Kamis, 06 November 2014

(belum ada judul)

"Aduh sebel !" gerutu Dera sebelum berangkat kuliah.
"Kenapa sih, Der?" tanya mama dengan lembutnya.
"Ini loh, Ma. Ransel Dera kayak gak rata gitu."
Mama memalingkan wajahnya dari mesin jahit yang sudah ia nyalakan sejak pukul lima pagi.
"Lihat deh, Ma! Sudah rata atau belum yang kanan dan kirinya?"
"Mana sini! Kamu balik badan!" Dera pun menuruti perintah Mama.
"Sama panjang kok, Der. Kanan dan kirinya udah sama."
"Yang bener, Ma?" mata dan tangan Dera masih sibuk dengan tali punggung pada ransel. "Ah! Masa bodoh deh. Dera udah kesiangan gini" ia pergi menghampiri Mama dan mencium tangan kanannya, "assalamu'alaikum".
"Wa'alaikumsalam. Hati-hati ya, Der!" kemudian wanita berumur 42 tahun itu kembali ke hadapan mesin jahit.

Sabtu siang ini terasa sangat panas. Menurut kabar yang ia terima dari media sosial bernama Twitter, hari itu suhu di Jakarta mencapai 36 derajat celcius. Bagi manusia, itu suhu ketika seseorang sedang sakit. Hari itu Dera memiliki janji bertemu dengan teman dekatnya ketika masih SMA. Namun, karena cuaca yang sangat panas, Dera membatalkan janji yang ia buat seminggu yang lalu.
"Der, katanya kamu mau main sama sepan?" Sepan adalah sebutan untuk teman-teman dekatnya itu. "Mau kumpul di rumah Andira kan? Jam 11 kan? ini udah jam setengah 11 dan kamu belum jalan?"
"Gak jadi, Ma. Panas. Dera batalin aja janjinya. Toh yang lain juga males keluar rumah."
"Andira gak kecewa?"
"Engga, Ma. Kebetulan katanya Mama Andira juga mau pergi dan mengajak Andira juga."
"Oh... Ya sudah kamu bantu Mama merapihkan kaos-kaos ini aja."
Tanpa berpikir panjang dan mengelak pinta Mama, Dera segera menghampiri tumpukan kain yang sudah menjadi kaos oblong.
"Ini ada berapa banyak, Ma?" tanya Dera seraya melipat satu per satu kaos oblong.
Dengan terus menginjak pedal mesin jahitnya, Mama menjawab pertanyaan Dera dan melanjutkan perbincangan mereka. "Semuanya ada enam lusin, Der."
"Lumayan dong, Ma? Kalau sehari ini jadi enam lusin, berarti nanti sehari Mama dapat upah 96.000 dan aku dapat 18.000. Lumayan kan, Ma? Dari pada aku keluar rumah, udah panas, bukannya menghasilkan uang tapi malah menghabiskan uang."
"Iya, emang bener. Mendingan kamu bantu Mama. Kan jadi Mama juga lebih cepet selesainya."
"Kalau sehari dapat 96.000, seminggu bisa dapat 600 ribuan, dan sebulan bisa menghasilkan dua jutaan dari menjahit kaos ini, Ma. Kalah dong ya gaji Ayah sebulan."
"Ya maka dari itu, kamu bantu Mama kerjain kerjaan rumah. Biar Mama fokus buat menjahit. Terus juga kamu jangan males kalau jemput Windu. Satu lagi nih yang penting"
"Jangan kebanyakan main!" selak Dera.
"Iya, itu kamu tau."
"Tau, Ma. Klasik. Tapi sulit, Ma. Teman-teman Dera hobi banget main kalau ada waktu luang. Kumpul sama yang inilah, kumpul sama yang itu lah."
"Jangan sering-sering kumpul!"
"Hmm..."
Waktu terus berjalan. Siang pun sudah menjadi sore. Tumpukan kaos sudah rapih dimasukkan dalam satu kantong plastik berwarna ungu dengan ukuran yang sangat besar. Dera telah menyelesaikan tugasnya siang ini.
"Punggung Dera pegal banget, Ma." Dera mengeluh ketika bangun dari duduknya.
"Kamu sih kalau duduk bungkuk, jadi punggung kamu merasa pegal ketika bangun dan direnggangkan."
"Kan Dera emang bungkuk, Ma. Sama kayak Ayah."
"Jangan dibiasakan bungkuk! Jadi bungkuk kayak Ayah sih bangga. Tegak gitu. Kamu jelek kalau bungkuk. Udah badan kamu kurus."
"Iya, Ma."

Rabu, 01 Oktober 2014

Dari Sehelai Daun yang Gugur

Senja datang bersama angin
Tak beda dengan datangnya sendu bersama rindu
Ini bagian dari sebuah penyesalan
Dimana luka menggores tak berarah
Sebuah kesalahan menjadi kekecewaan
Ketika surat datang berisikan harapan
Dari sobekan buku anak sekolahan
Berisikan kata lugu "aku suka kamu"
Lalu waktu berputar cepat dan meninggalkan anak
Mereka tumbuh dewasa bersama tanggung jawab
Kesempatan selalu ada
Bukan lagi sebuah sobekan, melainkan keberanian
Bukan lagi sikap tak acuh, melainkan cinta telah jatuh
Lalu kembali kesalahan menjadi kekecewaan
Hingga luka mengakibatkan penyesalan
Dalam senja bersama angin
Ribuan daun gugur bersama harapan yang hancur
Dan dari sehelai daun yang gugur
Tertulis juga dengan kasar "aku juga suka kamu"
Tapi semua sudah terlambat
Bagai sobekan buku, sehelai daun gugur pun tersapu.

Selasa, 23 September 2014

Saat Berada Di Tempat Baru



Setiap orang memiliki cara masing-masing untuk bersosialisasi di suatu tempat baru. Setiap orang juga memiliki tingkat kemudahan atau kesulitan yang berbeda dalam proses tersebut. Terkadang seseorang perlu waktu yang lama untuk bisa dengan mudah berinteraksi. Namun, ada juga beberapa yang dapat langsung mencairkan suasana baru di tempat baru. Ada yang masih perlu interaksi pembuka dari orang yang sudah lama di tempat tersebut. Atau ada pula yang memulai terlebih dahulu dengan orang lama. Semua itu tergantung subjeknya.
Bagi orang yang mudah berbaur, bukan masalah yang besar jika bertemu dengan suasana dan tempat baru. Biasanya, orang-orang tersebut memiliki keahlian pandai bicara, mungkin. Jadi mereka bisa saja membuka banyak topik pembicaraan yang menjadikan komunikasi terjalin dengan baik. Hal seperti ini dapat didasari dengan pengetahuan yang dimiliki seseorang. Pengetahuan yang dimaksud bukan hanya sebuah ilmu pasti, akan tetapi pengetahuan umum. Bisa seperti gosip, perkembangan berita terkini di bidang yang pasti sesuai dengan tempat baru. Selain topik pembicaraan yang mendukung mudahnya komunikasi terjalin, bisa saja seseorang mudah beradaptasi dengan cara pembawaan hatinya yang menerima suasana baru di tempat baru. Dengan suasana hati yang terbuka, orang-orang tersebut bisa dengan mudah merasa nyaman dan senang dengan tempat barunya.
Ada kemudahan, pasti ada lawannya, yaitu kesusahan. Beberapa orang sulit beradaptasi. Biasanya memang mereka tipikal orang yang sulit berbaur, penyendiri, dan suka melakukan banyak hal sendiri. Komunikasi yang dilakukan juga hanya sekedarnya, sesuai dengan keperluan yang dilakukan mereka. Atau terlalu fokus terhadap hal-hal lama yang ada pada mereka yang bisa selalu membuat mereka nyaman, seperti gadget. Selain hal tersebut, bisa pula disebabkan karena kurangnya pengetahuan yang mereka miliki. Jelas, semua ini kebalikan dari alasan beberapa orang mudah bersosialisasi.
Di sisi lain, ada pula orang yang awalnya mudah bersosialisasi, namun pada akhirnya mereka merasa tempat baru yang mereka datangi adalah bukan tempat yang cocok dengan kepribadian mereka. Hal inilah yang biasanya merubah sikap humble seseorang menjadi kaku. Penyebab seseorang seperti ini jelas bukan pada faktor internal dalam diri mereka, tetapi faktor lingkungan sekitar. Bagi beberapa orang juga bisa menemukan jalan keluarnya agar mereka bisa nyaman pada tempat barunya. Tugas mereka adalah mencari tau bagaimana karakter lingkungan di tempat tersebut dan mencoba mempelajari karakternya hingga bisa mencairkan suasana. Kegiatan ini tidak mudah dilakukan bagi orang-orang yang memiliki sifat “menyerah”. Artinya, ketika ketidaknyamanan menghampirinya, mereka akan lebih memutuskan untuk pergi dan mencari suasana baru yang cocok dengan dirinya. Namun, jika mereka harus bertahan pada suasana atau tempat tersebut, mereka yang sulit merubah harus berusaha keras untuk menemukan titik kenyamanannya.
Bagaimanapun cara mereka, semudah atau sesulit apapun. Orang yang pandai beradaptasi dan bersosialisasi di kondisi seperti apapun akan dengan mudah mencapai tujuan mereka. Saat ini, bagi mereka yang masih sulit beradaptasi dan bersosialisasi, diam sejenak dan telaah segala yang ada di lingkungan tersebut. Kaji dengan mudah, maka dengan mudah kita mengetahui jalan keluarnya.

Senin, 15 September 2014

Matahari Pagi

      Pagi ini matahari tepat di depanku. Mungkin karena hari ini aku harus pergi menelusuri jalan ke arah timur. Jadi jelas matahari ada di hadapanku. Walaupun terhalang oleh kaca lensa di kacamataku, ditambah juga dengan kaca yang terpasang di helm. Agak samar, tapi jelas kulihat pagi itu matahari bentuknya bulat, warnanya kuning gading, dan cahayanya juga tidak begitu terang. Aku bisa melihatnya. Cahayanya yang tidak terang benderang itu membuat cuaca terasa mendung. Sepertinya sang Mentari tau kalau aku sedang tidak semangat-semangatnya hari ini. Hingga akhirnya, aku hanya terdiam dalam ramai mengingat banyak hal yang belum bisa aku selesaikan.

Sang Merpati

Aku wanita yang menyukai keindahan. Aku taburkan bibit-bibit keindahan di teras rumahku. Yang selalu kuinginkan, setiap pagi, sebelum aku beraktifitas, aku bisa melihat mereka bermekaran menunjukkan warnanya yang indah. Aku pun wanita yang menyukai kemerduan. Aku biarkan kicauan burung bergeming di setiap hembusan angin yang aku nikmati setiap paginya. Aku juga seorang wanita yang menyayangi keindahan pada makhluk hidup. Aku suka melihat merpati-merpati yang kusimpan dalam sangkar di teras. Namun, aku menyadari, kehadirannya tidak mengartikan kebahagiaan bagi sang merpati. Teras indah depan mataku ini memberikan batas baginya, apalagi ia yang bergerutu dalam sangkarnya. Aku menyadari, dia tidak menyukai ini. Hari ini aku memutuskan, memang merpati itu harus terbang bebas sampai ia akan bertemu dengan merpati lainnya.

Mencintai dengan Menyakiti

Entah bagaimana bisa aku mencintai seseorang dengan menyakiti perasaannya? Mungkin karena luka yang aku rasakan juga cukup dalam. Aku mencintainya, benar dan sungguh-sungguh. Jauh dari kata main-main. Di saat semua menjadi titik kesalahan pada aku. Ia terluka. Aku melihatnya hingga menggigil karena menahan emosi yang berada pada tingkat tertinggi. Matanya merah dan berkaca-kaca. Dia lemah, jauh lebih dariku. Sampai pada akhirnya, aku hanya bisa tertunduk malu karena aku mencintainya dengan cara menyakitinya.

Senin, 08 September 2014

Rabu Malam

Lagu ini membawaku mengingat malam singkat pertemuan kita di pertengahan minggu. Suasana ramai disana menghantarkanku justru pada rasa damai. Aku merasakan sesuatu mengetuk hatiku dan berbicara bahasa kalbu. Kamu memintanya masuk ke dalam benakku. Tapi, sebuah gejolak menyambarku dan membangunkanku pada kenyataan bahwa aku sudah mencintai orang lain yang saat itu masih memayungiku di bawah langit abu-abu.

Stupidfy : Ku Yakin Cinta Part IV

Read Stupidfy : Ku Yakin Cinta Part III                 Via Whatsapp aku mengajaknya pergi ke Puncak, enam bulan kemudian. Dia mau dan si...