Rabu, 20 April 2016

Saat Kucari Ketenangan...

Dia temanku. Teman sekelasku saat SMA. Dia baik, rajin sholat, pintar ngaji, nurut sama orang tuanya, cerdas, namun satu yang buruk dari dia yang jelas aku tau, dia playboy.
Entah bagaimana pemikirannya. Yang aku tau banyak wanita terpesona dengan kharismanya. Termasuk aku. Yang sampai saat ini masih merasa jantungku berdegub lebih kencang dari biasanya ketika dia ada di hadapanku. Sampai detik ini, detik dimana aku memikirkan hubungan pertemanan kita, di kampusnya, di meja kantin dekat fakultas bahasa, aku masih bertemu dengan wanita yang memasang muka sinis ketika tau bahwa aku sedang berjalan dengannya, tepatnya sih gebetan mereka. I dont care, mereka tidak tau apa-apa. Hanya melihat sudut pandang yang samar.

"Sudah lama kita gak pernah ketemu."
"Iya yah, sudah berapa tahun yah?"
"Hm..." aku beripikir beberapa detik, "Gak.."
"Beberapa tahun aja kok" katamu.
"Masa? Yang aku ingat terakhir kali kita ketemu pas buka bersama tahun yang lalu."
"Oh iya, ternyata baru Ramadhan tahun kemarin yah kita ketemu."
"Iya, tapi terasa seperti udah lama yah."
"Ibarat orang sedang jatuh cinta, sehari serasa setahun."
"Hah? Apa deh bawa-bawa cinta?"
"Gak dibawa kok. Berat. Biar itu urusan Rangga aja buat bawa-bawa cinta."
"Hih garing deh bercandaan kamu."
"Hah hih hah hih. Segitunya."
"Loh kok kamu ngambek?"
"Dih? Siapa yang ngambek?"
"Kamu lah... jangan ngambek. Jelek. Nanti gak mirip lagi sama Herjunot Ali."
"Haha" kamu tertawa, "masih aja beranggapan aku mirip DJ itu".
"Emang iya. Karena kamu mirip dia, setiap kali aku liat dia di TV pasti aku langsung mengucapkan nama kamu."
"Wah segitunya banget kamu sama aku. Kamu jatuh hati ya sama aku? Sampai-sampai aku selalu terlintas di benak kamu tiap kali liat Junot."
"Emang kamu gak tau?"
"Hah? Pertanyaan kamu itu jawaban loh dari pernyataan aku tentang kamu yang jatuh hati sama aku."
"Hah hoh hah hoh" aku hanya bisa mengucapkan itu.
"Ih apaan sih kamu. Ditanya apa malah jawab apa."
"Hmm..." aku meliriknya, "kamu gak capek? Kita sudah hampir mengelilingi kampus kamu loh".
"Tuh kan makin mengalihkan. Tapi... kalau kamu capek, kita ke kantin yang di sebelah sana yuk. Aku mau beliin kamu ice cream lagi. Seperti terakhir kali kamu kesini dan ketemu aku."
"Tapi aku mau es kelapa juga yah."
"Tenaaang. Spesial buat kamu yang lagi main kembali ke kampus aku. Mana tau kapan lagi kamu kesini. Mungkin ketika kamu kesini, aku udah selesai kuliah disini."
"Ngapain aku kesini kalau kamu juga udah lulus? Aku harus berharap bertemu siapa lagi ketika duduk di koridor depan masjid yang super duper adem?"
"Ciee... jadi setiap kamu duduk disini itu artinya kamu sedang menunggu aku yaa??"
"Salah satunya kamu..." aku gugup,"yaa karena yang aku tau, hanya kamu temanku yang aku tau akan sholat tepat pada waktunya."
"Aku jadi curiga sama kamu. Jangan-jangan kamu memang benar-benar jatuh hati sama aku yah?"
Aku kembali meliriknya, "hmm... kita duduk disini aja. Sana kamu pesanin aku ice cream dan es kelapa!"
"Iya, Nyonya."
Aku tersenyum saat kamu meninggalkanku.
Aku membuka ponselku, kulihat sudah ada sebelas panggilan tak terjawab dari mantanku. Aku mengabaikannya. Aku memilih mematikan ponsel. Aku tidak ingin ada orang lain yang menghalangi usahaku untuk menenangkan diri.


"Ini es kelapanya. Kalau ice creamnya nanti menyusul ketika es kelapa sudah habis."
"Thank you."
"Anytime... by the way, ada apa kamu kesini? Tunggu tunggu... aku tau kamu rindu dengan hempasan angin di masjid itu, tapi apa yang membuat kamu merindukannya? Kamu... sedang butuh ketenangan jiwa kah?"
"Zupeeerrr...." aku menepuk kedua tanganku.
"Jawab, Fay. Bukan cuma tepuk tangan."
"Hmm..." aku menarik nafas panjang, "ya, aku butuh ketenangan. Aku putus dengan mantanku enam bulan yang lalu. Tapi dia tidak terima. Aku yang memutuskannya. Aku sudah menjelaskan alasannya. Tapi dia meminta untuk diberi kesempatan untuk memperbaiki bagian terburuk dari alasanku itu. Aku beri dia dua bulan. Kemudian dia bilang mau menikahiku. Dia bilang langsung di depan orang tuaku. Aku belum menerimanya. Aku kira kedua orang tuaku hanya bercanda tentang syaratnya. Ternyata mereka menuntut syarat itu secara langsung. Dua bulan bukan waktu yang cukup untuk menjadi calon imam yang sempurna. Dia diminta untuk membacakan surat Ar-Rahman minggu depannya. Belum tiba seminggu, Bapak bertemu dengan dia sedang berboncengan dengan wanita dari arah tempat dia bekerja. Wanita itu memeluk erat dia dari belakang. Bapak memintanya berhenti ketika yakin kalau laki-laki itu adalah dia. Bapak meminta penjelasannya. Kata Bapak terlalu berbelit. Akhirnya, Bapak meninggalkan dia bertengkar dengan wanita itu. Malamnya, dia ke rumahku untuk meminta maaf dan berbicara terus terang denganku. Bahwa wanita itu memang sudah lama jatuh hati dengan dia. Dia pun sadar bahwa dia gak bisa menahan imannya. Wanita itu lebih cantik dan lebih semok. Pikirnya, wanita itu hanya untuk dijadikan alat pemuas hasratnya di kantor sebelum dia benar-benar memiliki istri. Jelas. Aku benci dengan yang dia jelaskan. Aku mengusirnya dari pelan sampai kasar sampai akhirnya aku tinggal tidur. Sampai saat ini, dia masih berusaha untuk kembali sama aku. Sampai dua minggu lalu dia nekat ke rumah dan bertemu Bapak Ibu untuk melantunkan syaratnya. Ibu bilang bahwa dia harus memerbaiki beberapa ayat. Sampai detik ini dia belum kembali. Hanya merayuku untuk membatalkan syarat dari Bapak dan Ibu."
"Panjang dan rumit yah."

"Maaf yah aku jadi cerita panjang lebar ke kamu."
"Tapi gimana perasaan kamu sekarang? Udah tenang?"
"Hah?" Aku rada tidak nyambung.
"Iya... perasaan kamu."
"Kayak abis ke toilet setelah nahan berjam-jam."
"Emang kamu belum pernah cerita ke siapapun?"
"Belum. Aku cuma inget masjid itu aja. Dari pada cerita sama temen."
"Eh tapi kok aku jadi tertantang yah buat melantunkan surat Ar-Rahman di depan kedua orang tua kamu?"
"Ih? Kok kamu jadi berpikir gitu?"
"Emang kamu gak mau jadi makmum seorang laki-laki ganteng, pintar dan kharismatik kayak aku?"
"Cuma wanita yang bodoh yang bilang tidak mau" kataku seraya mengaduk-aduk es kelapa di hadapanku.
"Tuh kan? Jadi boleh dong kalau aku mencoba? Toh kamu kan juga... udah jatuh hati sama aku."
"Mau aku jujur gak?"
"Oh ya harus..."
"Tadi waktu kita jalan..."
"Ya... terus"
"Aku kan nanya, 'emang kamu gak tau?'"
"Yaa... lalu?"
"Sejak SMA sampai detik ini, cuma kamu yang masih bisa bikin aku dag dig dug kalau di dekat kamu."
"YEEEESS... terus kenapa kamu gak kayak yg lain? Ngejar-ngejar aku gitu..."
"Ih kamu mah narsis. Makanya aku gak mau."
"Serius?" Kamu terlihat kecewa.
"Gak sih... kamu tau kan, orang baik akan mendapatkan orang yang baik juga. Kamu tuh orang yang baik, aku sejujurnya gak baik tuh."
"Hm... gak tepat. Kalau aku mendapatkan wanita yang baik, dimana pahala buat aku atas tindakanku sebagai imam yang membawa makmumnya ke jalan yang baik?"
"Yaa ada cara lain mungkin."
"Yaaa udah deh... emang salah kalau aku juga pernah jatuh hati sama kamu? Terus aku juga abaikan hal itu karena tiap kali aku mau mencoba jujur, eh kamunya punya pacar. Aku gak pernah pacaran lagi loh. Gimana kalau aku punya alasan bahwa aku memutuskan gak pacaran hanya untuk nunggu kamu kembali ketika kamu jomblo?"
"Emang pada kenyataannya begitu? Bagaimana dengan beberapa nama wanita yang hadir di kehidupan kamu dan aku pun mengetahuinya?"
"Yang kamu tau apa dari mereka? Apa mereka bercerita terus terang ke kamu tentang respon aku?"
"Enggaa.."
"Terus kamu percaya omongan mereka?
"Bukan gak percaya, tepatnya sih gak peduli."
"Tuh kan... gini aja deh. Kamu mau gak menikah sama aku? Kita bikin rumah tangga dimana aku akan jadi imam yang membawa kamu menjadi lebih baik. Dan aku akan menunjukkan niat suci itu dengan memenuhi syarat dari kedua orang tua kamu."
"Tapi... realitanya masih ada orang yang berjuang juga kan selain kamu."
"Biar orang tuamu yang menerima ridho Allah."
Aku tercengang dan makin dilema.


Senin, 07 Desember 2015

SUARA TERPENDAM

Bulan kemarin harusnya menjadi anniversary kita yang keenam. Tapi nyatanya kisah itu sudah kandas tiga tahun yang lalu. Namun, perasaan ini masih sama.

Belum selesai...

Aku yakin ini sudah menjadi kenyataan. Aku sudah bilang, "putus". Kamu pun sudah bilang, "aku akan sirna dan semua akan seperti aku tidak pernah ada". Kemudian kamu menambahkan, "untuk buatmu bahagia". Tapi mimpinya, masih belum bisa sirna. Seperti ada kisah yang belum usai.

Berhenti datang...

Kamu bilang, "semua akan seperti aku tidak pernah ada". Kenapa masih muncul? Hampir di setiap aku tidur, kamu muncul. Untuk apa? Masih ada yang ingin kamu katakan? Atau aku yang sebenarnya mengundangmu datang? Please, berhenti datang.

Baik-baik saja kan?...

Setelah hari itu, Tuhan tidak mempertemukan kita. Bahkan tidak ada semilir angin yang membawa namamu ke telingaku. Apa aku penasaran? Iya, aku yakin. Kamu baik-baik sajakan?


Suatu hari...

Dari semua pertanda dalam mimpi. Sepertinya Tuhan menyiapkan hari terbaik untuk kita bertemu. Entah untuk menyambung kembali yang pernah usai. Atau untuk benar-benar menyelesaikan yang pernah kita anggap selesai

Jumat, 11 September 2015

Kita Bukan Orang Yang Tepat

Meski bukan impianku satu-satunya, memilikimu adalah keinginanku yang teramat sangat. Sampai pada pelukan hangat, aku menyadari kita bukan orang yang tepat. Meski aku mendekap pada dada seorang yang dapat menerimaku sepenuhnya, bukan berarti aku meninggalkan rasa untukmu seutuhnya. Mataku memang memandang dia penuh, tapi mata hati ini masih melihat bayanganmu. Meski bibir ini terucap kata cinta, tapi hati ini selalu mendusta. Bagaimana semua ini bisa terjadi saat masih ada kamu di bagian lain hati?

Berhari-hari aku putar lagu sendu yang mengarahkan pada kisah kita. Walau kini aku tidak tau hatimu ada dimana. Apakah kamu juga merasakan apa yang aku rasakan? Atau hanya aku yang menangis sendirian. Jangan bilang, "kamu tidak tau bagaimana jadi aku", kalau kamu memang tidak melihatku saat ini. Jangan bilang, ini semua permainan, kalau kamu tidak tau bagaimana aku berusaha menunjukkan kesungguhan di depan keangkuhan. Jangan bilang, aku munafik, karena cinta memang butuh kemunafikan.

Tuhan menciptakan jodoh tidak hanya berdasarkan keinginan. Beribu-ribu kisah sudah menunjukkan bahwa terkadang hati memilih secara berlainan. Dan, pada akhirnya, restu Tuhan yang membuat insan tersebut bertahan. Lalu bagaimana dengan kita? Kita hanyalah puzzle cinta yang takkan pernah tertata. Berperang melawan waktu agar kita bisa menyatu. Walaupun kita memang sama-sama dalam satu tempat, ya kita bukan orang yang tepat.

Senin, 07 September 2015

Benci Itu Selembar Setelah Cinta


Hangat pelukan Ibumu malam itu membuatku tersadar bahwa aku memang mencintaimu sepenuhnya karena merasa bersalah. Aku tidak menyangka bisa menyakiti perasaan seseorang sedalam ini. Aku bertindak hanya sesuai kehendak. Walau aku tau, begitupun Ibumu juga menyampaikan hal yang sama, "wanita di mata laki-laki adalah sesuatu yang merumitkan. Tidak setiap waktu pemikirannya sama. Dalam sedetik, kita, wanita dapat merubah segalanya."
Sesaat aku mencintaimu, sedetik kemudian aku membencimu, kemudian mengagumimu lagi, lalu menghujat pemikiranmu, pada akhirnya selalu berputar seperti itu. Ya, kamu menyadari bahwa kamu di tahun pertama lost contact kita, masih juga peduli dengan hidupku. Kamu pun masih membuka akun media sosialku. Kamu memrediksi kapan kamu bisa datang lagi dan memulai dari awal. Kamu ingin mencoba menahan egomu. Kamu tulus. Itu bagian paling aku suka, begitupun kamu.
Ibu kamu bercerita bahwa ada satu hari dimana hati kamu memang benar-benar aku patahkan. Malam hari aku berkicau bahwa aku benar-benar tidak mampu melupakan kamu. Semua bagian indah yang terjalin sesaat di antara kita adalah yang paling berharga dan sulit aku lupakan. Aku terhenti di kamu dan terjebak dalam sebuah kisah yang selalu mengarahkan ke kamu. Kamu menyukai kicauan itu sehingga esok hari kamu berniat ke rumah dan meminta maaf kepada kedua orang tuaku.
Sore yang indah untuk berjalan berdua di akhir pekan. Duduk manis di taman memakan es krim dan berbagi kisah-kisah seminggu ini. Kamu berniat seperti itu setelah Ayah dan Mama memaafkanmu dan aku mengiyakan ajakanmu. Namun, sore itu terasa mendung bagi kamu. Tanpa kuduga, gambaran indah tadi justru kulukis berdua dengan orang lain. Bukan kamu. Dan, yang tak terduga lagi adalah kamu melihatku yang reflek terasenyum ketika dia mengecup keningku di depan rumah. Kamu yang masih mengenakan helm dan masker terhenti dan melihat adegan sialan itu. Aku merasa ada seseorang di belakang dia. Iya, kamu disana tapi aku tidak peduli membenciku selembar setelah cinta

Minggu, 06 September 2015

Pengantar Ke Kamu

Sekarang sudah di penghujung bulan Agustus. Aku sudah mantap akan bekerja dimana. Salah satu perusahaan milik pemerintah telah menetapkan aku sebagai pegawainya. Berkah di akhir bulan. Aku pulang dari warung internet dan segera mengabarkan kedua orang tuaku. Kabar baik ini, jelas membuat mereka sujud syukur.
Satu September, aku bersegera pergi ke tempat dimana aku akan mulai mempersiapkan kelengkapan dokumenku sebagai pegawai baru. Pagi-pagi sekali aku sudah sampai di kantor berlantaikan 27. Aku duduk di lobby yang sangat luas dan elegan, menunggu pembimbingku datang.
Aku mengambil smartphoneku dan mengabari beberapa orang. Mereka adalah Mama, seseorang yang sudah hampir satu tahun dekat denganku, dan kamu. Kamu cepat sekali membalas chatku itu.
"Oke, besok malam kita jalan deehh." Kata aku ke kamu ketika kamu meminta traktiran dari aku karena aku sudah mendapat pekerjaan sesuai dengan impianku.
"Besok gue masih ada kerja shift siang. Kalaupun mau jalan ya setelah gue pulang. Sekitar jam 11 malam, lo mau?"
"Aduh itu kemaleman. Gue kan besoknya kerja hari kedua."
"Yauda gimana kalau hari Rabu?"
"Oke fix."
Pada akhirnya, kencan pertama kita di hari Rabu.
Hari itu aku tidak mulai kerja. Aku hanya melengkapi dokumen sebagai pegawai, membuat id card, mengurus absensi, mengambil seragam, dan kemudian sosialisasi pertama ke divisi.
Hari pertama aku kerja, 2 September, aku diberikan setumpuk kebijakan pemerintah yang berlaku disini. Aku harus membaca berlembar-lembar kebijakan tersebut. Kalau ada yang kurang aku mengerti, aku diwajibkan bertanya ke kepala divisi. Tidak sulit, namun juga tidak mudah. Cukup membuat aku penat. Sore harinya, seseorang yang sudah dekat denganku selama satu tahun itu datang menjemput. Kami pergi untuk makan malam bersama dan menonton film di bioskop yang memang sedang ramai dibicarakan. Kamu, tiba-tiba menelpon dan membuat aku panik. Kamu adalah rahasia di depannya.
Malam itu usai, seperti malam-malam sebelumnya dengan dia. Berkesan, tapi sudah biasa. Ya, sebab sudah berjalan hampir satu tahun.
Hari kedua aku bekerja, hari yang aku tunggu-tunggu. Sebab, akan ada kamu di dalamnya. Namun, entah kenapa hari ini justru terasa lama, "ya Tuhaaaan, kalau mau kasih waktu yang panjang untuk aku lewati, mohon nanti malam saja".
Seharian jantungku berdegup sangat kencang. Nafasku menggebu untuk meredakan degupan tersebut.

Senin, 24 Agustus 2015

Demi Kamu, Cinta Yang Pernah Singgah

Sebab, mungkin karena aku pernah melakukan hal demi kamu, cinta yang pernah singgah. Ingat kah kamu saat kamu benar-benar menunjukkan rasa bencimu. Sepertinya Allah membisikanmu dalam setiap shalat malammu. Kamu tau betul bahwa aku akan muncul di akun media sosialku hanya untuk menunjukkan bahwa aku sedang galau karena kamu. Kemudian berulang kali kamu muncul juga menemaniku. Begitukah kita menjalani cinta? Apa itu cinta?

Kawan, aku hanya ingin bercerita satu hal ke kamu. Saat aku merasa terperangkap dalam ruang hati kamu, walau kamu tidak menutup ruang tersebut sehingga aku bisa pergi kapanpun, aku pernah melakukan hal yang selalu kusebut itu pembodohan dalam mencintai. Ya, semua demi kamu.

Pernahkah kamu terpikirkan siapa orang yang menaruh perkakas di jok motormu setelah kamu mengalami kecelakaan motor tempo hari? Aku tau kawan kamu pernah mengalami kecelakaan kecil yang sebenarnya membuat sobek lengan jaket kamu dan memberikan luka yang perih disana, juga benturan di kepala ketika kamu menghantam stang motor yang terparkir di depanmu yang juga kamu tabrak setelah menghindari mobil di tikungan. Aku tau itu, aku membuntutimu saat itu sampai kantor. Aku seperti mendapat pandangan dari Allah bahwa hari itu aku harus mengikuti kamu. Kalau saja kamu sadar, bukan wanita beranak itu yang membopongmu ke pinggir jalan. Dia adalah aku yang berani menghampirimu saat masih setengah sadar. Lalu aku tidak mampu menunjukkan jati diriku sehingga aku memilih meninggalkanmu dan memanggil si anak kecil agar menemanimu di depan rumah kosong yang kemudian dia memanggil Ibunya untuk menolongmu.  Dan berbondong-bondong warga menghampirimu setelahnya. Aku meminggirkan motormu ketika mulai banyak orang datang. Aku tau ada yang bermasalah di motormu, maka dari itu aku mempersiapkan perkakas yang tidak pernah kamu pikirkan sebelumnya. Tapi kamu, saat kembali bekerja, kamu malah menganggap ayah kamu yang menyiapkannya. Padahal, kalau kamu tidak buru-buru menarik gas, ayah kamu sudah bercerita tentang aku.

Sebab, demi kamu, cinta yang pernah singgah, aku nekat menunggumu di depan bar. Satu jam sebelum aku sampai disana, aku melewati depan rumahmu, bertemu teman mainmu ketika di rumah. Kebetulan, dia cukup tau banyak tentang kita, jadi aku mencoba bertanya tentang kamu. Dia bilang, kamu sedang pergi ke pesta teman kerjamu. Aku lupa namanya, aku selalu lupa nama dia, sahabatmu yang juga pernah bertemu denganku. Petunjuk mengarahkan aku pada sebuah bar di kota ini, daerahnya cukup terkenal dengan dunia malam. Demi kamu, aku kesana ketika teman rumahmu bilang kalau kamu sedang penat dan akan mencoba untuk meminum beberapa gelas. Aku tau, kamu bukan tipikal orang yang akan benar-benar melakukan hal gak baik kalau kamu gak lagi merasakan hal yang mengguncangmu. Entah kenapa, aku merasakan bahwa kamu memang sedang terguncang, dan aku takut. Kalau kamu sadar, ketika kamu dipaksa keluar karena habis menonjok orang di bar saat kamu mabuk, aku melepaskan rasa malu untuk menghampirimu dan membawamu pergi dari sana dengan mobil kantorku. Kamu masih mabuk dan tidak sadarkan diri. Benar saja, kamu memang sedang terguncang. Kata Ibu, itu karena aku. Ibu mengatakan banyak hal setibanya kita di rumahmu. Banyak hal yang membuatku menangis di pelukan Ibumu. Kemudian, dia membalas dengan ucapan terima kasih. Saat itu juga, aku merasa bahwa perasaan ini lebih kuat karena aku merasa bersalah. Bukan hanya karena cinta.

Bersambung... 

Sabtu, 15 Agustus 2015

Dua Puluh Enam Sobekan, Tidak Semudah Merobek Kertas

Read Previous Chapter : Dua Puluh Enam Sobekan

Sudah tiga hari aku mengabaikan dus sepatu yang dikirimkan subuh itu. Aku tidak berniat untuk membukanya karena aku tau akan terjadi gejolak di dalam hati yang sudah lama menghilang. Bukanlah perkara yang mudah melupakan kamu, kawan. Apalagi aku harus melewati rumahmu yang berada di samping pasar setiap aku menemani Mama kesana untuk belanja hari-hari. Setiap hari aku masih suka bertemu Bu Wiwid di depan rumahmu dan selalu beliau sedang menyapu halaman depan rumahmu sebelum bekerja. Sementara aku berharap kamu yang kutemui setiap pagi itu. Namun, kesibukanmu kerjalah yang memupuskan harapanku sehingga akhirnya tiga tahun kita lost contact dan tidak sekalipun dapat bertatap muka atau hanya sekedar mencuri pandang. Kemudian, kamu justru tiba-tiba datang ke rumahku dan memberikan dus ini.

Melupakan kamu sangatlah tidak semudah kita kembali berkomunikasi dulu, tidak juga sebanding dengan waktu yang kita habiskan bersama. Aku pun masih bingung sampai detik ini mengapa begitu sulit melupakan cinta sesaat. Mungkin, karena rasa penasaran dalam diriku yang membuatku masih terobsesi denganmu. Mungkin, karena kesalahanku dulu yang membuat aku sendiri merasa kecewa atas hal yang pernah aku lakukan dengan kamu. Mungkin, karena aku masih sering lewat depan rumahmu dan memanggil Mama kamu dengan sebutan "Ibu". Mungkin dan dengan segala kemungkinan.

Jatuh cinta. Apa mungkin memang aku sangat mencintaimu dengan waktu sekejab? Apa mungkin aku jatuh cinta hanya karena kamu kembalikan memori jaman kecil? Apa mungkin aku jatuh cinta karena memang rupamu yang rupawan? Apa mungkin aku jatuh cinta karena memang aku tau benar bagaimana Mama kamu mengharapkan aku sebagai menantunya? Apa mungkin?

Tiga tahun tidak sebentar, kawan. Setiap malam selama 6 bulan, 17 hari, aku membuka twittermu hanya untuk mengetahui perkembangan hidupmu. Setiap saat selama 1 tahun 2 bulan 14 hari, aku membuka facebookmu untuk mengetahui apakah kamu sudah memiliki yang lain lagi? Juga setiap pagi di hari Selasa, Rabu, Jumat, Sabtu, Minggu, aku harus menengok ke dalam rumahmu untuk mengetahui sedang apa kamu di dalam sana.

Sekarang, kamu datang? Aku sudah memudarkan setiap inci bayanganmu dari benakku. Aku sudah tidak lagi membuka seluruh akun media sosialmu dan mengabaikan seluruh perkembangan di hidupmu. Aku sudah memulai menata hidupku lagi, hatiku lagi, pikiranku lagi, hanya agar aku tidak berhenti di kamu. Aku sudah memutuskan bahwa memang dia, orang lain setelah kamu, yang bisa menggantikanmu. Kamu perlu tau, kawan. Itu tidak mudah.

Dua hari setelah aku memutuskan untuk kembali bangkit dan tidak lagi membuka akun facebookmu, aku berkenalan dengan laki-laki lain. Dia karyawan lain di perusahaan yang memakai gedung tempatku bekerja. Dia lebih tua dari kamu, lebih matang sepertinya, dan kurasa dia lebih dewasa, kata Mama pun dia lebih baik dari kamu. Menoleh ke dia tidak mudah, kawan. Aku harus memasang tameng berupa muka jutekku selama 7 bulan lebih. Aku menjaga jarak dengan dia. Tapi, ingat kawan. Hidup itu adalah sebuah pertarungan untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Dan, dia bisa dengan tegar untuk bertarung melawan kejutekanku. Tapi, apa memang dia orangnya? Aku masih membisu untuk hal ini.


Bersambung...

Stupidfy : Ku Yakin Cinta Part IV

Read Stupidfy : Ku Yakin Cinta Part III                 Via Whatsapp aku mengajaknya pergi ke Puncak, enam bulan kemudian. Dia mau dan si...