Sekarang sudah di penghujung bulan Agustus. Aku sudah mantap akan bekerja dimana. Salah satu perusahaan milik pemerintah telah menetapkan aku sebagai pegawainya. Berkah di akhir bulan. Aku pulang dari warung internet dan segera mengabarkan kedua orang tuaku. Kabar baik ini, jelas membuat mereka sujud syukur.
Satu September, aku bersegera pergi ke tempat dimana aku akan mulai mempersiapkan kelengkapan dokumenku sebagai pegawai baru. Pagi-pagi sekali aku sudah sampai di kantor berlantaikan 27. Aku duduk di lobby yang sangat luas dan elegan, menunggu pembimbingku datang.
Aku mengambil smartphoneku dan mengabari beberapa orang. Mereka adalah Mama, seseorang yang sudah hampir satu tahun dekat denganku, dan kamu. Kamu cepat sekali membalas chatku itu.
"Oke, besok malam kita jalan deehh." Kata aku ke kamu ketika kamu meminta traktiran dari aku karena aku sudah mendapat pekerjaan sesuai dengan impianku.
"Besok gue masih ada kerja shift siang. Kalaupun mau jalan ya setelah gue pulang. Sekitar jam 11 malam, lo mau?"
"Aduh itu kemaleman. Gue kan besoknya kerja hari kedua."
"Yauda gimana kalau hari Rabu?"
"Oke fix."
Pada akhirnya, kencan pertama kita di hari Rabu.
Hari itu aku tidak mulai kerja. Aku hanya melengkapi dokumen sebagai pegawai, membuat id card, mengurus absensi, mengambil seragam, dan kemudian sosialisasi pertama ke divisi.
Hari pertama aku kerja, 2 September, aku diberikan setumpuk kebijakan pemerintah yang berlaku disini. Aku harus membaca berlembar-lembar kebijakan tersebut. Kalau ada yang kurang aku mengerti, aku diwajibkan bertanya ke kepala divisi. Tidak sulit, namun juga tidak mudah. Cukup membuat aku penat. Sore harinya, seseorang yang sudah dekat denganku selama satu tahun itu datang menjemput. Kami pergi untuk makan malam bersama dan menonton film di bioskop yang memang sedang ramai dibicarakan. Kamu, tiba-tiba menelpon dan membuat aku panik. Kamu adalah rahasia di depannya.
Malam itu usai, seperti malam-malam sebelumnya dengan dia. Berkesan, tapi sudah biasa. Ya, sebab sudah berjalan hampir satu tahun.
Hari kedua aku bekerja, hari yang aku tunggu-tunggu. Sebab, akan ada kamu di dalamnya. Namun, entah kenapa hari ini justru terasa lama, "ya Tuhaaaan, kalau mau kasih waktu yang panjang untuk aku lewati, mohon nanti malam saja".
Seharian jantungku berdegup sangat kencang. Nafasku menggebu untuk meredakan degupan tersebut.
Melihat apa yang dilihat. Memikirkan apa yang terlintas. Menulis apa yang ingin ditulis.
Minggu, 06 September 2015
Senin, 24 Agustus 2015
Demi Kamu, Cinta Yang Pernah Singgah
Sebab, mungkin karena aku pernah melakukan hal demi kamu, cinta yang pernah singgah. Ingat kah kamu saat kamu benar-benar menunjukkan rasa bencimu. Sepertinya Allah membisikanmu dalam setiap shalat malammu. Kamu tau betul bahwa aku akan muncul di akun media sosialku hanya untuk menunjukkan bahwa aku sedang galau karena kamu. Kemudian berulang kali kamu muncul juga menemaniku. Begitukah kita menjalani cinta? Apa itu cinta?
Kawan, aku hanya ingin bercerita satu hal ke kamu. Saat aku merasa terperangkap dalam ruang hati kamu, walau kamu tidak menutup ruang tersebut sehingga aku bisa pergi kapanpun, aku pernah melakukan hal yang selalu kusebut itu pembodohan dalam mencintai. Ya, semua demi kamu.
Pernahkah kamu terpikirkan siapa orang yang menaruh perkakas di jok motormu setelah kamu mengalami kecelakaan motor tempo hari? Aku tau kawan kamu pernah mengalami kecelakaan kecil yang sebenarnya membuat sobek lengan jaket kamu dan memberikan luka yang perih disana, juga benturan di kepala ketika kamu menghantam stang motor yang terparkir di depanmu yang juga kamu tabrak setelah menghindari mobil di tikungan. Aku tau itu, aku membuntutimu saat itu sampai kantor. Aku seperti mendapat pandangan dari Allah bahwa hari itu aku harus mengikuti kamu. Kalau saja kamu sadar, bukan wanita beranak itu yang membopongmu ke pinggir jalan. Dia adalah aku yang berani menghampirimu saat masih setengah sadar. Lalu aku tidak mampu menunjukkan jati diriku sehingga aku memilih meninggalkanmu dan memanggil si anak kecil agar menemanimu di depan rumah kosong yang kemudian dia memanggil Ibunya untuk menolongmu. Dan berbondong-bondong warga menghampirimu setelahnya. Aku meminggirkan motormu ketika mulai banyak orang datang. Aku tau ada yang bermasalah di motormu, maka dari itu aku mempersiapkan perkakas yang tidak pernah kamu pikirkan sebelumnya. Tapi kamu, saat kembali bekerja, kamu malah menganggap ayah kamu yang menyiapkannya. Padahal, kalau kamu tidak buru-buru menarik gas, ayah kamu sudah bercerita tentang aku.
Sebab, demi kamu, cinta yang pernah singgah, aku nekat menunggumu di depan bar. Satu jam sebelum aku sampai disana, aku melewati depan rumahmu, bertemu teman mainmu ketika di rumah. Kebetulan, dia cukup tau banyak tentang kita, jadi aku mencoba bertanya tentang kamu. Dia bilang, kamu sedang pergi ke pesta teman kerjamu. Aku lupa namanya, aku selalu lupa nama dia, sahabatmu yang juga pernah bertemu denganku. Petunjuk mengarahkan aku pada sebuah bar di kota ini, daerahnya cukup terkenal dengan dunia malam. Demi kamu, aku kesana ketika teman rumahmu bilang kalau kamu sedang penat dan akan mencoba untuk meminum beberapa gelas. Aku tau, kamu bukan tipikal orang yang akan benar-benar melakukan hal gak baik kalau kamu gak lagi merasakan hal yang mengguncangmu. Entah kenapa, aku merasakan bahwa kamu memang sedang terguncang, dan aku takut. Kalau kamu sadar, ketika kamu dipaksa keluar karena habis menonjok orang di bar saat kamu mabuk, aku melepaskan rasa malu untuk menghampirimu dan membawamu pergi dari sana dengan mobil kantorku. Kamu masih mabuk dan tidak sadarkan diri. Benar saja, kamu memang sedang terguncang. Kata Ibu, itu karena aku. Ibu mengatakan banyak hal setibanya kita di rumahmu. Banyak hal yang membuatku menangis di pelukan Ibumu. Kemudian, dia membalas dengan ucapan terima kasih. Saat itu juga, aku merasa bahwa perasaan ini lebih kuat karena aku merasa bersalah. Bukan hanya karena cinta.
Bersambung...
Kawan, aku hanya ingin bercerita satu hal ke kamu. Saat aku merasa terperangkap dalam ruang hati kamu, walau kamu tidak menutup ruang tersebut sehingga aku bisa pergi kapanpun, aku pernah melakukan hal yang selalu kusebut itu pembodohan dalam mencintai. Ya, semua demi kamu.
Pernahkah kamu terpikirkan siapa orang yang menaruh perkakas di jok motormu setelah kamu mengalami kecelakaan motor tempo hari? Aku tau kawan kamu pernah mengalami kecelakaan kecil yang sebenarnya membuat sobek lengan jaket kamu dan memberikan luka yang perih disana, juga benturan di kepala ketika kamu menghantam stang motor yang terparkir di depanmu yang juga kamu tabrak setelah menghindari mobil di tikungan. Aku tau itu, aku membuntutimu saat itu sampai kantor. Aku seperti mendapat pandangan dari Allah bahwa hari itu aku harus mengikuti kamu. Kalau saja kamu sadar, bukan wanita beranak itu yang membopongmu ke pinggir jalan. Dia adalah aku yang berani menghampirimu saat masih setengah sadar. Lalu aku tidak mampu menunjukkan jati diriku sehingga aku memilih meninggalkanmu dan memanggil si anak kecil agar menemanimu di depan rumah kosong yang kemudian dia memanggil Ibunya untuk menolongmu. Dan berbondong-bondong warga menghampirimu setelahnya. Aku meminggirkan motormu ketika mulai banyak orang datang. Aku tau ada yang bermasalah di motormu, maka dari itu aku mempersiapkan perkakas yang tidak pernah kamu pikirkan sebelumnya. Tapi kamu, saat kembali bekerja, kamu malah menganggap ayah kamu yang menyiapkannya. Padahal, kalau kamu tidak buru-buru menarik gas, ayah kamu sudah bercerita tentang aku.
Sebab, demi kamu, cinta yang pernah singgah, aku nekat menunggumu di depan bar. Satu jam sebelum aku sampai disana, aku melewati depan rumahmu, bertemu teman mainmu ketika di rumah. Kebetulan, dia cukup tau banyak tentang kita, jadi aku mencoba bertanya tentang kamu. Dia bilang, kamu sedang pergi ke pesta teman kerjamu. Aku lupa namanya, aku selalu lupa nama dia, sahabatmu yang juga pernah bertemu denganku. Petunjuk mengarahkan aku pada sebuah bar di kota ini, daerahnya cukup terkenal dengan dunia malam. Demi kamu, aku kesana ketika teman rumahmu bilang kalau kamu sedang penat dan akan mencoba untuk meminum beberapa gelas. Aku tau, kamu bukan tipikal orang yang akan benar-benar melakukan hal gak baik kalau kamu gak lagi merasakan hal yang mengguncangmu. Entah kenapa, aku merasakan bahwa kamu memang sedang terguncang, dan aku takut. Kalau kamu sadar, ketika kamu dipaksa keluar karena habis menonjok orang di bar saat kamu mabuk, aku melepaskan rasa malu untuk menghampirimu dan membawamu pergi dari sana dengan mobil kantorku. Kamu masih mabuk dan tidak sadarkan diri. Benar saja, kamu memang sedang terguncang. Kata Ibu, itu karena aku. Ibu mengatakan banyak hal setibanya kita di rumahmu. Banyak hal yang membuatku menangis di pelukan Ibumu. Kemudian, dia membalas dengan ucapan terima kasih. Saat itu juga, aku merasa bahwa perasaan ini lebih kuat karena aku merasa bersalah. Bukan hanya karena cinta.
Bersambung...
Sabtu, 15 Agustus 2015
Dua Puluh Enam Sobekan, Tidak Semudah Merobek Kertas
Read Previous Chapter : Dua Puluh Enam Sobekan
Sudah tiga hari aku mengabaikan dus sepatu yang dikirimkan subuh itu. Aku tidak berniat untuk membukanya karena aku tau akan terjadi gejolak di dalam hati yang sudah lama menghilang. Bukanlah perkara yang mudah melupakan kamu, kawan. Apalagi aku harus melewati rumahmu yang berada di samping pasar setiap aku menemani Mama kesana untuk belanja hari-hari. Setiap hari aku masih suka bertemu Bu Wiwid di depan rumahmu dan selalu beliau sedang menyapu halaman depan rumahmu sebelum bekerja. Sementara aku berharap kamu yang kutemui setiap pagi itu. Namun, kesibukanmu kerjalah yang memupuskan harapanku sehingga akhirnya tiga tahun kita lost contact dan tidak sekalipun dapat bertatap muka atau hanya sekedar mencuri pandang. Kemudian, kamu justru tiba-tiba datang ke rumahku dan memberikan dus ini.
Melupakan kamu sangatlah tidak semudah kita kembali berkomunikasi dulu, tidak juga sebanding dengan waktu yang kita habiskan bersama. Aku pun masih bingung sampai detik ini mengapa begitu sulit melupakan cinta sesaat. Mungkin, karena rasa penasaran dalam diriku yang membuatku masih terobsesi denganmu. Mungkin, karena kesalahanku dulu yang membuat aku sendiri merasa kecewa atas hal yang pernah aku lakukan dengan kamu. Mungkin, karena aku masih sering lewat depan rumahmu dan memanggil Mama kamu dengan sebutan "Ibu". Mungkin dan dengan segala kemungkinan.
Jatuh cinta. Apa mungkin memang aku sangat mencintaimu dengan waktu sekejab? Apa mungkin aku jatuh cinta hanya karena kamu kembalikan memori jaman kecil? Apa mungkin aku jatuh cinta karena memang rupamu yang rupawan? Apa mungkin aku jatuh cinta karena memang aku tau benar bagaimana Mama kamu mengharapkan aku sebagai menantunya? Apa mungkin?
Tiga tahun tidak sebentar, kawan. Setiap malam selama 6 bulan, 17 hari, aku membuka twittermu hanya untuk mengetahui perkembangan hidupmu. Setiap saat selama 1 tahun 2 bulan 14 hari, aku membuka facebookmu untuk mengetahui apakah kamu sudah memiliki yang lain lagi? Juga setiap pagi di hari Selasa, Rabu, Jumat, Sabtu, Minggu, aku harus menengok ke dalam rumahmu untuk mengetahui sedang apa kamu di dalam sana.
Sekarang, kamu datang? Aku sudah memudarkan setiap inci bayanganmu dari benakku. Aku sudah tidak lagi membuka seluruh akun media sosialmu dan mengabaikan seluruh perkembangan di hidupmu. Aku sudah memulai menata hidupku lagi, hatiku lagi, pikiranku lagi, hanya agar aku tidak berhenti di kamu. Aku sudah memutuskan bahwa memang dia, orang lain setelah kamu, yang bisa menggantikanmu. Kamu perlu tau, kawan. Itu tidak mudah.
Dua hari setelah aku memutuskan untuk kembali bangkit dan tidak lagi membuka akun facebookmu, aku berkenalan dengan laki-laki lain. Dia karyawan lain di perusahaan yang memakai gedung tempatku bekerja. Dia lebih tua dari kamu, lebih matang sepertinya, dan kurasa dia lebih dewasa, kata Mama pun dia lebih baik dari kamu. Menoleh ke dia tidak mudah, kawan. Aku harus memasang tameng berupa muka jutekku selama 7 bulan lebih. Aku menjaga jarak dengan dia. Tapi, ingat kawan. Hidup itu adalah sebuah pertarungan untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Dan, dia bisa dengan tegar untuk bertarung melawan kejutekanku. Tapi, apa memang dia orangnya? Aku masih membisu untuk hal ini.
Bersambung...
Sudah tiga hari aku mengabaikan dus sepatu yang dikirimkan subuh itu. Aku tidak berniat untuk membukanya karena aku tau akan terjadi gejolak di dalam hati yang sudah lama menghilang. Bukanlah perkara yang mudah melupakan kamu, kawan. Apalagi aku harus melewati rumahmu yang berada di samping pasar setiap aku menemani Mama kesana untuk belanja hari-hari. Setiap hari aku masih suka bertemu Bu Wiwid di depan rumahmu dan selalu beliau sedang menyapu halaman depan rumahmu sebelum bekerja. Sementara aku berharap kamu yang kutemui setiap pagi itu. Namun, kesibukanmu kerjalah yang memupuskan harapanku sehingga akhirnya tiga tahun kita lost contact dan tidak sekalipun dapat bertatap muka atau hanya sekedar mencuri pandang. Kemudian, kamu justru tiba-tiba datang ke rumahku dan memberikan dus ini.
Melupakan kamu sangatlah tidak semudah kita kembali berkomunikasi dulu, tidak juga sebanding dengan waktu yang kita habiskan bersama. Aku pun masih bingung sampai detik ini mengapa begitu sulit melupakan cinta sesaat. Mungkin, karena rasa penasaran dalam diriku yang membuatku masih terobsesi denganmu. Mungkin, karena kesalahanku dulu yang membuat aku sendiri merasa kecewa atas hal yang pernah aku lakukan dengan kamu. Mungkin, karena aku masih sering lewat depan rumahmu dan memanggil Mama kamu dengan sebutan "Ibu". Mungkin dan dengan segala kemungkinan.
Jatuh cinta. Apa mungkin memang aku sangat mencintaimu dengan waktu sekejab? Apa mungkin aku jatuh cinta hanya karena kamu kembalikan memori jaman kecil? Apa mungkin aku jatuh cinta karena memang rupamu yang rupawan? Apa mungkin aku jatuh cinta karena memang aku tau benar bagaimana Mama kamu mengharapkan aku sebagai menantunya? Apa mungkin?
Tiga tahun tidak sebentar, kawan. Setiap malam selama 6 bulan, 17 hari, aku membuka twittermu hanya untuk mengetahui perkembangan hidupmu. Setiap saat selama 1 tahun 2 bulan 14 hari, aku membuka facebookmu untuk mengetahui apakah kamu sudah memiliki yang lain lagi? Juga setiap pagi di hari Selasa, Rabu, Jumat, Sabtu, Minggu, aku harus menengok ke dalam rumahmu untuk mengetahui sedang apa kamu di dalam sana.
Sekarang, kamu datang? Aku sudah memudarkan setiap inci bayanganmu dari benakku. Aku sudah tidak lagi membuka seluruh akun media sosialmu dan mengabaikan seluruh perkembangan di hidupmu. Aku sudah memulai menata hidupku lagi, hatiku lagi, pikiranku lagi, hanya agar aku tidak berhenti di kamu. Aku sudah memutuskan bahwa memang dia, orang lain setelah kamu, yang bisa menggantikanmu. Kamu perlu tau, kawan. Itu tidak mudah.
Dua hari setelah aku memutuskan untuk kembali bangkit dan tidak lagi membuka akun facebookmu, aku berkenalan dengan laki-laki lain. Dia karyawan lain di perusahaan yang memakai gedung tempatku bekerja. Dia lebih tua dari kamu, lebih matang sepertinya, dan kurasa dia lebih dewasa, kata Mama pun dia lebih baik dari kamu. Menoleh ke dia tidak mudah, kawan. Aku harus memasang tameng berupa muka jutekku selama 7 bulan lebih. Aku menjaga jarak dengan dia. Tapi, ingat kawan. Hidup itu adalah sebuah pertarungan untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Dan, dia bisa dengan tegar untuk bertarung melawan kejutekanku. Tapi, apa memang dia orangnya? Aku masih membisu untuk hal ini.
Bersambung...
Jumat, 07 Agustus 2015
Teruntuk: Kamu
Hai kamu!
Kamu laki-laki yang baru setahun lebih aku kenal. Aku ingin bicara melalui tulisan ini. Kuharap kamu bisa mengerti dengan bahasaku yang teramat sederhana, namun yang pasti tulisan ini hanya untuk kamu.
Hai saudara,
Mengapa aku memanggilmu kali ini dengan saudara? Karena di paragraf ini aku mau mengulas kita dulu, sebelum hari dimana kita bisa berbincang ringan. Saudara, dulu kita bersaudara karena memang kita dilahirkan dari nenek moyang yang sama. Kita bersaudara dari tanah air yang sama. Kira bersaudara dari satu manusia yang diciptakan Allah pertama kali. Iya, kita bersaudara.
Hai Mas Penjaga Warnet!
Jikalau aku ingat baik-baik kamu adalah seseorang yang kalau malam duduk di balik komputer server yang ada di belakang pintu masuk. Orang yang pertama kali ingin kutemui ketika aku sampai di warnet. Biasanya aku main, atau sekedar mencetak tugas-tugas kuliahku. Aku tidak sedikitpun memerhatikan kamu. Siapa kamu, dimana rumah kamu, apa facebook kamu, twitter kamu, sungguh aku tidak peduli. Yang aku tau kamu penjaga warnet. Maaf aku mengulang profesi itu berkali-kali di paragraf ini. Jangan malu! Kalau pada dasarnya karena profesi itu kita saling kenal. Ingat gak kamu? Malam pertama kali kita berbincang ringan setelah beberapa lama kamu memerhatikanku dari bangku itu. Aku sedang dikejar tugas deadline yang besok akan aku presentasikan. Aku memintamu untuk print powerpoint yang sudah aku buat. Bahkan terdapat masalah saat itu yang justru bikin kita saling bicara. Hanya karena kertas yang sudah habis dan ditambah dengan yang baru namun ukurannya beda. Aku membiarkannya terjadi begitu saja. Lalu aku pulang dan memersiapkan semuanya. Setelah santai, aku membuka facebook dan kamu sudah mengirimku pesan pribadi disana. Hingga kita berbalas pesan sedikit. Tapi itulah awal mula kita berbincang. Bagaimana kamu bisa mengetahui facebook aku? Ulasmu setelah kita saling kenal, ternyata kamu memantau aku yang sesekali membuka account tersebut di warnet dari komputer server. Lucu juga usaha kamu.
Hai Mas!
Aky memanggilmu Mas walau kemudian aku ganti dengan 'Kak' supaya lebih konvensional saja. Pertengahan September yang aku ingat ketika aku memposting sesuatu yang sedang aku pikirkan di facebook mengenai Get Rich. Saat itu aku hanya menuliskannya tanpa terus memantaunya. Hingga kayaknya malam hari aku buka facebook kembali, ternyata kamu mengirimiku pesan pribadi disana. Kamu mulai nekat meminta id line aku. Sayangnya, saat itu aku hanya menggunakan Blackberry jadul jadi aku gak download aplikasi line di smartphone yang sudah setahun lebih menemaniku, namun aku punya id line. Aku tidak memberitahumu, aku menyuruhmu untuk berteman di blackberry messanger, akhirnya bertemanlah kita. Tanpa sering kita berkomunikasi karena aku bingung apa yang mau aku bahas denganmu. Hingga pada awal Oktober kamu mengirimku pesan di BBM dan berujung kencan pertama kita di sebuah restoran junkfood untuk sekedar makan ice cream. Aku banyak cerita di depanmu. Kehidupan pribadiku sedikit demi sedikit aku curahkan. Sampai aku pun menceritakan kisahku dengan beberapa cowok yang sedang dekat denganku dalam beberapa waktu belakangan. Ada satu cowok yang sampai detik ini kamu tidak suka saat aku menyebutnya. Tapi, Mas atau Kak, berhentilah membuatku muak ketika kamu terlalu membawa perasaanmu yang tidak enak itu saat ini. Dengan kata lain, aku ingin menyampaikan bahwa aku sudah memilihmu, bukan orang lain. Itu yang terpenting.
Hai Tukang Modus!
Aku sempat menyebutmu seperti itu ketika kita semakin dekat. Kamu tidak percaya? Silahkan tanya pada bibi, aku pernah berbisik di warnet dengan dia. Aku mengatakan bahwa kamu sedang modus-in -bahasa anak sekarang- aku. Ingat hal-hal berikut ini. Saat kita pergi bersama di hari Sabtu ke kampus kamu, kemudian kita pergi ke salah satu cafe di Bintaro, kemudian kita juga mampir untuk menghabiskan hari di salah satu mall disana, kamu menggandenf tanganku untuk kedua kalinya. Aku sebut itu sebagai modusan kamu sebagai laki-laki lajang. Kedua kali?
Ada yang pertama, yaitu saat kita hadir ke acara Hai Day di Senayan. Disana juga kamu menggandeng tanganku. Entah maksud kamu apa, yang ada di pikiranku adalah kamu orang yang nekat padahal aku sudah mulai menjaga jarak dengan menyebut laki-laki yang denganku sebelummu adalag pacarku. Ya, semua hal itu aku sebut modus. Ada pula usaha kedekatan kita seperti kamu jemput aku di kampus, kita makan bersama, jalan dan segala macam.
Hai Sayang!
Kini panggilan itu berubah. Seminggu sebelum kencan kita yang kesekian, aku sudah berpikir matang-matang tentang kamu. Kalau kata teman baikku, kamu lebih baik dan mampu memberikan apa yang laki-laki sebelumnya itu tidak bisa berikan, yaitu kejelasan. Tiga puluh November 2014 adalah hari yang kita rencanakan untuk satu hal besar yang merubah hari-hari kita selama 8 bulan ini. Kamu menyatakan perasaanmu di satu restoran bernuansa betawi di Tangerang. Hari itu status kita berubag menjadi sepasang kekasih. Sayang, tulisan ini kubuat hanya teruntuk kamu. Aku memilih kamu. Jangan pikirkan hal lain lagi yang justru membuat kita dan hubungan ini tidak baik. Kamu terbaik. Adi Kurniawan.
Your love,
Syarifah Mudarsih
Kamu laki-laki yang baru setahun lebih aku kenal. Aku ingin bicara melalui tulisan ini. Kuharap kamu bisa mengerti dengan bahasaku yang teramat sederhana, namun yang pasti tulisan ini hanya untuk kamu.
Hai saudara,
Mengapa aku memanggilmu kali ini dengan saudara? Karena di paragraf ini aku mau mengulas kita dulu, sebelum hari dimana kita bisa berbincang ringan. Saudara, dulu kita bersaudara karena memang kita dilahirkan dari nenek moyang yang sama. Kita bersaudara dari tanah air yang sama. Kira bersaudara dari satu manusia yang diciptakan Allah pertama kali. Iya, kita bersaudara.
Hai Mas Penjaga Warnet!
Jikalau aku ingat baik-baik kamu adalah seseorang yang kalau malam duduk di balik komputer server yang ada di belakang pintu masuk. Orang yang pertama kali ingin kutemui ketika aku sampai di warnet. Biasanya aku main, atau sekedar mencetak tugas-tugas kuliahku. Aku tidak sedikitpun memerhatikan kamu. Siapa kamu, dimana rumah kamu, apa facebook kamu, twitter kamu, sungguh aku tidak peduli. Yang aku tau kamu penjaga warnet. Maaf aku mengulang profesi itu berkali-kali di paragraf ini. Jangan malu! Kalau pada dasarnya karena profesi itu kita saling kenal. Ingat gak kamu? Malam pertama kali kita berbincang ringan setelah beberapa lama kamu memerhatikanku dari bangku itu. Aku sedang dikejar tugas deadline yang besok akan aku presentasikan. Aku memintamu untuk print powerpoint yang sudah aku buat. Bahkan terdapat masalah saat itu yang justru bikin kita saling bicara. Hanya karena kertas yang sudah habis dan ditambah dengan yang baru namun ukurannya beda. Aku membiarkannya terjadi begitu saja. Lalu aku pulang dan memersiapkan semuanya. Setelah santai, aku membuka facebook dan kamu sudah mengirimku pesan pribadi disana. Hingga kita berbalas pesan sedikit. Tapi itulah awal mula kita berbincang. Bagaimana kamu bisa mengetahui facebook aku? Ulasmu setelah kita saling kenal, ternyata kamu memantau aku yang sesekali membuka account tersebut di warnet dari komputer server. Lucu juga usaha kamu.
Hai Mas!
Aky memanggilmu Mas walau kemudian aku ganti dengan 'Kak' supaya lebih konvensional saja. Pertengahan September yang aku ingat ketika aku memposting sesuatu yang sedang aku pikirkan di facebook mengenai Get Rich. Saat itu aku hanya menuliskannya tanpa terus memantaunya. Hingga kayaknya malam hari aku buka facebook kembali, ternyata kamu mengirimiku pesan pribadi disana. Kamu mulai nekat meminta id line aku. Sayangnya, saat itu aku hanya menggunakan Blackberry jadul jadi aku gak download aplikasi line di smartphone yang sudah setahun lebih menemaniku, namun aku punya id line. Aku tidak memberitahumu, aku menyuruhmu untuk berteman di blackberry messanger, akhirnya bertemanlah kita. Tanpa sering kita berkomunikasi karena aku bingung apa yang mau aku bahas denganmu. Hingga pada awal Oktober kamu mengirimku pesan di BBM dan berujung kencan pertama kita di sebuah restoran junkfood untuk sekedar makan ice cream. Aku banyak cerita di depanmu. Kehidupan pribadiku sedikit demi sedikit aku curahkan. Sampai aku pun menceritakan kisahku dengan beberapa cowok yang sedang dekat denganku dalam beberapa waktu belakangan. Ada satu cowok yang sampai detik ini kamu tidak suka saat aku menyebutnya. Tapi, Mas atau Kak, berhentilah membuatku muak ketika kamu terlalu membawa perasaanmu yang tidak enak itu saat ini. Dengan kata lain, aku ingin menyampaikan bahwa aku sudah memilihmu, bukan orang lain. Itu yang terpenting.
Hai Tukang Modus!
Aku sempat menyebutmu seperti itu ketika kita semakin dekat. Kamu tidak percaya? Silahkan tanya pada bibi, aku pernah berbisik di warnet dengan dia. Aku mengatakan bahwa kamu sedang modus-in -bahasa anak sekarang- aku. Ingat hal-hal berikut ini. Saat kita pergi bersama di hari Sabtu ke kampus kamu, kemudian kita pergi ke salah satu cafe di Bintaro, kemudian kita juga mampir untuk menghabiskan hari di salah satu mall disana, kamu menggandenf tanganku untuk kedua kalinya. Aku sebut itu sebagai modusan kamu sebagai laki-laki lajang. Kedua kali?
Ada yang pertama, yaitu saat kita hadir ke acara Hai Day di Senayan. Disana juga kamu menggandeng tanganku. Entah maksud kamu apa, yang ada di pikiranku adalah kamu orang yang nekat padahal aku sudah mulai menjaga jarak dengan menyebut laki-laki yang denganku sebelummu adalag pacarku. Ya, semua hal itu aku sebut modus. Ada pula usaha kedekatan kita seperti kamu jemput aku di kampus, kita makan bersama, jalan dan segala macam.
Hai Sayang!
Kini panggilan itu berubah. Seminggu sebelum kencan kita yang kesekian, aku sudah berpikir matang-matang tentang kamu. Kalau kata teman baikku, kamu lebih baik dan mampu memberikan apa yang laki-laki sebelumnya itu tidak bisa berikan, yaitu kejelasan. Tiga puluh November 2014 adalah hari yang kita rencanakan untuk satu hal besar yang merubah hari-hari kita selama 8 bulan ini. Kamu menyatakan perasaanmu di satu restoran bernuansa betawi di Tangerang. Hari itu status kita berubag menjadi sepasang kekasih. Sayang, tulisan ini kubuat hanya teruntuk kamu. Aku memilih kamu. Jangan pikirkan hal lain lagi yang justru membuat kita dan hubungan ini tidak baik. Kamu terbaik. Adi Kurniawan.
Your love,
Syarifah Mudarsih
Rabu, 05 Agustus 2015
Dua Puluh Enam Sobekan
Setelah tiga tahun kita lost contact, sesuatu yang mengejutkanku datang. Dini hari di hari Minggu, pertengahan Agustus, baru saja aku rapih tadarus, seseorang mengetuk pintu kamarku. Ada titipan, kata Mama. Aku ke luar setelah merapihkan sajadah dan mukenah. Aku ikat rambutku yang mulai panjang sebahu. Aku menghampiri Mama, namun beliau malah meneriakiku dari kamar mandi, "titipannya ada di atas kulkas". Segera aku memutar arahku yang sebelumnya ingin ke arah kamar kedua orang tuaku menuju dapur. Seraya meraih sebotol air putih di lemari pendingin tersebut, aku mengambil titipan yang berbentuk kotak sebesar dus sepatu.
Aku berjalan ke ruang tamu dengan botol air mineral di tangan kiri dan kotak yang memang dari dus sepatu itu kujepit di ketiak kananku.
"Orang gila macam apa ya pagi-pagi gini ngasih paket? Semangatnya lebih-lebih dari Go-Jek", suatu perusahaan yang mengelola banyak tukang ojeg di Jakarta, yang memang saat ini sedang hits-hitsnya.
Aku memrediksi secara percaya diri bahwa kotak ini adalah dus bekas sepatu. Benar saja, setelah aku buka secara acak kertas koran yang membungkus seluruh permukaan dus terlihatlah merek sepatunya. Vans, sepatu yang memang lagi trend di kalangan anak gaul masa kini.
"Gue tau ini dari siapa," aku tersenyum seketika setelah membaca merek dus tersebut. Kemudian, Mama datang dari arah kamarnya. Beliau duduk di sampingku yang masih belum membuka dus titipan tadi.
"Ini tadi yang nganter siapa, Ma? Subuh-subuh gini ada aja orang kerajinan."
"Mama juga gak tau. Tadi pas Mama mau ke luar buat ambil sapu lidi, Mama lihat ada orang naro itu di pagar. Pas Mama teriakin mau ngapain, eh dia malah pergi gitu aja."
"Oh jadi tadi Mama teriakin itu orang. Mama mah kebiasaan. Pintu rumah sama pagar jaraknya dua meter aja pake teriak."
"Itu Mama reflek, Nak. Namanya Mama kaget ada orang ngendap-ngendap gitu. Mama kira kan maling."
"Dia laki-laki kan, Ma?"
"Iya. Kok kamu tau? Kamu tau itu dari siapa?"
"Ya mana mungkin sih, Ma, cewek subuh gini ngendap-ngendap gitu ke rumah orang."
"Iya juga sih. Tapi itu paket isinya apa ya? Hati-hati deh. Takutnya itu isi macem-macem. Buang aja deh. Nanti neror kamu. Udah mana tertuju banget ada nama kamu di atasnya. Kamu punya musuh? Siapa, Nak? Kamu jahatin orang ya? Sampai ada orang misterius gitu kasih kamu paket? Kok Mama baru sadar untuk hati-hati ya? Mama jadi takut. Udah buang aja sana. Atau Mama yang buangin sini." Mama seketika panik dan aku justru merasa Mama lucu dan berlebihan.
"Tenang, Ma. Aku tau ini dari siapa." Aku mencoba menenangkan Mama yang sudah bawel karena panik. Tidak mudah. Tapi tidak sampai aku harus membuka dus tersebut. Aku tidak mau isi dari dus ini membawaku ke masa abu-abu.
Aku sudah mulai melupakan yang memang harus aku lupakan. Dus ini yang kemungkinan besar adalah bagian dari kisah yang pernah membuatku merasa terjebak, takkan menjadi penyebab rusaknya suasana hati yang kini sudah mulai biasa lagi. Aku meninggalkan Mama dan membawa dus ini ke kamar. Aku letakkan dus itu di meja samping tempat tidur. Aku mengambil selembar post-it dan menuliskan serangkaian kata yang kini mengganjal di pikiranku.
"Seperti takkan pernah habis kisah yang dimulai dengan ketulusan, dijedakan dengan pendewasaan, dipertemukan kembali dengan ketidaksengajaan, dijelaskan melalui teka-teki, namun terhenti karena rasa sakit hati."
Bersambung...
Aku berjalan ke ruang tamu dengan botol air mineral di tangan kiri dan kotak yang memang dari dus sepatu itu kujepit di ketiak kananku.
"Orang gila macam apa ya pagi-pagi gini ngasih paket? Semangatnya lebih-lebih dari Go-Jek", suatu perusahaan yang mengelola banyak tukang ojeg di Jakarta, yang memang saat ini sedang hits-hitsnya.
Aku memrediksi secara percaya diri bahwa kotak ini adalah dus bekas sepatu. Benar saja, setelah aku buka secara acak kertas koran yang membungkus seluruh permukaan dus terlihatlah merek sepatunya. Vans, sepatu yang memang lagi trend di kalangan anak gaul masa kini.
"Gue tau ini dari siapa," aku tersenyum seketika setelah membaca merek dus tersebut. Kemudian, Mama datang dari arah kamarnya. Beliau duduk di sampingku yang masih belum membuka dus titipan tadi.
"Ini tadi yang nganter siapa, Ma? Subuh-subuh gini ada aja orang kerajinan."
"Mama juga gak tau. Tadi pas Mama mau ke luar buat ambil sapu lidi, Mama lihat ada orang naro itu di pagar. Pas Mama teriakin mau ngapain, eh dia malah pergi gitu aja."
"Oh jadi tadi Mama teriakin itu orang. Mama mah kebiasaan. Pintu rumah sama pagar jaraknya dua meter aja pake teriak."
"Itu Mama reflek, Nak. Namanya Mama kaget ada orang ngendap-ngendap gitu. Mama kira kan maling."
"Dia laki-laki kan, Ma?"
"Iya. Kok kamu tau? Kamu tau itu dari siapa?"
"Ya mana mungkin sih, Ma, cewek subuh gini ngendap-ngendap gitu ke rumah orang."
"Iya juga sih. Tapi itu paket isinya apa ya? Hati-hati deh. Takutnya itu isi macem-macem. Buang aja deh. Nanti neror kamu. Udah mana tertuju banget ada nama kamu di atasnya. Kamu punya musuh? Siapa, Nak? Kamu jahatin orang ya? Sampai ada orang misterius gitu kasih kamu paket? Kok Mama baru sadar untuk hati-hati ya? Mama jadi takut. Udah buang aja sana. Atau Mama yang buangin sini." Mama seketika panik dan aku justru merasa Mama lucu dan berlebihan.
"Tenang, Ma. Aku tau ini dari siapa." Aku mencoba menenangkan Mama yang sudah bawel karena panik. Tidak mudah. Tapi tidak sampai aku harus membuka dus tersebut. Aku tidak mau isi dari dus ini membawaku ke masa abu-abu.
Aku sudah mulai melupakan yang memang harus aku lupakan. Dus ini yang kemungkinan besar adalah bagian dari kisah yang pernah membuatku merasa terjebak, takkan menjadi penyebab rusaknya suasana hati yang kini sudah mulai biasa lagi. Aku meninggalkan Mama dan membawa dus ini ke kamar. Aku letakkan dus itu di meja samping tempat tidur. Aku mengambil selembar post-it dan menuliskan serangkaian kata yang kini mengganjal di pikiranku.
"Seperti takkan pernah habis kisah yang dimulai dengan ketulusan, dijedakan dengan pendewasaan, dipertemukan kembali dengan ketidaksengajaan, dijelaskan melalui teka-teki, namun terhenti karena rasa sakit hati."
Bersambung...
Jumat, 24 Juli 2015
Perubahan Itu Ada, Pasti, Juga Terasa.
Sejak beberapa hari yang lalu, aku sudah memikirkan hal ini. Bahkan aku juga sudah membayangkan seperti apa jadinya di tahun ini. Akan ada banyak perbedaan dikarenakan takdir-takdir Allah yang tidak pernah aku bisa ketahui di tahun sebelumnya.
Aku tipikal orang yang mudah tersentuh terhadap sesuatu yang hilang, apapun itu. Aku orang yang sangat tidak suka perpisahan, kehilangan, atau semacamnya. Aku senang dengan kebersamaan, tawa dan suka cita, sampai kuharap hidupku hanya untuk berbahagia. Tapi hidup pun berpasang-pasangan. Ada kebahagiaan, ada kesedihan. Ada pertemuan, ada perpisahan.
Oke, balik pada realita. Aku sekarang sudah mencapai rencana hidupku yang kesekian, aku tidak memastikan keberapanya. Di tahun ini, aku sudah selesai kuliah D3 dan memiliki gelar Ahli Madya. Aku bekerja di sebuah perusahaan milik pribadi dengan gaji yang menurutku lumayan untuk pemula. Eh tapi, kecil deh.
Dengan gaji kecil itu, lebaran tahun ini aku bisa membelikan baju keluargaku, Bapak, Ibu, dan kedua Adikku. Ini impianku yang kesekian yang sudah dapat terwujud. Selain itu, aku juga bisa menghadiahkan satu set gamis untuk Embah dari Bapak yang sudah tiga bulan sakit.
Nah, Embahku sudah tiga bulan sakit. Sekitar bulan April sepertinya. Beliau jatuh dari bangku ketika ingin membenarkan posisi antena tv di rumahnya. Saat itu, kami sekeluarga, bahkan seluruh keluarga Bapak tidak tau kalau ternyata tulang kaki beliau retak. Tepatnya di bagian selangkangan. Hal itulah yang pada akhirnya membuat Embah dirawat secara intensif di rumahku selama dua bulan lebih, sampai hari ini.
Dari kisah tadi, dapat diketahui bahwa ada suka dan duka yang terjadi di tahun ini. Jelas terlihat.
Sepercik kisah lainnya yang melengkapi tahun ini pun datang dari diri pribadiku sendiri. Setelah setahun menjalin hubungan tanpa status dengan teman sekolahku. Aku bertemu dengan sosok laki-laki yang amat sangat baik. Sekarang dia sudah menjadi pacarku, bukan lagi dalam hubungan tanpa status. Hubungan kami sudah terjalin tujuh bulan lebih dan Alhamdulillah kedua orang tua kami sudah saling tau dan mengerti. Kami berdua berharap hubungan ini bukan lagi untuk main-main. Hal ini dikarenakan memang kami sudah sama-sama tidak ingin "membaca buku baru lainnya". Itu istilah yang aku buat. Bahkan, di hari kemenangan ini, ketika aku berkunjung ke rumah keluarga besar Bapak yang di daerah Jakarta Pusat, laki-laki itu sudah cukup dikenal mereka. Mereka pun mendoakan yang terbaik untuk kita. Tinggal keluarga besar dari Ibu saja yang belum kuketahui tanggapannya sampai aku menulis paragraf ini. Alhamdulillah bahkan banyak yang sudah mendoakan agar aku dan dia bisa sampai ke ikatan yang lebih dari ini. Aamiiin o:) Insya Allaah.
Berkenaan dengan datangnya aku ke rumah keluarga besar di Jakarta Pusat, muncul pula sisi lain dari kebahagiaan tersebut.
Awal bulan Ramadhan, aku dikejutkan kabar duka datang dari sana. Ibu Haji, aku biasa memanggilnya, Beliau dipanggil oleh Allah SWT di hari pertama Ramadhan. Duka yang sangat mendalam atas kembalinya beliau ke hadapan Sang Khalik. Hari itu aku gemetar di kantor. Pikirku langsung melayang ke hari ini. "Bagaimana lebaran tahun ini ya?"
Semua terjawab saat aku memasuki gang kecil di Cempaka Baru. Beda rasanya dibandingkan beberapa tahun yang lalu dimana banyak Jama'ah Ibu Haji dan Engkong Haji, suaminya, datang untuk silaturahmi di hari Idul Fitri. Sepi dan biasa saja. Tidak lagi ada aktivitas seperti dulu. Suasana haru semakin menyelimuti ketika aku masuk ke rumah yang dulu sering dijadikan tempat pengajian keluarga besar Al-Ikhlas. Ibu mulai menangis, aku pun merasa ingin mengeluarkan air mata. Namun, aku tahan sebisaku. Allah tau apa yang terbaik yang akan terjadi setelah ini. Tidak ada yang mampu memrediksinya.
Kami bersalaman saling memohon maaf antar anggota keluarga. Kemudian di lanjutkan dengan perbincangan hangat seputar meninggalnya Bu Haji dan kelanjutan nasip pengajian ini. Aku tidak ikut dengan para orang tua, aku memilih berkumpul dengan saudara-saudaraku yang kisarannya "anak-anak" dari orang tua itu. Aku mencoba menetralisir keadaan dan kuyakin semua akan baik-baik saja. Lalu, sebuah harapan mengenai kembali aktifnya keluarga besar ini tetap ada.
Aku tipikal orang yang mudah tersentuh terhadap sesuatu yang hilang, apapun itu. Aku orang yang sangat tidak suka perpisahan, kehilangan, atau semacamnya. Aku senang dengan kebersamaan, tawa dan suka cita, sampai kuharap hidupku hanya untuk berbahagia. Tapi hidup pun berpasang-pasangan. Ada kebahagiaan, ada kesedihan. Ada pertemuan, ada perpisahan.
Oke, balik pada realita. Aku sekarang sudah mencapai rencana hidupku yang kesekian, aku tidak memastikan keberapanya. Di tahun ini, aku sudah selesai kuliah D3 dan memiliki gelar Ahli Madya. Aku bekerja di sebuah perusahaan milik pribadi dengan gaji yang menurutku lumayan untuk pemula. Eh tapi, kecil deh.
Dengan gaji kecil itu, lebaran tahun ini aku bisa membelikan baju keluargaku, Bapak, Ibu, dan kedua Adikku. Ini impianku yang kesekian yang sudah dapat terwujud. Selain itu, aku juga bisa menghadiahkan satu set gamis untuk Embah dari Bapak yang sudah tiga bulan sakit.
Nah, Embahku sudah tiga bulan sakit. Sekitar bulan April sepertinya. Beliau jatuh dari bangku ketika ingin membenarkan posisi antena tv di rumahnya. Saat itu, kami sekeluarga, bahkan seluruh keluarga Bapak tidak tau kalau ternyata tulang kaki beliau retak. Tepatnya di bagian selangkangan. Hal itulah yang pada akhirnya membuat Embah dirawat secara intensif di rumahku selama dua bulan lebih, sampai hari ini.
Dari kisah tadi, dapat diketahui bahwa ada suka dan duka yang terjadi di tahun ini. Jelas terlihat.
Sepercik kisah lainnya yang melengkapi tahun ini pun datang dari diri pribadiku sendiri. Setelah setahun menjalin hubungan tanpa status dengan teman sekolahku. Aku bertemu dengan sosok laki-laki yang amat sangat baik. Sekarang dia sudah menjadi pacarku, bukan lagi dalam hubungan tanpa status. Hubungan kami sudah terjalin tujuh bulan lebih dan Alhamdulillah kedua orang tua kami sudah saling tau dan mengerti. Kami berdua berharap hubungan ini bukan lagi untuk main-main. Hal ini dikarenakan memang kami sudah sama-sama tidak ingin "membaca buku baru lainnya". Itu istilah yang aku buat. Bahkan, di hari kemenangan ini, ketika aku berkunjung ke rumah keluarga besar Bapak yang di daerah Jakarta Pusat, laki-laki itu sudah cukup dikenal mereka. Mereka pun mendoakan yang terbaik untuk kita. Tinggal keluarga besar dari Ibu saja yang belum kuketahui tanggapannya sampai aku menulis paragraf ini. Alhamdulillah bahkan banyak yang sudah mendoakan agar aku dan dia bisa sampai ke ikatan yang lebih dari ini. Aamiiin o:) Insya Allaah.
Berkenaan dengan datangnya aku ke rumah keluarga besar di Jakarta Pusat, muncul pula sisi lain dari kebahagiaan tersebut.
Awal bulan Ramadhan, aku dikejutkan kabar duka datang dari sana. Ibu Haji, aku biasa memanggilnya, Beliau dipanggil oleh Allah SWT di hari pertama Ramadhan. Duka yang sangat mendalam atas kembalinya beliau ke hadapan Sang Khalik. Hari itu aku gemetar di kantor. Pikirku langsung melayang ke hari ini. "Bagaimana lebaran tahun ini ya?"
Semua terjawab saat aku memasuki gang kecil di Cempaka Baru. Beda rasanya dibandingkan beberapa tahun yang lalu dimana banyak Jama'ah Ibu Haji dan Engkong Haji, suaminya, datang untuk silaturahmi di hari Idul Fitri. Sepi dan biasa saja. Tidak lagi ada aktivitas seperti dulu. Suasana haru semakin menyelimuti ketika aku masuk ke rumah yang dulu sering dijadikan tempat pengajian keluarga besar Al-Ikhlas. Ibu mulai menangis, aku pun merasa ingin mengeluarkan air mata. Namun, aku tahan sebisaku. Allah tau apa yang terbaik yang akan terjadi setelah ini. Tidak ada yang mampu memrediksinya.
Kami bersalaman saling memohon maaf antar anggota keluarga. Kemudian di lanjutkan dengan perbincangan hangat seputar meninggalnya Bu Haji dan kelanjutan nasip pengajian ini. Aku tidak ikut dengan para orang tua, aku memilih berkumpul dengan saudara-saudaraku yang kisarannya "anak-anak" dari orang tua itu. Aku mencoba menetralisir keadaan dan kuyakin semua akan baik-baik saja. Lalu, sebuah harapan mengenai kembali aktifnya keluarga besar ini tetap ada.
Kamis, 23 Juli 2015
Pertemuan Di Bulan Syawal
Beberapa tahun telah berlalu dengan kisah kita yang pernah di mulai di awal bulan Syawal. Sebuah kisah yang dimulai dari pertemuan dan berakhir dengan kebencian. Kisah yang masih bisa teringat jelas di benak kita masing-masing. Walau kini telah banyak kisah baru yang mampu menggantikan sedikit demi sedikit. Meski demikian, pertemuan itu sangat indah.
Allahuakbar... Allahuakbar... Allahuakbar Walillailham...
Takbir itu masih berkumandang di masjid-masjid rumah kita. Aku tidak pernah menyangka bahwa Allah mempertemukan kita di bulan yang indah ini.
Pertemuan sederhana di sebuah kafetaria daerah Cengkareng, salah satu kecamatan di Jakarta Barat, tempat kita tinggal. Saat itu kamu sudah lebih dulu datang di kafetaria tersebut. Lalu berselang beberapa menit, aku tidak tau pastinya, aku dan keluargaku datang.
Kita duduk di meja yang bersebelahan. Aku melirik ke arahmu, kukira aku mengenal laki-laki sebaya yang berkaos hitam dan mengenakan sweater hitam. Aku tidak menyapamu, jelas karena aku malu untuk memulai duluan dan kembali mengakrabkan diri. Beberapa kali aku menengokan kepala ke arah kiri, akhirnya kita saling bertemu pandang.
"Ehh... Elu?" Sapamu membuatku grogi.
"Ehh... Iya." Ternyata benar dia teman sekelasku dulu.
"Itu siapa?" Adik keduaku bertanya di sela tatapan kita.
"Temen Kakak dulu waktu sekolah. Kayaknya," kataku pelan di ujung kalimat.
"Lah? Itu adek lu? Banyak banget adek lu."
"He... Iya ini adek gue yang kedua."
"Wehh bro!!!" Kamu menyapa adik pertamaku.
"Ehh iya, Bang" jawabnya.
"Sebentar ya. Gue mau pesen makanan dulu."
"Oh iya iya, sorry ganggu."
Selang beberapa menit, kita kembali bercakap.
"Kok lu ga mudik?"
"Iya, tahun ini lg krisis moneter nih di keluarga. Jadi ga mudik dulu. Ya paling jalan-jalan sekalian makan aja di deket-deket rumah."
"Sama dong. Gue juga nih. Tapi sayangnya keluarga gue ga sekompak keluarga lu. Bapak sama Ibu lu mah mau diajak jalan kayak gini. Gue mah susah."
"Bukannya kalau cowok mah malah susah diajak main sama keluarga? Dia aja susah banget." Aku menunjuk adik pertamaku.
"Ya bener sih. Udah gede mah anak laki suka males main sama keluarga. Ya ga?" Kamu malah bertanya ke adik pertamaku.
"Iya, Bang. Gue juga males ini kalau ga dipaksa sama Kakak."
"Pak, Bu, kok anaknya tambah cantik ya? Gingsulnya bikin manis." Kamu memujiku di depan Ibu dan Bapak.
"Hush!!!"
"Yeeeh, emang bener. Makin manis lu."
"Ya namanya juga anak Ibu." Ibu menjawab.
"Manis dari mana? Amit-amit dia mah." Bapak meledek.
Aku sedikit malu saat itu. Kamu berani memuji di pertemuan pertama kita setelah enam tahun kita tidak pernah berjumpa.
"Eh... Lu inget gak waktu dulu gue kirim surat ke elu yang isinya tentang perasaan gue. Tapi lu gak pernah sekalipun bales. Jangankan bales, baca juga engga."
"Surat? Kapan lu pernah kasih gue surat deh?"
"Dulu, tuh kan lupa. Lu kan selalu gitu sama gue. Ya gue mah apa kan, cuma pengagum lu aja dari dulu."
"Ha?" Aku terkejut dengan pernyataan kamu.
Tapi, itulah awal mula kita menjalin kisah hingga berakhir dengan rasa saling benci.
Read : Dua Belas September
Allahuakbar... Allahuakbar... Allahuakbar Walillailham...
Takbir itu masih berkumandang di masjid-masjid rumah kita. Aku tidak pernah menyangka bahwa Allah mempertemukan kita di bulan yang indah ini.
Pertemuan sederhana di sebuah kafetaria daerah Cengkareng, salah satu kecamatan di Jakarta Barat, tempat kita tinggal. Saat itu kamu sudah lebih dulu datang di kafetaria tersebut. Lalu berselang beberapa menit, aku tidak tau pastinya, aku dan keluargaku datang.
Kita duduk di meja yang bersebelahan. Aku melirik ke arahmu, kukira aku mengenal laki-laki sebaya yang berkaos hitam dan mengenakan sweater hitam. Aku tidak menyapamu, jelas karena aku malu untuk memulai duluan dan kembali mengakrabkan diri. Beberapa kali aku menengokan kepala ke arah kiri, akhirnya kita saling bertemu pandang.
"Ehh... Elu?" Sapamu membuatku grogi.
"Ehh... Iya." Ternyata benar dia teman sekelasku dulu.
"Itu siapa?" Adik keduaku bertanya di sela tatapan kita.
"Temen Kakak dulu waktu sekolah. Kayaknya," kataku pelan di ujung kalimat.
"Lah? Itu adek lu? Banyak banget adek lu."
"He... Iya ini adek gue yang kedua."
"Wehh bro!!!" Kamu menyapa adik pertamaku.
"Ehh iya, Bang" jawabnya.
"Sebentar ya. Gue mau pesen makanan dulu."
"Oh iya iya, sorry ganggu."
Selang beberapa menit, kita kembali bercakap.
"Kok lu ga mudik?"
"Iya, tahun ini lg krisis moneter nih di keluarga. Jadi ga mudik dulu. Ya paling jalan-jalan sekalian makan aja di deket-deket rumah."
"Sama dong. Gue juga nih. Tapi sayangnya keluarga gue ga sekompak keluarga lu. Bapak sama Ibu lu mah mau diajak jalan kayak gini. Gue mah susah."
"Bukannya kalau cowok mah malah susah diajak main sama keluarga? Dia aja susah banget." Aku menunjuk adik pertamaku.
"Ya bener sih. Udah gede mah anak laki suka males main sama keluarga. Ya ga?" Kamu malah bertanya ke adik pertamaku.
"Iya, Bang. Gue juga males ini kalau ga dipaksa sama Kakak."
"Pak, Bu, kok anaknya tambah cantik ya? Gingsulnya bikin manis." Kamu memujiku di depan Ibu dan Bapak.
"Hush!!!"
"Yeeeh, emang bener. Makin manis lu."
"Ya namanya juga anak Ibu." Ibu menjawab.
"Manis dari mana? Amit-amit dia mah." Bapak meledek.
Aku sedikit malu saat itu. Kamu berani memuji di pertemuan pertama kita setelah enam tahun kita tidak pernah berjumpa.
"Eh... Lu inget gak waktu dulu gue kirim surat ke elu yang isinya tentang perasaan gue. Tapi lu gak pernah sekalipun bales. Jangankan bales, baca juga engga."
"Surat? Kapan lu pernah kasih gue surat deh?"
"Dulu, tuh kan lupa. Lu kan selalu gitu sama gue. Ya gue mah apa kan, cuma pengagum lu aja dari dulu."
"Ha?" Aku terkejut dengan pernyataan kamu.
Tapi, itulah awal mula kita menjalin kisah hingga berakhir dengan rasa saling benci.
Read : Dua Belas September
Langganan:
Postingan (Atom)
Stupidfy : Ku Yakin Cinta Part IV
Read Stupidfy : Ku Yakin Cinta Part III Via Whatsapp aku mengajaknya pergi ke Puncak, enam bulan kemudian. Dia mau dan si...
-
Read Part I -> Stupidfy : Ku Yakin Cinta Part I Setahun berlalu dengan banyak perseteruan dan kebahagiaan yang tidak...
-
Read Stupidfy : Ku Yakin Cinta Part II “Hari ini aku sidang tugas akhir nih. Kamu yang kampusnya ga jauh dari sini, gak mau support aku?”...
-
Ratusan pasang mata menatapnya. Beberapa cibiran terlontar padanya. Namun, tidak sedikit pujian tertuju padanya. Entah kare...