Setelah tiga tahun kita lost contact, sesuatu yang mengejutkanku datang. Dini hari di hari Minggu, pertengahan Agustus, baru saja aku rapih tadarus, seseorang mengetuk pintu kamarku. Ada titipan, kata Mama. Aku ke luar setelah merapihkan sajadah dan mukenah. Aku ikat rambutku yang mulai panjang sebahu. Aku menghampiri Mama, namun beliau malah meneriakiku dari kamar mandi, "titipannya ada di atas kulkas". Segera aku memutar arahku yang sebelumnya ingin ke arah kamar kedua orang tuaku menuju dapur. Seraya meraih sebotol air putih di lemari pendingin tersebut, aku mengambil titipan yang berbentuk kotak sebesar dus sepatu.
Aku berjalan ke ruang tamu dengan botol air mineral di tangan kiri dan kotak yang memang dari dus sepatu itu kujepit di ketiak kananku.
"Orang gila macam apa ya pagi-pagi gini ngasih paket? Semangatnya lebih-lebih dari Go-Jek", suatu perusahaan yang mengelola banyak tukang ojeg di Jakarta, yang memang saat ini sedang hits-hitsnya.
Aku memrediksi secara percaya diri bahwa kotak ini adalah dus bekas sepatu. Benar saja, setelah aku buka secara acak kertas koran yang membungkus seluruh permukaan dus terlihatlah merek sepatunya. Vans, sepatu yang memang lagi trend di kalangan anak gaul masa kini.
"Gue tau ini dari siapa," aku tersenyum seketika setelah membaca merek dus tersebut. Kemudian, Mama datang dari arah kamarnya. Beliau duduk di sampingku yang masih belum membuka dus titipan tadi.
"Ini tadi yang nganter siapa, Ma? Subuh-subuh gini ada aja orang kerajinan."
"Mama juga gak tau. Tadi pas Mama mau ke luar buat ambil sapu lidi, Mama lihat ada orang naro itu di pagar. Pas Mama teriakin mau ngapain, eh dia malah pergi gitu aja."
"Oh jadi tadi Mama teriakin itu orang. Mama mah kebiasaan. Pintu rumah sama pagar jaraknya dua meter aja pake teriak."
"Itu Mama reflek, Nak. Namanya Mama kaget ada orang ngendap-ngendap gitu. Mama kira kan maling."
"Dia laki-laki kan, Ma?"
"Iya. Kok kamu tau? Kamu tau itu dari siapa?"
"Ya mana mungkin sih, Ma, cewek subuh gini ngendap-ngendap gitu ke rumah orang."
"Iya juga sih. Tapi itu paket isinya apa ya? Hati-hati deh. Takutnya itu isi macem-macem. Buang aja deh. Nanti neror kamu. Udah mana tertuju banget ada nama kamu di atasnya. Kamu punya musuh? Siapa, Nak? Kamu jahatin orang ya? Sampai ada orang misterius gitu kasih kamu paket? Kok Mama baru sadar untuk hati-hati ya? Mama jadi takut. Udah buang aja sana. Atau Mama yang buangin sini." Mama seketika panik dan aku justru merasa Mama lucu dan berlebihan.
"Tenang, Ma. Aku tau ini dari siapa." Aku mencoba menenangkan Mama yang sudah bawel karena panik. Tidak mudah. Tapi tidak sampai aku harus membuka dus tersebut. Aku tidak mau isi dari dus ini membawaku ke masa abu-abu.
Aku sudah mulai melupakan yang memang harus aku lupakan. Dus ini yang kemungkinan besar adalah bagian dari kisah yang pernah membuatku merasa terjebak, takkan menjadi penyebab rusaknya suasana hati yang kini sudah mulai biasa lagi. Aku meninggalkan Mama dan membawa dus ini ke kamar. Aku letakkan dus itu di meja samping tempat tidur. Aku mengambil selembar post-it dan menuliskan serangkaian kata yang kini mengganjal di pikiranku.
"Seperti takkan pernah habis kisah yang dimulai dengan ketulusan, dijedakan dengan pendewasaan, dipertemukan kembali dengan ketidaksengajaan, dijelaskan melalui teka-teki, namun terhenti karena rasa sakit hati."
Bersambung...
Melihat apa yang dilihat. Memikirkan apa yang terlintas. Menulis apa yang ingin ditulis.
Rabu, 05 Agustus 2015
Jumat, 24 Juli 2015
Perubahan Itu Ada, Pasti, Juga Terasa.
Sejak beberapa hari yang lalu, aku sudah memikirkan hal ini. Bahkan aku juga sudah membayangkan seperti apa jadinya di tahun ini. Akan ada banyak perbedaan dikarenakan takdir-takdir Allah yang tidak pernah aku bisa ketahui di tahun sebelumnya.
Aku tipikal orang yang mudah tersentuh terhadap sesuatu yang hilang, apapun itu. Aku orang yang sangat tidak suka perpisahan, kehilangan, atau semacamnya. Aku senang dengan kebersamaan, tawa dan suka cita, sampai kuharap hidupku hanya untuk berbahagia. Tapi hidup pun berpasang-pasangan. Ada kebahagiaan, ada kesedihan. Ada pertemuan, ada perpisahan.
Oke, balik pada realita. Aku sekarang sudah mencapai rencana hidupku yang kesekian, aku tidak memastikan keberapanya. Di tahun ini, aku sudah selesai kuliah D3 dan memiliki gelar Ahli Madya. Aku bekerja di sebuah perusahaan milik pribadi dengan gaji yang menurutku lumayan untuk pemula. Eh tapi, kecil deh.
Dengan gaji kecil itu, lebaran tahun ini aku bisa membelikan baju keluargaku, Bapak, Ibu, dan kedua Adikku. Ini impianku yang kesekian yang sudah dapat terwujud. Selain itu, aku juga bisa menghadiahkan satu set gamis untuk Embah dari Bapak yang sudah tiga bulan sakit.
Nah, Embahku sudah tiga bulan sakit. Sekitar bulan April sepertinya. Beliau jatuh dari bangku ketika ingin membenarkan posisi antena tv di rumahnya. Saat itu, kami sekeluarga, bahkan seluruh keluarga Bapak tidak tau kalau ternyata tulang kaki beliau retak. Tepatnya di bagian selangkangan. Hal itulah yang pada akhirnya membuat Embah dirawat secara intensif di rumahku selama dua bulan lebih, sampai hari ini.
Dari kisah tadi, dapat diketahui bahwa ada suka dan duka yang terjadi di tahun ini. Jelas terlihat.
Sepercik kisah lainnya yang melengkapi tahun ini pun datang dari diri pribadiku sendiri. Setelah setahun menjalin hubungan tanpa status dengan teman sekolahku. Aku bertemu dengan sosok laki-laki yang amat sangat baik. Sekarang dia sudah menjadi pacarku, bukan lagi dalam hubungan tanpa status. Hubungan kami sudah terjalin tujuh bulan lebih dan Alhamdulillah kedua orang tua kami sudah saling tau dan mengerti. Kami berdua berharap hubungan ini bukan lagi untuk main-main. Hal ini dikarenakan memang kami sudah sama-sama tidak ingin "membaca buku baru lainnya". Itu istilah yang aku buat. Bahkan, di hari kemenangan ini, ketika aku berkunjung ke rumah keluarga besar Bapak yang di daerah Jakarta Pusat, laki-laki itu sudah cukup dikenal mereka. Mereka pun mendoakan yang terbaik untuk kita. Tinggal keluarga besar dari Ibu saja yang belum kuketahui tanggapannya sampai aku menulis paragraf ini. Alhamdulillah bahkan banyak yang sudah mendoakan agar aku dan dia bisa sampai ke ikatan yang lebih dari ini. Aamiiin o:) Insya Allaah.
Berkenaan dengan datangnya aku ke rumah keluarga besar di Jakarta Pusat, muncul pula sisi lain dari kebahagiaan tersebut.
Awal bulan Ramadhan, aku dikejutkan kabar duka datang dari sana. Ibu Haji, aku biasa memanggilnya, Beliau dipanggil oleh Allah SWT di hari pertama Ramadhan. Duka yang sangat mendalam atas kembalinya beliau ke hadapan Sang Khalik. Hari itu aku gemetar di kantor. Pikirku langsung melayang ke hari ini. "Bagaimana lebaran tahun ini ya?"
Semua terjawab saat aku memasuki gang kecil di Cempaka Baru. Beda rasanya dibandingkan beberapa tahun yang lalu dimana banyak Jama'ah Ibu Haji dan Engkong Haji, suaminya, datang untuk silaturahmi di hari Idul Fitri. Sepi dan biasa saja. Tidak lagi ada aktivitas seperti dulu. Suasana haru semakin menyelimuti ketika aku masuk ke rumah yang dulu sering dijadikan tempat pengajian keluarga besar Al-Ikhlas. Ibu mulai menangis, aku pun merasa ingin mengeluarkan air mata. Namun, aku tahan sebisaku. Allah tau apa yang terbaik yang akan terjadi setelah ini. Tidak ada yang mampu memrediksinya.
Kami bersalaman saling memohon maaf antar anggota keluarga. Kemudian di lanjutkan dengan perbincangan hangat seputar meninggalnya Bu Haji dan kelanjutan nasip pengajian ini. Aku tidak ikut dengan para orang tua, aku memilih berkumpul dengan saudara-saudaraku yang kisarannya "anak-anak" dari orang tua itu. Aku mencoba menetralisir keadaan dan kuyakin semua akan baik-baik saja. Lalu, sebuah harapan mengenai kembali aktifnya keluarga besar ini tetap ada.
Aku tipikal orang yang mudah tersentuh terhadap sesuatu yang hilang, apapun itu. Aku orang yang sangat tidak suka perpisahan, kehilangan, atau semacamnya. Aku senang dengan kebersamaan, tawa dan suka cita, sampai kuharap hidupku hanya untuk berbahagia. Tapi hidup pun berpasang-pasangan. Ada kebahagiaan, ada kesedihan. Ada pertemuan, ada perpisahan.
Oke, balik pada realita. Aku sekarang sudah mencapai rencana hidupku yang kesekian, aku tidak memastikan keberapanya. Di tahun ini, aku sudah selesai kuliah D3 dan memiliki gelar Ahli Madya. Aku bekerja di sebuah perusahaan milik pribadi dengan gaji yang menurutku lumayan untuk pemula. Eh tapi, kecil deh.
Dengan gaji kecil itu, lebaran tahun ini aku bisa membelikan baju keluargaku, Bapak, Ibu, dan kedua Adikku. Ini impianku yang kesekian yang sudah dapat terwujud. Selain itu, aku juga bisa menghadiahkan satu set gamis untuk Embah dari Bapak yang sudah tiga bulan sakit.
Nah, Embahku sudah tiga bulan sakit. Sekitar bulan April sepertinya. Beliau jatuh dari bangku ketika ingin membenarkan posisi antena tv di rumahnya. Saat itu, kami sekeluarga, bahkan seluruh keluarga Bapak tidak tau kalau ternyata tulang kaki beliau retak. Tepatnya di bagian selangkangan. Hal itulah yang pada akhirnya membuat Embah dirawat secara intensif di rumahku selama dua bulan lebih, sampai hari ini.
Dari kisah tadi, dapat diketahui bahwa ada suka dan duka yang terjadi di tahun ini. Jelas terlihat.
Sepercik kisah lainnya yang melengkapi tahun ini pun datang dari diri pribadiku sendiri. Setelah setahun menjalin hubungan tanpa status dengan teman sekolahku. Aku bertemu dengan sosok laki-laki yang amat sangat baik. Sekarang dia sudah menjadi pacarku, bukan lagi dalam hubungan tanpa status. Hubungan kami sudah terjalin tujuh bulan lebih dan Alhamdulillah kedua orang tua kami sudah saling tau dan mengerti. Kami berdua berharap hubungan ini bukan lagi untuk main-main. Hal ini dikarenakan memang kami sudah sama-sama tidak ingin "membaca buku baru lainnya". Itu istilah yang aku buat. Bahkan, di hari kemenangan ini, ketika aku berkunjung ke rumah keluarga besar Bapak yang di daerah Jakarta Pusat, laki-laki itu sudah cukup dikenal mereka. Mereka pun mendoakan yang terbaik untuk kita. Tinggal keluarga besar dari Ibu saja yang belum kuketahui tanggapannya sampai aku menulis paragraf ini. Alhamdulillah bahkan banyak yang sudah mendoakan agar aku dan dia bisa sampai ke ikatan yang lebih dari ini. Aamiiin o:) Insya Allaah.
Berkenaan dengan datangnya aku ke rumah keluarga besar di Jakarta Pusat, muncul pula sisi lain dari kebahagiaan tersebut.
Awal bulan Ramadhan, aku dikejutkan kabar duka datang dari sana. Ibu Haji, aku biasa memanggilnya, Beliau dipanggil oleh Allah SWT di hari pertama Ramadhan. Duka yang sangat mendalam atas kembalinya beliau ke hadapan Sang Khalik. Hari itu aku gemetar di kantor. Pikirku langsung melayang ke hari ini. "Bagaimana lebaran tahun ini ya?"
Semua terjawab saat aku memasuki gang kecil di Cempaka Baru. Beda rasanya dibandingkan beberapa tahun yang lalu dimana banyak Jama'ah Ibu Haji dan Engkong Haji, suaminya, datang untuk silaturahmi di hari Idul Fitri. Sepi dan biasa saja. Tidak lagi ada aktivitas seperti dulu. Suasana haru semakin menyelimuti ketika aku masuk ke rumah yang dulu sering dijadikan tempat pengajian keluarga besar Al-Ikhlas. Ibu mulai menangis, aku pun merasa ingin mengeluarkan air mata. Namun, aku tahan sebisaku. Allah tau apa yang terbaik yang akan terjadi setelah ini. Tidak ada yang mampu memrediksinya.
Kami bersalaman saling memohon maaf antar anggota keluarga. Kemudian di lanjutkan dengan perbincangan hangat seputar meninggalnya Bu Haji dan kelanjutan nasip pengajian ini. Aku tidak ikut dengan para orang tua, aku memilih berkumpul dengan saudara-saudaraku yang kisarannya "anak-anak" dari orang tua itu. Aku mencoba menetralisir keadaan dan kuyakin semua akan baik-baik saja. Lalu, sebuah harapan mengenai kembali aktifnya keluarga besar ini tetap ada.
Kamis, 23 Juli 2015
Pertemuan Di Bulan Syawal
Beberapa tahun telah berlalu dengan kisah kita yang pernah di mulai di awal bulan Syawal. Sebuah kisah yang dimulai dari pertemuan dan berakhir dengan kebencian. Kisah yang masih bisa teringat jelas di benak kita masing-masing. Walau kini telah banyak kisah baru yang mampu menggantikan sedikit demi sedikit. Meski demikian, pertemuan itu sangat indah.
Allahuakbar... Allahuakbar... Allahuakbar Walillailham...
Takbir itu masih berkumandang di masjid-masjid rumah kita. Aku tidak pernah menyangka bahwa Allah mempertemukan kita di bulan yang indah ini.
Pertemuan sederhana di sebuah kafetaria daerah Cengkareng, salah satu kecamatan di Jakarta Barat, tempat kita tinggal. Saat itu kamu sudah lebih dulu datang di kafetaria tersebut. Lalu berselang beberapa menit, aku tidak tau pastinya, aku dan keluargaku datang.
Kita duduk di meja yang bersebelahan. Aku melirik ke arahmu, kukira aku mengenal laki-laki sebaya yang berkaos hitam dan mengenakan sweater hitam. Aku tidak menyapamu, jelas karena aku malu untuk memulai duluan dan kembali mengakrabkan diri. Beberapa kali aku menengokan kepala ke arah kiri, akhirnya kita saling bertemu pandang.
"Ehh... Elu?" Sapamu membuatku grogi.
"Ehh... Iya." Ternyata benar dia teman sekelasku dulu.
"Itu siapa?" Adik keduaku bertanya di sela tatapan kita.
"Temen Kakak dulu waktu sekolah. Kayaknya," kataku pelan di ujung kalimat.
"Lah? Itu adek lu? Banyak banget adek lu."
"He... Iya ini adek gue yang kedua."
"Wehh bro!!!" Kamu menyapa adik pertamaku.
"Ehh iya, Bang" jawabnya.
"Sebentar ya. Gue mau pesen makanan dulu."
"Oh iya iya, sorry ganggu."
Selang beberapa menit, kita kembali bercakap.
"Kok lu ga mudik?"
"Iya, tahun ini lg krisis moneter nih di keluarga. Jadi ga mudik dulu. Ya paling jalan-jalan sekalian makan aja di deket-deket rumah."
"Sama dong. Gue juga nih. Tapi sayangnya keluarga gue ga sekompak keluarga lu. Bapak sama Ibu lu mah mau diajak jalan kayak gini. Gue mah susah."
"Bukannya kalau cowok mah malah susah diajak main sama keluarga? Dia aja susah banget." Aku menunjuk adik pertamaku.
"Ya bener sih. Udah gede mah anak laki suka males main sama keluarga. Ya ga?" Kamu malah bertanya ke adik pertamaku.
"Iya, Bang. Gue juga males ini kalau ga dipaksa sama Kakak."
"Pak, Bu, kok anaknya tambah cantik ya? Gingsulnya bikin manis." Kamu memujiku di depan Ibu dan Bapak.
"Hush!!!"
"Yeeeh, emang bener. Makin manis lu."
"Ya namanya juga anak Ibu." Ibu menjawab.
"Manis dari mana? Amit-amit dia mah." Bapak meledek.
Aku sedikit malu saat itu. Kamu berani memuji di pertemuan pertama kita setelah enam tahun kita tidak pernah berjumpa.
"Eh... Lu inget gak waktu dulu gue kirim surat ke elu yang isinya tentang perasaan gue. Tapi lu gak pernah sekalipun bales. Jangankan bales, baca juga engga."
"Surat? Kapan lu pernah kasih gue surat deh?"
"Dulu, tuh kan lupa. Lu kan selalu gitu sama gue. Ya gue mah apa kan, cuma pengagum lu aja dari dulu."
"Ha?" Aku terkejut dengan pernyataan kamu.
Tapi, itulah awal mula kita menjalin kisah hingga berakhir dengan rasa saling benci.
Read : Dua Belas September
Allahuakbar... Allahuakbar... Allahuakbar Walillailham...
Takbir itu masih berkumandang di masjid-masjid rumah kita. Aku tidak pernah menyangka bahwa Allah mempertemukan kita di bulan yang indah ini.
Pertemuan sederhana di sebuah kafetaria daerah Cengkareng, salah satu kecamatan di Jakarta Barat, tempat kita tinggal. Saat itu kamu sudah lebih dulu datang di kafetaria tersebut. Lalu berselang beberapa menit, aku tidak tau pastinya, aku dan keluargaku datang.
Kita duduk di meja yang bersebelahan. Aku melirik ke arahmu, kukira aku mengenal laki-laki sebaya yang berkaos hitam dan mengenakan sweater hitam. Aku tidak menyapamu, jelas karena aku malu untuk memulai duluan dan kembali mengakrabkan diri. Beberapa kali aku menengokan kepala ke arah kiri, akhirnya kita saling bertemu pandang.
"Ehh... Elu?" Sapamu membuatku grogi.
"Ehh... Iya." Ternyata benar dia teman sekelasku dulu.
"Itu siapa?" Adik keduaku bertanya di sela tatapan kita.
"Temen Kakak dulu waktu sekolah. Kayaknya," kataku pelan di ujung kalimat.
"Lah? Itu adek lu? Banyak banget adek lu."
"He... Iya ini adek gue yang kedua."
"Wehh bro!!!" Kamu menyapa adik pertamaku.
"Ehh iya, Bang" jawabnya.
"Sebentar ya. Gue mau pesen makanan dulu."
"Oh iya iya, sorry ganggu."
Selang beberapa menit, kita kembali bercakap.
"Kok lu ga mudik?"
"Iya, tahun ini lg krisis moneter nih di keluarga. Jadi ga mudik dulu. Ya paling jalan-jalan sekalian makan aja di deket-deket rumah."
"Sama dong. Gue juga nih. Tapi sayangnya keluarga gue ga sekompak keluarga lu. Bapak sama Ibu lu mah mau diajak jalan kayak gini. Gue mah susah."
"Bukannya kalau cowok mah malah susah diajak main sama keluarga? Dia aja susah banget." Aku menunjuk adik pertamaku.
"Ya bener sih. Udah gede mah anak laki suka males main sama keluarga. Ya ga?" Kamu malah bertanya ke adik pertamaku.
"Iya, Bang. Gue juga males ini kalau ga dipaksa sama Kakak."
"Pak, Bu, kok anaknya tambah cantik ya? Gingsulnya bikin manis." Kamu memujiku di depan Ibu dan Bapak.
"Hush!!!"
"Yeeeh, emang bener. Makin manis lu."
"Ya namanya juga anak Ibu." Ibu menjawab.
"Manis dari mana? Amit-amit dia mah." Bapak meledek.
Aku sedikit malu saat itu. Kamu berani memuji di pertemuan pertama kita setelah enam tahun kita tidak pernah berjumpa.
"Eh... Lu inget gak waktu dulu gue kirim surat ke elu yang isinya tentang perasaan gue. Tapi lu gak pernah sekalipun bales. Jangankan bales, baca juga engga."
"Surat? Kapan lu pernah kasih gue surat deh?"
"Dulu, tuh kan lupa. Lu kan selalu gitu sama gue. Ya gue mah apa kan, cuma pengagum lu aja dari dulu."
"Ha?" Aku terkejut dengan pernyataan kamu.
Tapi, itulah awal mula kita menjalin kisah hingga berakhir dengan rasa saling benci.
Read : Dua Belas September
Senin, 13 Juli 2015
World, I've got My Tittle
Masih ingat di benak gue, tiga tahun lalu gue bersikeras untuk bisa masuk Perguruan Tinggi Negeri. Gue menginginkan masuk PTN dengan jurusan Pendidikan karena gue sangat berambisi untuk menjadi guru Bahasa Inggris. Universitas yang gue incar saat itu ada di dalam kota. Akan tetapi, dengan izin Allah, gue tidak berhasil masuk ke Perguruan Tinggi Negeri tersebut. Akhirnya gue putus asa, hampir putus asa sih.
Niat gue buat kuliah masih sangat besar. Akhirnya, gue mencari informasi mengenai Perguruan Tinggi Swasta yang sekiranya mampu secara keuangan dibiayain oleh kedua orang tua gue. Sempatlah gue terbawa ajakan teman dekat gue untuk masuk ke salah satu PTS di daerah Jakarta juga. Tapi, Ibu gue sama sekali tidak mengizinkan keinginan gue tersebut.
Gue mencari referensi lain untuk kuliah. Karena PTS yang tadi itu biayanya cukup tinggi. Bertemulah gue dengan informasi kuliah di dekat rumah gue yang Universitasnya sudah sangat terkenal. Mereka menyebutnya "Kampus Pahlawan Reformasi". Kebetulan ada teman gue yang sudah mendaftar disana. Gue minta informasinya dengan jelas. Ibu gue setuju. Kampusnya dekat dengan rumah, biayanya jauh lebih murah dari yang sebelumnya, dan Ibu gue lebih nyaman kalau gue kuliah disana.
Singkat cerita, gue memutuskan kuliah disana. Jurusan baru di Universitas Swasta ini. Dari awal masa kuliah, gue cuma berpikir untuk menyelesaikan kuliah saja. Urusan masa-masa sebagai Mahasiswa, itu gampanglah.
Semester satu gue bisa membiayai kuliah dari sebagian kecil dari warisan keluarga. Semester kedua, gue punya bisnis pribadi. Bisnis ini dimulai dari gue nekat ngajak teman-teman kuliah gue ke rumah. Kemudian salah seorang teman gue memberikan ide untuk membuat usaha ke gue dengan keahlian Ibu gue, yaitu menjahit. Berjalan sekitar setengah tahun lebih, bisnis tersebut bisa membuat gue melanjutkan kuliah. Ketika bisnis tersebut sudah mulai jatuh, gue mencoba untuk mencari beasiswa. Mulai dari semester tiga, gue dapat beasiswa dari Yayasan Beasiswa Jakarta. Semester tiga dan empat gue mulai membiayai kuliah gue dari beasiswa dan mengajar privat tetangga gue. Hanya sebentar gue mengajar privat, setelah itu gue beralih profesi menjadi tukang ojeg pribadi saudara gue sendiri. Apapun itu, yang penting bisa membantu gue membiayai kuliah gue. Walaupun, orang tua gue juga masih pontang-panting mencari lobang yang bisa membantu gue. Semester lima, gue masih menerima beasiswa, akan tetapi gue berhenti dengan mengojeg. Karena di semester lima gue harus melaksanakan Praktik Kerja Lapangan sebagai syarat pemenuhan SKS di kampus. Semester itu orang tua gue benar-benar kerja keras buat biaya kuliah gue yang sebenarnya jauh lebih murah dari semester sebelumnya. Selesai PKL, gue mulai membuat Tugas Akhir supaya gue cepat-cepat selesai kuliah.
Dari awal gue memulai membuat Tugas Akhir, gue sudah memikirkan bagaimana gue membiayai pengeluaran untuk ini sedangkan gue masih nunggak uang kuliah semester lima. Akhirnya, gue mencoba mencari-cari pekerjaan separuh waktu. Gue mulai dari Jobstreet. Gue dapatlah untuk diinterview. Desember awal tahun 2014, gue dipanggil interview di daerah Slipi. Kata pihak sana, gue akan dikabari satu atau dua minggu setelah gue interview, nyatanya engga. Sampai Januari gue gak ada panggilan. Bahkan, gue juga dapat panggilan di BCA untuk psikotes dan interview. Tapi sayangnya gue lagi UAS, jadi gue gak bisa hadir.
Januari pertengahan, saat gue fokus buat TA, gue ditawarin kerja sama dosen gue di Kantor Akuntan Publik sebagai Junior Auditor. Saat itu gue diberi tugas untuk ikut mengaudit perusahaan di Makassar. Gue dapat izin dari orang tua gue, bayarannya pun lumayan buat biaya Tugas Akhir. Sayang sungguh disayang, gue saat itu masih ada kewajiban untuk memperbaiki nilai gue yang sempat dapat D. Gue menolak penawaran emas itu.
Karena Allah sayang sama gue, seminggu kemudian Allah memberi pertolongan melalui dosen gue tadi. Gue ditawarin kerja lagi di KAP itu untuk mengaudit di Tangerang. Gue menerima tanpa berpikir panjang. Gue kerja disana. Gaji pertama gue kecil, tapi uang harian sebagai Junior Auditor lumayan.
Dua minggu gue kerja, perusahaan yang di Slipi menelpon gue dan meminta gue untuk kerja disana. Tapi, gue lebih memilih untuk menyelesaikan tugas di KAP. Gue bekerja di KAP sampai akhir Maret.
Sebelum gue selesai di KAP, kakak gue menawarkan kerjaan di tempat yang sekarang gue kerja. Walaupun masih baru dan usahanya bukan besar, tapi gue yakin tempat ini bisa membantu gue berkembang. Akhir April gue mulai kerja disini.
Bagaimana dengan kuliah gue?
Selama gue kerja di KAP, gue juga menyelesaikan Tugas Akhir gue. Pertengahan Februari gue Sidang Laporan PKL. Alhamdulillah gue dapat nilai A- dan gelar gue Ahli Madya hampir sampai.
Gue bisa membiayai pengeluaran TA gue dengan seluruh penghasilan gue dari kerja di KAP.
Bulan Mei, tepatnya 23 Mei 2015, gue sah menjadi seorang Ahli Madya...
Niat gue buat kuliah masih sangat besar. Akhirnya, gue mencari informasi mengenai Perguruan Tinggi Swasta yang sekiranya mampu secara keuangan dibiayain oleh kedua orang tua gue. Sempatlah gue terbawa ajakan teman dekat gue untuk masuk ke salah satu PTS di daerah Jakarta juga. Tapi, Ibu gue sama sekali tidak mengizinkan keinginan gue tersebut.
Gue mencari referensi lain untuk kuliah. Karena PTS yang tadi itu biayanya cukup tinggi. Bertemulah gue dengan informasi kuliah di dekat rumah gue yang Universitasnya sudah sangat terkenal. Mereka menyebutnya "Kampus Pahlawan Reformasi". Kebetulan ada teman gue yang sudah mendaftar disana. Gue minta informasinya dengan jelas. Ibu gue setuju. Kampusnya dekat dengan rumah, biayanya jauh lebih murah dari yang sebelumnya, dan Ibu gue lebih nyaman kalau gue kuliah disana.
Singkat cerita, gue memutuskan kuliah disana. Jurusan baru di Universitas Swasta ini. Dari awal masa kuliah, gue cuma berpikir untuk menyelesaikan kuliah saja. Urusan masa-masa sebagai Mahasiswa, itu gampanglah.
Semester satu gue bisa membiayai kuliah dari sebagian kecil dari warisan keluarga. Semester kedua, gue punya bisnis pribadi. Bisnis ini dimulai dari gue nekat ngajak teman-teman kuliah gue ke rumah. Kemudian salah seorang teman gue memberikan ide untuk membuat usaha ke gue dengan keahlian Ibu gue, yaitu menjahit. Berjalan sekitar setengah tahun lebih, bisnis tersebut bisa membuat gue melanjutkan kuliah. Ketika bisnis tersebut sudah mulai jatuh, gue mencoba untuk mencari beasiswa. Mulai dari semester tiga, gue dapat beasiswa dari Yayasan Beasiswa Jakarta. Semester tiga dan empat gue mulai membiayai kuliah gue dari beasiswa dan mengajar privat tetangga gue. Hanya sebentar gue mengajar privat, setelah itu gue beralih profesi menjadi tukang ojeg pribadi saudara gue sendiri. Apapun itu, yang penting bisa membantu gue membiayai kuliah gue. Walaupun, orang tua gue juga masih pontang-panting mencari lobang yang bisa membantu gue. Semester lima, gue masih menerima beasiswa, akan tetapi gue berhenti dengan mengojeg. Karena di semester lima gue harus melaksanakan Praktik Kerja Lapangan sebagai syarat pemenuhan SKS di kampus. Semester itu orang tua gue benar-benar kerja keras buat biaya kuliah gue yang sebenarnya jauh lebih murah dari semester sebelumnya. Selesai PKL, gue mulai membuat Tugas Akhir supaya gue cepat-cepat selesai kuliah.
Dari awal gue memulai membuat Tugas Akhir, gue sudah memikirkan bagaimana gue membiayai pengeluaran untuk ini sedangkan gue masih nunggak uang kuliah semester lima. Akhirnya, gue mencoba mencari-cari pekerjaan separuh waktu. Gue mulai dari Jobstreet. Gue dapatlah untuk diinterview. Desember awal tahun 2014, gue dipanggil interview di daerah Slipi. Kata pihak sana, gue akan dikabari satu atau dua minggu setelah gue interview, nyatanya engga. Sampai Januari gue gak ada panggilan. Bahkan, gue juga dapat panggilan di BCA untuk psikotes dan interview. Tapi sayangnya gue lagi UAS, jadi gue gak bisa hadir.
Januari pertengahan, saat gue fokus buat TA, gue ditawarin kerja sama dosen gue di Kantor Akuntan Publik sebagai Junior Auditor. Saat itu gue diberi tugas untuk ikut mengaudit perusahaan di Makassar. Gue dapat izin dari orang tua gue, bayarannya pun lumayan buat biaya Tugas Akhir. Sayang sungguh disayang, gue saat itu masih ada kewajiban untuk memperbaiki nilai gue yang sempat dapat D. Gue menolak penawaran emas itu.
Karena Allah sayang sama gue, seminggu kemudian Allah memberi pertolongan melalui dosen gue tadi. Gue ditawarin kerja lagi di KAP itu untuk mengaudit di Tangerang. Gue menerima tanpa berpikir panjang. Gue kerja disana. Gaji pertama gue kecil, tapi uang harian sebagai Junior Auditor lumayan.
Dua minggu gue kerja, perusahaan yang di Slipi menelpon gue dan meminta gue untuk kerja disana. Tapi, gue lebih memilih untuk menyelesaikan tugas di KAP. Gue bekerja di KAP sampai akhir Maret.
Sebelum gue selesai di KAP, kakak gue menawarkan kerjaan di tempat yang sekarang gue kerja. Walaupun masih baru dan usahanya bukan besar, tapi gue yakin tempat ini bisa membantu gue berkembang. Akhir April gue mulai kerja disini.
Bagaimana dengan kuliah gue?
Selama gue kerja di KAP, gue juga menyelesaikan Tugas Akhir gue. Pertengahan Februari gue Sidang Laporan PKL. Alhamdulillah gue dapat nilai A- dan gelar gue Ahli Madya hampir sampai.
Gue bisa membiayai pengeluaran TA gue dengan seluruh penghasilan gue dari kerja di KAP.
I'VE DONE !!!
Jumat, 10 Juli 2015
Akhirnya Di Dua Belas September
Read Previous Chapter : Tetap Di Dua Belas September
Dua hari berlalu sejak kejadian di bioskop itu. Aku pergi dengan temanku dan bercerita apa yang terjadi antara aku dan kamu. Dia antusias dengan ceita ini bahkan sampai-sampai dia ingin bertemu dengan kamu dan menegur kicauanmu yang memang menyinggung perasaan aku.
Seminggu dari hari dimana aku menceritakan kamu kepada dia, kita bertiga bertemu di pertemuan yang tidak terduga.
"Eh eh... kayaknya gue pernah liat dia deh. Dimana ya?"
"Siapa?"
"Itu... cowok anak skateboard yang lagi duduk disana" menunjuk ke arah kanan dari posisi kami berdiri.
Aku menoleh dan melihatnya secara baik, itu kamu. Aku merasa malas sekali kalau memang harus berpapasan dengan kamu. Ada rasa ill'feel ketika melihat wajah kamu. Namun, Tuhan memberikan takdir lain. Seseorang di samping kamu melihat temanku sedang menunjukmu dan memanggil kamu agar menoleh ke arah sini. Aku panik karena tingkah temanku itu. Aku mengajaknya pergi menjauh, tapi kamu malah berlari menghampiri aku.
"Hey... apa kabar?"
"Lo siapa ya?" Aku menjawab sinis, "gue punya nama kok. jadi bisa kan sebut nama gue, bukan pake 'hai'?
"Asli lo ribet banget."
"Heh... Demen banget sih lo bilang temen gue ribet?" temanku yang protes.
"Lah emang temen lo ribet. Harus banget gue nyebut nama dia. Wajar kali kalau udah beberapa hari gak ketemu terus manggilnya 'hey' dulu."
"Beberapa hari? Kita udah gak ketemu seminggu lebih ya, Bro."
"Oke... Oke... Gue ngalah, maaf yaaa mantan gebetan. apa kabar?"
"Gila! Orang gila!" Kamu malah menyebutku mantan gebetan. Sepertinya lebih enak disebut teman lama. Kalau kamu menyebut seperti itu kan rasanya kamu menunjukkan masalah di antara kita yang menyebabkan kita menjadi mantanan.
Aku pergi meninggalkan kamu, akan tetapi temanku yang satu itu malah tetap berada di samping kamu dan entah apa yang kalian bicarakan. Yang pasti, aku meninggalkan kalian berdua di taman mall.
Keesokan harinya aku ada kegiatan karang taruna, aku bertemu temanku itu lagi. Kemudian dia bercerita mengenai pembicaraan kalian berdua setelah aku tinggalkan. Rupanya memang aku yang lupa akan sifat asli kamu yang memang sudah kuketahui beberapa tahun sebelumnya. Karakter keras kamu, cuek kamu, dan gak mau ribet itu memang akan menghasilkan kisah yang seperti ini. Harusnya, kalau saja aku ingat tentang sifat dan karakter kamu itu, aku akan menerima argumen kamu di bioskop.
Ibarat nasi sudah menjadi bubur, ketika kamu sudah bilang 'mantan gebetan' tandanya tidak akan ada lagi 'kita' di masa depan. Iya, sepertinya aku sempat gagal move on berkepanjangan. Sampai saat ini tepat tiga tahun sejak tanggal 12 September di bioskop.
Namun, yang dapat aku mengerti saat ini adalah bahwa memang saat itu aku seperti remaja labil yang masih menuntut hubungan dengan status pacaran padahal tanpa status itu pun seorang laki-laki atau pun perempuan bisa menjalin hubungan. Bahkan dalam ikatan yang lebih serius. Jika dalam istilah agama ada yang namanya ta'aruf, dimana dua anak cucu adam bertemu sekali untuk diikatkan dalam ikatan suci yang disebut pernikahan. Jelas tanpa harus ada masa-masa yang disebut pacaran. Selain itu, aku juga mengerti bagaimana tidak menuntut suatu hal berdasarkan apa yang aku inginkan. Karena memenuhi keinginanku tidak pernah ada habisnya, aku manusia biasa. Aku tau itu. Aku juga mengerti bagaimana aku harus mengingat sesuatu yang penting bahwa aku harus menerima kekurangan dan kelebihan seseorang, menerima sifat dan karakter seseorang yang memang membuat aku jatuh hati. Aku mengerti semua itu sehingga pada akhirnya aku bisa mengalahkan keegoisan diriku sendiri.
Saat ini, walau aku masih belum bisa berpaling dari kamu. Bahkan aku masih sedikit merasa belum siap menerima apa yang sudah aku mengerti tadi. Jadi, kamu pun tau, aku tidak berani lagi untuk menjalin hubungan yang waktu itu menjadi perdebatan kita. Aku hanya ingin menikmati masa gadisku bersama teman-temanku sampai nanti entah kamu ataupun orang lain bisa membuatku merasa jatuh hati kembali.
Selesai.
Dua hari berlalu sejak kejadian di bioskop itu. Aku pergi dengan temanku dan bercerita apa yang terjadi antara aku dan kamu. Dia antusias dengan ceita ini bahkan sampai-sampai dia ingin bertemu dengan kamu dan menegur kicauanmu yang memang menyinggung perasaan aku.
Seminggu dari hari dimana aku menceritakan kamu kepada dia, kita bertiga bertemu di pertemuan yang tidak terduga.
"Eh eh... kayaknya gue pernah liat dia deh. Dimana ya?"
"Siapa?"
"Itu... cowok anak skateboard yang lagi duduk disana" menunjuk ke arah kanan dari posisi kami berdiri.
Aku menoleh dan melihatnya secara baik, itu kamu. Aku merasa malas sekali kalau memang harus berpapasan dengan kamu. Ada rasa ill'feel ketika melihat wajah kamu. Namun, Tuhan memberikan takdir lain. Seseorang di samping kamu melihat temanku sedang menunjukmu dan memanggil kamu agar menoleh ke arah sini. Aku panik karena tingkah temanku itu. Aku mengajaknya pergi menjauh, tapi kamu malah berlari menghampiri aku.
"Hey... apa kabar?"
"Lo siapa ya?" Aku menjawab sinis, "gue punya nama kok. jadi bisa kan sebut nama gue, bukan pake 'hai'?
"Asli lo ribet banget."
"Heh... Demen banget sih lo bilang temen gue ribet?" temanku yang protes.
"Lah emang temen lo ribet. Harus banget gue nyebut nama dia. Wajar kali kalau udah beberapa hari gak ketemu terus manggilnya 'hey' dulu."
"Beberapa hari? Kita udah gak ketemu seminggu lebih ya, Bro."
"Oke... Oke... Gue ngalah, maaf yaaa mantan gebetan. apa kabar?"
"Gila! Orang gila!" Kamu malah menyebutku mantan gebetan. Sepertinya lebih enak disebut teman lama. Kalau kamu menyebut seperti itu kan rasanya kamu menunjukkan masalah di antara kita yang menyebabkan kita menjadi mantanan.
Aku pergi meninggalkan kamu, akan tetapi temanku yang satu itu malah tetap berada di samping kamu dan entah apa yang kalian bicarakan. Yang pasti, aku meninggalkan kalian berdua di taman mall.
Keesokan harinya aku ada kegiatan karang taruna, aku bertemu temanku itu lagi. Kemudian dia bercerita mengenai pembicaraan kalian berdua setelah aku tinggalkan. Rupanya memang aku yang lupa akan sifat asli kamu yang memang sudah kuketahui beberapa tahun sebelumnya. Karakter keras kamu, cuek kamu, dan gak mau ribet itu memang akan menghasilkan kisah yang seperti ini. Harusnya, kalau saja aku ingat tentang sifat dan karakter kamu itu, aku akan menerima argumen kamu di bioskop.
Ibarat nasi sudah menjadi bubur, ketika kamu sudah bilang 'mantan gebetan' tandanya tidak akan ada lagi 'kita' di masa depan. Iya, sepertinya aku sempat gagal move on berkepanjangan. Sampai saat ini tepat tiga tahun sejak tanggal 12 September di bioskop.
Namun, yang dapat aku mengerti saat ini adalah bahwa memang saat itu aku seperti remaja labil yang masih menuntut hubungan dengan status pacaran padahal tanpa status itu pun seorang laki-laki atau pun perempuan bisa menjalin hubungan. Bahkan dalam ikatan yang lebih serius. Jika dalam istilah agama ada yang namanya ta'aruf, dimana dua anak cucu adam bertemu sekali untuk diikatkan dalam ikatan suci yang disebut pernikahan. Jelas tanpa harus ada masa-masa yang disebut pacaran. Selain itu, aku juga mengerti bagaimana tidak menuntut suatu hal berdasarkan apa yang aku inginkan. Karena memenuhi keinginanku tidak pernah ada habisnya, aku manusia biasa. Aku tau itu. Aku juga mengerti bagaimana aku harus mengingat sesuatu yang penting bahwa aku harus menerima kekurangan dan kelebihan seseorang, menerima sifat dan karakter seseorang yang memang membuat aku jatuh hati. Aku mengerti semua itu sehingga pada akhirnya aku bisa mengalahkan keegoisan diriku sendiri.
Saat ini, walau aku masih belum bisa berpaling dari kamu. Bahkan aku masih sedikit merasa belum siap menerima apa yang sudah aku mengerti tadi. Jadi, kamu pun tau, aku tidak berani lagi untuk menjalin hubungan yang waktu itu menjadi perdebatan kita. Aku hanya ingin menikmati masa gadisku bersama teman-temanku sampai nanti entah kamu ataupun orang lain bisa membuatku merasa jatuh hati kembali.
Selesai.
Kamis, 09 Juli 2015
Tetap Di Dua Belas September
Read Previous Chapter : Masih Di Dua Belas September
"Kemana dia? Kok kamu pulang sendiri? Putus?"
"Diem deh, Yah. Gimana aku mau putus, jadian aja engga. Engga mungkin jadian juga kali sama dia."
"Tuh kan, laki-laki zaman sekarang emang begitu. Mana janjinya mau kembaliin kamu pulang dengan baik-baik aja. Anak gue kok dibikin patah hati begini."
Aku menatap wajah Ayah justru semakin kesal saat itu, "rrggghh" kemudian aku pergi ke kamar.
Aku tidak menangis sama sekali hari itu. Aku malah merasa bersyukur, mungkin kamu bukan yang aku inginkan. Buktinya, memang kamu tidak bisa memenuhi apa yang aku inginkan. Sama seperti temanku yang satu itu.
"Yaudalahyah kalau emang bukan dia ataupun dia," aku menunjuk foto kedua laki-laki seumuranku di meja belajar, "masih akan ada laki-laki yang punya pemikiran dewasa datang ke kehidupan gue."
Walaupun aku berulang kali mengatakan hal itu, tetap saja mataku berkali-kali melirik smartphone hitam yang kuletakkan di meja belajar. Bolak-balik aku ke luar kamar, pandanganku tidak pernah sekalipun lepas dari smartphone itu. Setiap dering dari Blackberry Messanger, Line, Whatsapp, tidak aku gubris, aku intip pun tidak, bahkan menyentuhnya juga tidak. Tapi ada rasa penasaran yang luar biasa untuk meraih dan membuka pesan-pesan instan tersebut.
Tiga jam aku seperti ini. Aku hanya melakukan aktivitas yang memang sudah menjadi kewajiban, seperti makan malam, shalat maghrib dan shalat isya. Aku ingat perkataan Mama tadi saat aku mengambil sebotol air putih dan cemilan di kulkas. "Tuhan itu tidak memberikan kita apa yang inginkan, tapi apa yang kita butuhkan."
"Apa emang gue harus berhenti mencari apa yang gue mau ya? Gue harus lebih berpikir mencari yang lebih gue butuhkan. Hmm..." Aku membaringkan tubuhku yang mulai lelah di atas kasur dan akhirnya aku meraih smartphone itu. Aku tidak sama sekali membuka pesan instan yang sudah banyak masuk. Aku memilih untuk membuka twitter dan facebook untuk mencari moodbooster atau kata-kata motivasi yang bisa membangunkan semangat kedewasaanku kembali.
Tak lama aku scroll ke bawah, kamu yang tadi sore jalan denganku muncul dan menge-tweet beberapa kicauan yang membuatku semakin merasa kesal.
Buat apa pacaran kalau ujung-ujungnya putus juga.
Abis jalan sama anak kecil yang ngerasa dirinya dewasa tapi pola pikirnya amit-amit.
Kalau udah sama-sama suka ya mending sekalian halal-in aja dari pada cuma status yang sebenernya juga ga boleh sama agama. Malu juga ah sama umur, kok bocah banget.
"Keparat banget nih anak" kataku setelah membaca kicauan dari kamu.
Bersambung...
Bersambung...
Rabu, 08 Juli 2015
Masih Di Dua Belas September
Read Previous Chapter : Dua Belas September
Sekitar jam setengah sepuluh kita memutuskan untuk pulang. Setelah kita sudah saling banyak bicara mengenai hobi kamu, keinginan kamu untuk jadi anak traveler, lalu kamu bercerita tentang Iphone baru kamu, lalu masa lalu kita dan kenangan kita di masa dulu.
Kamu mengendarai sepeda motormu sangat cepat waktu itu, takut dicap jelek sama Mamaku katamu. Kemudian belum jam sepuluh kita sampai depan rumah. Aku mengajakmu mampir, tapi kamu menolak dan berkata, "lain waktu gue bakal jemput lo lagi dan saat itu gue akan jemput lo dari dalam rumah lo, kok. Minta izin secara langsung ke kedua orang tua lo. Terutama bokap lo yang tinggi itu. Kali ini gue mau buru-buru nge-band lagi. Thanks ya buat pertemuan ini."
"Iya sama-sama. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Kita kembali berkomunikasi lewat Blackberry Messanger sampai akhirnya suatu hari kamu mengajak aku pergi.
Hari ini lo gak kerja kan?
Engga, males gue. Mau nyantai di rumah.
Yakin? Gue mau minta temenin nonton film Raditya Dika nih. Seru banget. Gue suka film-film dia
Kapan? Dimana?
Tunggu dulu, lo mau apa engga?
Ya, boleh deh
Oke, jam 4 sore gue ke rumah lo
Sore ini?
Iyalah
Yauda, tapi nanti gue kabarin ya. Soalnya gue mau pergi dulu sama temen gue.
Sampai tiba pukul jam 4 sore dan aku memang sudah selesai dengan urusanku. Ayah dan Mama di rumah. Kebetulan hari itu Ayah sedang sakit, jadi beliau tidak masuk kerja. Kamu berdiri di depan pagar rumahku dan memencet bel. Aku keluar dengan mengenakan celana jeans hitam, t-shirt putih bertuliskan "GEEK" dan crop jeans yang masih kutenteng dilengan kiri bersamaan dengan totebag hitam bertuliskan "I AM WHO I AM". Kemudian, kamu meminta untuk mampir dan meminta izin secara baik-baik dengan Ayah dan Mama. Aku mempersilahkan kamu masuk.
"Om... Tante... Saya mohon izin ngajak putrinya pergi. Insya Allah saya jaga dengan sebaik-baiknya kok. Dan pulang juga dengan keadaan sama seperti berangkat."
"Kamu itu... teman sekolahnya, ya? Kayaknya Om dulu pernah lihat kamu."
"Iya, Om. Dulu saya sering kesini sama pacarnya dia juga. Tapi pas itu, dia sama sekali gak liat saya, Om."
"Pacar? Waktu itu dia udah punya pacar?"
Aku mencubit kamu, "kok lo ember sih mulutnya? Gue kan waktu itu masih backstreet."
"Biarin."
"Udah ah, Yah. Pergi dulu ya Ayaaaahhh." Aku mengambil sepasang sneakers hitam milikku dari rak sepatu di belakang pintu dan menarik kamu keluar.
Belum sampai kita membeli tiket nonton, kita justru malah berdebat mengenai prinsip menjalin hubungan.
"Buat gue, status itu penting. Ngapain lo sama-sama suka kalau lo gak pernah ngutarain apa yang lo rasa. Terus lo gak mengikatkan suatu hubungan? Ngegantung gitu?"
"Ya lagian kan kita yang sama-sama ngerasain, orang pun akan tau semuanya dengan seringnya kita jalan, makan bareng, nonton bareng, atau kenal sama orang tua kita masing-masing."
"Pokoknya, gue setuju hubungan yang jelas. Jangan-jangan... kita bakal..." Aku menatap kamu curiga.
"Ya, pokoknya gue gak akan pernah bilang sayang ke cewek, gak akan pernah nembak cewek, dan gak akan pernah bilang putus ke cewek. Kalau kita sama-sama nyaman jalin hubungan ya sudah jalanin aja."
"Gue gak suka cara lo kayak gitu. Gak menjamin gue satu-satunya di hidup lo. Eh... maksudnya di kehidupan seseorang."
"Ya terserah elo sih."
Pernyataan kamu yang terakhir itu membuat aku kesal. Sepertinya kamu menganggap remeh sebuah hubungan.
"Gue mau pulang. Gue gak mood buat nonton. Gue pulang aja sendiri."
"Kok lo lebay deh? Pulanglah sana! Begitu aja ngambek. Dasar cewek ribet."
Emosiku semakin memuncak saat itu. Manis obrolan kita beberapa bulan berakhir seperti ini. Kalau aku ingat, aku seperti anak SMP saat itu. Benar bukan? Tapi aku benar-benar pulang dan kamu tidak sama sekali mengantarku pulang. Bahkan kamu mengingkari janjimu ke kedua orang tuaku. Untuk hal seperti itu saja kamu ingkar, apalagi ketika memang kita sudah menjadi pasangan suami istri, seperti yang sering kita bicarakan di Blackberry Messanger.
Bersambung...
Sekitar jam setengah sepuluh kita memutuskan untuk pulang. Setelah kita sudah saling banyak bicara mengenai hobi kamu, keinginan kamu untuk jadi anak traveler, lalu kamu bercerita tentang Iphone baru kamu, lalu masa lalu kita dan kenangan kita di masa dulu.
Kamu mengendarai sepeda motormu sangat cepat waktu itu, takut dicap jelek sama Mamaku katamu. Kemudian belum jam sepuluh kita sampai depan rumah. Aku mengajakmu mampir, tapi kamu menolak dan berkata, "lain waktu gue bakal jemput lo lagi dan saat itu gue akan jemput lo dari dalam rumah lo, kok. Minta izin secara langsung ke kedua orang tua lo. Terutama bokap lo yang tinggi itu. Kali ini gue mau buru-buru nge-band lagi. Thanks ya buat pertemuan ini."
"Iya sama-sama. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Kita kembali berkomunikasi lewat Blackberry Messanger sampai akhirnya suatu hari kamu mengajak aku pergi.
Hari ini lo gak kerja kan?
Engga, males gue. Mau nyantai di rumah.
Yakin? Gue mau minta temenin nonton film Raditya Dika nih. Seru banget. Gue suka film-film dia
Kapan? Dimana?
Tunggu dulu, lo mau apa engga?
Ya, boleh deh
Oke, jam 4 sore gue ke rumah lo
Sore ini?
Iyalah
Yauda, tapi nanti gue kabarin ya. Soalnya gue mau pergi dulu sama temen gue.
Sampai tiba pukul jam 4 sore dan aku memang sudah selesai dengan urusanku. Ayah dan Mama di rumah. Kebetulan hari itu Ayah sedang sakit, jadi beliau tidak masuk kerja. Kamu berdiri di depan pagar rumahku dan memencet bel. Aku keluar dengan mengenakan celana jeans hitam, t-shirt putih bertuliskan "GEEK" dan crop jeans yang masih kutenteng dilengan kiri bersamaan dengan totebag hitam bertuliskan "I AM WHO I AM". Kemudian, kamu meminta untuk mampir dan meminta izin secara baik-baik dengan Ayah dan Mama. Aku mempersilahkan kamu masuk.
"Om... Tante... Saya mohon izin ngajak putrinya pergi. Insya Allah saya jaga dengan sebaik-baiknya kok. Dan pulang juga dengan keadaan sama seperti berangkat."
"Kamu itu... teman sekolahnya, ya? Kayaknya Om dulu pernah lihat kamu."
"Iya, Om. Dulu saya sering kesini sama pacarnya dia juga. Tapi pas itu, dia sama sekali gak liat saya, Om."
"Pacar? Waktu itu dia udah punya pacar?"
Aku mencubit kamu, "kok lo ember sih mulutnya? Gue kan waktu itu masih backstreet."
"Biarin."
"Udah ah, Yah. Pergi dulu ya Ayaaaahhh." Aku mengambil sepasang sneakers hitam milikku dari rak sepatu di belakang pintu dan menarik kamu keluar.
Belum sampai kita membeli tiket nonton, kita justru malah berdebat mengenai prinsip menjalin hubungan.
"Buat gue, status itu penting. Ngapain lo sama-sama suka kalau lo gak pernah ngutarain apa yang lo rasa. Terus lo gak mengikatkan suatu hubungan? Ngegantung gitu?"
"Ya lagian kan kita yang sama-sama ngerasain, orang pun akan tau semuanya dengan seringnya kita jalan, makan bareng, nonton bareng, atau kenal sama orang tua kita masing-masing."
"Pokoknya, gue setuju hubungan yang jelas. Jangan-jangan... kita bakal..." Aku menatap kamu curiga.
"Ya, pokoknya gue gak akan pernah bilang sayang ke cewek, gak akan pernah nembak cewek, dan gak akan pernah bilang putus ke cewek. Kalau kita sama-sama nyaman jalin hubungan ya sudah jalanin aja."
"Gue gak suka cara lo kayak gitu. Gak menjamin gue satu-satunya di hidup lo. Eh... maksudnya di kehidupan seseorang."
"Ya terserah elo sih."
Pernyataan kamu yang terakhir itu membuat aku kesal. Sepertinya kamu menganggap remeh sebuah hubungan.
"Gue mau pulang. Gue gak mood buat nonton. Gue pulang aja sendiri."
"Kok lo lebay deh? Pulanglah sana! Begitu aja ngambek. Dasar cewek ribet."
Emosiku semakin memuncak saat itu. Manis obrolan kita beberapa bulan berakhir seperti ini. Kalau aku ingat, aku seperti anak SMP saat itu. Benar bukan? Tapi aku benar-benar pulang dan kamu tidak sama sekali mengantarku pulang. Bahkan kamu mengingkari janjimu ke kedua orang tuaku. Untuk hal seperti itu saja kamu ingkar, apalagi ketika memang kita sudah menjadi pasangan suami istri, seperti yang sering kita bicarakan di Blackberry Messanger.
Bersambung...
Langganan:
Postingan (Atom)
Stupidfy : Ku Yakin Cinta Part IV
Read Stupidfy : Ku Yakin Cinta Part III Via Whatsapp aku mengajaknya pergi ke Puncak, enam bulan kemudian. Dia mau dan si...
-
Mari bersoraaaaaak !!! Say A ! Say Wooo! Libur telah tiba, libur telah tiba, simpanlah tas dan buku mu, lupakan keluh ke...
-
Aku wanita yang menyukai keindahan. Aku taburkan bibit-bibit keindahan di teras rumahku. Yang selalu kuinginkan, setiap pagi, sebelum aku b...
-
Read Part I -> Stupidfy : Ku Yakin Cinta Part I Setahun berlalu dengan banyak perseteruan dan kebahagiaan yang tidak...


