Sabtu, 22 April 2017

Stupidfy : Ku Yakin Cinta Part I

                Ratusan pasang mata menatapnya. Beberapa cibiran terlontar padanya. Namun, tidak sedikit pujian tertuju padanya. Entah karena hidungnya yang mancung, kulitnya yang terlihat bersih sekalipun kecoklatan, atau kharismanya yang sejak awal masuk SMA sudah terpancarkan. Suasana ramai dengan tepuk tangan terhenti ketika ia mengucapkan salam. Suaranya yang sedikit ngebass untuk ukuran laki-laki yang sudah baligh bisa menarik para haters ataupun lovers. Semua kalangan sepertinya, mulai dari kakak kelasnya, adik sekelasnya, teman seangkatannya, para guru dan bahkan kepala sekolah yang judesnya minta ampun. Semua memerhatikannya, kecuali aku.
                Bukan hal yang baru mengaguminya bagiku. Aku mengenalnya lebih dari 4 tahun. Aku tau sejak dulu masuk SMP kalau bocah gendut berkulit coklat itu memang memiliki kharisma sebagai seseorang yang dapat menarik perhatian banyak kalangan. Kalimat hiperbola yang sejak dulu aku buat adalah “mungkin sebagian auranya Bung Karno dititiskan ke dalam jiwa dia”.Tapi kenapa kali ini aku tidak tercengang seperti yang lain. Kalau alasannya karena aku sudah lama mengenalnya, ada dari tiga orang di lapangan ini yang sudah kenal dia lebih lama dari aku. Pertama, teman sekolah dasarnya yang berpisah saat SMP dan kembali bertemu di SMA, dia cewek. Kedua, mantan pacarnya yang ternyata sebulan yang lalu kembali mengharapkan cintanya. Ketiga, dia laki-laki yang menjadi rivalnya sejak masuk SMA.
                Cewek yang sudah mengenalnya lebih dari separuh umur mereka, namanya Mela. Mela mengaku sudah sekelas dengannya sejak kelas 1 SD dan saat itu dia sangat amat gendut bahkan tidak ada yang peduli dengan keberadaannya di kelas. Semua anak SD di kelas hanya memuji anak laki-laki yang selalu menjadi juara kelas selama 6 tahun. Peringkat satu di kelas tidak pernah tergeser, sekalipun dengan laki-laki yang sedang berdiri di atas podium.
                Mantan pacarnya yang sekitar satu bulan lalu menyapaku dan meminta nomor handphoneku. Namanya Andine Rahma, atau yang banyak menyapanya “bule”. Rambutnya memang pirang secara alami, katanya genetik karena kakeknya keturunan Australia. Hidungnya pun bangir. Rasanya bodoh sekali kalau dia memutuskan Andine secara cuma-cuma. Usut punya usut, dua hari setelah Andine meminta nomor handphoneku,Andine memanfaatkanku sebagai wadah untuk kembali bersama dia. Aku pun tidak begitu saja membantu, aku secara detail menanyakan kisah mereka. Ternyata saat putus, sekitar semester kedua kelas satu, Andine tertangkap basah sedang berciuman dengan kakak kelas kami yang saat itu duduk di kelas 12 IPS 3. Alasan Andine, mereka melakukan hal itu di rumah sang kakak kelas yang memang sedang modus dengan bule yang masih jadi murid baru di sekolah. Duh… baru juga masuk SMA, sudah terkena skandal saja. Maka dari itu, dia memilih untuk menyudahi hubungannya dengan Andine. Tapi bodohnya, Andine justru berpacaran dengan kakak kelas itu sampai terpisah karena salah satunya harus lulus sekolah. Mereka cukup mendompang popularitas sebagai hot couple untuk beberapa bulan di sekolah ini. And… Andine, you bullshit. Aku siswa disini yang bisa melihat kebenaran. Kebenaran selanjutnya adalah Andine ingin menjalin hubungan kembali dengannya juga karena ingin kembali lebih populer di sekolah.
                Anak laki-laki yang menjadi rivalnya bernama Dhika, pacarku secara resmi enam bulan yang lalu. Tepatnya, seminggu setelah dia dan Andine putus.Dhika menjadi rivalnya jelas bukan karena aku. Dhika sangat terobsesi ada di posisi dia yang saat ini berdiri di atas podium. Sebagai ketua OSIS. Hal itulah yang membuatku detik ini tidak bisa menjatuhkan pandangan kepada anak laki-laki yang sedang memberi sambutan dan ucapan terima kasih di hari pelantikan kami.
                Kami, aku tepatnya hari ini juga dengan hikmat menjalankan pelantikan sebagai pengurus OSIS. Namun, saat dia sambutan aku jatuhkan pandangan pada Dhika yang berdiri di barisan laki-laki kelas 11 IPA 2. Wajah Dhika terlihat kesal dan terlihat seolah dunia sudah tidak adil buat Dhika. Tepatnya, senior OSIS tidak adil karena memilih dia sebagai calon ketua OSIS sedangkan Dhika digugurkan dalam seleksi atas permintaan Pembina OSIS karena Dhika akan dicalonkan sebagai Ketua Permusyawaratan Kelas. Secara organisasi, Majelis Permusyawaratan Kelas lebih tinggi kedudukannya dengan OSIS. Ibarat dalam kesatuan Negara, OSIS dengan ketuanya sebagai Presiden, pengurusnya merupakan kabinet kerja, dan Majelis Permusyawaratan Kelas adalah MPR.
                Di lapangan memang terasa sangat panas dan melelahkan. Bagaimana tidak, biasanya kita upacara hanya sekitar 30 menit dan ini menjadi 45 menit karena kami pengurus OSIS baru harus dilantik. Diberi amanat dan lencana sebagai symbol kalau kami bukan sekedar siswa biasa. Kami harus bisa memberikan perubahan dan warna baru di sekolah. Rasanya betis lebih kalah sakitnya dari pada pundak. Lebih parah lagi yang kami rasakan, kami harus memikirkan koreografi yang sudah kami latih selama satu bulan lebih setelah dia selesai sambutan, kami harus menampilkan koreografi itu. Sebenarnya ada yang lebih parah buatku, “habis ini sebelum Bu Neneng masuk kelas, gue harus samperin Dhika dan bikin dia tenang”.
---
“Fay, ini lencana lo. Mau gue pakein ?”
“Lo tau kan gue harus buru-buru samperin Dhika dan bikin dunia dia lebih jernih dari beberapa menit yang lalu.?”
“Fay… kenapa lo masih mau bertahan sama dia si? Dia orangnya kasar banget. Gue gak mau sahabat gue disakitin lagi sama dia.”
“Hm… begini ya mas yang baru dilantik sebagai ketua OSIS,” aku merapihkan dasinya,”gue sama sekali gak ikut campur urusan lo sama Andine, jadi please kali ini lo juga jangan ikut campur dulu urusan gue sama Dhika”. Aku pergi meninggalkannya.
“Fay, inget. Ini urusan kita berempat. Lo, gue, Andine, dan Dhika.”
“Whatever lah…”
---
“Kamu kan tau, Ketua Permusyawaratan Kelas itu jauh lebih di pandang dari cuma sekedar ketua OSIS. Kamu jauh lebih bisa ngelakuin banyak hal untuk kelas-kelas. Kamu bisa jauh lebih explore setiap kemampuan siswa di sekolah ini. Kamu yang lebih tau, kondisi-kondisi lebih realistis. Kami disana, di ruang bawah tangga itu mendengar yang ada di sekolah ini dari kamu. Jadi berhenti benci sama dia hanya karena jabatan. Kamu bukan orang yang gila jabatan kan? Gak ada untungnya kita berebut kekuasaan di sekolah. Kita semua sama, ujung-ujungnya kita berjuang dalam hal pelajaran agar bisa lulus dan melanjutkan ke tahap selanjutnya. Bukan sekedar bergelut di dunia organisasi, ini salah satu kegiatan ekstra di sekolah. Bukan hal wajib yang harus jadi pertaruhan.”
Dhika masih terdiam. Untungnya Bu Neneng belum masuk kelas dan aku masih dalam waktu dispensasi sebagai pengurus OSIS yang baru.
“Dhik, bukankah lebih beruntung kamu yang cukup memikirkan diri sendiri untuk lulus dan bisa masuk perguruan tinggi yang memang kamu impikan. Selagi kamu belum berpredikat sebagai Ketua Permusyawaratan. Saatnya memupuk diri terlebih dahulu dengan ilmu duniawi yang setidaknya bisa membantu kamu untuk menjelajahi dunia luar. Ingat kenapa aku kagum sama kamu? Karena kamu punya mimpi besar sekolah di Jerman dan punya tekat sama keyakinan yang luar biasa. Tapi liat sekarang, Frau Farida malah minta tolong aku buat ajarin kamu Bahasa Jerman. Kamu…”
“Fay!!!” Dia teriak dari lantai satu.
Mataku terpejam sedetik,”aku harus kembali kesana”.
“Silahkan…” kata Dhika. Wajahku heran, setelah bicara panjang lebar, dia hanya menjawab seperti itu. “Nanti aku pikirin lagi omongan kamu, kalau kamu masih mikirin aku juga” lanjutnya. Aku menggelengkan kepalaku . Semua yang ada dalam hati dan pikirannya memang keras.
---
“Aku harus istirahat dan makan di ruang OSIS, ada berkas OSIS tahun lalu yang mau diserah terima. Ini bekal kamu, maaf kita gak bisa makan bareng hari ini. Nanti kita ketemu lagi pas istirahat kedua.
Dia ambil kotak nasi itu dengan muka datar tanpa ekspresi. Setidaknya, hari ini aku tidak menerima genggaman tangannya yang menyakitkan. Aku tersenyum meninggalkannya. Lalu ia masuk kembali ke kelas bersama teman yang lainnya.
Dhika memang keras. Dhika pun kasar. Kalau di luar lingkup sekolah kemudian kami bertengkar, dia berani membentakku bahkan sampai aku menangis. Dia pernah menggenggam tanganku dengan begitu keras dan memakiku seolah aku orang yang selalu berbuat salah di hadapannya. Dhika tidak pernah mau kalah dalam adu pendapat, dia merasa dirinya paling benar. Dhika tidak suka melihat ada sedikitpun cacat dalam tugasnya, penampilannya, bahkan segala hal yang sudah dia rencanakan memang harus itu yang dijalankan dan itu yang harus terjadi. Disisi lain, hal yang tidak baik itu bisa terlihat baik ketika Dhika begitu perfeksionis merancang dan menjalankan tahapan dalam hidupnya sejak SMA hanya untuk menggapai impiannya kuliah di Jerman. Hal itu lah yang membuatku kagum.
Kata orang, rasa kagum itu berbeda dengan rasa sayang atau istilah jatuh cinta. Tapi percayalah, bukan karena aku kagum lalu aku bertahan selama enam bulan. Dhika orang yang sangat romantis dalam kategori perfeksionis. Dia suka melihatku yang memang memiliki sifat fokus dan terstruktur. Dan dengan cara romantisnya enam bulan lalu, dia mengajakku untuk menyatukan karakter kita agar visi aku ataupun Dhika bisa terwujud. Kadang suka tidak percaya, kita berdua belum genap 17 tahun, tapi kenapa kita merasa apa yang kita lakukan adalah hal yang orang dewasa lakukan. Dengan begitulah, aku rasa aku menginginkannya lebih lama dari enam bulan. Begitupun yang ia katakan di depan Mama dan Papa.

Kutipan dari film Twilight Saga yang ketiga, Jessica sempat melontarkan kalimat saat pidato kelulusan mereka. Saat lulus dari SMA, itu bukan waktu menentukan pilihan, itu waktunya mengambil berbagai macam kesalahan hingga terjatuh untuk kembali bangkit lagi menggapai tahap selanjutnya. Tapi dengan realita yang aku jalani sekarang dengan Dhika, sepertinya kita sudah melalui masa itu beberapa tahun lalu. Jauh lebih cepat dari yang dikatakan Jessica. Atau mungkin, dibalik pemikiran yang matang antara aku dan Dhika, disitulah kesalahan yang kami buat sehingga suatu saat nanti kita akan terjatuh untuk bangkit lagi.


Bersambung ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Stupidfy : Ku Yakin Cinta Part IV

Read Stupidfy : Ku Yakin Cinta Part III                 Via Whatsapp aku mengajaknya pergi ke Puncak, enam bulan kemudian. Dia mau dan si...