Rabu, 08 Juli 2015

Masih Di Dua Belas September

Read Previous Chapter : Dua Belas September

Sekitar jam setengah sepuluh kita memutuskan untuk pulang. Setelah kita sudah saling banyak bicara mengenai hobi kamu, keinginan kamu untuk jadi anak traveler, lalu kamu bercerita tentang Iphone baru kamu, lalu masa lalu kita dan kenangan kita di masa dulu.
Kamu mengendarai sepeda motormu sangat cepat waktu itu, takut dicap jelek sama Mamaku katamu. Kemudian belum jam sepuluh kita sampai depan rumah. Aku mengajakmu mampir, tapi kamu menolak dan berkata, "lain waktu gue bakal jemput lo lagi dan saat itu gue akan jemput lo dari dalam rumah lo, kok. Minta izin secara langsung ke kedua orang tua lo. Terutama bokap lo yang tinggi itu. Kali ini gue mau buru-buru nge-band lagi. Thanks ya buat pertemuan ini."
"Iya sama-sama. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."

Kita kembali berkomunikasi lewat Blackberry Messanger sampai akhirnya suatu hari kamu mengajak aku pergi.

Hari ini lo gak kerja kan?
Engga, males gue. Mau nyantai di rumah.
Yakin? Gue mau minta temenin nonton film Raditya Dika nih. Seru banget. Gue suka film-film dia
Kapan? Dimana?
Tunggu dulu, lo mau apa engga?
Ya, boleh deh 
Oke, jam 4 sore gue ke rumah lo
Sore ini?
Iyalah
Yauda, tapi nanti gue kabarin ya. Soalnya gue mau pergi dulu sama temen gue.

Sampai tiba pukul jam 4 sore dan aku memang sudah selesai dengan urusanku. Ayah dan Mama di rumah. Kebetulan hari itu Ayah sedang sakit, jadi beliau tidak masuk kerja. Kamu berdiri di depan pagar rumahku dan memencet bel. Aku keluar dengan mengenakan celana jeans hitam, t-shirt putih bertuliskan "GEEK" dan crop jeans yang masih kutenteng dilengan kiri bersamaan dengan totebag hitam bertuliskan "I AM WHO I AM". Kemudian, kamu meminta untuk mampir dan meminta izin secara baik-baik dengan Ayah dan Mama. Aku mempersilahkan kamu masuk.

"Om... Tante... Saya mohon izin ngajak putrinya pergi. Insya Allah saya jaga dengan sebaik-baiknya kok. Dan pulang juga dengan keadaan sama seperti berangkat."
"Kamu itu... teman sekolahnya, ya? Kayaknya Om dulu pernah lihat kamu."
"Iya, Om. Dulu saya sering kesini sama pacarnya dia juga. Tapi pas itu, dia sama sekali gak liat saya, Om."
"Pacar? Waktu itu dia udah punya pacar?"
Aku mencubit kamu, "kok lo ember sih mulutnya? Gue kan waktu itu masih backstreet."
"Biarin."
"Udah ah, Yah. Pergi dulu ya Ayaaaahhh." Aku mengambil sepasang sneakers hitam milikku dari rak sepatu di belakang pintu dan menarik kamu keluar.

Belum sampai kita membeli tiket nonton, kita justru malah berdebat mengenai prinsip menjalin hubungan.
"Buat gue, status itu penting. Ngapain lo sama-sama suka kalau lo gak pernah ngutarain apa yang lo rasa. Terus lo gak mengikatkan suatu hubungan? Ngegantung gitu?"
"Ya lagian kan kita yang sama-sama ngerasain, orang pun akan tau semuanya dengan seringnya kita jalan, makan bareng, nonton bareng, atau kenal sama orang tua kita masing-masing."
"Pokoknya, gue setuju hubungan yang jelas. Jangan-jangan... kita bakal..." Aku menatap kamu curiga.
"Ya, pokoknya gue gak akan pernah bilang sayang ke cewek, gak akan pernah nembak cewek, dan gak akan pernah bilang putus ke cewek. Kalau kita sama-sama nyaman jalin hubungan ya sudah jalanin aja."
"Gue gak suka cara lo kayak gitu. Gak menjamin gue satu-satunya di hidup lo. Eh... maksudnya di kehidupan seseorang."
"Ya terserah elo sih."
Pernyataan kamu yang terakhir itu membuat aku kesal. Sepertinya kamu menganggap remeh sebuah hubungan.
"Gue mau pulang. Gue gak mood buat nonton. Gue pulang aja sendiri."
"Kok lo lebay deh? Pulanglah sana! Begitu aja ngambek. Dasar cewek ribet."
Emosiku semakin memuncak saat itu. Manis obrolan kita beberapa bulan berakhir seperti ini. Kalau aku ingat, aku seperti anak SMP saat itu. Benar bukan? Tapi aku benar-benar pulang dan kamu tidak sama sekali mengantarku pulang. Bahkan kamu mengingkari janjimu ke kedua orang tuaku. Untuk hal seperti itu saja kamu ingkar, apalagi ketika memang kita sudah menjadi pasangan suami istri, seperti yang sering kita bicarakan di Blackberry Messanger.

Bersambung...

Stupidfy : Ku Yakin Cinta Part IV

Read Stupidfy : Ku Yakin Cinta Part III                 Via Whatsapp aku mengajaknya pergi ke Puncak, enam bulan kemudian. Dia mau dan si...