bikin manis." Kamu memujiku di depan Ibu dan Bapak. 
"Hush!!!" 
"Yeeeh, emang bener. Makin manis lu." 
"Ya namanya juga anak Ibu." Ibu menjawab. 
"Manis dari mana? Amit-amit dia mah." Bapak meledek. 
Aku sedikit malu saat itu. Kamu berani memuji di pertemuan pertama kita setelah enam tahun kita tidak pernah berjumpa. 
"Eh... Lu inget gak waktu dulu gue kirim surat ke elu yang isinya tentang perasaan gue. Tapi lu gak pernah sekalipun bales. Jangankan bales, baca juga engga." 
"Surat? Kapan lu pernah kasih gue surat deh?" 
"Dulu, tuh kan lupa. Lu kan selalu gitu sama gue. Ya gue mah apa kan, cuma pengagum lu aja dari dulu." 
"Ha?" Aku terkejut dengan pernyataan kamu. 
Tapi, itulah awal mula kita menjalin kisah hingga berakhir dengan rasa saling benci. 

Read : Dua Belas September

Senin, 13 Juli 2015

World, I've got My Tittle

Masih ingat di benak gue, tiga tahun lalu gue bersikeras untuk bisa masuk Perguruan Tinggi Negeri. Gue menginginkan masuk PTN dengan jurusan Pendidikan karena gue sangat berambisi untuk menjadi guru Bahasa Inggris. Universitas yang gue incar saat itu ada di dalam kota. Akan tetapi, dengan izin Allah, gue tidak berhasil masuk ke Perguruan Tinggi Negeri tersebut. Akhirnya gue putus asa, hampir putus asa sih.

Niat gue buat kuliah masih sangat besar. Akhirnya, gue mencari informasi mengenai Perguruan Tinggi Swasta yang sekiranya mampu secara keuangan dibiayain oleh kedua orang tua gue. Sempatlah gue terbawa ajakan teman dekat gue untuk masuk ke salah satu PTS di daerah Jakarta juga. Tapi, Ibu gue sama sekali tidak mengizinkan keinginan gue tersebut.

Gue mencari referensi lain untuk kuliah. Karena PTS yang tadi itu biayanya cukup tinggi. Bertemulah gue dengan informasi kuliah di dekat rumah gue yang Universitasnya sudah sangat terkenal. Mereka menyebutnya "Kampus Pahlawan Reformasi". Kebetulan ada teman gue yang sudah mendaftar disana. Gue minta informasinya dengan jelas. Ibu gue setuju. Kampusnya dekat dengan rumah, biayanya jauh lebih murah dari yang sebelumnya, dan Ibu gue lebih nyaman kalau gue kuliah disana.

Singkat cerita, gue memutuskan kuliah disana. Jurusan baru di Universitas Swasta ini. Dari awal masa kuliah, gue cuma berpikir untuk menyelesaikan kuliah saja. Urusan masa-masa sebagai Mahasiswa, itu gampanglah.
Semester satu gue bisa membiayai kuliah dari sebagian kecil dari warisan keluarga. Semester kedua, gue punya bisnis pribadi. Bisnis ini dimulai dari gue nekat ngajak teman-teman kuliah gue ke rumah. Kemudian salah seorang teman gue memberikan ide untuk membuat usaha ke gue dengan keahlian Ibu gue, yaitu menjahit. Berjalan sekitar setengah tahun lebih, bisnis tersebut bisa membuat gue melanjutkan kuliah. Ketika bisnis tersebut sudah mulai jatuh, gue mencoba untuk mencari beasiswa. Mulai dari semester tiga, gue dapat beasiswa dari Yayasan Beasiswa Jakarta. Semester tiga dan empat gue mulai membiayai kuliah gue dari beasiswa dan mengajar privat tetangga gue. Hanya sebentar gue mengajar privat, setelah itu gue beralih profesi menjadi tukang ojeg pribadi saudara gue sendiri. Apapun itu, yang penting bisa membantu gue membiayai kuliah gue. Walaupun, orang tua gue juga masih pontang-panting mencari lobang yang bisa membantu gue. Semester lima, gue masih menerima beasiswa, akan tetapi gue berhenti dengan mengojeg. Karena di semester lima gue harus melaksanakan Praktik Kerja Lapangan sebagai syarat pemenuhan SKS di kampus. Semester itu orang tua gue benar-benar kerja keras buat biaya kuliah gue yang sebenarnya jauh lebih murah dari semester sebelumnya. Selesai PKL, gue mulai membuat Tugas Akhir supaya gue cepat-cepat selesai kuliah.

Dari awal gue memulai membuat Tugas Akhir, gue sudah memikirkan bagaimana gue membiayai pengeluaran untuk ini sedangkan gue masih nunggak uang kuliah semester lima. Akhirnya, gue mencoba mencari-cari pekerjaan separuh waktu. Gue mulai dari Jobstreet. Gue dapatlah untuk diinterview. Desember awal tahun 2014, gue dipanggil interview di daerah Slipi. Kata pihak sana, gue akan dikabari satu atau dua minggu setelah gue interview, nyatanya engga. Sampai Januari gue gak ada panggilan. Bahkan, gue juga dapat panggilan di BCA untuk psikotes dan interview. Tapi sayangnya gue lagi UAS, jadi gue gak bisa hadir.
Januari pertengahan, saat gue fokus buat TA, gue ditawarin kerja sama dosen gue di Kantor Akuntan Publik sebagai Junior Auditor. Saat itu gue diberi tugas untuk ikut mengaudit perusahaan di Makassar. Gue dapat izin dari orang tua gue, bayarannya pun lumayan buat biaya Tugas Akhir. Sayang sungguh disayang, gue saat itu masih ada kewajiban untuk memperbaiki nilai gue yang sempat dapat D. Gue menolak penawaran emas itu.
Karena Allah sayang sama gue, seminggu kemudian Allah memberi pertolongan melalui dosen gue tadi. Gue ditawarin kerja lagi di KAP itu untuk mengaudit di Tangerang. Gue menerima tanpa berpikir panjang. Gue kerja disana. Gaji pertama gue kecil, tapi uang harian sebagai Junior Auditor lumayan.
Dua minggu gue kerja, perusahaan yang di Slipi menelpon gue dan meminta gue untuk kerja disana. Tapi, gue lebih memilih untuk menyelesaikan tugas di KAP. Gue bekerja di KAP sampai akhir Maret.
Sebelum gue selesai di KAP, kakak gue menawarkan kerjaan di tempat yang sekarang gue kerja. Walaupun masih baru dan usahanya bukan besar, tapi gue yakin tempat ini bisa membantu gue berkembang. Akhir April gue mulai kerja disini.

Bagaimana dengan kuliah gue?
Selama gue kerja di KAP, gue juga menyelesaikan Tugas Akhir gue. Pertengahan Februari gue Sidang Laporan PKL. Alhamdulillah gue dapat nilai A- dan gelar gue Ahli Madya hampir sampai.
Gue bisa membiayai pengeluaran TA gue dengan seluruh penghasilan gue dari kerja di KAP.

I'VE DONE !!!


Bulan Mei, tepatnya 23 Mei 2015, gue sah menjadi seorang Ahli Madya...







Jumat, 10 Juli 2015

Akhirnya Di Dua Belas September

Read Previous Chapter : Tetap Di Dua Belas September

Dua hari berlalu sejak kejadian di bioskop itu. Aku pergi dengan temanku dan bercerita apa yang terjadi antara aku dan kamu. Dia antusias dengan ceita ini bahkan sampai-sampai dia ingin bertemu dengan kamu dan menegur kicauanmu yang memang menyinggung perasaan aku.

Seminggu dari hari dimana aku menceritakan kamu kepada dia, kita bertiga bertemu di pertemuan yang tidak terduga.
"Eh eh... kayaknya gue pernah liat dia deh. Dimana ya?"
"Siapa?"
"Itu... cowok anak skateboard yang lagi duduk disana" menunjuk ke arah kanan dari posisi kami berdiri.
Aku menoleh dan melihatnya secara baik, itu kamu. Aku merasa malas sekali kalau memang harus berpapasan dengan kamu. Ada rasa ill'feel ketika melihat wajah kamu. Namun, Tuhan memberikan takdir lain. Seseorang di samping kamu melihat temanku sedang menunjukmu dan memanggil kamu agar menoleh ke arah sini. Aku panik karena tingkah temanku itu. Aku mengajaknya pergi menjauh, tapi kamu malah berlari menghampiri aku.

"Hey... apa kabar?"
"Lo siapa ya?" Aku menjawab sinis, "gue punya nama kok. jadi bisa kan sebut nama gue, bukan pake 'hai'?
"Asli lo ribet banget."
"Heh... Demen banget sih lo bilang temen gue ribet?" temanku yang protes.
"Lah emang temen lo ribet. Harus banget gue nyebut nama dia. Wajar kali kalau udah beberapa hari gak ketemu terus manggilnya 'hey' dulu."
"Beberapa hari? Kita udah gak ketemu seminggu lebih ya, Bro."
"Oke... Oke... Gue ngalah, maaf yaaa mantan gebetan. apa kabar?"
"Gila! Orang gila!" Kamu malah menyebutku mantan gebetan. Sepertinya lebih enak disebut teman lama. Kalau kamu menyebut seperti itu kan rasanya kamu menunjukkan masalah di antara kita yang menyebabkan kita menjadi mantanan.

Aku pergi meninggalkan kamu, akan tetapi temanku yang satu itu malah tetap berada di samping kamu dan entah apa yang kalian bicarakan. Yang pasti, aku meninggalkan kalian berdua di taman mall.

Keesokan harinya aku ada kegiatan karang taruna, aku bertemu temanku itu lagi. Kemudian dia bercerita mengenai pembicaraan kalian berdua setelah aku tinggalkan. Rupanya memang aku yang lupa akan sifat asli kamu yang memang sudah kuketahui beberapa tahun sebelumnya. Karakter keras kamu, cuek kamu, dan gak mau ribet itu memang akan menghasilkan kisah yang seperti ini. Harusnya, kalau saja aku ingat tentang sifat dan karakter kamu itu, aku akan menerima argumen kamu di bioskop.

Ibarat nasi sudah menjadi bubur, ketika kamu sudah bilang 'mantan gebetan' tandanya tidak akan ada lagi 'kita' di masa depan. Iya, sepertinya aku sempat gagal move on berkepanjangan. Sampai saat ini tepat tiga tahun sejak tanggal 12 September di bioskop.

Namun, yang dapat aku mengerti saat ini adalah bahwa memang saat itu aku seperti remaja labil yang masih menuntut hubungan dengan status pacaran padahal tanpa status itu pun seorang laki-laki atau pun perempuan bisa menjalin hubungan. Bahkan dalam ikatan yang lebih serius. Jika dalam istilah agama ada yang namanya ta'aruf, dimana dua anak cucu adam bertemu sekali untuk diikatkan dalam ikatan suci yang disebut pernikahan. Jelas tanpa harus ada masa-masa yang disebut pacaran. Selain itu, aku juga mengerti bagaimana tidak menuntut suatu hal berdasarkan apa yang aku inginkan. Karena memenuhi keinginanku tidak pernah ada habisnya, aku manusia biasa. Aku tau itu. Aku juga mengerti bagaimana aku harus mengingat sesuatu yang penting bahwa aku harus menerima kekurangan dan kelebihan seseorang, menerima sifat dan karakter seseorang yang memang membuat aku jatuh hati. Aku mengerti semua itu sehingga pada akhirnya aku bisa mengalahkan keegoisan diriku sendiri.

Saat ini, walau aku masih belum bisa berpaling dari kamu. Bahkan aku masih sedikit merasa belum siap menerima apa yang sudah aku mengerti tadi. Jadi, kamu pun tau, aku tidak berani lagi untuk menjalin hubungan yang waktu itu menjadi perdebatan kita. Aku hanya ingin menikmati masa gadisku bersama teman-temanku sampai nanti entah kamu ataupun orang lain bisa membuatku merasa jatuh hati kembali.

Selesai.

Kamis, 09 Juli 2015

Tetap Di Dua Belas September

Read Previous Chapter : Masih Di Dua Belas September

"Kemana dia? Kok kamu pulang sendiri? Putus?"
"Diem deh, Yah. Gimana aku mau putus, jadian aja engga. Engga mungkin jadian juga kali sama dia."
"Tuh kan, laki-laki zaman sekarang emang begitu. Mana janjinya mau kembaliin kamu pulang dengan baik-baik aja. Anak gue kok dibikin patah hati begini."
Aku menatap wajah Ayah justru semakin kesal saat itu, "rrggghh" kemudian aku pergi ke kamar.

Aku tidak menangis sama sekali hari itu. Aku malah merasa bersyukur, mungkin kamu bukan yang aku inginkan. Buktinya, memang kamu tidak bisa memenuhi apa yang aku inginkan. Sama seperti temanku yang satu itu.

"Yaudalahyah kalau emang bukan dia ataupun dia," aku menunjuk foto kedua laki-laki seumuranku di meja belajar, "masih akan ada laki-laki yang punya pemikiran dewasa datang ke kehidupan gue."

Walaupun aku berulang kali mengatakan hal itu, tetap saja mataku berkali-kali melirik smartphone hitam yang kuletakkan di meja belajar. Bolak-balik aku ke luar kamar, pandanganku tidak pernah sekalipun lepas dari smartphone itu. Setiap dering dari Blackberry Messanger, Line, Whatsapp, tidak aku gubris, aku intip pun tidak, bahkan menyentuhnya juga tidak. Tapi ada rasa penasaran yang luar biasa untuk meraih dan membuka pesan-pesan instan tersebut. 

Tiga jam aku seperti ini. Aku hanya melakukan aktivitas yang memang sudah menjadi kewajiban, seperti makan malam, shalat maghrib dan shalat isya. Aku ingat perkataan Mama tadi saat aku mengambil sebotol air putih dan cemilan di kulkas. "Tuhan itu tidak memberikan kita apa yang inginkan, tapi apa yang kita butuhkan."

"Apa emang gue harus berhenti mencari apa yang gue mau ya? Gue harus lebih berpikir mencari yang lebih gue butuhkan. Hmm..." Aku membaringkan tubuhku yang mulai lelah di atas kasur dan akhirnya aku meraih smartphone itu. Aku tidak sama sekali membuka pesan instan yang sudah banyak masuk. Aku memilih untuk membuka twitter dan facebook untuk mencari moodbooster atau kata-kata motivasi yang bisa membangunkan semangat kedewasaanku kembali.
Tak lama aku scroll ke bawah, kamu yang tadi sore jalan denganku muncul dan menge-tweet beberapa kicauan yang membuatku semakin merasa kesal.

Buat apa pacaran kalau ujung-ujungnya putus juga.

Abis jalan sama anak kecil yang ngerasa dirinya dewasa tapi pola pikirnya amit-amit.

Kalau udah sama-sama suka ya mending sekalian halal-in aja dari pada cuma status yang sebenernya juga ga boleh sama agama. Malu juga ah sama umur, kok bocah banget.

"Keparat banget nih anak" kataku setelah membaca kicauan dari kamu.

Bersambung...

Rabu, 08 Juli 2015

Masih Di Dua Belas September

Read Previous Chapter : Dua Belas September

Sekitar jam setengah sepuluh kita memutuskan untuk pulang. Setelah kita sudah saling banyak bicara mengenai hobi kamu, keinginan kamu untuk jadi anak traveler, lalu kamu bercerita tentang Iphone baru kamu, lalu masa lalu kita dan kenangan kita di masa dulu.
Kamu mengendarai sepeda motormu sangat cepat waktu itu, takut dicap jelek sama Mamaku katamu. Kemudian belum jam sepuluh kita sampai depan rumah. Aku mengajakmu mampir, tapi kamu menolak dan berkata, "lain waktu gue bakal jemput lo lagi dan saat itu gue akan jemput lo dari dalam rumah lo, kok. Minta izin secara langsung ke kedua orang tua lo. Terutama bokap lo yang tinggi itu. Kali ini gue mau buru-buru nge-band lagi. Thanks ya buat pertemuan ini."
"Iya sama-sama. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."

Kita kembali berkomunikasi lewat Blackberry Messanger sampai akhirnya suatu hari kamu mengajak aku pergi.

Hari ini lo gak kerja kan?
Engga, males gue. Mau nyantai di rumah.
Yakin? Gue mau minta temenin nonton film Raditya Dika nih. Seru banget. Gue suka film-film dia
Kapan? Dimana?
Tunggu dulu, lo mau apa engga?
Ya, boleh deh 
Oke, jam 4 sore gue ke rumah lo
Sore ini?
Iyalah
Yauda, tapi nanti gue kabarin ya. Soalnya gue mau pergi dulu sama temen gue.

Sampai tiba pukul jam 4 sore dan aku memang sudah selesai dengan urusanku. Ayah dan Mama di rumah. Kebetulan hari itu Ayah sedang sakit, jadi beliau tidak masuk kerja. Kamu berdiri di depan pagar rumahku dan memencet bel. Aku keluar dengan mengenakan celana jeans hitam, t-shirt putih bertuliskan "GEEK" dan crop jeans yang masih kutenteng dilengan kiri bersamaan dengan totebag hitam bertuliskan "I AM WHO I AM". Kemudian, kamu meminta untuk mampir dan meminta izin secara baik-baik dengan Ayah dan Mama. Aku mempersilahkan kamu masuk.

"Om... Tante... Saya mohon izin ngajak putrinya pergi. Insya Allah saya jaga dengan sebaik-baiknya kok. Dan pulang juga dengan keadaan sama seperti berangkat."
"Kamu itu... teman sekolahnya, ya? Kayaknya Om dulu pernah lihat kamu."
"Iya, Om. Dulu saya sering kesini sama pacarnya dia juga. Tapi pas itu, dia sama sekali gak liat saya, Om."
"Pacar? Waktu itu dia udah punya pacar?"
Aku mencubit kamu, "kok lo ember sih mulutnya? Gue kan waktu itu masih backstreet."
"Biarin."
"Udah ah, Yah. Pergi dulu ya Ayaaaahhh." Aku mengambil sepasang sneakers hitam milikku dari rak sepatu di belakang pintu dan menarik kamu keluar.

Belum sampai kita membeli tiket nonton, kita justru malah berdebat mengenai prinsip menjalin hubungan.
"Buat gue, status itu penting. Ngapain lo sama-sama suka kalau lo gak pernah ngutarain apa yang lo rasa. Terus lo gak mengikatkan suatu hubungan? Ngegantung gitu?"
"Ya lagian kan kita yang sama-sama ngerasain, orang pun akan tau semuanya dengan seringnya kita jalan, makan bareng, nonton bareng, atau kenal sama orang tua kita masing-masing."
"Pokoknya, gue setuju hubungan yang jelas. Jangan-jangan... kita bakal..." Aku menatap kamu curiga.
"Ya, pokoknya gue gak akan pernah bilang sayang ke cewek, gak akan pernah nembak cewek, dan gak akan pernah bilang putus ke cewek. Kalau kita sama-sama nyaman jalin hubungan ya sudah jalanin aja."
"Gue gak suka cara lo kayak gitu. Gak menjamin gue satu-satunya di hidup lo. Eh... maksudnya di kehidupan seseorang."
"Ya terserah elo sih."
Pernyataan kamu yang terakhir itu membuat aku kesal. Sepertinya kamu menganggap remeh sebuah hubungan.
"Gue mau pulang. Gue gak mood buat nonton. Gue pulang aja sendiri."
"Kok lo lebay deh? Pulanglah sana! Begitu aja ngambek. Dasar cewek ribet."
Emosiku semakin memuncak saat itu. Manis obrolan kita beberapa bulan berakhir seperti ini. Kalau aku ingat, aku seperti anak SMP saat itu. Benar bukan? Tapi aku benar-benar pulang dan kamu tidak sama sekali mengantarku pulang. Bahkan kamu mengingkari janjimu ke kedua orang tuaku. Untuk hal seperti itu saja kamu ingkar, apalagi ketika memang kita sudah menjadi pasangan suami istri, seperti yang sering kita bicarakan di Blackberry Messanger.

Bersambung...

Selasa, 07 Juli 2015

Dua Belas September

Iya, aku masih ingat jelas kok. Hari Rabu di awal September itu, kan? Kita, pergi untuk pertama kalinya setelah sekian lama kita saling kenal. Kita, pergi setelah sekian bulan kita hanya saling bertukar pesan melalui Blackberry Messanger. Kita, pergi setelah sekian hari kita mulai mengutarakan apa yang membuat kita sama-sama nyaman berkomunikasi.

Sederhana, di antara sekitaran teman-temanku saling menge-post di media sosial bahwa mereka telah mengunjungi cafe-cafe yang lagi hits, kamu mengajakku pergi ke suatu kedai tradisional di pinggir jalan di balik flyover yang memang letaknya gak jauh dari rumah kita. Walaupun, bisa kita ketahui kedai itupun cukup terkenal di kalangan beberapa orang kantoran.
"Tempat apa ini? Sego kucing?" tanya aku saat kita udah sampai di tempat itu, "parkir dimana emang?"
Kamu sama sekali tidak menjawab apa yang aku tanyakan. Kemudian kamu memarkirkan motor kesayanganmu itu yang aku tau sejak kita lulus SMA kamu sudah memilikinya. Dulu, kalau kamu ingat, aku pernah diboncengi di motor ini. Bukan, bukan sama kamu, tapi sama teman kita. Gak perlulah aku menyebut namanya, dia teman baikku dan teman baikmu juga. Walau beberapa hari yang lalu dia bilang kalau kamu sudah berbeda dari dulu yang ia kenal.
Hm... kenapa dulu bukan kamu yang memboncengi ya? Mungkin kamu bertanya seperti itu. Maka aku akan menjawab bahwa saat itu kamu sedikit memberi modusan dengan teman kita yang cantik itu. Iya, dia memang cantik dan disukai anak laki-laki di kelasan kita. Mungkin termasuk kamu saat itu.
Setelah turun dari motor, aku berdiri di samping kamu. Aku melihat kamu dari bawah sampai ke atas, "asli ya dari dulu sampai sekarang badan lo selalu lebih besar dari gue. Padahal yang gue tau, sekarang gue lebih tinggi dari teman sekelas kita yang paling tinggi dulu."
"Maksud lo, Maryam?"
"Iya."
"Emang lo sekarang lebih tinggi dari Maryam?" aku belum sempat menjawab, kamu melanjutkan, "oh iya, jelas sekarang lo tinggi doang. Bokap lo kan tinggi banget. Dulu gue takut banget tuh kalau ketemu bokap lo. Abis dia tinggi banget, kan gue dulu masih kecil di mata dia. Sekarang juga kali ya, nyali gue masih kecil di mata bokap lo."
"Gue yakin badan lo sekarang gak jauh beda dari bokap gue."

Kemudian kita masuk ke kedai itu. Kamu menyuruh aku memilih makananku sendiri sesuai keinginan, tapi kamu malah menaruh sepotong ayam di piringku.
Kita kebingungan mencari tempat duduk yang nyaman untuk kita. Akhirnya, kita duduk di belakang si abang penjual.
Kita berbicara tentang hobi kamu, memasak kan? Lalu kita saling bertukar informasi mengenai keahlian kita. Kamu ahli memasak, aku ahli menjahit. Kamu bilang saat itu kalau kamu mau mencoba mengenyam pendidikan kembali di bidang masak-memasak. Lalu aku memberi saran yang aku tau informasinya.

Singkat cerita, ternyata kamu mengundang teman dekatmu, laki-laki. Sayangnya, temanmu gak tau jalan kesini. Akhirnya kita menjemput dia di Sevel di perempatan jalan besar. Setelah menjemput temanmu itu, kita kembali ke kedai.
"Kalian ini reunian? Atau emang mau jalan berdua? Kayaknya gue ganggu kalian deh." Teman kamu bertanya seperti itu saat kita duduk bersama di pinggir jalan.
"Bukan, dia teman gue. Ini juga bukan reunian, bukan jalan berdua juga."
"Lah? Gimana? Emang dia siapa?"
"Temen kok." Aku memotong obrolan kalian.
"Yah, temen?"
"Bukan, dia cemewew."
"Apa tuh cemewew?" Aku bertanya.
"Yaaahh... Gak pernah nonton Talkshow dia." Kata temanmu menyebut salah satu acara TV yang memang channelnya gak ada di TV milikku.
"Ih emang itu artinya apa?" Aku bertanya ke kamu.
"Bukan deh, bukan cemewew. Masih wakacipuy, gak tau nih kapan jadi cemewew." Kamu malah melanjutkan perbincangan dengan temanmu.
"Ih, itu artinya apaan? Kasih tau gue duluuuuu." Aku geregetan dengan tingkah kalian.
"Pokoknya nanti lo cari tau sendiri deh nonton Talkshow makanya."
"Ah curang!!!"

Bersambung...

Sabtu, 06 Juni 2015

Mecca

Mecca mengambil selembar kertas di meja kerjanya. Dia pun mengambil pulpen hitam dari laci. Mecca masih bingung apa yang harus dia tulis di atas kertas putih itu. Mecca memutar-mutar pulpen diantara jari-jemari. Kaki kanan Mecca tidak berhenti bergerak. Mecca memutuskan untuk lembur hari ini. Padahal sudah tidak ada kegiatan yang ia harus lakukan di kantor. Tapi, Mecca enggan pulang.

Satu menit berlalu dengan pulpen masih berputar di jemari. Lalu, Mecca menenggak air mineral dari tupperware pink yang ia bawa dari rumah. Kaki kanannya semakin cepat ia gerakkan. Mecca mulai mendaratkan ujung pulpennya di atas kertas. Ia baru membuat titik di pojok kiri atas. Setelah itu, Mecca kembali mengangkat pulpen dan memutarnya kembali. Mecca mencoba mencairkan suasana dengan memainkan playlistnya.

Lagu pertama, berlalu begitu saja tanpa membuat Mecca menggoreskan tinta di kertas putih tadi. Mecca menghentikan gerakan kakinya dan mencoba untuk berdiri. Mecca menarik nafas panjang kemudian ia mulai berjalan keluar mejanya menuju kamar mandi.

Mecca menatap cermin sepanjang 90cm dengan cahaya lampu neon di kanan dan kirinya. Mecca masih dengan keadaan gelisah. Ia menyalakan kran dan mengusapkan air yang ia tampung di kedua telapak tangannya di wajahnya. Kemudian Mecca memutuskan untuk kembali ke ruangannya. Ia mematikan seluruh lampu ruangan dan menyalakan lampu kerja di mejanya.

Lagu selanjutnya terputar setelah sedari tadi tidak Mecca matikan. Mecca meraih kembali pulpen dan kertas putih itu ke hadapannya. Mecca menulis kata "Resah". Kemudian ia robek kertas tersebut menjadi sobekan kecil dengan tulisan kata tadi di tengah-tengah kertas tersebut. Akhirnya, ia pulang setelah menancapkan sobekan kertas itu di belakang komputer.

Stupidfy : Ku Yakin Cinta Part IV

Read Stupidfy : Ku Yakin Cinta Part III                 Via Whatsapp aku mengajaknya pergi ke Puncak, enam bulan kemudian. Dia mau dan si...